"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: OPERASI GULA KAPAS DAN PELURU TERSEMBUNYI
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Dunia Fantasia. Nama yang sangat tidak efisien untuk sebuah tempat yang isinya adalah distorsi kebisingan, antrean yang tidak logis, dan aroma minyak goreng yang berlebihan. Jika ini adalah medan perangku yang dulu, aku akan segera memerintahkan serangan udara untuk meratakan kerumunan ini demi menjaga ketenangan perimeter.
Namun, di sini aku berdiri, mengenakan kaos bergambar beruang kutub dan topi snapback yang sengaja dimiringkan. Di tanganku bukan sebuah detonator, melainkan sebuah gulungan gula kapas berwarna merah muda yang teksturnya menyerupai awan polusi manis.
"Papa, posisi sudut topi Paman Beruang di jam sepuluh itu tidak simetris. Secara statistik, tidak ada maskot yang memiliki kemiringan kepala 45 derajat saat suhu udara mencapai 32 derajat Celcius, kecuali jika ia sedang menyembunyikan teropong optik di balik lubang mata kostumnya," ucapku datar melalui earpiece frekuensi rendah yang tersamarkan sebagai pelindung telinga dari kebisingan.
Aku melirik Damian. Sang Raja Mafia Vipera itu sedang berdiri di sampingku, membawa dua tas ransel berisi perlengkapan bayi (milik kami, yang sebenarnya isinya adalah perangkat elektronik rahasia), dan mengenakan bando telinga kelinci berwarna pink yang dipaksakan oleh Lea.
"Leo, bisakah kita fokus menjadi 'keluarga normal' selama lima menit saja? Aku baru saja menghabiskan dua juta rupiah hanya untuk tiket masuk dan balon gas ini," gerutu Damian. Suaranya rendah dan penuh wibawa, namun penampilannya saat ini benar-benar menghancurkan reputasi klan mafia manapun di benua ini.
"Normalitas adalah variabel yang paling sulit dipertahankan saat Baron menempatkan empat penembak runduk di atas wahana bianglala, Papa," balasku sambil berpura-pura menjilat gula kapasku. "Unit Ghost sudah bergerak di sektor bawah. Papa hanya perlu tetap tersenyum pada Mama. Jangan biarkan urat lehermu menonjol seperti sedang ingin mencekik orang. Itu merusak profil 'Ayah Penyayang' yang sedang kita bangun."
Di depan kami, Mama—Qinanti—berjalan dengan langkah ringan, menggandeng tangan Lea. Dia tampak begitu bahagia. Matanya berbinar melihat kincir ria yang berputar. Baginya, hari ini adalah kemenangan kecil atas trauma sembilan tahun pelariannya. Bagiku, ini adalah operasi perlindungan tingkat tinggi yang disamarkan sebagai rekreasi keluarga.
“Kak, target sosial teridentifikasi. Pria dengan kaos garis-garis di dekat penjual popcorn. Dia memiliki kedutan di kelopak mata bawah sebelah kiri—tanda tremor akibat penggunaan stimulan tempur. Dia sedang memegang ponsel, tapi sudut kameranya mengarah ke tumit Mama. Dia sedang memetakan jalur pelarian kita,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.
“Diterima, Lea. Biarkan dia mendekat sampai radius lima meter. Aku sudah mengaktifkan drone mikro dari tas ransel Papa. Begitu dia masuk ke zona 'blind spot' di balik rumah hantu, lumpuhkan dia tanpa suara,” perintahku lewat pikiran.
Aku menatap kerumunan itu lagi. Di balik tawa anak-anak dan musik riang taman bermain ini, aku mencium aroma mesiu yang samar. Baron tidak belajar dari kekalahannya. Dia mengira taman bermain ini adalah kelemahan kami karena kehadiran Mama. Dia tidak tahu, bahwa di duniaku, tidak ada tempat yang lebih baik untuk melakukan pembersihan daripada di tengah keramaian yang bising.
POV: QINANTI (Mama)
Udara hari ini terasa begitu manis. Bukan hanya karena bau karamel dan popcorn yang memenuhi udara, tapi karena untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun, aku merasa tidak perlu menoleh ke belakang setiap lima detik.
Aku menatap Damian yang berjalan di belakangku. Pria itu tampak begitu konyol dengan bando kelinci pemberian Lea, tapi matanya... matanya terus menjagaku dengan intensitas yang membuat hatiku berdebar. Dia benar-benar mencoba. Dia membawa tas-tas berat, membelikan es krim, dan bahkan rela mengantre panjang hanya untuk sebuah foto bersama maskot.
"Damian, lihat! Lea ingin naik komidi putar!" seruku sambil menunjuk wahana klasik yang berputar pelan dengan iringan musik organ yang ceria.
Damian tersenyum—sebuah senyuman yang tampak sedikit dipaksakan, mungkin karena dia sedang menahan beban dua ransel berat. "Tentu, Qin. Apapun untuk Lea."
Kami naik ke atas wahana itu. Aku duduk di atas kuda kayu berwarna putih, sementara Lea duduk di kuda kecil di sampingku. Damian berdiri di dekat tiang tengah, memegang pinggangku agar aku tidak terjatuh. Leo? Dia memilih duduk di kereta kencana yang tidak bergerak, matanya tetap terpaku pada tablet kecilnya.
"Leo, simpan dulu mainanmu. Lihat, pemandangannya indah!" ucapku.
"Ini bukan mainan, Ma. Ini adalah... simulasi rotasi dinamis," jawab Leo tanpa menoleh.
Aku tertawa kecil, meski ada rasa perih di dadaku. Kadang aku merasa Leo tumbuh terlalu cepat. Dia bicara seperti ilmuwan, bukan seperti anak kecil. Tapi kemudian aku melihatnya diam-diam mencuri lirik ke arahku, memastikan aku tetap ada di jangkauan pandangannya. Di balik kedinginannya, aku tahu dia mencintaiku dengan caranya sendiri yang aneh.
Saat komidi putar mulai berputar, aku memejamkan mata, merasakan angin menerpa wajahku. Untuk sekejap, aku lupa bahwa aku berada di bawah perlindungan klan mafia terbesar. Aku lupa tentang ruang bawah tanah itu. Aku merasa seperti ibu biasa dengan suami dan anak-anak yang luar biasa.
Namun, saat wahana itu mencapai putaran ketiga, aku merasakan Damian menegang. Genggamannya di pinggangku mengeras.
"Ada apa, Damian?" bisikku.
"Tidak ada apa-apa, Qin. Tetaplah melihat ke arah Lea," suaranya tenang, namun ada nada komando yang kukenali.
Aku menoleh ke arah Lea, dan aku melihat putri kecilku itu sedang memberikan kerlingan mata misterius ke arah Leo. Leo membalasnya dengan ketukan jari di layar tabletnya. Mereka seperti sedang melakukan percakapan rahasia yang tidak bisa kudengar.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
“Papa, jangan bergerak. Ada laser infra-merah yang membidik dari arah atap kios churros. Sektor 5. Jangan menarik perhatian Mama,” lapor kuku lewat Shadow Talk.
Aku tetap tersenyum manis ke arah Mama, melambaikan tangan dengan riang seolah-olah aku benar-benar menikmati putaran kuda kayu yang membosankan ini. Namun, di balik topeng 'Nona Muda' yang imut, aku sedang memetakan profil psikologis sang penembak.
Analisis: Penembak ini bukan profesional kelas satu. Napasnya tidak teratur. Dia ragu. Dia menunggu kerumunan menjadi lebih padat agar bisa melarikan diri dengan mudah. Dia bukan pembunuh berdarah dingin; dia adalah orang yang putus asa yang dibayar mahal oleh Baron.
“Kak, drone mikro sudah di posisi?” tanyaku lewat pikiran.
“Sudah. Aku sedang mengunci target. Dalam hitungan tiga, bianglala di belakang mereka akan mengalami 'gangguan teknis' singkat untuk mengalihkan pandangan semua orang. Papa, siapkan tanganmu. Aku butuh Papa menangkap selongsong peluru yang mungkin terlepas jika senjatanya meledak di tangan mereka,” suara Leo terdengar sangat presisi.
Satu.
Aku melihat pria di kios churros itu mulai memasukkan jarinya ke pelatuk.
Dua.
Damian bergeser satu inci, menutupi seluruh tubuh Mama dengan punggungnya yang lebar, pura-pura sedang membetulkan tali tasnya.
Tiga.
ZAP!
Sebuah ledakan kecil terjadi di panel listrik bianglala. Semua orang berteriak kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Di saat yang sama, drone mikro Leo menembakkan pulsa elektromagnetik ke arah senjata sang penembak. Senjata itu malfungsi, meledak di tangan sang penembak tanpa mengeluarkan suara tembakan.
Pria itu tumbang, memegangi tangannya yang hancur. Dalam hitungan detik, dua anggota unit Ghost yang menyamar sebagai petugas kebersihan menyeretnya masuk ke dalam area tertutup.
"Wah! Lihat lampunya mati!" seruku dengan nada kaget yang sangat meyakinkan. "Mama, apa bianglala itu akan meledak?"
Mama tersentak, memelukku erat. "Tidak, Sayang. Hanya korsleting biasa. Papa, kita harus turun dari sini."
"Ya, Qin. Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih tenang," ucap Damian. Dia memberikan pandangan 'kerja-bagus' yang sangat singkat ke arah Leo.
Kami turun dari komidi putar. Kerumunan orang masih sibuk melihat ke arah bianglala yang mati total. Tidak ada yang menyadari bahwa di antara ribuan orang ini, sebuah percobaan pembunuhan baru saja digagalkan dengan presisi bedah saraf.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku menghela napas panjang saat kami duduk di sebuah bangku taman yang agak terpencil, jauh dari wahana yang bermasalah. Qinanti masih tampak sedikit gugup, jadi aku membelikannya sebotol air mineral dan menggenggam tangannya.
"Kau baik-baik saja, Qin?"
"Iya, Damian. Hanya saja... rasanya aneh. Kejadian bianglala itu... dan tadi aku melihat petugas kebersihan membawa seseorang yang pingsan?"
"Hanya kebetulan, Ma," Leo menyela sambil menyerahkan sepotong cokelat pada Mama. "Glukosa ini akan menstabilkan sistem saraf Mama. Makanlah."
Aku menatap Leo. Anak ini baru saja melumpuhkan seorang penembak runduk sambil duduk di kereta kencana komidi putar. Aku mulai menyadari bahwa strateginya jauh lebih bersih daripada caraku yang biasanya melibatkan baku tembak dan ceceran darah.
"Papa," Leo memanggilku.
"Ya?"
"Aku butuh Papa membawa Mama ke arah pintu keluar melalui jalur hutan buatan di sisi timur. Unit Ghost melaporkan ada tiga unit 'Black Crow' yang sedang menunggu di gerbang utama dengan alat pelacak bio-metrik ilegal. Mereka mencari tanda tangan panas kita," Leo bicara dengan nada rendah, sambil pura-pura asyik memakan es krimnya.
Aku mengepalkan tangan. "Mereka tidak akan berhenti, ya?"
"Mereka sedang melakukan 'Last Stand', Papa. Baron kehilangan segalanya di pameran kemarin, dan sekarang dia bertaruh dengan nyawa terakhirnya," Leo berdiri, merapikan topinya. "Lea, kau temani Mama. Aku dan Papa akan melakukan 'distraksi' di jalur hutan."
"Apa?! Tidak, Leo! Kau harus tetap bersama Mama!" seru Qinanti panik saat mendengar Leo menyebut ingin berpisah.
"Ma, Leo ingin melihat pameran robot di sisi timur itu. Katanya hanya untuk laki-laki. Lea mau temani Mama beli boneka kelinci baru di toko depan, ya?" Lea memberikan alasan yang paling manis.
Qinanti ragu sejenak, namun dia melihat ketegasan di mata Leo—mata yang sangat mirip denganku. "Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Dan Damian, jaga dia!"
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku, Qin," janjiku.
Kami berpisah di persimpangan jalur. Aku membawa Leo menuju jalur hutan buatan yang rimbun dan remang-remang. Begitu sosok Qinanti dan Lea menghilang dari pandangan, suasana hatiku berubah total. Aku melepaskan bando kelinci yang konyol itu, melemparkannya ke semak-semak, dan mengeluarkan senjata berperedam dari balik punggungku.
"Sudah waktunya, Papa," ucap Leo. Dia tidak lagi memegang es krim. Dia memegang sebuah perangkat kendali jarak jauh yang terhubung dengan satelit pribadi. "Tiga orang di jam dua. Dua orang di jam sebelas. Mereka menggunakan kacamata malam, jadi aku akan mematikan semua lampu di jalur ini dalam tiga detik. Papa, gunakan insting mafiamu."
Tiga.
Dua.
Satu.
KLEK.
Seluruh jalur hutan menjadi gelap gulita. Hanya ada suara gesekan daun dan deru napas musuh yang panik.
DAR! DAR!
Aku bergerak dalam kegelapan seperti bayangan. Suara senjataku teredam sempurna oleh peredam khusus buatan Leo. Satu per satu, titik-titik panas di kacamata malam musuh menjadi sasaran empukku. Leo terus memberikan koordinat melalui bisikan di telingaku.
"Geser kiri dua langkah, Papa. Ada pisau menuju arah bahu Papa."
Aku menghindar dengan gerakan refleks yang sempurna, menangkap pergelangan tangan musuh, dan mematahkannya dalam satu gerakan.
Dalam waktu kurang dari dua menit, jalur hutan itu kembali sunyi. Lima mayat anggota 'Black Crow' tergeletak di tanah, tidak lagi bernapas.
Leo menyalakan kembali lampu-lampu taman dengan satu sentuhan di tabletnya. Dia berjalan melewati mayat-mayat itu tanpa sedikit pun rasa ngeri, seolah-olah dia hanya sedang berjalan di atas hamparan dedaunan kering.
"Efisiensi tempur Papa meningkat 15% dari latihan terakhir. Tapi Papa masih terlalu banyak membuang tenaga pada musuh nomor tiga. Patahkan lehernya lebih cepat lain kali," kritik Leo sambil membersihkan debu di jas mininya.
Aku tertawa, sebuah tawa kering yang penuh kekaguman. "Kau benar-benar tidak memberikan ruang untuk pujian, ya?"
"Pujian adalah variabel yang tidak berguna jika kita masih memiliki musuh yang bernapas, Papa," balas Leo. "Sekarang, ayo kita temui Mama. Lea melaporkan bahwa Mama sudah membelikan boneka kelinci raksasa untuk kita. Sangat merepotkan secara logistik, tapi Mama senang."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku menggenggam tangan Mama saat kami berdiri di depan gerbang utama. Sebuah boneka kelinci berukuran satu meter ada di pelukan Mama. Dia tampak begitu tenang sekarang.
“Kak, operasi 'Silent Woods' selesai? Papa selamat?” tanyaku lewat pikiran.
“Bersih total. Kita sedang menuju ke arahmu. Pastikan mobil jemputan Marco sudah di posisi yang benar. Aku mendeteksi ada sisa-sisa pengintai di luar gerbang. Tapi biarkan unit Ghost yang menyelesaikannya di jalan tol nanti,” jawab Leo.
Aku menatap Mama. "Mama, Papa dan Kak Leo sudah datang!"
Qinanti berbalik dan melihat Damian serta Leo berjalan santai keluar dari jalur hutan. Damian tampak rapi kembali, seolah-olah dia tidak baru saja mematahkan tulang lima orang. Leo pun masih tetap dengan wajah datarnya yang dingin.
"Kalian lama sekali! Bagaimana pameran robotnya?" tanya Mama.
"Sangat edukatif, Ma. Banyak hal yang baru saja 'dihancurkan' dan 'dibangun kembali'," jawab Leo misterius.
Kami masuk ke dalam mobil SUV hitam yang sudah menunggu. Saat mobil mulai melaju meninggalkan Dunia Fantasia, aku melihat dari kaca belakang. Beberapa mobil hitam lainnya mulai mengikuti kami—mobil-mobil pengawal unit Ghost yang menjaga jarak aman.
Mama menyandarkan kepalanya di bahu Damian, tertidur karena kelelahan setelah seharian bermain. Damian mengusap rambut Mama, matanya menatap ke depan dengan kewaspadaan yang tidak pernah hilang.
Aku menatap Leo. Dia sedang menutup tabletnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia tampak sangat lelah. Tubuh anak delapan tahun ini memang memiliki batasannya sendiri.
"Checkmate, Papa," bisik Leo lirih sebelum akhirnya dia tertidur.
Aku tersenyum, memeluk boneka kelinciku erat. Hari ini bukan hanya tentang memenangkan perang melawan Baron. Hari ini adalah tentang memberikan Mama sebuah kenangan indah yang tidak bisa dihancurkan oleh peluru mana pun.
Permainan catur ini masih panjang, tapi selama kami memiliki 'Raja' yang patuh dan 'Ratu' yang bahagia, skakmat terakhir hanyalah masalah waktu.