Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Asli Elara Vasiliev
Pagi itu kota belum benar-benar sibuk ketika satu berita kecil mulai bergerak dari meja redaksi ke layar ponsel, dari grup investor ke ruang tunggu salon, dari kantor eksekutif ke meja makan keluarga kaya.
Awalnya hanya rumor.
Lalu menjadi bisikan.
Lalu menjadi kepastian yang mengguncang banyak orang.
Nama pewaris Vasiliev akhirnya terungkap.
Di mansion Moretti, Seraphina sedang duduk di ruang sarapan dengan secangkir kopi yang tak disentuh. Sejak berita gala charity semalam, tidurnya nyaris tak ada. Matanya sembab meski ditutupi riasan tipis.
Selene masuk sambil memegang tablet.
“Ibu…”
“Apa lagi?”
“Kita trending.”
Seraphina menutup mata.
“Kalau ini soal meme rumah kita, simpan saja.”
“Bukan.”
Selene meletakkan tablet di meja.
“Ini soal dia.”
Seraphina membuka mata dan menatap layar.
Judul artikel bisnis bergengsi terpampang besar:
ANASTASIA ELARA VASILIEV KEMBALI KE PUBLIK, SIAP AMBIL ALIH IMPERIUM KELUARGA
Cangkir kopi di tangan Seraphina bergetar.
“Anastasia…”
Selene membaca cepat.
“Jadi nama lengkapnya bukan cuma Elara.”
Seraphina menelan ludah.
Anastasia.
Nama itu terdengar seperti nama bangsawan Eropa Timur. Terlalu mahal. Terlalu tinggi. Terlalu jauh dari dapur belakang mansion-nya.
Dan perempuan itu pernah membersihkan meja makannya.
Di kantor Moretti Holdings, Damian membaca artikel yang sama di layar komputer.
Foto resmi Elara terpampang di samping judul.
Gaun hitam sederhana.
Tatapan tenang.
Tidak tersenyum.
Nama lengkap di bawahnya:
Anastasia Elara Vasiliev
Ia menyandarkan tubuh perlahan.
Selama dua tahun, ia memanggilnya hanya dengan satu nama pendek.
Elara.
Tanpa tahu bahwa di belakang nama itu ada sejarah, kekuasaan, dan dunia yang tak pernah ia sentuh.
Asistennya mengetuk pintu.
“Tuan, media meminta komentar karena keluarga Anda pernah—”
“Tidak ada komentar.”
“Baik.”
“Dan tolak semua wawancara.”
Asisten keluar cepat.
Damian kembali menatap layar.
Anastasia.
Nama itu terasa asing.
Namun Elara… justru terasa terlalu dekat.
Di penthouse Vasiliev, Elara sedang duduk di meja panjang sambil membaca jadwal hariannya.
Viktor berdiri di samping dengan beberapa berkas.
“Media sudah merilis nama resmi Anda.”
“Aku tahu.”
“Anda tak keberatan?”
Elara meminum teh perlahan.
“Nama hanyalah nama.”
“Bagi publik, tidak.”
Viktor membuka artikel.
“Anastasia Vasiliev terdengar seperti pewaris kerajaan.”
Elara tersenyum tipis.
“Dan Elara terdengar seperti gadis yang bisa disuruh mencuci piring.”
Viktor menunduk.
Ia tak pernah tahu bagaimana cucu tuannya bisa mengucapkan kalimat pahit dengan begitu tenang.
“Apa Anda menyesal memakai nama itu di rumah Moretti?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Elara menatap jendela.
“Karena saat orang hanya mengenal nama kecilmu, mereka menunjukkan siapa diri mereka yang sebenarnya.”
Kilasan masa lalu datang seperti bayangan singkat.
Hari pertama ia datang ke mansion Moretti dua tahun lalu.
Rambut diikat sederhana.
Pakaian polos.
Tanpa perhiasan.
Tanpa pengawal.
Tanpa nama belakang.
Seraphina menatapnya dari atas ke bawah.
“Nama?”
“Elara.”
“Hanya Elara?”
“Ya, Madam.”
Seraphina mendecih.
“Orang miskin memang suka punya nama pendek.”
Elara hanya tersenyum waktu itu.
Hari itu ia tahu tempat macam apa yang ia masuki.
Kembali ke masa kini.
Tuan Octavian sedang sarapan di suite rumah sakit saat berita yang sama diputar di televisi.
Penyiar menyebut dengan nada kagum:
“Anastasia Elara Vasiliev disebut-sebut akan menjadi figur paling berpengaruh baru di dunia bisnis…”
Octavian tertawa kecil.
“Baru sekarang mereka belajar menyebut namamu.”
Elara masuk ke kamar dengan map di tangan.
“Mereka akan bosan dua minggu lagi.”
“Tidak kalau kau mulai menghancurkan pesaing.”
“Pagi-pagi sekali bicara perang.”
“Karena aku tua. Orang tua tak punya waktu untuk basa-basi.”
Ia menatap cucunya penuh arti.
“Kau siap memakai nama itu lagi?”
Elara meletakkan map di meja.
“Aku tak pernah melepaskannya.”
Siang hari, gala charity malam itu menjadi topik utama kota.
Undangan yang tadinya biasa-biasa saja kini berubah menjadi ajang yang diperebutkan. Semua orang ingin hadir jika Anastasia Elara Vasiliev benar-benar datang.
Di ruang rias mansion, Seraphina sedang memilih gaun dengan panik.
“Yang biru terlalu tua. Yang emas terlalu mencolok. Yang hitam seperti pemakaman!”
Penata busana tak berani bicara.
Selene duduk sambil tertawa kecil.
“Ibu gugup?”
“Aku tidak gugup.”
“Ibu takut.”
Seraphina menoleh tajam.
“Diam.”
Selene memainkan kuku.
“Aku penasaran… kalau nanti dia datang dan semua orang menyanjungnya, apa Ibu masih akan memanggilnya pelayan?”
Tamparan nyaris melayang, tapi Seraphina menahan diri.
“Aku ibumu.”
“Dan itu satu-satunya gelar yang masih aman sekarang.”
Selene berdiri lalu keluar sambil tersenyum sinis.
Seraphina gemetar sendirian di depan cermin.
Sore menjelang, Damian tiba di butik setelan pria terbaik di kota.
Pemilik butik sendiri keluar menyambut.
“Tuan Damian, kehormatan besar—”
“Aku butuh tuxedo malam ini.”
“Tentu.”
Saat sedang diukur, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Jika Anda ingin menyelamatkan proyek Marina Bay, datang lebih awal ke gala. Sendiri.
Tak ada nama pengirim.
Namun Damian langsung tahu satu hal.
Ini bukan gaya Elara.
Ini gaya seseorang yang bermain di belakang layar.
Cassian.
Ia menatap pesan itu lama.
Permainan semakin besar.
Malam tiba.
Hotel tempat gala charity digelar berubah menjadi lautan cahaya.
Karpet merah terbentang panjang.
Kamera berkilat.
Nama-nama besar turun dari mobil mewah satu demi satu.
Seraphina datang dengan gaun perak dan senyum dipaksakan. Selene di sampingnya tampil memesona, tetapi wajahnya tegang.
Bisik-bisik langsung terdengar.
“Itu keluarga Moretti.”
“Mereka yang pernah mempekerjakan Anastasia?”
“Katanya ditampar juga…”
Seraphina pura-pura tak mendengar.
Di dalam ballroom, Damian datang terpisah dari keluarganya.
Ia mengenakan tuxedo hitam sederhana, wajah datar, tetapi matanya waspada.
Ia melihat sekeliling.
Investor.
Politikus.
Media.
Dan di sudut ruangan…
Cassian berdiri sambil memegang sampanye, tersenyum seperti ular.
“Damian Moretti.”
Damian mendekat.
“Kau kirim pesan itu?”
Cassian mengangkat gelas.
“Mungkin.”
“Apa maumu?”
“Membantu.”
“Aku tidak percaya.”
“Kau benar.”
Cassian menatap kerumunan.
“Sepupuku akan datang sebentar lagi. Saat dia masuk, semua orang akan lupa kau ada. Aku hanya ingin tahu… bagaimana rasanya jatuh cinta pada orang yang kini berada di atasmu.”
Damian menegang.
“Aku tidak jatuh cinta.”
Cassian tertawa kecil.
“Lelaki yang menyangkal paling keras biasanya paling telat sadar.”
Lampu ballroom meredup.
MC naik ke panggung.
“Para tamu terhormat… sponsor utama malam ini telah tiba.”
Semua kepala menoleh ke pintu utama.
Pintu ganda terbuka perlahan.
Seorang wanita masuk dengan gaun putih gading berpotongan elegan, berlian kecil di telinga, rambut disanggul anggun.
Langkahnya tenang.
Tidak tergesa.
Tidak mencari perhatian.
Namun seluruh ruangan otomatis memberi jalan.
“Miss Anastasia Elara Vasiliev.”
Nama itu diumumkan jelas ke seluruh ballroom.
Semua orang berdiri spontan.
Tepuk tangan menggema.
Seraphina membeku.
Selene tak bisa berkedip.
Cassian tersenyum samar.
Dan Damian…
hanya menatap.
Elara—tidak, Anastasia—melangkah masuk seperti seseorang yang memang terlahir untuk tempat itu.
Saat melewati keluarga Moretti, ia berhenti sejenak.
Menatap Seraphina.
Menatap Selene.
Lalu tatapannya berhenti pada Damian beberapa detik lebih lama.
Tidak ada dendam di sana.
Tidak ada kelembutan juga.
Hanya jarak.
Jarak yang kini terasa tak terjangkau.
Ia lalu berjalan ke panggung.
MC menyerahkan mikrofon.
“Suatu kehormatan memiliki Anda di sini, Miss Vasiliev. Mungkin Anda ingin memberi sambutan?”
Elara menerima mikrofon.
Ruangan hening total.
Ia memandang seluruh tamu, lalu berkata tenang,
“Terima kasih.”
Suara lembutnya memenuhi ballroom.
“Saya belajar satu hal penting dalam dua tahun terakhir.”
Tatapannya bergerak pelan ke arah keluarga Moretti.
“Kadang cara tercepat mengenal manusia… adalah datang tanpa nama belakang.”
Ruangan langsung menahan napas.
Seraphina nyaris jatuh.
Selene memucat.
Damian menunduk tipis.
Elara tersenyum kecil.
“Malam ini saya datang dengan nama asli saya.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan saya harap semua orang di ruangan ini tetap memperlakukan orang lain dengan hormat… bahkan saat mereka belum tahu siapa namanya.”
Tepuk tangan meledak lebih keras dari sebelumnya.
Beberapa orang bahkan berdiri.
Semua orang terpesona.
Semua orang kagum.
Dan keluarga Moretti…
membeku di tempat masing-masing
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄