NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

​Dunia Archeon yang baru tidak lagi mengenal musim yang pasti. Sinar matahari perak yang diciptakan Kael memberikan kehangatan yang konsisten, namun tanah masih menyimpan memori tentang dingin yang mematikan. Di Eldravale, desa yang pernah menjadi abu, kehidupan mulai merayap naik dengan cara yang aneh. Tumbuhan yang muncul dari celah-celah reruntuhan memiliki daun transparan yang berkilau, sebuah mutasi akibat paparan energi Void Genesis yang sempat meledak di atmosfer.

​Kael Ravenhart berdiri di ladang belakang gubuknya. Di tangannya bukan lagi pedang bayangan yang mampu membelah dimensi, melainkan sebuah cangkul tua yang berkarat. Peluh mengucur di dahinya—sebuah sensasi fisik yang dulu hampir ia lupakan saat masih menjadi entitas absolut kehampaan.

​Ia sedang menanam. Bukan gandum, bukan jagung, melainkan benih dari Yggra, Pohon Purba Veridian yang sempat ia layukan saat penaklukannya. Ia ingin menebus kematian pohon itu dengan menumbuhkan tunas barunya di tanah kelahirannya.

​Ketenangan pagi itu terusik oleh suara derap langkah kuda yang berat. Kael berhenti mencangkul. Tanpa harus melihat, ia bisa merasakan frekuensi mana yang mendekat. Meskipun kekuatannya telah surut, sensitivitasnya terhadap energi masih setajam silet.

​Sebuah rombongan kecil dengan zirah perak yang kusam muncul dari balik bukit. Di depan mereka, seorang wanita dengan rambut merah pendek dan bekas luka melintang di pipinya turun dari kuda. Itu adalah Captain Jaina, mantan ajudan tinggi Liora di Pasukan Radiant yang kini memimpin faksi penjaga perdamaian sementara.

​"Kael Ravenhart," suara Jaina terdengar kaku. Ada rasa hormat yang dipaksakan, namun juga ada ketakutan yang tersisa di matanya.

​Kael tidak berbalik. "Eldravale adalah wilayah bebas, Jaina. Kenapa ksatria dari ibu kota yang hancur datang ke sini?"

​"Dunia sedang bergejolak, Kael," Jaina melangkah maju, tangannya tetap berada di dekat gagang pedang. "Kau memberikan mereka kebebasan, tapi kau tidak memberikan mereka petunjuk. Di Barat, faksi-faksi pedagang mulai menyewa tentara bayaran untuk memperebutkan sisa-sisa kristal mana yang tidak terhisap olehmu. Di Selatan, para pemuja kegelapan mulai membangun kuil atas namamu. Mereka melakukan pengorbanan darah, mengira itu akan menyenangkanmu."

​Kael menancapkan cangkulnya ke tanah obsidian. Ia berbalik, matanya menatap tajam ke arah Jaina. "Aku bukan Dewa mereka. Dan aku bukan lagi Raja mereka."

​"Masalahnya, dunia tidak peduli dengan apa yang kau inginkan," balas Jaina pedas. "Bagi mereka, kau adalah satu-satunya entitas yang memiliki kekuatan untuk menghentikan kekacauan ini. Liora mencoba menahan mereka dengan diplomasi, tapi dia hanya seorang wanita tanpa sihir sekarang. Mereka tidak mendengarkannya."

​Mendengar nama Liora disebut dalam posisi terdesak, rahang Kael mengeras. Sigil di punggung tangannya bergetar sedikit, mengeluarkan uap hitam tipis yang membuat kuda-kuda para ksatria meringkik ketakutan.

​"Di mana Liora?" tanya Kael, suaranya merendah.

​"Di Convergence City, reruntuhan di bawah Celestia. Dia sedang mencoba menegosiasikan pakta perdamaian antara ras manusia dan mantan ksatria langit. Tapi kelompok radikal 'Cahaya Murni' menganggapnya pengkhianat karena berpihak padamu. Mereka merencanakan sesuatu malam ini."

​Malam harinya, Eldravale diselimuti kabut tebal. Kael duduk sendirian di depan perapiannya. Di dalam bayang-bayang di sudut ruangan, sebuah bentuk mulai mengental.

​"Kau mendengarnya, bukan?" Suara Umbra terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. "Gadis kecilmu dalam bahaya. Dunia yang kau selamatkan sedang merobek dirinya sendiri. Betapa sia-sia pengorbananmu."

​"Diam, Umbra," desis Kael. Ia menggenggam tangannya sendiri, mencoba meredam denyutan Sigil yang mulai memanas.

​"Kenapa kau menahan diri? Dengan satu pikiran, kau bisa menghapus mereka yang mengancam Liora. Kau bisa menjadi pelindung yang ditakuti lagi. Kau tahu... sedikit kegelapan tidak akan menyakitkan jika tujuannya benar."

​Umbra kini mewujud di samping Kael, menyerupai bayangan Kael yang terdistorsi. "Garis ketujuh itu... kau pikir itu hilang? Tidak, Kael. Ia hanya tidur. Ia menunggu rasa lapar yang cukup besar untuk bangun kembali. Dan rasa lapar itu adalah amarah."

​Kael berdiri dan menyambar jubah hitamnya yang tersampir di kursi. Ia tidak menanggapi bisikan itu, tapi ia tahu Umbra benar tentang satu hal: Kedamaian adalah fatamorgana jika predator masih berkeliaran di sekelilingnya.

​Kael tidak menggunakan kuda. Ia berlari menembus hutan dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi manusia biasa. Setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya retak sedikit, melepaskan energi kinetik yang tersimpan di dalam Inti Mananya yang telah bermutasi.

​Saat ia sampai di pinggiran Convergence City, pemandangan yang ia lihat adalah kekacauan. Api membubung dari tenda-tenda pengungsian. Di tengah alun-alun, di bawah bayang-bayang Benua Celestia yang kini menapak di bumi, Liora Ashveil berdiri dikelilingi oleh sekelompok pria berseragam putih dengan simbol matahari yang pecah.

​"Kau memberikan kami matahari palsu, wanita jalang!" teriak pemimpin kelompok itu, seorang pria dengan mata penuh fanatisme. "Kau membiarkan monster itu hidup! Di mana kehormatan Solaria?"

​Liora, yang kini tampak lebih kurus namun tetap tegak, menatap mereka tanpa rasa takut. "K Honor Solaria mati saat kita membiarkan keserakahan memandu sihir kita. Kael memberikan kita kesempatan kedua. Jangan sia-siakan itu dengan kebencian."

​"Kesempatan kedua? Keluargaku membeku di Ironfang karena dia! Darah harus dibayar dengan darah!"

​Pria itu mengangkat pedangnya, bersiap untuk menghujamkannya ke arah Liora yang tak bersenjata. Liora memejamkan mata, bersiap untuk akhir yang ia duga akan datang suatu hari nanti.

​Namun, pedang itu tidak pernah sampai.

​Seketika, suhu di alun-alun turun drastis hingga napas semua orang berubah menjadi uap. Sebuah tangan yang pucat namun sekeras baja menangkap bilah pedang tersebut. Bunyi logam yang patah bergema di keheningan yang tiba-tiba.

​Kael berdiri di sana. Matanya tidak lagi hitam manusia, melainkan berpendar ungu redup—tanda bahwa ia mulai mengakses kembali kedalaman Void.

​"Darah memang harus dibayar dengan darah," ucap Kael, suaranya bergetar dengan frekuensi yang membuat jantung para penyerang berdegup tidak teratur. "Tapi darah siapa yang akan tumpah malam ini, itu adalah keputusanku."

​Para penyerang mundur serentak. Ketakutan yang bersifat instingtual melumpuhkan saraf mereka. Mereka melihat sosok yang menghancurkan matahari, pria yang menjatuhkan langit, kini berdiri di depan mereka lagi.

​"Bunuh dia! Dia hanya satu orang!" teriak pemimpin radikal itu, meskipun ia sendiri melangkah mundur.

​Kael tidak menyerang. Ia hanya melepaskan aura tekanannya. "VOID PRESSURE."

​Gelombang energi gravitasi menyapu alun-alun. Para anggota kelompok 'Cahaya Murni' terhempas ke tanah seolah-olah ada raksasa yang menginjak bahu mereka. Mereka terengah-engah, tidak mampu mengangkat kepala di depan sang mantan Kaisar.

​Liora menyentuh bahu Kael. "Jangan, Kael. Jika kau membunuh mereka, kau hanya akan membuktikan bahwa mereka benar tentangmu."

​Kael menatap Liora. Perlahan, cahaya ungu di matanya memudar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan monster di dalam dirinya yang meraung minta dilepaskan.

​"Aku tidak akan membunuh mereka," ucap Kael pada Liora, lalu beralih ke orang-orang yang tersungkur di tanah. "Kalian membenciku? Itu hak kalian. Tapi jika kalian menyentuh satu saja orang yang mencoba membangun dunia ini, aku akan memastikan bahwa kegelapan yang kalian rasakan saat gerhana adalah surga dibandingkan dengan apa yang akan kulakukan pada jiwa kalian."

​Kael melambaikan tangannya, dan tekanan itu menghilang. Para radikal itu lari tunggang langgang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan senjata mereka yang hancur.

​Setelah kekacauan mereda, Kael dan Liora duduk di reruntuhan tangga Katedral Aether yang kini menjadi pintu masuk kota baru itu.

​"Kau seharusnya tidak datang, Kael," ucap Liora pelan sambil membalut luka gores di tangan Kael yang memegang pedang tadi. "Kau sedang membangun kehidupan baru di Eldravale."

​"Kehidupan baruku tidak ada artinya jika kau mati di sini," jawab Kael jujur. "Dunia ini belum siap untuk damai, Liora. Mereka butuh kambing hitam, dan mereka memilihmu karena kau adalah jembatan menuju aku."

​Liora tersenyum pahit. "Mungkin kita memang ditakdirkan untuk selalu berada di tengah pusaran badai. Tapi lihatlah, Kael... meski ada kebencian, ada juga harapan."

​Ia menunjuk ke arah tenda pengungsian di mana mantan ksatria langit sedang membantu warga sipil membangun sumur air. Mereka bekerja sama tanpa menggunakan sihir, hanya dengan kekuatan otot dan koordinasi manusiawi.

​"Itu adalah sihir yang paling murni yang pernah kulihat," bisik Kael.

​Namun, momen tenang itu terganggu oleh sebuah getaran dari bawah tanah. Bukan getaran gempa bumi biasa, melainkan getaran mana yang terasa sangat asing dan kuno.

​Kael berdiri, wajahnya berubah serius. Ia menempelkan telinganya ke tanah. Di kejauhan, di luar batas benua yang dikenal, ia merasakan sesuatu yang besar sedang terbangun. Sesuatu yang bahkan lebih tua dari Sigil Void.

​"Apa itu?" tanya Liora, ikut merasakan kecemasan Kael.

​"Ada sesuatu di bawah kerak bumi yang terbangun karena jatuhnya Celestia," jawab Kael. "Jatuhnya benua langit itu merusak segel-segel purba yang menjaga 'Hal-hal yang Tak Seharusnya Ada'."

​Tiba-tiba, dari arah laut di Barat, sebuah pilar cahaya hitam yang berbeda dengan mana Void milik Kael membumbung ke angkasa. Cahaya itu tidak menghisap energi, melainkan membusukkan segala sesuatu di sekitarnya.

​Jaina berlari mendekat dengan wajah pucat. "Kael! Laporan dari pengawas pantai... sesuatu keluar dari dasar laut. Makhluk-makhluk tanpa kulit, membawa senjata dari tulang purba. Mereka menghancurkan desa-desa nelayan dalam hitungan menit!"

​Kael mengepalkan tangannya. Sigil di punggung tangannya merespons, garis-garisnya menyala terang seolah-olah menyambut musuh lama.

​"Itulah konsekuensinya, Kael..." bisik Umbra dengan nada gembira. "Kau menjatuhkan langit, dan beban itu memecahkan lantai neraka. Sekarang, Legiun Abisal telah bangkit untuk mengklaim dunia yang membusuk ini."

​Kael menatap Liora, lalu menatap orang-orang yang mulai panik di alun-alun. Ia menyadari bahwa masa pensiunnya sebagai petani di Eldravale hanyalah mimpi singkat. Dunia Archeon tidak butuh seorang petani. Dunia butuh seseorang yang berani masuk ke dalam kegelapan untuk melawan monster yang lebih besar.

​"Jaina, kumpulkan semua orang yang bisa memegang senjata," perintah Kael dengan nada otoritas Kaisar yang tak terbantahkan. "Liora, kau harus memimpin evakuasi ke pegunungan utara."

​"Dan kau?" tanya Liora cemas.

​Kael menatap ke arah pilar cahaya hitam di ufuk barat. Jubahnya berkibar ditiup angin yang kini berbau belerang dan kematian.

​"Aku akan pergi ke Barat," ucap Kael. "Aku yang merusak segel ini, maka aku yang harus menutupnya. Meskipun aku harus menjadi monster sekali lagi."

​Kael Ravenhart melangkah pergi dari cahaya matahari perak, menuju kegelapan yang baru saja pecah di ujung dunia. Babak baru peperangan Archeon telah dimulai, dan kali ini, musuhnya bukan lagi manusia atau dewa matahari, melainkan sesuatu yang jauh lebih lapar daripada kehampaan itu sendiri.

​Di belakangnya, tunas pohon Yggra di Eldravale mendadak tumbuh satu inci, daun transparannya bergetar seolah memberikan peringatan bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!