"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Antara Belas Kasih dan Gairah
Antara Belas Kasih dan Gairah
Sore itu, suasana kafe di dekat kampus terasa sangat tenang. Alunan musik jazz instrumen mengalun pelan, mencoba menidurkan kegelisahan yang sejak tadi merayap di dadaku. Di depanku, Raka duduk sambil memutar-mutar gelas kopinya. Lebam di rahangnya sudah mulai memudar, tapi tatapannya padaku justru semakin dalam.
"Rum," panggil Raka lembut.
Aku mendongak, mencoba tersenyum meskipun pikiranku masih terjebak di lorong perpustakaan bersama Gavin kemarin. "Kenapa, Rak?"
"Gue tau lu lagi banyak pikiran. Gue nggak akan maksa lu buat cerita soal apa yang terjadi di perpus kemarin, atau soal... ipar lu itu," Raka meraih tanganku di atas meja. Tangannya hangat, sangat berbeda dengan tangan Gavin yang selalu terasa membakar. "Tapi gue mau lu tau satu hal. Gue serius sama lu, Rum."
Jantungku berdegup pelan. "Rak, gue—"
"Gue nggak minta jawaban sekarang," potongnya cepat. Raka berdiri, berpindah duduk ke sampingku di sofa panjang. Dia mendekat, aroma jeruknya yang segar menenangkan sarafku. "Gue cuma pengen lu ngerasa aman. Gue pengen jadi tempat lu pulang pas lu ngerasa dunia ini terlalu berisik."
Raka mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan napasnya yang tenang. Dia sangat lembut, sangat sabar. Perlahan, Raka menyatukan kening kami. Tangannya mengusap pipiku dengan ibu jari, sebuah sentuhan yang tulus, tanpa ada tuntutan nafsu di dalamnya.
"Boleh gue... cium lu, Rum?" bisiknya sangat rendah.
Aku tertegun. Mataku terpejam. Ada bagian dari diriku yang ingin merasakan bagaimana rasanya dicium oleh pria "normal" seperti Raka. Aku ingin melupakan rasa panas yang diberikan Gavin. Aku ingin "sembuh" dari obsesi gila ini. Saat bibir Raka hampir menyentuh bibirku, saat aku hampir saja terlena dalam kenyamanan yang dia tawarkan...
Drrrtt! Drrrtt!
Ponselku di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama Mbak Siska.
Aku tersentak dan langsung menjauh dari Raka. Napasku tersengal seolah baru saja tertangkap basah melakukan dosa besar. "Maaf, Rak. Mbak Siska telepon."
Raka mengembuskan napas berat, tampak kecewa tapi tetap berusaha pengertian. "Nggak apa-apa. Angkat aja."
Aku menekan tombol hijau dengan tangan gemetar. "Halo, Mbak?"
"Arum..." Suara di seberang sana bukan suara Mbak Siska yang ceria. Itu suara Mbak Siska yang sedang menangis tersedu-sedu, suaranya pecah dan nyaris menghilang.
"Mbak? Mbak kenapa? Ada apa?" tanyaku panik.
"Mbak di rumah sakit, Rum... Mas Gavin baru saja datang. Dokter... dokter bilang Mbak kena kanker rahim, Rum. Stadium dua..."
Duniaku serasa berhenti berputar. Petir seolah menyambar tepat di atas kepalaku. Kanker rahim? Mbak Siska?
"Mbak, tunggu di sana! Arum ke sana sekarang!" aku langsung berdiri, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Rum? Ada apa?" Raka ikut berdiri, wajahnya penuh kecemasan.
"Mbak Siska, Rak. Dia sakit parah. Gue harus ke rumah sakit sekarang!"
Di Rumah Sakit Medika
Langkah kakiku bergema di koridor rumah sakit yang beraroma disinfektan. Dari kejauhan, aku melihat sosok pria yang sangat kukenali sedang berdiri mematung di depan pintu ruang VVIP.
Gavin.
Dia masih mengenakan kemeja kantornya, tapi penampilannya sangat berantakan. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak lunglai. Dia menatap lurus ke arah jendela kecil di pintu kamar, tempat Mbak Siska sedang terbaring lemah di dalam sana.
Aku berjalan mendekat dengan perasaan yang sangat campur aduk. Rasa benci, takut, dan cemburu semalam mendadak menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang menghujam jantungku. Bagaimana bisa aku bermain api dengan suaminya di saat Mbak Siska sedang berjuang melawan penyakit mematikan di rahimnya? Rahim yang seharusnya menjadi tempat anak-anak Gavin tumbuh.
"Mas..." panggilku lirih.
Gavin menoleh perlahan. Matanya yang biasanya penuh kilat predator kini tampak kosong dan merah. Dia menatapku seolah aku adalah satu-satunya pegangan yang tersisa di dunia yang runtuh ini.
"Arum..." suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Tanpa berkata apa-apa, Gavin menarikku ke dalam pelukannya. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada paksaan, tidak ada gairah kotor, tidak ada dominasi. Dia hanya memelukku dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku—tepat di atas tanda merah yang dia buat kemarin.
Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar. Gavin, pria paling angkuh yang pernah kukenal, sedang menangis di pundakku.
"Dokter bilang... kemungkinannya kecil untuk dia bisa hamil, Arum. Rahimnya harus diangkat kalau kankernya menyebar," bisik Gavin dengan suara hancur. "Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa."
Aku mematung. Kata-katanya seperti belati. Dia sedih karena Mbak Siska sakit, atau dia hancur karena dia tidak akan pernah bisa mendapatkan keturunan dari wanita yang sah?
Aku mengusap punggungnya perlahan, mencoba memberikan kekuatan yang aku sendiri pun tidak punya. "Sabar, Mas. Mbak Siska kuat. Kita akan lalui ini semua."
Di tengah pelukan itu, pintu kamar terbuka. Mbak Siska memanggil dari dalam dengan suara lemah. "Mas Gavin... Arum..."
Kami berdua melepaskan pelukan dengan canggung. Gavin menghapus air matanya dengan cepat, kembali memasang topeng ketegaran. Kami masuk ke dalam, melihat Mbak Siska yang tampak sangat pucat dengan selang infus di tangannya.
"Arum, sini Sayang..." Mbak Siska mengulurkan tangannya.
Aku mendekat, menggenggam tangannya yang dingin. "Mbak, jangan banyak pikiran ya. Mbak pasti sembuh."
Mbak Siska tersenyum tipis, lalu menatap Gavin yang berdiri di sampingku. Dia menarik tangan Gavin, lalu meletakkannya di atas tanganku yang sedang menggenggam tangannya. Jadi, tangan kami bertiga bertumpukan.
"Mas... kalau nanti aku nggak bisa kasih kamu anak... kalau nanti aku harus pergi..." Siska terbatuk kecil. "Tolong, jaga Arum ya. Dia cuma punya kita."
Hatiku mencelos. Rasanya seperti duniaku kiamat saat itu juga. Permintaan Mbak Siska terasa seperti sebuah wasiat yang sangat menyakitkan. Aku melirik Gavin melalui sudut mataku.
Gavin menatapku. Di balik kesedihan di matanya, aku melihat sesuatu yang sangat menakutkan kembali muncul. Sebuah kilatan obsesi yang kini bercampur dengan takdir yang gelap. Seolah-olah penyakit Mbak Siska adalah "izin" yang diberikan semesta untuknya agar bisa memilikiku sepenuhnya tanpa halangan lagi.
"Aku akan menjaganya, Siska. Aku janji," jawab Gavin dengan nada yang sangat dalam.
Genggaman tangan Gavin di atas tanganku mengerat secara diam-diam di bawah selimut Mbak Siska. Dia memberikan tekanan yang sama seperti saat di perpustakaan.
Aku merinding hebat. Di atas tempat tidur kakakkku yang sedang sekarat, pria ini baru saja mengikrarkan sebuah janji yang aku tahu akan menjadi awal dari dosa yang jauh lebih besar.
Gavin tidak sedih karena akan kehilangan Siska. Dia hanya terkejut karena jalannya untuk menjadikanku "pengganti" kini terbuka lebar lewat cara yang paling tragis.
jngan y thor