NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Udara di Zurich bulan Mei ternyata tidak seramah yang gue kira. Angin dingin yang berhembus dari Pegunungan Alpen terasa seperti pisau cukur yang menyayat pipi. Gue berdiri di depan cermin besar di hotel Baur au Lac, menatap pantulan wanita yang ada di sana.

Gue bukan lagi Arcelia dengan celana kargo dan jaket bomber butut. Gue memakai gaun couture berwarna merah darah yang membalut tubuh gue dengan sangat pas—mungkin terlalu pas sampai gue susah napas. Rambut gue disanggul modern, dan di leher gue melingkar kalung berlian yang harganya bisa buat beli satu kelurahan di pinggiran New Ardent.

"Nyonya, tim Alpha sudah berada di posisi masing-masing di sekitar Swiss United Vault," suara Evan terdengar dari earpiece kecil yang tersembunyi di balik anting gue.

"Bagus. Lo sendiri di mana, Van?" tanya gue sambil memoles lipstik merah gelap.

"Saya di lobi, menyamar sebagai pengawal pribadi Anda. Dan tolong, Nyonya... jangan panggil saya 'Van' saat kita di depan publik. Nama samaran saya adalah Arthur."

Gue tertawa kecil. "Oke, Arthur. Siap-siap, kita akan masuk ke kandang singa."

Malam itu, ada sebuah gala amal eksklusif yang diadakan oleh para pemegang saham bank tempat Sampel Nol disimpan. Ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke area VIP tanpa memicu alarm biometrik. Karena di bank itu, mereka tidak cuma pakai sidik jari, tapi juga pemindaian retina dan pola pembuluh darah.

Gue turun dari limosin perak dengan bantuan tangan Evan. Kilatan lampu kamera paparazzi menyambut kami. Gue memberikan senyum paling palsu dan paling anggun yang pernah gue pelajari dari buku panduan "Cara Menjadi Alzena" yang dulu pernah gue baca.

"Ingat, Lia," suara Keano mendadak terdengar di frekuensi pribadi earpiece gue. "Gue pantau dari New Ardent. Kalau ada yang berani nyentuh lo lebih dari tiga detik, gue bakal beli bank itu besok pagi dan pecat semua orangnya."

Gue hampir tersedak ludah sendiri. "Posesif banget sih lo, Beruang. Fokus ke monitor lo aja!"

Gue melangkah masuk ke dalam aula mewah yang dipenuhi oleh bau cerutu mahal dan parfum ribuan dolar. Mata gue langsung memindai ruangan. Target gue adalah Maximilian Von Heine*l, kepala keamanan perbankan yang memegang kunci enkripsi fisik tahap pertama.

Gue berjalan ke arah bar, memesan martini kering, dan sengaja berdiri di dekat Maximilian yang sedang asik mengobrol dengan beberapa pengusaha minyak.

"Strategi yang menarik, Tuan Von Heine," gue memotong pembicaraan mereka dengan nada suara yang tenang tapi penuh otoritas. "Tapi saya rasa, menggunakan sistem Quantum Key Distribution untuk brankas bawah tanah sedikit berlebihan jika enkripsi fisiknya masih menggunakan protokol lama."

Maximilian menoleh, matanya yang tua tapi tajam menatap gue dengan heran. "Anda tahu soal protokol keamanan kami, Nyonya...?"

"Vandercamp. Arcelia Vandercamp," gue mengulurkan tangan. "Saya hanya seorang kolektor data yang tidak suka melihat celah keamanan di tempat saya menyimpan aset berharga saya."

Gue bisa merasakan Evan—maksud gue Arthur—berjaga tepat dua meter di belakang gue, tangannya siaga di balik jas.

Maximilian tertarik. "Celah? Anda bercanda. Bank kami belum pernah ditembus selama seratus tahun."

"Selalu ada yang pertama kali, Tuan," gue tersenyum miring. Saat kami bersalaman, jari telunjuk gue yang sudah ditempeli *skin-patch* mikroskopis buatan gue sendiri, menempel di jam tangan pintarnya selama tiga detik.

BIP.

Suara kecil di telinga gue menandakan data dari jam tangan Maximilian sudah tersedot ke dalam perangkat peretas yang gue sembunyikan di dalam garter di paha gue.

"Maaf, saya harus ke toilet sebentar," kata gue sambil melepaskan jabatan tangan.

Gue berjalan cepat menuju area yang lebih sepi. Begitu sampai di bilik toilet yang luas, gue langsung mengangkat gaun gue dan mengambil perangkat kecil yang menempel di paha. Gue hubungkan ke laptop mini yang gue bawa di dalam tas tangan.

"Ké, gue dapet akses awal. Gue lagi *upload* virus ke sistem pusat mereka sekarang," bisik gue.

"Hati-hati, Lia. Gue baru aja dapet peringatan dari server pusat Winchester di New Ardent. Ada aktivitas transmisi data dari Swiss menuju... kamar kakek Alexander," suara Keano terdengar sangat tegang.

Jantung gue berdegup kencang. "Maksud lo, Alexander tahu gue di sini?"

"Dia tahu seseorang sedang mencoba masuk. Dia belum tahu itu lo, tapi dia sudah memerintahkan sistem *Lockdown* total dalam sepuluh menit. Lo harus keluar dari sana sekarang, atau lo bakal terjebak di dalam bank yang berubah jadi benteng besi!"

Gue melihat bar persentase di layar laptop gue. *65%... 70%...*

"Nggak bisa, Ké! Kalau gue cabut sekarang, semua jejak gue bakal ketahuan dan kita nggak akan pernah bisa ambil *Sampel Nol*!"

Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Gue buru-buru menutup laptop, tapi terlambat. Seorang wanita dengan gaun hitam elegan berdiri di sana. Shania? Bukan. Shania kan di penjara.

Wanita itu tersenyum dingin. "Halo, Arcelia. Akhirnya kita bertemu dalam bentuk yang... lebih cantik."

Gue terpaku. Wajah wanita ini... sangat mirip dengan Ibu Mirelle, tapi versi jauh lebih muda dan jauh lebih kejam.

"Siapa lo?" tanya gue sambil tangan gue meraba pisau lipat di balik sabuk gaun.

"Aku adalah apa yang gagal diciptakan kakek Alexander padamu. Aku adalah **Subjek Satu**. Kakakmu yang sebenarnya," katanya sambil mengeluarkan sebuah alat kejut listrik.

Gue tersadar. Ini bukan sekadar pencurian data. Ini adalah jebakan keluarga Winchester yang sudah disiapkan selama puluhan tahun.

"Evan! Masuk sekarang!" teriak gue melalui mic.

BOOM!

Suara ledakan kecil terdengar dari arah aula, disusul oleh suara teriakan dan alarm bank yang mulai melolong nyaring.

"Ké! Rencana B! Gue harus bertarung!" gue melempar tas tangan gue ke arah wanita itu dan menerjangnya dengan gerakan bar-bar yang sudah mendarah daging.

Perkelahian di dalam toilet mewah itu pecah. Gue nggak peduli lagi sama gaun mahal atau perhiasan berlian. Yang gue tahu, rahasia hidup gue ada di depan mata, dan gue nggak akan biarkan siapa pun menghentikan gue. Bahkan "kakak" yang baru saja muncul dari kegelapan masa lalu.

...****************...

TBC

1
Iryani levana khrisna Khrisna
terimakasih Thor tetap semangat dalam berkarya
Iryani levana khrisna Khrisna
semoga tidak menggantung ya thor pernyataan cinta aja butuh jawaban apa lagi aku yang membaca cerita mu 😄
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!