Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Robot Berjas Armani
Pukul 07.57 WIB.
Saffiya "Sia" Adhisti berdiri tegak di depan pintu lift eksekutif lantai 42 Dewangga Group. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tablet dengan jadwal yang sudah tersusun hingga menit terkecil. Di tangan kirinya, ada secangkir Americano panas tanpa gula, tepat 85 derajat Celsius—suhu yang dianggap paling logis oleh atasannya.
Sia melirik jam tangannya. Tiga, dua, satu...
Ting!
Pintu lift terbuka. Sosok pria dengan tinggi 185 cm melangkah keluar. Setelan jas charcoal buatan penjahit terbaik Italia membungkus tubuh tegapnya tanpa cela. Rambutnya disisir rapi dengan pomade beraroma sandalwood yang mahal namun tajam. Di balik kacamata berbingkai perak itu, sepasang mata elang menatap lurus ke depan, seolah-olah setiap ubin lantai yang ia injak harus tunduk pada otoritasnya.
Dia adalah Arkananta Dewangga. CEO yang oleh para staf dijuluki "The Android" atau "Robot Berjas Armani".
"Selamat pagi, Pak Arkananta," sapa Sia dengan senyum profesional yang sudah ia latih selama dua tahun.
Arkan tidak berhenti melangkah. Ia hanya melirik Sia sekilas—sebuah pengakuan atas keberadaan sekretarisnya—sebelum melanjutkan langkah panjangnya menuju ruang kerja.
"Selamat pagi, Saffiya," jawab Arkan. Suaranya rendah, bariton, dan yang paling penting: artikulasinya sempurna. "Apakah laporan evaluasi triwulan dari divisi pemasaran sudah berada di atas meja saya?"
"Sudah, Pak. Lengkap dengan anotasi pada bagian defisit yang Anda minta kemarin sore," jawab Sia sambil berjalan cepat di sampingnya untuk mengimbangi langkah pria itu.
"Sangat baik. Bagaimana dengan jadwal pertemuan dengan Dewan Komisaris?"
"Tepat pukul 10.00 WIB, Pak. Saya sudah mengonfirmasi kehadiran semua anggota. Namun, Bapak Baskoro—ayah Anda—meminta waktu lima menit untuk berbicara secara pribadi sebelum rapat dimulai."
Langkah Arkan terhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya yang terbuat dari kayu jati solid. Ia berbalik, menatap Sia dengan intensitas yang bisa membuat staf biasa gemetar.
"Apakah Ayah menyatakan maksud dari pembicaraan pribadi tersebut, Saffiya? Jika itu berkaitan dengan urusan domestik yang tidak relevan dengan produktivitas korporasi, tolong ingatkan beliau bahwa waktu saya sangat terbatas."
Sia menelan ludah. "Bapak Baskoro hanya mengatakan bahwa ini tentang... 'estetika taman di rumah utama'. Saya rasa itu kode untuk mengajak Bapak makan malam keluarga akhir pekan ini."
Arkan mengembuskan napas panjang melalui hidung. Sangat teratur, sangat terukur. "Sampaikan kepada beliau bahwa saya akan mengalokasikan waktu tujuh menit. Tidak lebih. Dan Saffiya?"
"Ya, Pak?"
"Pastikan penggunaan tanda baca pada surel konfirmasi rapat tadi sudah sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Saya menemukan kesalahan penggunaan tanda koma pada laporan minggu lalu. Hal itu sangat tidak efisien bagi mata saya."
Sia mengangguk patuh meski dalam hatinya ia ingin memutar bola mata. "Tentu, Pak Arkan. Akan saya pastikan semuanya sesuai EYD."
Arkan masuk ke ruangannya, menyisakan keheningan yang familiar bagi Sia. Inilah dunianya. Dunia di mana setiap kata harus baku, setiap jadwal harus presisi, dan setiap emosi harus dikubur di bawah tumpukan dokumen legalitas.
Sia kembali ke mejanya di area antechamber. Ia menarik napas lega. Menghadapi Arkananta Dewangga setiap pagi membutuhkan energi yang setara dengan lari maraton. Pria itu adalah definisi dari kekakuan. Bagi Arkan, hidup adalah sebuah algoritma. Tidak ada ruang untuk improvisasi, apalagi untuk sesuatu yang abstrak seperti "perasaan".
Namun, ada satu hal yang Sia akui secara rahasia: Arkananta adalah pria paling tampan yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Tulang rahangnya yang tajam seolah bisa memotong kertas, dan cara pria itu menggulung lengan kemejanya saat lembur malam hari seringkali membuat konsentrasi Sia buyar.
Tapi dia tetap saja robot, batin Sia sambil mulai mengetik. Robot yang mungkin kalau dipukul, suaranya bunyi denting besi.
Siang itu berjalan seperti biasa. Arkan memimpin rapat dengan ketegasan yang mematikan. Ia bisa menemukan kesalahan angka di pojok kanan bawah slide presentasi dalam waktu kurang dari tiga detik. Ia memarahi manajer pemasaran karena menggunakan kata "mungkin" dalam proyeksi keuntungan.
"Di perusahaan ini, kita menggunakan data, bukan probabilitas spekulatif," kata Arkan dingin saat itu, membuat sang manajer berkeringat dingin.
Saat jam makan siang tiba, Sia membawakan makan siang Arkan ke ruangannya. Menu yang sama setiap hari Selasa: Salad ayam dengan dressing terpisah dan air mineral suhu ruangan.
Arkan sedang menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut saat Sia masuk. Ia tidak biasanya terlihat sefrustrasi ini di depan komputer.
"Makan siang Anda, Pak," ucap Sia sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela.
Arkan tidak menjawab. Jemarinya menari di atas keyboard, lalu ia menghapusnya lagi dengan kasar. Ia tampak sedang mengetik sesuatu yang bukan laporan keuangan.
"Saffiya," panggil Arkan tiba-tiba tanpa menoleh.
"Ya, Pak?"
"Menurut pendapat Anda sebagai seorang wanita... jika seorang pria ingin menggambarkan sebuah... katakanlah, ketertarikan fisik yang intens terhadap lawan bicaranya, apakah kata 'bergelora' terdengar terlalu berlebihan?"
Sia terpaku. Ia hampir menjatuhkan botol air mineral yang dipegangnya. "Maaf, Pak? Bapak sedang membahas strategi pemasaran produk baru atau...?"
Arkan berdeham. Wajahnya tetap datar, tapi Sia bisa melihat telinga pria itu sedikit memerah. "Ini untuk... studi kasus pribadi. Riset mengenai diksi yang efektif dalam konteks komunikasi antarpribadi."
Sia mencoba menahan senyumnya. Riset? Komunikasi antarpribadi? "Ehm, menurut saya, kata 'bergelora' sedikit... kuno, Pak. Tergantung konteksnya. Jika di dalam sebuah narasi romantis, mungkin kata 'mendalam' atau 'tak terelakkan' bisa lebih masuk akal."
Arkan mengangguk pelan, jemarinya kembali mengetik sesuatu. "Tak terelakkan. Baiklah. Terima kasih, Saffiya. Anda bisa kembali bekerja."
Sia keluar dari ruangan itu dengan tanda tanya besar di kepalanya. Sejak kapan Arkananta Dewangga peduli dengan diksi romantis? Bukankah diksi favorit pria itu adalah "efisiensi", "akuntabilitas", dan "sinergi"?
Sore harinya, badai melanda Jakarta. Hujan deras yang turun tiba-tiba membuat lalu lintas lumpuh total. Arkan memutuskan untuk lembur demi menyelesaikan draf akuisisi perusahaan baru di Singapura. Sebagai sekretaris yang loyal (dan tergiur lemburan), Sia tetap tinggal di mejanya.
Pukul 20.00 WIB. Kantor sudah sepi. Hanya lampu di ruangan Arkan dan meja Sia yang masih menyala.
"Saffiya, saya akan pergi ke toilet sebentar. Tolong pastikan dokumen di printer saya sudah terjilid rapi saat saya kembali," seru Arkan dari dalam ruangannya sebelum berjalan keluar menuju kamar mandi eksekutif di ujung koridor.
Sia berdiri, meregangkan otot punggungnya yang kaku, lalu melangkah masuk ke ruangan Arkan untuk mengambil hasil cetakan.
Saat ia mendekati meja Arkan, layar laptop sang CEO masih menyala. Biasanya, Arkan selalu mengunci layarnya (presisi, ingat?). Namun mungkin karena kelelahan atau terburu-buru, layar itu dibiarkan terbuka pada sebuah aplikasi pengolah kata.
Sia tidak berniat mengintip. Benar-benar tidak. Tapi matanya menangkap sebuah judul yang tertulis dengan font besar di bagian atas dokumen: "THE VELVET NIGHT".
Di bawahnya, tertulis nama pena: NIGHTSHADE.
Dahi Sia berkerut. The Velvet Night? Nama pena? Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya akan dipecat. Ia membaca baris-baris kalimat di sana.
"Pria itu mendekat, aroma sandalwood-nya mengepung sang wanita. Ia menatap mata wanita itu dengan sorot yang tajam, seolah-olah sedang mengaudit seluruh jiwa dan raganya. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh helai rambut sang wanita dengan penuh efisiensi."
Sia menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa ingin tertawa sekaligus merinding. Menyentuh dengan penuh efisiensi? Ini bukan laporan bisnis. Ini adalah draf novel erotis. Dan gaya bahasanya... gaya bahasanya sangat identik dengan pria yang baru saja pergi ke toilet.
Sia menggulir layar ke bawah dengan cepat.
"Gairahnya bergejolak layaknya grafik saham yang sedang naik tajam. Ia merasakan sensasi yang tak terelakkan saat kulit mereka bersentuhan. 'Aku menginginkanmu secara administratif dan fisik,' bisik sang pria dengan artikulasi yang sempurna."
Sia tidak tahan lagi. Ia meledak dalam tawa tertahan yang membuat bahunya terguncang. "Menginginkan secara administratif? Ya Tuhan, Pak Arkan... apa-apaan ini?"
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu.
Sia membeku. Ia menoleh perlahan dan menemukan Arkananta Dewangga berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang kaku kini tampak pucat pasi. Matanya melotot menatap Sia yang masih memegang mouse laptopnya.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Hanya suara rintik hujan di luar jendela yang terdengar.
"Saffiya," suara Arkan terdengar lebih rendah dari biasanya. "Apa yang sedang Anda lakukan di depan perangkat kerja pribadi saya?"
Sia menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa ajalnya sudah dekat. "Pak... saya... saya tadi mau mengambil hasil print... tapi..."
Arkan melangkah mendekat dengan kecepatan yang menakutkan. Ia melihat posisi kursor di layar laptopnya. Rahangnya mengeras.
"Anda membacanya?" tanya Arkan. Suaranya dingin, namun ada nada kepanikan yang tersembunyi di sana.
Sia tidak bisa berbohong. Wajahnya yang memerah sudah menjadi bukti. "Bapak... Bapak adalah Nightshade? Penulis novel Midnight Passion yang sedang viral di aplikasi itu?"
Arkan mematung. Harga dirinya yang setinggi langit seolah runtuh seketika di depan sekretarisnya sendiri. CEO paling dingin di Jakarta itu kini terjepit di antara rahasia gelapnya dan tatapan geli wanita yang paling tahu jadwal hidupnya.
"Saffiya," Arkan berkata dengan nada mengancam namun gemetar. "Jika ada satu kata pun tentang hal ini keluar dari mulut Anda kepada siapa pun, termasuk kepada Gibran... saya pastikan karier Anda akan berakhir."
Sia menatap Arkan. Rasa takutnya tiba-tiba berganti menjadi keberanian yang nakal. Ia teringat kalimat "menyentuh dengan penuh efisiensi" tadi.
"Pak Arkan," Sia memberanikan diri. "Saya tidak akan membocorkannya. Tapi sebagai pembaca setia... bolehkah saya memberikan satu kritik jujur?"
Arkan mengernyitkan dahi. "Kritik apa?"
Sia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang belum pernah Arkan lihat sebelumnya. "Draf Bapak... sangat membosankan. Bapak menulis adegan dewasa seperti sedang menulis laporan audit. Tidak ada rasanya sama sekali."
Wajah Arkan kini berubah dari pucat menjadi merah padam. "Anda... berani sekali mengkritik karya yang sudah menduduki peringkat satu selama tiga minggu?"
"Itu karena ceritanya unik, Pak. Tapi bagian romansanya? Benar-benar kaku. Kalau Bapak terus menulis seperti ini, pembaca Bapak akan merasa seperti sedang membaca buku pelajaran kewarganegaraan di atas ranjang."
Arkan terdiam. Kata-kata Sia menghantamnya tepat di bagian yang paling sensitif: egonya sebagai seorang perfeksionis. Ia menarik kursi kerjanya dan terduduk lemas, tangannya memijat pelipis.
"Saya sedang mengalami writer's block," aku Arkan akhirnya dengan suara lirih. "Saya tidak tahu... bagaimana membuat interaksi itu terasa... lebih hidup."
Sia menatap bosnya yang kini tampak sangat manusiawi. Robot itu ternyata punya sistem operasi yang sedang error.
"Kalau begitu," Sia berkata sambil melipat tangan di dada. "Mungkin Bapak butuh bantuan seorang ahli. Dan kebetulan, saya tahu persis bagaimana rasanya menjadi manusia, bukan robot."
Arkan menatap Sia dengan tatapan yang sulit diartikan. Di malam yang diguyur hujan itu, kesepakatan paling aneh dalam sejarah Dewangga Group baru saja dimulai. Kesepakatan yang akan mengubah setiap baris kata dalam draf "Nightshade"—dan setiap detak jantung di antara mereka berdua.