Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New home
Pintu kendaraan terbuka otomatis.
Udara sejuk tapi sedikit panas ibu kota langsung menyambut mereka.
Sedikit harum oleh aroma taman gantung di sekitar puncak gedung.
Mireya turun dengan hati-hati.
Tatapannya langsung terpaku pada penthouse di hadapannya.
Kaca tinggi menjulang.
Interior hangat yang terlihat dari luar.
Dan balkon luas yang seolah memandang seluruh jantung ibu kota.
Ia masih belum percaya.
Zevran berjalan lebih dulu.
“Kita akan tinggal berdua di sini.”
Langkah Mireya langsung berhenti.
Pria itu menoleh sedikit.
“Kau dan aku.”
Nada suaranya tetap datar.
“Kamar kita terpisah.”
Kalimat itu entah kenapa membuat Mireya mengembuskan napas lega.
Zevran membuka pintu utama dengan akses retina.
Klik.
Pintu terbuka.
“Ayo masuk.”
“Aku akan tunjukkan kamarmu.”
Begitu masuk, Mireya hampir terdiam lagi.
Ruangan itu terlalu besar.
Ruang tamu luas dengan sofa mewah.
Dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota.
Rak buku tinggi.
Sihir pencahayaan lembut.
Dan lantai marmer yang membuat langkahnya terasa terlalu kecil.
Zevran berjalan santai seolah ini hanya rumah biasa.
“Sesuai kontrak,” katanya sambil melepas jas, “mulai sekarang kau tinggal di ibu kota.”
Mireya menoleh cepat.
“Sekarang?”
“Ya.”
Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Kariermu di sana sudah buruk.”
Kalimat itu nyelekit.
Namun kali ini tidak sekejam sebelumnya.
Lebih terdengar seperti fakta.
“Jadi kau harus mulai lagi dari nol di sini.”
Mireya terdiam.
Zevran melanjutkan.
“Aku akan memberimu sedikit bantuan.”
“Seperti yang sudah kita bahas.”
Ia berhenti di depan lorong kamar.
Lalu menoleh.
“Kau ingin keluar dari agensi bobrokmu itu, bukan?”
Mireya membeku.
Tatapannya membesar.
Zevran… tahu?
Pria itu menatapnya sekilas.
“Dunia hiburan tidak semudah itu.”
“Apalagi untuk anak-anak polos sepertimu.”
Nada suaranya masih dingin.
Namun kali ini ada kesan serius.
“Aku sudah melihat datamu.”
Jantung Mireya langsung berdetak lebih cepat.
Zevran melanjutkan dengan tenang.
“Sejak pencari bakat agensi itu menemukanmu.”
“Sampai kontrak pertama yang kau tandatangani.”
Mireya mengepalkan tangan.
Jadi dia tahu.
Tahu bagaimana dirinya dibodohi karena masih hijau.
Tahu bagaimana ia hanya mendapat dua puluh persen dari semua bayaran.
Tahu bagaimana sisanya masuk ke agensi.
Bahkan manajernya saja hampir tidak pernah mengurusnya.
Kemarin pun tidak datang.
Lebih memilih artis lain yang lebih menguntungkan.
Mireya menunduk.
Ada rasa malu.
Namun di sisi lain…
sedikit lega.
Karena seseorang akhirnya melihat betapa buruknya kondisinya.
Hanya saja Zevran tidak mengatakan semua yang ia tahu.
Padahal sebenarnya ia telah menyelidiki jauh lebih dalam.
Tentang keluarganya.
Tentang biaya rumah sakit.
Tentang Luna.
Tentang bagaimana Mireya sering sengaja ditempatkan di posisi figuran paling buruk.
Namun semua itu ia simpan sendiri.
Zevran membuka salah satu pintu kamar.
“Ini kamarmu.”
Mireya masuk perlahan.
Kamar itu luas.
Kasur besar.
Lemari pakaian.
Meja rias.
Dan jendela besar menghadap kota.
Mulutnya sedikit terbuka.
“Ini… buat aku?”
“Ya.”
Zevran bersandar di kusen pintu.
“Ibumu juga akan dipindahkan ke rumah sakit ibu kota.”
Mireya langsung menoleh.
Matanya membesar.
“Benarkah?”
Zevran mengangguk singkat.
“Fasilitasnya lebih baik.”
“Dan lebih dekat dengan kita.”
Dadanya langsung terasa hangat.
Ada beban yang sedikit terangkat.
Pria itu melanjutkan.
“Kita tinggal bersama, tapi kamar terpisah.”
“Jadi jangan canggung.”
Ia memasukkan tangan ke saku celana.
“Aku juga jarang di sini.”
“Sebagian besar waktuku di kantor atau perjalanan bisnis.”
“Pernikahan ini formalitas.”
Kalimat itu membuat Mireya sedikit terdiam.
Ada rasa aneh di dadanya.
Namun ia segera mengabaikannya.
Zevran kembali berbicara.
“Kau juga tidak perlu memasak.”
“Ada bibi dapur.”
“Dan staf yang membersihkan rumah.”
Mireya langsung mengangguk cepat.
Dalam hati ia hampir menangis lega.
syukurlah…
Karena jujur…
kemampuan memasaknya juga tidak terlalu bagus.
Lalu ia teringat sesuatu.
Tatapannya kembali serius.
“Kalau soal taruhan itu…”
Zevran mengangkat alis.
“Aku ingin satu hal.”
“Apa?”
Mireya menarik napas.
“Aku ingin manajer yang baik.”
Kalimat itu membuat Zevran sedikit terdiam.
Lalu seolah baru mengingat sesuatu.
“Oh.”
Nada suaranya datar.
“Benar juga.”
Ia memandang Mireya.
“Aku punya perusahaan hiburan.”
Mireya membeku.
“Hah?”
“Tidak terlalu terkenal.”
“Tapi stabil.”
Ia mengatakannya seolah membicarakan toko kecil.
Padahal tetap perusahaan miliknya.
“Kalau kau mau…”
“kau bisa ikut tes di sana.”
Mireya membelalak.
“Aku bisa?”
Zevran menatapnya lurus.
“Tetap tes.”
“Aku tidak akan memasukkan orang bodoh yang tidak punya bakat ke perusahaan ku.”
Kalimat itu kembali nyelekit.
Namun kali ini Mireya malah tersenyum tipis.
Karena itu berarti…
kesempatan nyata.
Ia mengangguk mantap.
“Aku mau.”
“Kalau harus tes, aku tes.”
Tatapannya tegas.
Zevran mengangguk.
“Bagus.”
“Besok kau pindahan dulu.”
“Lusa ikut tes.”
“Gedungnya tidak jauh dari sini.”
Mireya menatap kamar itu.
Lalu pemandangan kota.
Lalu pria di depannya.
Hidupnya benar-benar berubah dalam satu hari.
Dan besok…
semuanya akan dimulai lagi dari nol.
...****************...
Mireya yang tadi sempat terpaku melihat kamar dan seluruh penthouse itu akhirnya menarik napas pelan.
Masih ada satu hal yang mengganjal.
Satu hal yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.
Ia menggigit bibir bawahnya sebentar.
Lalu menoleh ke arah pria yang masih berdiri tenang di dekat pintu.
“Hmmm… Sir Zevran…”
Zevran yang sedang melihat sesuatu di terminal hologramnya mengangkat pandangan.
Tatapannya datar.
“Panggil Zevran saja.”
Mireya berkedip.
“O-oh… oke…”
Ada jeda kecil.
Ia memainkan ujung tasnya dengan gugup.
Suaranya pun mengecil.
“Kontrakku… belum bisa berakhir dengan tempat itu.”
Zevran menatapnya lurus.
Mireya menelan ludah.
“Di agensi lama masih tersisa satu tahun lagi.”
Ia menunduk.
“Kalau aku keluar sekarang… dendanya besar.”
Tangannya makin meremas tali tas.
“Aku… nggak punya uang sebanyak itu…”
Untuk sesaat ruangan menjadi hening.
Mireya mengumpulkan keberanian.
“Bisakah aku meminjam uang dulu…?”
Suaranya hampir seperti bisikan.
“Nanti aku ganti.”
“Pakai bunga juga nggak apa-apa.”
Zevran terdiam beberapa detik.
Lalu bertanya singkat.
“Untuk apa ditanyakan?”
Mireya membeku.
“Hah?”
Tatapan pria itu tetap tenang.
“Kontrak agensi lama.”
“Tidak perlu kau urus.”
Mireya menatapnya bingung.
Zevran mengangkat terminal pribadinya.
Cahaya hologram biru langsung menyala di udara.
Dalam satu sentuhan, panggilan langsung tersambung.
Suara Robert terdengar dari sisi lain.
“Ya, Tuan muda?”
Mireya langsung merasa sedikit bersalah.
astaga… kasihan Rob…
Kayaknya pria itu tidak pernah benar-benar istirahat.
Zevran berbicara singkat.
“Urus pemutusan kontrak agensi lama Mireya.”
Robert di sana terdiam sepersekian detik.
Lalu suaranya kembali profesional.
“Baik, Tuan.”
“Termasuk denda dan proses legalnya?”
“Iya.”
“Dan siapkan manajer baru untuk sore atau malam ini.”
Mireya langsung menoleh cepat.
cepet banget?!
Zevran melanjutkan.
“Nanti biarkan pihak perusahaan hiburan menghubungi dia langsung.”
“Robert, konfirmasi semuanya.”
“Baik, Tuan muda.”
Panggilan terputus.
Begitu saja.
Semudah mengatur jadwal makan siang.
Mireya masih berdiri membeku.
“Udah… selesai?”
Zevran memasukkan kembali terminalnya.
“Sedang diproses.”
Nada suaranya santai.
“Untuk hal seperti itu, Robert lebih paham.”
Mireya benar-benar speechless.
Masalah yang tadi terasa seperti gunung…
bagi pria ini hanya satu panggilan.
Ia menunduk sedikit.
“Terima kasih…”
Zevran hanya mengangguk tipis.
Lalu tiba-tiba alisnya sedikit terangkat.
“Nomor kontakmu.”
Mireya mengerjap.
“Hah?”
“Aku dan Robert belum punya akunmu.”
“Kalau ada sesuatu, kami harus menghubungimu.”
Mireya langsung panik kecil.
“Oh iya!”
Ia baru sadar.
Dari tadi mereka bahkan belum bertukar kontak.
Padahal sekarang…
mereka suami istri.
Pipi Mireya mendadak memanas.
Dengan buru-buru ia mengeluarkan terminal pribadinya.
Jarinya sedikit gemetar saat membuka kode akun.
“Ini… ini nomorku…”
Zevran mengangkat terminalnya mendekat.
Ding.
Kontak berhasil ditambahkan.
Nama yang muncul di layar membuat Mireya mengintip tanpa sengaja.
Mireya — Istri (Rahasia)
Mata Mireya membesar.
“EH?”
Zevran menoleh.
“Ada apa?”
“Ng-nggak…”
Mireya buru-buru memalingkan wajah.
Pipinya sudah merah.
kenapa ditulis gitu sih?!
Padahal mungkin bagi Zevran itu hanya penanda biasa.
Namun bagi Mireya—
jantungnya seperti mau copot.
Tak lama kemudian terminalnya bergetar.
Satu notifikasi masuk.
Robert Ardevar Assistant Official Account telah menambahkan Anda.
Disusul pesan cepat.
Selamat siang, Nona Mireya.
Saya Robert. Untuk proses pemindahan agensi dan manajer baru akan saya konfirmasi malam ini.
Mireya menatap layar itu.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa hidupnya benar-benar bergerak maju.
...****************...
Ting.
Terminal pribadinya bergetar pelan.
Mireya yang masih berdiri di dekat pintu langsung menunduk melihat layar.
Satu pesan masuk.
Dari kontak yang baru saja tersimpan beberapa menit lalu.
Zevran
Ini aku.
Mireya berkedip.
Sesederhana itu.
Tidak ada emoji.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada basa-basi.
Hanya dua kata.
Namun entah kenapa jantungnya tetap berdebar.
astaga… ini chat pertama dari suami sendiri ya?
Pikirannya langsung menjerit panik sendiri.
Jarinya buru-buru mengetik balasan.
Oh oke aku simpen ya, Zevran…
Beberapa detik ia menatap layar.
Tidak ada balasan lagi.
ya ampun ya iyalah, orang cuma kasih nomor…
Mireya langsung memegangi kepalanya sendiri karena malu.
Sementara itu, Zevran berjalan kembali ke arah pintu utama.
“Aku harus pergi.”
"Ada yang masih ku urus... Maaf aku membatalkan janji makan seenak nya..."
"Eh... tidak apa-apa... Jika anda sibuk tidak apa-apa..."
"Lain kali pasti... Aku akan membayar janji ku"
Nada suaranya seperti biasa.
Tenang.
Dingin.
"Dan... Kau harus memasang sidik jari atau pengenalan iris mata untuk membuka pintu."
Mireya yang masih memegang terminal langsung menoleh.
“Oh… sekarang?”
“Iya.”
Ia melangkah mendekat ke panel pintu.
“Ke sini.”
Mireya menurut.
Zevran mengambil tangannya sebentar.
Menempelkan jarinya ke panel sidik jari.
Cahaya biru menyala.
Lalu pindah ke pemindai mata.
“Lihat ke sini.”
Mireya sedikit menegakkan badan.
Panel memindai iris matanya.
Identitas berhasil didaftarkan.
“Mulai sekarang kau bisa membuka pintu sendiri.”
Mireya mengangguk pelan.
“Oke…”
Zevran menatapnya sejenak.
“Manager barumu nanti akan datang.”
“Dia yang akan mengurus semua soal perpindahan agensi, jadwal tes, dan tempat kerja.”
“Kalau ada apa-apa, hubungi Robert.”
“Iya.”
Setelah itu Zevran benar-benar pergi.
Pintu tertutup otomatis.
Dan untuk pertama kalinya…
penthouse besar itu terasa sunyi.
Sangat sunyi.
Mireya berdiri diam beberapa saat.
Menatap pintu.
Lalu menatap sekeliling rumah mewah itu.
aku… beneran tinggal di sini ya?
Ia berjalan pelan ke ruang tengah.
Duduk di sofa yang terasa terlalu empuk.
Tangannya memegang perut.
“kruuuk…”
Ia menunduk.
Lapar.
Wajar.
Sejak pagi ia sudah bolak-balik terminal, gedung kantor, lalu ke sini.
Dan karena semua yang terjadi terlalu cepat…
ia bahkan belum makan siang. Zevran tidak bisa makan bersama nya apa ada bahan makanan di dapur?
Baru saja ia ingin berdiri mencari dapur—
terdengar suara dari arah sana.
“Eh, neng?”
Seorang wanita paruh baya keluar sambil membawa celemek.
Wajahnya ramah.
Senyumnya lebar.
“Ohhh jadi ini tunangannya Pak Zevran…”
Matanya berbinar.
“Cantik banget, neng!”
Mireya langsung salah tingkah.
“Eh… makasih, Bi…”
Wanita itu tertawa kecil.
“Bibi siapin makan dulu ya, tunggu bentar, nak.”
Ia langsung masuk lagi ke dapur dengan gerakan cekatan.
Suara alat masak mulai terdengar.
Aroma tumisan harum perlahan memenuhi ruangan.
Mireya tanpa sadar berjalan mendekat.
Ia duduk di kursi dekat meja dapur.
Posisinya pas untuk melihat Bibi memasak sambil ngobrol.
Bibi memang orangnya supel.
Mulutnya tidak berhenti bicara.
“Jujur ya, neng…”
“Bibi tuh malah takut.”
Mireya berkedip.
“Takut?”
Bibi mengangguk sambil mengaduk masakan.
“Iya…”
“Mas Zevran tuh jarang banget ke sini.”
“Rumah ini udah lama kosong.”
“Bibi kerja di sini udah hampir dua tahun.”
“Dari awal belum pernah diganti.”
Ia tertawa canggung.
“Kadang bibi suka was-was sendiri…”
“Takut dipecat.”
Mireya langsung menggeleng cepat.
“Loh kok gitu?”
“Lah iya, neng.”
Bibi menoleh sambil tersenyum tipis.
“Yang punya rumah aja jarang datang.”
“Paling kalau lagi capek banget, atau ada urusan dekat kantor.”
“Tidurnya di sini, besok pagi pergi lagi.”
Mireya terdiam.
Entah kenapa mendengar itu…
hatinya sedikit aneh.
Jadi selama ini…
Zevran hidup sesibuk itu?
Bibi melanjutkan dengan nada lebih ceria.
“Tapi sekarang ada eneng tunangannya.”
“Kayaknya masnya bakal lebih sering balik ya.”
Mireya tertawa kecil.
“Oh, enggak, Bi…”
“Zevran sibuk banget.”
“Aku juga nggak bakal tahu jadwalnya.”
“Tapi makasih banget ada Bibi yang nemenin aku.”
Senyum Bibi langsung melebar.
“Nah itu.”
“Bibi juga seneng ada temennya ngobrol.”
Mireya ikut tersenyum.
Namun entah kenapa…
di tengah aroma makanan hangat dan obrolan santai itu…
ada rasa aneh yang pelan-pelan muncul di dadanya.
Rumah ini terlalu besar.
Terlalu sunyi.
Dan fakta bahwa Zevran hampir tidak pernah pulang…
membuat tempat ini terasa seperti rumah kosong yang hanya menunggu seseorang.
Tapi aku merasa itu tidak akan lama...
Hanya firasat....