Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
---
BAB 11: SURAT DARI YANG HILANG
Sejak malam itu, Liana dan Arka benar-benar bekerja sama.
Mereka tahu, kebersihan nama keluarga Wijaya selama ini hanya topeng. Di balik senyum dan foto-foto di koran, ada kotoran yang sengaja disembunyikan.
Keesokan harinya mereka sepakat pindah sementara ke apartemen Arka di pusat kota. Lebih aman. Jauh dari mata keluarga besar yang mulai curiga karena Arka tiba-tiba jarang pulang ke rumah utama.
Malam itu, Arka masih lembur di kantor. Ada rapat mendadak dengan tim hukum soal kasus Paman Hendra.
“Jangan buka pintu buat siapa pun selain aku,” pesannya sebelum pergi.
Liana hanya mengangguk.
Apartemen itu sepi. Hanya suara AC dan jam dinding yang terdengar.
Sampai tiba-tiba…
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan pelan di pintu.
Liana langsung bangkit dari sofa. Pasti Arka. Dia pikir suaminya pulang lebih cepat.
Ia bergegas ke pintu, membuka tanpa bertanya.
Tapi di luar… tidak ada siapa-siapa.
Koridor kosong. Hanya lampu kuning yang berkedip pelan.
Yang ada hanya sebuah amplop coklat tipis tergeletak di lantai, tepat di depan pintu.
Jantung Liana berdegup kencang.
Ia cepat mengambilnya, menutup pintu, dan mengunci tiga kali seperti yang Arka ajarkan.
Di dalam, tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Kertas di dalamnya sudah agak menguning. Tapi tulisannya… Liana kenal betul.
Tulisan tangan Pak Dimas.
Tulisan yang dulu ia lihat setiap hari waktu kelas 5 SD, saat ayahnya menuliskan catatan kecil di buku PR-nya: “Kerja yang rapi ya, Li. Ayah bangga.”
Dadanya sesak.
Ia membaca satu baris itu berulang-ulang, seolah tak percaya:
“Jangan terlalu percaya dengan orang baik di sekitarmu. Itu bom waktu bagimu.”
Waktu seolah berhenti.
Ruangan terasa dingin, padahal AC sudah dimatikan.
Pak Dimas…
Bagaimana mungkin? Sementara ayahnya sudah meninggal 5 tahun lalu.
Atau… seseorang memalsukan tulisan itu?
Tapi siapa yang bisa meniru persis sampai ke cara Pak Dimas membuat huruf ‘g’ dan ‘y’?
Liana menjatuhkan diri ke lantai, memeluk kertas itu erat-erat.
Napasnya tersendat.
“Ayah…” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah kesunyian apartemen Arka.
Di luar, hujan mulai turun.
Dan di dalam, satu pertanyaan besar menggantung di kepala Liana:
Kalau ini benar tulisan ayahnya, kenapa sekarang? Dan… siapa yang dia maksud dengan ‘orang baik’ itu?
Liana duduk di lantai apartemen, punggung bersandar pada pintu yang baru saja ia kunci.
Kertas di tangannya masih terasa dingin, padahal amplopnya kering. Tulisan itu terlalu familiar. Terlalu persis.
Bukan sesuatu yang bisa ditiru dalam satu malam.
“Jangan terlalu percaya dengan orang baik di sekitarmu. Itu bom waktu bagimu.”
Kata-kata itu berputar di kepalanya seperti pisau tumpul.
Orang baik di sekitarku?
Arka?
Pikirannya langsung menolak. Empat tahun ia hidup dengan Arka. Empat tahun ia melihat bagaimana laki-laki itu berubah—dari dingin, jadi teman bicara, sampai malam ini mau duduk satu pihak melawannya.
Tapi… empat tahun juga cukup untuk seseorang berpura-pura, kan?
Liana menutup mata. Dadanya sesak.
Sejak kapan ia mulai percaya pada Arka? Sejak kapan “suami kontrak” itu jadi orang yang ia cari saat ada masalah?
Sejak Arka bilang “Aku di pihak kamu”?
Sejak Arka membela dia di depan keluarganya sampai namanya sendiri dicoret?
Kalau semua itu cuma sandiwara… berarti Liana jatuh ke jebakan yang lebih dalam dari yang dibuat Paman Hendra.
Tapi kalau bukan sandiwara…
Lalu siapa yang mengirim surat ini? Dan kenapa sekarang?
Pikirannya langsung tertuju pada satu kemungkinan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Apakah Ayah masih hidup?
Bukan sekadar “masih hidup”… dan menghilang dengan sengaja?
Pak Dimas pernah bilang, kalau suatu hari bahaya datang, ia akan pergi tanpa pamit biar Liana aman.
Mungkinkah ini caranya? Mengirim peringatan tanpa muncul, karena muncul berarti bahaya?
Liana menggigit bibir sampai terasa asin.
Ia tidak bisa langsung menuduh Arka. Tidak bisa merusak satu-satunya sekutu yang ia punya hanya karena satu surat.
Tapi ia juga tidak bisa pura-pura buta.
Empat tahun mencari kebenaran untuk ayahnya. Dan sekarang, kebenaran itu mulai menggoyahkan satu-satunya orang yang berdiri di sisinya.
Liana berdiri pelan, menyembunyikan surat itu di dalam laci meja.
Ia harus cari tahu.
Apakah ayahnya benar-benar masih hidup.
Dan apakah Arka… benar-benar bisa dipercaya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Liana tidur dengan pisau di bawah bantal.
Bukan karena takut pada orang luar.
Tapi karena ia takut pada keraguan di dalam kepalanya sendiri.
Bersambung...