Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sore itu rumah keluarga Halstrom terasa lebih tenyap dibanding biasanya. Matahari mulai turun perlahan di balik jendela besar rumah utama, meninggalkan cahaya keemasan yang menyapu lantai marmer dan dinding berwarna gading. Para pelayan bergerak lebih pelan dari biasanya, seolah memahami bahwa penghuni rumah sedang tenggelam dalam rutinitas masing-masing.
Darius masih berada di kantor pusat untuk rapat yang belum selesai sejak siang. Kael menghabiskan waktunya di ruang kerja pribadi lantai dua, sementara Seraphina memilih mengasingkan diri di ruang baca sambil memeriksa beberapa dokumen yang belum selesai ia tinjau.
Rumah itu tampak damai.
Terlalu damai.
Namun di balik ketenangan itu, sesuatu perlahan bergerak.
Lysandra baru kembali menjelang sore dengan suasana hati yang jauh dari baik. Langkah sepatu hak tingginya terdengar tajam saat memasuki foyer utama, memantul pelan di ruangan luas yang biasanya terasa nyaman baginya. Hari itu ekspresinya terlihat lebih mudah berubah, bibirnya beberapa kali mengerucut kesal, sementara jemarinya sibuk membuka layar ponsel lalu menutupnya lagi dengan tidak sabar.
Acara gala yang ia nantikan ternyata tidak berjalan sesuai bayangannya.
Ia memang tetap hadir.
Tetap terlihat sempurna di mata orang lain.
Namun semuanya terasa kurang.
Gaun yang ia inginkan sejak awal gagal dibuat karena terlalu mahal jika memakai dana pribadinya. Beberapa akses eksklusif yang biasanya mudah didapat harus dibatalkan. Bahkan ada momen ketika ia merasa kalah bersinar dibanding teman-temannya sendiri, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Dan semua itu…
Karena ibunya menolak membantu.
Hal kecil yang bagi orang lain mungkin biasa, tetapi bagi Lysandra terasa mengganggu harga dirinya.
Tas kecil mahal di tangannya dilempar asal ke atas sofa ruang keluarga begitu ia masuk. Ia mengembuskan napas panjang sambil melepaskan sepatu haknya sedikit kesal.
“Ibu di mana?” tanyanya pada salah satu pelayan yang baru saja lewat membawa nampan teh.
“Di ruang baca, nona,” jawab pelayan itu cepat.
Lysandra hanya mengangguk kecil sebelum langsung berjalan menuju lorong samping. Langkahnya cepat, sedikit lebih keras dari biasanya. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan sekadar ingin berbincang ringan.
Pintu ruang baca sedikit terbuka.
Ruangan itu terasa hangat dengan cahaya sore yang masuk melalui jendela tinggi. Rak buku memenuhi sebagian besar dinding, sementara aroma samar teh dan kertas lama bercampur lembut di udara. Seraphina duduk di kursi dekat meja panjang dengan beberapa dokumen terbuka di depannya.
Penampilannya tetap rapi seperti biasa.
Anggun.
Tenang.
Namun ada sesuatu yang berbeda dari cara ia membawa dirinya sekarang.
Lebih diam.
Lebih sulit dibaca.
“Ibu,” panggil Lysandra sambil masuk tanpa mengetuk.
Seraphina mengangkat kepala perlahan. Tatapannya bergerak tenang ke arah putrinya sebelum meletakkan pena di atas meja.
“Iya?”
“Aku mau bicara.”
Nada suara Lysandra terdengar seperti biasanya. Sedikit manja, sedikit memaksa, dengan keyakinan bahwa lawan bicaranya pada akhirnya akan mengikuti keinginannya.
Seraphina menutup map di depannya dengan gerakan rapi.
“Katakan.”
Tanpa menunggu dipersilakan, Lysandra duduk di sofa seberang lalu menyilangkan kaki. Ia tampak mengambil napas pendek, seolah sudah menyusun kalimat sejak tadi di perjalanan pulang.
“Aku butuh tambahan dana.”
Langsung ke inti.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada usaha membangun suasana.
Seraphina tidak terlihat terkejut.
“Untuk apa?”
“Aku mau ikut private gathering minggu depan,” jawab Lysandra cepat. “Teman-temanku semua datang.”
Seraphina mengangguk kecil.
“Gunakan anggaranmu.”
Lysandra langsung menghela napas panjang.
“Ibu tahu anggaranku tidak cukup.”
“Kalau begitu, jangan ikut.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Tenang.
Lembut.
Namun jelas.
Dan untuk beberapa detik, Lysandra hanya diam menatap ibunya.
Seolah tidak yakin ia mendengar dengan benar.
“Hah?”
Seraphina tetap tenang di tempat duduknya.
“Aku bilang, kalau tidak cukup, jangan ikut.”
Ruangan mendadak terasa lebih hening.
Bahkan suara jam kecil di sudut ruangan terdengar lebih jelas.
Lysandra tertawa kecil, tetapi terdengar canggung.
“Ibu bercanda, kan?”
“Aku terlihat bercanda?”
Nada suara Seraphina tetap lembut, bahkan tidak terdengar marah sedikit pun. Namun justru itulah yang membuat sesuatu terasa aneh.
Karena tidak ada celah.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada tanda bahwa wanita di depannya akan berubah pikiran setelah sedikit dibujuk.
Lysandra mulai mengernyit.
“Ini penting.”
“Bagi siapa?”
“Ya bagiku.” Nada suaranya mulai terdengar kesal. “Semua orang penting bakal datang.”
“Kalau memang penting untukmu,” ujar Seraphina pelan, “kamu bisa cari caranya sendiri.”
Kalimat itu membuat ekspresi Lysandra berubah.
Bingung.
Kesal.
Lalu perlahan mulai tersinggung.
“Kenapa akhir-akhir ini Ibu seperti ini?” tanyanya sambil menyilangkan tangan di dada. “Aku cuma minta sedikit bantuan.”
Seraphina diam beberapa saat. Tatapannya tetap tenang, namun ada sesuatu yang terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya.
“Kamu menyebut itu sedikit?”
“Biasanya Ibu selalu kasih.”
“Dulu.”
Satu kata itu membuat suasana berubah.
Cara Seraphina mengucapkannya terlalu tenang. Tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mengungkit masa lalu dengan emosi. Lebih seperti garis batas yang diletakkan perlahan, tetapi jelas.
Lysandra membeku sesaat.
“Kenapa harus berubah?” tanyanya, nada suaranya sedikit meninggi sekarang. “Aku anak Ibu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Biasanya itu cukup.
Biasanya Seraphina akan langsung melunak, merasa bersalah, lalu mulai mencari jalan tengah.
Namun sekarang…
Tidak ada apa-apa.
Seraphina hanya memandang putrinya beberapa detik lebih lama.
“Kamu sudah dewasa,” katanya akhirnya. “Belajar mengatur kebutuhanmu sendiri.”
Lysandra kehilangan kata-kata beberapa saat.
Ia tidak terbiasa mendengar jawaban seperti ini.
Bukan cuma karena ditolak.
Tetapi karena cara ibunya bersikap.
Jauh.
Tenang.
Seolah tidak lagi terlalu peduli.
“Ayah pasti tidak akan masalah,” gumamnya cepat, seperti mencari pegangan.
“Kamu bisa bicara pada Ayahmu.”
Lagi-lagi jawaban itu terlalu datar.
Tidak emosional.
Tidak defensif.
Dan justru itu terasa mengganggu.
Lysandra berdiri lebih cepat dari sebelumnya.
“Ibu kenapa sih?” tanyanya lebih keras. “Aku bahkan tidak merasa lagi ngobrol sama Ibu sendiri.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.
Di luar, suara angin sore terdengar samar menyentuh pepohonan taman.
Seraphina mengangkat wajah perlahan.
Tatapannya jatuh tepat pada putrinya.
Dan untuk sesaat, Lysandra merasa tidak nyaman.
Karena wanita di depannya masih terlihat sama.
Masih anggun.
Masih rapi.
Masih berbicara dengan suara lembut.
Namun mata itu…
Berbeda.
Dulu selalu ada perhatian berlebih di sana. Kehangatan yang terkadang bahkan terasa terlalu mengekang. Perasaan bahwa apa pun yang terjadi, ibunya akan tetap berada di pihaknya.
Sekarang…
Yang tersisa hanya ketenangan dingin.
“Aku tetap ibumu,” jawab Seraphina akhirnya.
Nada suaranya stabil.
Tidak keras.
Namun juga tidak terasa seperti seseorang yang sedang berusaha menjaga hubungan.
Lebih seperti fakta sederhana.
Tidak lebih.
Lysandra membuka mulut seolah ingin membalas, tetapi suara langkah kaki dari luar menghentikannya.
Kael muncul di depan pintu.
Ia melirik cepat ke dalam ruangan, lalu langsung menangkap suasana yang terasa tidak biasa.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
Lysandra mendecakkan lidah pelan.
“Tanya saja Ibu.”
Kael mengalihkan pandangan pada Seraphina.
Dan lagi-lagi perasaan aneh itu muncul.
Ibunya memang berubah.
Halus.
Namun semakin jelas setiap hari.
Seraphina duduk dengan posisi tegak, tangan terlipat rapi di atas meja. Tidak terlihat terganggu sama sekali, padahal dulu ia selalu menjadi orang pertama yang berusaha menenangkan situasi seperti ini.
“Aku hanya menolak permintaan Lysandra,” katanya sederhana.
Kael mengangkat alis sedikit.
“Itu saja?”
“Ya.”
Lysandra tertawa kecil dengan nada frustrasi.
“Kalau cuma ditolak sih biasa. Tapi sekarang Ibu kayak orang lain.”
Ruangan kembali hening.
Kael tidak langsung bicara.
Namun tatapannya bergerak perlahan, mengamati detail kecil yang sebelumnya mungkin tidak terlalu ia perhatikan. Cara Seraphina berbicara lebih singkat. Cara matanya tidak lagi tinggal terlalu lama pada mereka. Bahkan kebiasaannya untuk selalu mencoba memperbaiki suasana seolah hilang begitu saja.
“Apa Ibu ada masalah?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun sorot matanya tetap tajam.
Mengamati.
Mencari sesuatu.
Seraphina tersenyum tipis.
Senyum sopan.
Rapi.
Namun tidak terasa hangat.
“Aku baik-baik saja.”
“Kalau baik-baik saja,” ujar Kael perlahan, “kenapa semuanya berubah?”
Seraphina tidak langsung menjawab.
Tatapannya berpindah pelan dari Kael ke Lysandra.
Putrinya tampak kesal karena keinginannya ditolak.
Putranya terlihat lebih waspada.
Dan anehnya…
Pemandangan itu tidak lagi mengguncangnya.
Karena sekarang ia mulai memahami sesuatu.
Mereka bukan khawatir.
Mereka hanya terganggu.
Terganggu karena pola lama mulai berubah. Karena sesuatu yang selama ini selalu tersedia mulai dibatasi. Karena wanita yang biasanya terus mengalah perlahan berhenti melakukannya.
Dan itu cukup membuat sudut bibir Seraphina bergerak samar.
Sangat kecil.
Nyaris tidak terlihat.
“Aku hanya mulai berpikir lebih realistis,” jawabnya tenang.
Kalimat itu menggantung di udara.
Tidak ada yang langsung membalas.
Lysandra terlihat frustrasi.
Kael tetap diam, tetapi matanya belum berpindah dari wajah ibunya.
Semakin ia memperhatikan…
Semakin jelas sesuatu memang berbeda.
Dan perubahan itu bukan sesuatu yang kecil.
Ada jarak yang mulai terbentuk.
Jarak yang sebelumnya tidak pernah ada.
Seraphina berdiri perlahan dari kursinya. Gerakannya tetap rapi dan tenang saat merapikan beberapa dokumen di meja.
“Aku masih ada pekerjaan,” katanya pelan. “Kalau tidak ada hal penting lagi, aku mau lanjut.”
Nada suaranya sopan.
Namun jelas mengakhiri pembicaraan.
Lysandra berdiri mematung.
Masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Sementara Kael…
Tetap diam.
Terlalu diam.
Tatapannya tidak lepas dari ibunya.
Karena instingnya mulai mengatakan sesuatu.
Bahwa perubahan ini bukan sekadar suasana hati.
Bukan kelelahan.
Dan mungkin…
Jauh lebih besar dari yang mereka kira.
Seraphina mengangkat pandangan sekali lagi.
Menatap mereka berdua tanpa emosi berlebihan.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kesedihan.
Tidak ada kelembutan berlebihan seperti dulu.
Hanya ketenangan dingin yang terasa asing.
Dan di saat itulah…
Mereka mulai benar-benar menyadari.
Ibu mereka memang berbeda sekarang.