Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pak Roslan, Mak Nurlela duduk berdampingan . Delina duduk dikursi bersebelahan dengan orang tuanya sedangkan Agam duduk diseberang Delina.
Hening menyisakan diantara mereka, hingga suara Pak roslan membuka obrolan.
" Oh iya, Bapak lupa ada yang harus diambil dirumah Pak Somat." ucap Pak Roslan beranjak dari duduknya ia melirik sang istri memberi isyarat.
"Mamak ikut, Mamak lupa disuruh antar sayur kerumah Bu jeng." sahut Mak Nurlela.
" Ya sudah, Nak Agam. Bapak sama Mamak keluar duly a jagain anak Bapak." ucap Pak Roslan.
" Iya Pak, hati-hati djlana." ucap Agam tersenyum kecil.
" Pak\~Mak\~ ikut..." rengek Delina melihat kedua orang tuanya hendak pergi meninggalkanya dia sendirian bersama Agam.
" Motor bapak gak cukup, kalian mengobrol saja dulu. BApak sama Mamak gak lama sebentar saja." ucap Mak Nurlela.
Delina msih memperhatikan orang tuanya hingga tidk terlihat lagi. Hening kembali melanda diantara keduanya.
" Ehem, apa semalam tidur mu nyenyak?"tanya Agam membuka obrolan diantara mereka.
" Om pikir saja sendiri." ketus Delina.
Agam hanya tersenyum maklum .
" Om mau bicara apa sama aku?" tanya Delina lagi.
" Saya... berniat melanjutkan pernikahan ini, dan besok orang tua saya akan datang kesini untuk melamar kamu dengan resmi." jelas Agam.
Mata Delina melotot tak percaya. " Kalau Om terpaksa melakukannya karena Bapak, mendingan tidak usah. Mumpung belum terlambat dibatalkan saja tidak masalah." ucap Delina.
" Tidak, saya sudah berjanji pada diri saya masalah apapun yang terjadi terutam menyangkut pernikahan yang ' sakral' pantang bagi saya menjadi lelaki pengecut."
" Tapi Om gak cinta sama saya, saya gak mau nikah sama seseorang yang tidak saling mencintai!" tegas Delina wanita itu membuang pandagnan nya kearah samping tak mampu menatap wajah Agam yang sejak awal selalu menatapnya intens.
" Saya tahu, jika dipikirkan memang terasa berat. Tapi jika di jalanin bersama-sama semuanya akan terasa mudah."
" Saya tetap tidak mau!" tegas Delina.
"Kamu tidak takut jika semua orang desa menggunjing tentng kamu jika kita membatalkan pernikah ini? kalau saya, tidak masalah. Saya disini hanya pendatang bisa kapan saja pergi dari desa. Sedangkan kamu? warga asli di sini, gossip diluar sana tetap akan melekat di dirikamu."
" Pikirkan orang tua kamu, yang juga menanggung gossip-gossip tidak mengenakan diluaran sana. jangan hanya mementingkan diri mu sendiri." tegas Agam.
Delina hanya diam, tapi air matanya mulai menggenang dipelupuk mata.
" Kenapa om.... kenapa Om gak pergi saja dari sini? seharusnya jika Om tidak perlu sampai mengorbankan diri segala."
Agam tersenyum miris, senyuman tipis ia tampilkan." SAya sudah bilang diawal tadi kan? saya sebagai lelaki tidak pernah mengingkari apa yang telah saya ucapkan."
" Jika saya pergi, semua yang terjadi di desa tidak akan ada orang yang tahu mengenai masa lalu saya dimasa mendantang. Jika yang ada diposisi itu kamu berbeda lagi. kamu masih muda, masa depan mu masih panjang nama baik mu akan hancur dengan semua gunjingan orang-orang diluaran sana yang sampai kapan pun."
Delina terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. " Tapi, aku juga gak mau membebankan Om Agam." lirh Delina.
" Kamu keras kepala juga, Ya.... tapi, keputusan saya sudah bulat mau tidak mau kamu harus menerima nya." ucap Agam tegas.
" Tap-"
" Tidak ada tapi-tapian, saya sebagai suami kamu!? sudah memutuskannya. " ucap Agam tanpa mau dibantah.
" Kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan pada saya,katakan. Katakan semua isi hati mu yang mengganjal." smbung Agam.
" Kenapa Om diam saja saat kita disudutkan terus menerus? mungkin seandainya Om menyangkalnya kita tidak akan menikah." tanya Delina menundukkan wajahnya ia memainkan jari-jemarinya.
" Karena,saya tahu. Apapun yang saya katakan tetep tidak akan merubah pandangan mereka, mau bicara sampai mulut berbusa yang merek percayai tetep apa yangmereka lihat."
" Kamu lihat sendiri smalam saja, seberapapun kamu membela diri. Mereka tidak akan mendengarkan ucapanmu. Makanya, saat itu saya memilih diam. "
" Tapi Om memilih menikahi ku."
" Itu adalah piliha yang tepat, saya tidak ingin kamu dan keluarga yang lain semakin di hina-hina para warga, lebih baik sya menuruti sarn dari warga saja. Agar nama baik mu dan Pak roslan tidak semakin tercoreng."
" Itu membuat semua orang semakin salah paham dan yakin jika kita berbuat yang ti-dak se-no-noh Om!?" Tangis Delina mulai terdengar tubuhnya kembali bergetar.
Om Agam hanya mampu menghel nafas saja, pandangan nya mengarah ke Delina.
" Sebab itulah , saya menjaga nama baikmu sebagai perempuan! Jadi katakan,apa yang mengganjal dalam hat mu tentang aya?"
" Aku tidak suka Duda." Jawab Delina akhirnya.
" Kamu tidak pasti mendengar perbincangan saya dengan Pak Roslan tadi." Tanya Agam.
Delina menganggukan kepalanya pelan .
" Apa yang membuat kamu membenci dengan pria berstatus duda? Apa yang salah dari duda?"
" Duda brengsek, red flag, KDRT. Tukang selingkuh." Jawab Delina cepat.
Agam menganggukan kepalanya mulai mengerti alasan Delina membenci nya.
" kamu sudah pernah menjalin hubungan dengan duda?" Tanya Agam ia menatap Delina dingin.
" Belum, tapi saya tahu. Apalagi di sosmed sudah banyak kasus-kasus nya."
" Tidak semua duda sepert itu Delina, setiap orang pasti ada masalahnya masing-masing. Kita tidak boleh menghakimi sepihak."
" Lalu Om Duda kenapa?" Tanya delina.
" Istri saya meninggal." Jelas Agam.
Hening..
Delina tidak menjawab bibir nya seakan kelu mengetahui fakta barusan.
" Maaf, Om. Aku tidak tahu, aku turut berduka cita." Jawab Delina menundukkan kepalanya yang masih memainkan jemarinya.
" Bisa tidak, tatap mata saya saat bicara?! Kamu sedang bicara sama lantai kah?" Tegur Agam merasa jengah dengan tingkah Delina yang seakan enggan menatap wajahnya padahal ia kan suaminya.
Ehhh?! Suami nya?!....
Ehem...
Delina mulai mengangkat pandangan nya menatap mata pria itu yang duduk disebrangnya.
" Dijalanin saja dulu Delina, tidak semua apa yang kamu pikirkan seperti itu. Kalau kamu tidak menjalani nya dulu kamu tidak akan tahu yang sebenarnya seperti apa."
Delina masih terdiam sebentar, sedangkan Agam masih menunggu dengan gemas melihat sikap Delina yang seakan-akan ingin menerima tapi jga malu karena gengsi.
" Kalau kamu diam berarti kamu menyetujuinya."
" Ihh! Eenggak mau..." Sungut Delina cepat.
Agam terkekeh pelan melhat tingkah,Delina. " Jujur aja Delina, saya tahu. Kamu menyukai saya kan?! Makanya terima saja lamaran saya."
Wajah Delina langsung memerah mendengarnya ia memalingkan wajahnya kearah lain tidak berani menatap Agam yang tersenyum menggodanya.
" Bagaimana?"
" I-iya, Om. " Jawab Delina pelan.
" Alhamdulillah." Balas Agam tersenyum tipis.
Tidak lama terdengar suara dari arah pintu mengucap salam. " Assallamualaikum ." Salam pak Roslan.
" Waalaikumsalam. " Balas kduanya.
" Gimana? Kalian sudah bicarakan? " Tanya Pak Roslan.
" Alhamdullillah, diterima Pak." Balas Agam.
" Alhamdullillah, jadi kapan Nak? Orang tua kamu akan kesini?" Kali ini Mak Nurlela yang bertanya.
" Insya Allah, besok pagi. Saya dan orang tua saya akan kemari."
" Kalau begtu, Mak siapkan bahannya buat besok. Mereka suka masakan apa? "
" Gak perlu Bu, gak usah repot-repot. " Tolak Agam merasa tidak enak.
" Nanti pesen aja Mak." Usul Pak Roslan.
" Gak perlu Pak,Bu.Biar saya saja yang menyapkan." Ucap Agam.
" Janganlah, biar Mamak masak aja. Nanti dibantu sama saudaranya Delina juga akan datang kemari." Jelas mak Nurlela.
" Ya sudah Bu,kalau begitu saya pamit pulang dulu." Ucap Agam menyalami mak Nurlela dan Pak Roslan.
" Lin, salim sama suamimu." Ucap Mak Nurlela berbisik pelan.
" Sekalian antar suami mu sampai depan pintu,bapak mau bawa belanjaan Mamak kedalam." sahut Pak Roslan diikuti Mak Nurlela hanya menyisakan Delina dan juga Agam.
Mau tidak mau Delina menyalami pria itu, tak lupa juga ia mengantarkan pria itu hingga depan pintu.
" Jaga diri baik-baik, jangan kebanyakan nangis." ucap Agam mengusap puncak kepala istrinya itu Delina hanya cemberut mennyingkirkan tangan pria itu yang mengacak-acak rambutnya sedangkan Agam hanya tersenyum Maklum.
" Saya pulang dulu, tutup pintunya Assalamualaikum." ucap Agam.
" Waalaikumsallam." jawab Delina tanpa menunggu Agam berjalan menjauh wanita itu langsung menutup pintunya.
BRAK..