Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mihoy & Adden
Hanya dengan melihatnya hari ini, Melody tahu ada sisi gelap yang bersembunyi di dalam sana. Sosok idealnya dulu kini menjadi orang yang bahkan tak sanggup ia pandang.
Namun, seperti hal-hal lain dalam hidupnya, semua orang yang pernah dikenalnya pasti meninggalkan luka. Melody tidak bisa mengubah orang lain, termasuk apa yang telah terjadi pada Adden. Sekarang Adden hanyalah orang yang tidak menginginkan kehadirannya.
“Kamu pikir kata-katamu itu bisa nyakitin aku lebih parah dari apa yang udah orang lain lakuin? Aku liat kamu berubah ... dan bukan jadi lebih baik.”
Adden terkekeh pelan lalu menurunkan suaranya agar tidak terdengar orang lain. “Jangan sok kuat, Melody. Aku tahu kamu pecundang yang mungkin dulu manfaatin aku. Tapi kamu sadar kan yang bisa aku kasih cuma nemenin kamu di bawah pohon? Kamu nggak kenal aku, dan aku juga nggak kenal kamu. Kamu tuh kayak tikus lusuh yang nyari rumah buat dibobol, kan? Bukannya itu keahlian kamu? Nyolong.”
Melody menarik napas panjang berusaha menahan emosi yang ingin meledak. Adden tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu perjuangan Melody demi bertahan hidup.
Kalau pun Adden tahu Melody mencuri dulu karena terpaksa, jelas cowok itu tidak peduli. Tidak ada satu pun sifat Adden yang dulu tersisa pada sosok di depannya ini.
Melody tidak pernah bermaksud jahat. Ia bahkan mencatat semua barang yang pernah diambilnya, berniat mengembalikannya kelak saat sudah punya pekerjaan dan uang.
Semua itu demi membeli makanan dan pakaian yang tidak pernah ia miliki. Murni soal bertahan hidup. Pernah ketahuan, tapi lalu apa?
Melody tahu itu hanya masalah waktu.
Saat itu, penampilannya memang tidak seperti orang yang mampu belanja di toko mewah. Celana pendek dan kaosnya terlihat lusuh, seakan diambil sembarangan.
Saat ia keluar dari ruang ganti, penjaga toko langsung melapor ke keamanan dan memanggil polisi.
Hari itu juga ia kabur dari keluarga asuhnya yang baru. Mereka hanyalah orang-orang yang hanya mau mengambil uang bantuan pemerintah, tapi tidak pernah peduli pada anak-anak yang mereka asuh.
Sekelompok pemabuk yang memanfaatkan sistem. Selalu begitu. Mereka berpura-pura baik demi mendapatkan anak-anak yang sudah terluka, padahal semuanya palsu. Kini Melody sadar, Messy pun sama buruknya dengan Adden, orang-orang tak berhati.
Adden menatap jijik ke arah sepatu dan sweter biru longgar yang dikenakan Melody. Pakaian itu sudah terlihat sangat tua dan lusuh.
Ia bahkan membuat gerakan seakan mencium bau busuk. “Kamu bau, Melody. Tapi ya memang dari dulu juga begitu. Bau Babi! Aku emang udah nunggu saat kita ketemu lagi, biar bisa ngomong langsung apa yang aku rasain. Kalau kamu pikir hidup kamu udah menyedihkan di tempat kamu berasal, itu belum ada apa-apanya dibanding apa yang bakal aku lakuin ke kamu, habis ini.”
“Pergi sana, brengsek!” desis Melody. “Jangan ganggu aku!”
Mata Adden menelusuri wajah Melody lalu turun ke kaki gadis itu. Kepalanya miring, tapi Melody tahu itu hanya cara Adden untuk mengintimidasi.
“Enggak usah mimpi. Aku nggak bakal pernah sentuh kamu. Aku punya standar. Cewek yang bareng sama aku itu tipe aku. Bersih, cantik, dan punya kelas. Hal yang sama sekali nggak ada di kamu. Mending sama si Enno itu kali ya, kalau dia berani, soalnya kan dia banci pengen jadi cewek.”
“Jangan gitu ... jangan ganggu dia,” sela Enno terbata-bata.
Adden mengangkat sebelah alis lalu mengalihkan pandangan ke arah cowok itu. “Apa tadi? Ngomong apa kamu, hah berengsek?”
“Jangan ganggu Enno!” seru Melody cepat, tapi Adden mengabaikannya.
Melody terkejut Enno berani membela dirinya, meski jelas dari wajahnya cowok itu sangat takut.
Adden yang jauh lebih tinggi dan berbadan tegap kini mencondongkan tubuh ke depan meja. Terlihat sangat mengancam.
“Ini bukan lagi mainan anak SD, jalang. Aku bakal hajar kamu sampai keliling kantin biar semua orang tau gimana rasanya jadi keset lantai!”
Melody sadar situasi makin panas dan berbahaya. Tanpa berpikir panjang, tangannya langsung mencengkeram lengan bawah Adden, berusaha menghentikannya karena ia tahu cowok itu serius.
Hangatnya kulit Adden terasa jelas di jemarinya, menjalar naik ke lengan Melody.
Namun, Adden seketika menarik tangannya kasar seakan tersentuh barang panas atau kotor. “JANGAN SENTUH AKU, ANJING!”
Melody buru-buru menarik tangannya kembali dan menelan ludah dengan susah payah.
Rahang Adden mengeras, tatapannya tajam. Di sana Melody hanya bisa melihat tiga hal.
Marah.
Benci.
Jijik.
Adden sudah tidak menganggapnya sahabat lagi, dan Melody harus menerimanya. Ia tidak tahu apa kesalahannya, selain meninggalkan sepucuk surat dulu. Itu satu-satunya cara untuk berpamitan. Satu-satunya cara menyimpan rahasianya.
"Maaf. Aku nggak akan sentuh kamu lagi."
Adden tersenyum sinis melihat reaksinya. Senyum meremehkan yang jelas-jelas ingin membuat Melody merasa rendah diri dan tunduk padanya.
"Sepertinya itu keputusan terbaik. Siapa tahu aku bisa ketularan penyakit miskin yang ga ada obatnya."
Melody sadar semua mata di kantin kini tertuju pada mereka. Pria itu pasti menikmati perhatian ini dan ingin menunjukkan kalau statusnya sama rendahnya dengan Enno.
Tak apa, Melody tak peduli. Yang menyakitkan adalah dia, orang yang pernah disukainya berubah menjadi begini tanpa tahu apa-apa tentang hidupnya.
Janji untuk tidak menjadi pembully ternyata hanya omong kosong. Melody jadi bertanya-tanya, janji apa lagi yang sudah dia ingkari?
"Jadi, ini yang kamu lakuin sekarang?" Melody mendongak, menggeleng pelan. "Menindas orang lain biar kamu merasa hebat. Mengancam, bahkan main fisik kalau ada yang nggak mau nurut."
Cowok itu menyeringai. "Bukan. Cuma kamu dan si bodoh di depanmu itu. Dan siapa saja yang perlu aku tempatin pada posisinya. Tapi khusus buat kamu, aku pastiin harimu di sini bakal ... menyenangkan."
Matanya melirik ke belakang Melody. Sesaat kemudian, sesuatu yang basah dan dingin tumpah membasahi kepala hingga punggung jaketnya.
Melody menegang. Di sebelahnya, Enno mencoba melawan tapi tak berdaya. Adden mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu begitu kuat hingga Enno berteriak kesakitan.
"Aduh! Le-lepasin!"
"Urusanmu bukan di sini, Enno. Minggir. Jangan sok tahu urusan orang lain, paham?" Adden mendengus kasar, lalu mendorong tubuh Enno hingga tersandar di meja.
Enno berpegangan kuat agar tak jatuh, sementara Melody cepat berbalik. Matanya menangkap sosok gadis berambut pirang bermata hijau, teman sekelasnya tadi yang tertawa puas bersama teman-temannya.
Namanya Mihoy. Gadis yang tadi juga menatap Adden dengan tatapan Pelakor.
"Duduk," perintah Adden, menunjuk meja tempat Messy dan gengnya duduk dengan dagunya.
"Siap, sayang," jawab gadis itu dengan nada manis yang dibuat-buat.
Pasti pacarnya ... atau mungkin salah satunya. Melody tak heran. Pria macam Adden pasti punya banyak penggemar yang siap menurut.
Melody mencoba berdiri, tapi sensasi cairan dingin yang merembes ke punggung membuatnya gemetar.
Sialan.
Ingin rasanya dia menghajar Mihoy, tapi itu hanya akan mendatangkan masalah besar. Melody tak mau kembali ke panti rehabilitasi.
Jika ingin merasakan kebebasan setelah lulus, dia harus bersikap biasa dan menghindari masalah. Itu satu-satunya jalan keluar dari neraka yang sudah dia lalui.
Waktu yang dihabiskan diam-diam bersama Adden dulu adalah satu-satunya pelipur lara bagi masa kecilnya yang kelam dan penuh luka.
Sekarang Melody berharap tak pernah mengenal Adden sama sekali, agar tak perlu merasa sekecewa ini. Dia marah pada dirinya sendiri karena pernah mengira Adden adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya.
Ternyata sama saja. Mungkin memang nasibnya selalu sial, dan Melody adalah salah satu orang yang ditakdirkan untuk terluka.
Melody berdiri tegak, menatap Adden penuh kebencian dan jijik. Matanya perih menahan tangis, kecewa pada sosok di depannya. Wajah itu masih tetap tampan, tapi sikapnya kini mematikan pesona itu sepenuhnya. Bagaimana bisa orang yang terlihat sempurna itu begitu sombong dan menyebalkan?
Melody mendekat, sedikit membungkuk hingga tatapan mereka sejajar. Peduli setan kalau dia sekarang bau susu basi.
"Makasih ya udah bikin hari-hariku di sini jadi 'menyenangkan'. Namaku Melody. Panggil yang bener. Cuma teman dekat yang boleh panggil Melky."
Adden tersenyum santai lalu mengangkat bahu. "Bagus. Senang kalau kita sudah sepakat kalau kita bukan teman. Kita bukan siapa-siapa. Aku cuma mastiin kamu tahu posisi kamu di sini."
Adden menoleh sebentar, lalu kembali menatap Melody tajam. "Oh ya, satu lagi. Aku nggak suka ngulang kata-kata, jadi ini yang terakhir. Jangan macam-macam sama Messy, atau kamu bakal menyesal."
Melody menatapnya datar, seakan ancaman itu tak berarti apa-apa. Sudah tak ada yang perlu ditakuti lagi. Mulai sekarang, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.