Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mesin Range Rover itu akhirnya mati, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kabin. Kaizar masih mematung di balik kemudi, matanya menatap lurus ke arah pintu gerbang rumah Zivara yang baru saja tertutup rapat. Ia baru saja menurunkan gadis itu, tetapi tangannya masih terasa kaku, seolah sisa kehangatan dari jemari Zivara tadi masih tertinggal di sana.
Pikirannya melayang jauh, terjebak dalam labirin ingatan yang tidak seharusnya ada. Sejak terbangun dari mimpi malam itu, Kaizar terus dihantui oleh mimpi buruk yang terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur. Dalam tidurnya yang tidak nyenyak, ia melihat Zivara berdiri di tepi atap gedung rumah sakit yang tinggi. Angin kencang memainkan helai rambut gadis itu, dan di matanya, Kaizar melihat kekosongan yang mematikan—sebuah keputusasaan yang tidak pernah ia duga bisa dimiliki oleh Zivara yang lembut.
Lalu, dalam hitungan detik yang terasa seperti selamanya, tubuh itu jatuh.
Setiap kali bayangan Zivara yang terhempas itu muncul, Kaizar akan terbangun dengan peluh dingin dan jantung yang berpacu liar. Mimpi itu bukan hanya tentang kematian, melainkan tentang penyesalan yang terlambat. Dan yang paling menyakitkan, dalam kepingan mimpi tersebut, ia melihat dirinya sendiri sedang memeluk Luna di kejauhan, mengabaikan teriakan minta tolong Zivara yang tenggelam oleh suara hujan.
"Kenapa rasanya sesakit ini?" gumam Kaizar lirih, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Ia merasa bingung. Jika semua kejadian itu sudah benar-benar terjadi, ia mungkin bisa mencari penyebabnya dengan logika. Akan tetapi, semua ini hanya ada di dalam kepalanya. Sebuah peringatan dari masa depan yang belum terjadi, atau mungkin memori dari kehidupan yang telah ia sia-siakan.
Rasa posesif itu kini tumbuh menjadi monster yang sulit dikendalikan. Ia tidak peduli jika Zivara menganggapnya gila atau jika Luna merasa terabaikan. Fokusnya hanya satu: memastikan Zivara tetap bernapas, tetap ada dalam jangkauannya, dan tidak akan pernah mendekati atap gedung mana pun.
**
Malam terasa semakin dingin, namun di dalam kamar yang remang-remang, Zivara Arthea sudah terbaring di balik selimut tebalnya. Matanya terpejam, tetapi tidurnya jauh dari kata tenang. Kesadaran Zivara perlahan tersedot ke dalam sebuah lorong waktu yang gelap, membawanya kembali pada sebuah memori yang selama ini terkunci rapat di sudut jiwanya—memori tentang malam kelulusan Kaizar Ravindra.
Dalam kepingan mimpi yang terasa sangat nyata itu, Zivara melihat keriuhan sebuah pesta. Dentuman musik dan gelak tawa mahasiswa merayakan kelulusan memenuhi udara. Di sudut ruangan, Kaizar tampak sangat bahagia, dikelilingi teman-teman kampusnya. Tentu saja, di samping pria itu ada Luna, wanita yang selalu menjadi pusat dunianya saat itu.
Botol-botol minuman berserakan di meja. Kaizar dan teman-temannya mulai kehilangan kendali, tertawa dalam kondisi setengah sadar akibat pengaruh alkohol.
Zivara melihat Luna merogoh saku jaket Kaizar, mengambil ponsel pria itu dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh rencana. Layar ponsel menyala, menampilkan nama 'Zivara' di daftar kontak.
"Halo, Vara?" suara Luna di dalam mimpi itu terdengar serak, berpura-pura cemas. "Bisa ke Hotel Grand Preanger sekarang? Kaizar mabuk berat dan tidak ada yang bisa membawanya pulang. Aku juga sedang tidak stabil. Tolong jemput dia di kamar 402."
Zivara versi delapan belas tahun yang polos, yang mencintai Kaizar tanpa syarat, tidak berpikir panjang. Rasa khawatir mengalahkan logika. Ia segera menyambar jaketnya dan memacu kendaraan menuju lokasi yang disebutkan.
Adegan berubah cepat. Zivara kini berdiri di depan pintu kamar 402. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Di dalam sana, ia menemukan Kaizar yang terbaring di ranjang dengan napas yang tidak beraturan.
"Kak Kaizar? Ayo bangun, kita pulang," bisik Zivara sembari mencoba memapah tubuh tegap itu.
Akan tetapi, saat Zivara hendak melangkah keluar, terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Ceklek.
Zivara panik, ia mencoba memutar kenop pintu, tetapi sia-sia. Kamar itu telah menjadi penjara. Kondisi semakin memburuk saat Kaizar tiba-tiba mencengkeram lengannya. Mata pria itu merah, tubuhnya terasa panas seperti sedang terbakar, dan tatapannya kehilangan akal sehat. Malam itu, di bawah pengaruh zat yang sengaja dicampurkan ke minumannya, Kaizar kehilangan kendali sepenuhnya. Hubungan satu malam yang menghancurkan masa depan Zivara pun terjadi di sana.
Di balik pintu kayu yang tertutup, Luna berdiri menyandarkan punggungnya. Ia tidak terlihat sedih ataupun marah. Sebuah senyum sinis justru tersungging di bibirnya.
"Satu pengorbanan kecil untuk kebebasanku," gumam Luna pelan sembari menatap ponsel Kaizar di tangannya. "Dengan skandal ini, aku punya alasan untuk putus dari Kaizar tanpa merasa bersalah, dan aku bisa menyusul Adrian ke Italia sekarang juga."
Meskipun begitu dingin, Luna melenggang pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan dua nyawa yang nasibnya baru saja ia hancurkan demi egonya sendiri.
Zivara terbangun dengan napas memburu dan keringat membasahi keningnya. Ia terduduk di ranjang, mencengkeram dadanya yang berdenyut nyeri.
"Jadi... itu bukan kecelakaan?" bisik Zivara dengan suara parau. Air mata jatuh tanpa bisa ia bendung lagi. Kebenaran tentang malam yang merenggut segalanya darinya kini terungkap lewat kepingan time rewind yang menyakitkan.
**
Di dalam kamarnya di bawah temaram lampu tidur, Kaizar Ravindra mencengkeram selimutnya. Napasnya memburu, sementara peluh dingin membasahi keningnya meskipun udara malam itu cukup menusuk tulang. Baru saja, ia terseret ke dalam sebuah halusinasi yang nyata, sebuah kepingan memori gelap yang terasa lebih seperti kutukan daripada sekadar bunga tidur.
Penglihatan itu membawanya kembali ke kamar 402 Hotel Grand Preanger. Aroma parfum Luna yang samar bercampur dengan bau alkohol yang memuakkan kembali memenuhi indra penciumannya. Ia melihat dirinya sendiri yang tak berdaya, terjebak dalam api yang menyiksa tubuhnya akibat zat sialan yang entah bagaimana bisa ada di dalam minumannya. Dan di sana, di tengah kabut kesadaran yang menipis, ada Zivara.
Wajah polos gadis itu yang dipenuhi ketakutan terus berputar di kepala Kaizar seperti kaset rusak. Ia melihat betapa kasarnya ia memperlakukan Zivara, bagaimana ia mengabaikan air mata gadis itu karena egonya yang terenggut oleh napsu buatan.
"Apa yang telah aku lakukan?" bisik Kaizar parau, suaranya pecah di tengah keheningan.
Rasa berdosa itu menghantamnya begitu telak. Ia merasa seperti monster yang baru saja melihat rekaman kejahatannya sendiri. Kepingan memori gelap ini menunjukkan sisi lain yang jauh lebih mengerikan: ia adalah pelaku, dan Zivara adalah korban yang ia hancurkan berkali-kali.
Tanpa Kaizar sadari, takdir sedang menenun benang yang sama pada dua jiwa yang berbeda. Penglihatan yang ia alami adalah bayangan cermin dari apa yang baru saja menyentak Zivara dari tidurnya di dalam rumah sana. Semesta seolah sedang memaksa mereka untuk berdiri di atas panggung masa lalu yang sama, menatap luka yang selama ini berusaha disembunyikan.
Kaizar bangkit dari pembaringannya, menatap ke arah jendela kamar Zivara yang lampunya masih menyala redup. Ada keinginan kuat untuk berlari ke sana, bersimpuh di kaki gadis itu, dan memohon ampun atas segala hal yang bahkan belum secara resmi ia lakukan. Meskipun begitu, ia tahu bahwa penebusan tidaklah semudah itu.
Ia tidak tahu bahwa Zivara sudah melihat semuanya. Ia tidak tahu bahwa gadis yang ia anggap polos itu kini memiliki mata yang tajam, yang sudah mampu membaca setiap busuknya rencana Luna dan setiap jejak dosa di tangannya.
Ia berjanji dalam hati, jika ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan, ia akan mengubah kisah berdarah itu menjadi pelindung bagi Zivara. Ia akan menebus kesalahannya, bahkan jika ia harus membuang seluruh harga dirinya dan menghancurkan Luna dengan tangannya sendiri.
***