Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vei Tidak Punya Ayah
Viona bersyukur karena sepertinya Tari tidak menemui anaknya dan berbicara yang tidak-tidak pada Velia. Karena yang paling Viona takutkan adalah hal itu, ketika Tari mungkin mengatakan tentang Dani pada Velia atau hal lain yang membuat anaknya tahu tentang masa lalu ibunya. Viona masih belum siap jika harus memberitahu anaknya tentang masa lalu yang pernah dia lewati.
Jika ada waktu, Viona sering menyempatkan diri untuk menjemput anaknya pulang sekolah. Karena biasanya selalu Bu Aminah yang mengantar jemput anaknya, tapi jika Viona ada waktu, maka dia akan berusaha mengantar atau menjemput anaknya sekolah.
"Bagaimana hari ini? Menyenangkan?" tanya Viona di balik kemudinya, menatap anaknya yang duduk di sampingnya. "Kenapa wajahnya cemberut? Apa ada yang mengganggu Vei?"
Velia menoleh pada Ibunya, lalu dia menggeleng pelan. "Bu, minggu depan ada acara di sekolah"
"Oh ya, acara apa Nak?"
"Acara bersama Ayah, Vei 'kan tidak punya Ayah"
Deg... Bagai di sambar petir, menghancurkan dunianya. Viona terdiam dengan perasaan yang sakit ketika mendengar ucapan Velia barusan. 'Vei tidak punya Ayah' kalimat yang benar-benar menusuk hatinya, menghancurkan jiwanya. Untuk pertama kalinya Velia membahas tentang seorang Ayah, mungkin karena sekarang dia sudah sekolah dan berbaur dengan banyak anak lainnya yang mempunyai Ayah.
Viona melipat bibirnya ke dalam, menahan diri untuk tidak menangis hanya karena mendengar ucapan anaknya. Viona masih memikirkan jawaban apa yang harus di berikan pada anaknya sekarang.
"Vei sudah tanyakan pada Ibu, katanya boleh kalau bawa Ibu kok. Tapi ... apa Vei memang tidak punya Ayah? Dimana Ayah Vei, Bu? Semua teman Vei punya Ayah"
Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan. Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga.
Velia yang akhirnya menanyakan tentang seorang Ayah, dan Viona tentu belum siap, bahkan untuk menyiapkan jawabannya saja dia masih belum menemukannya. Akhirnya memilih bungkam untuk beberapa saat. Sampai mobil akhirnya berhenti di depan gedung Apartemennya. Bu Aminah sudah menunggu disana untuk menjemput Velia, karena memang Viona harus langsung kembali lagi ke Kantor.
Viona menghembuskan napas berat, lalu dia menoleh pada Velia. Viona mengelus kepala anaknya. "Suatu saat Vei akan tahu siapa Ayah Vei, tapi sekarang Vei hanya perlu fokus sekolah dulu saja. Kalau Vei jadi anak baik, pintar dan rajin, pasti nanti Ibu akan ceritakan tentang Ayah Vei kalau sudah waktunya ya Nak"
Velia menatap Ibunya dengan bola matanya yang jernih, menunjukan kepolosan seorang anak yang tak berdosa. "Vei janji akan jadi anak baik dan rajin agar bisa punya Ayah juga seperti teman-teman Vei"
Viona tersenyum sambil menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Anaknya begitu antusias hanya untuk mendapatkan seorang Ayah. Tapi, bagaimana Viona akan menjelaskan nantinya. Bagaimana Viona akan memberitahu Velia jika sebenarnya Ayahnya adalah seorang pemain wanita yang selama ini tidak pernah tahu kehadirannya, atau mungkin tidak akan mau menerima kehadirannya.
"Iya Nak, sekarang Vei turun dulu. Itu Nenek sudah menunggu, Ibu harus kembali bekerja. Nanti ketemu lagi pas Ibu pulang kerja ya"
Velia mengangguk dengan patuh. "Iya Bu, Ibu semangat kerjanya ya"
Setelah Velia turun, Viona hanya menatap anaknya pergi bersama Bu Aminah. Viona mengusap kasar air matanya yang mengalir begitu saja. Tangannya saling bertaut dengan erat, masih terlalu menyakitkan saat mendengar Velia menanyakan tentang Ayahnya.
"Maafkan Ibu Vei, karena Ibu kamu harus hidup tanpa kehadiran seorang Ayah"
Viona meminta sopir taksi untuk kembali ke tempat kerjanya. Menatap jendela mobil sambil mengusap air matanya yang mengalir. Tangisnya tak tertahankan. Ucapan Velia masih begitu terngiang di telinganya, membuatnya sakit.
"Maafkan Ibu Vei"
Kalimat maaf itu terus terucap, karena Viona merasa sangat bersalah pada anaknya itu. Tubuhnya tiba-tiba terhuyung ke depan, Viona terkejut, dia segera menghapus sisa air mata di pipinya.
"Ada apa Pak?"
"Itu Mbak, ada mobil lawan arah hampir tabrakan sama mobil di depan kita itu"
Viona langsung menatap ke arah jalanan di depannya, terlihat ada sedikit kerusuhan disana. "Saya turun disini saja Pak, tinggal sedikit lagi sampai kok"
"Tidak papa Mbak? Maaf ya saya juga tidak bisa menerobos begitu saja kekacauan ini"
"Iya Pak, tidak papa. Ini juga bukan salah Bapak"
Setelah membayar, Viona segera turun dari taksi. Berjalan melewati keributan itu. Sepertinya pengemudi mobil di depan Viona tadi tidak terima karena mobil lain yang melawan arah dan membuat mereka hampir kecelakaan. Jika itu terjadi, mungkin akan kecelakaan beruntun bersama taksi yang di tumpangi Viona tadi.
"Kenapa orang-orang tidak bertanggung jawab hanya dengan keselamatan diri sendiri saja"
Viona baru saja akan melewati kerusuhan itu, tapi tatapan matanya tertuju pada seorang pria yang ingin memukul pria yang tadi berdebat dengannya. Viona kaget, dia segera berlari dan menarik pria yang hampir di pukul dari belakang itu, hingga pukulan itu meleset. Tentu pria yang dia tarik tangannya juga terkejut.
"Viona?"
Saat Viona mendongak dan baru menyadari siapa pria yang dia selamatkan dari pukulan itu, adalah Bayu. Viona langsung melepaskan pegangan tangannya di lengan Bayu.
"Tunggu jangan pergi dulu!" Bayu menarik tangan Viona agar dia berdiri di belakangnya. Lalu Bayu berhadapan dengan pria yang hampir menabrak mobilnya itu. "Kau sudah salah dan masih ingin menambah kesalahanmu. Jangan anggap remeh masalah ini, aku akan bawa kau ke jalur hukum atas pelanggaran lalu lintas dan percobaan penganiayaan!"
"Memangnya kau siapa? Aku tidak takut denganmu!"
Bayu mengeluarkan kartu namanya dan melempar ke wajah pria itu. "Saya seorang pengacara, dan kau tidak akan lepas dariku"
Bayu dengan sigap mengambil foto plat mobil yang hampir menabraknya itu dan juga wajah pria itu. Bayu menarik Viona ke arah mobilnya, membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk.
"Aku cuma mau ke Kantor, sudah dekat dari sini kok"
"Masuklah, biar aku yang antar"
Melihat wajah dingin Bayu, Viona jadi takut dan tidak berani membantah. Selama ini dia hanya melihat wajah menyebalkan Bayu yang selalu menggodanya. Terakhir kali melihat wajah dingin Bayu seperti ini adalah saat Bayu menemuinya dan menyalahkannya tentang berita yang tersebar, padahal Viona tidak pernah tahu apapun tentang berita itu.
Pria ini kenapa menakutkan sekali saat sedang marah begini.
Bayu melajukan mobilnya, napasnya terengah-engah. Seperti sedang menahan emosi yang terpendam. "Jangan pernah membahayakan dirimu hanya untuk menolong orang lain! Kalau sampai pukulan pria tadi mengenai wajahmu atau kepalamu, bagaimana? Kau bisa pingsan"
Viona terdiam, entah kenapa jantungnya malah berdebar mendengar omelan Bayu. Seperti dia sedang mendapatkan perhatian saat ini.
"Aku hanya...."
"Jangan lakukan apapun jika itu hanya akan melukai dirimu!" ucapan Bayu begitu penuh penekanan seolah tidak terbantahkan lagi.
Viona pun hanya menunduk diam.
Sementara Bayu mengemudi dengan perasaan gelisah, saat tahu Viona yang menolongnya saat seseorang ingin memukulnya, jantung Bayu langsung berdegup kencang, seperti di timpa beban berat yang menyesakkan. Bayu panik dan cemas, takut Viona terluka. Dia ... khawatir.
Bersambung
belum menemukan yang benar-benar menerima apa adanya dengan keadaan seorang diri,,,
😭😭
ditunggu lanjutannya Thor 🙏
pasti sulit bagi vio,mengingat jejak bayu yg casanova,dn pastinya trauma juga meliputi hatinya...