"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Di dalam kamar Anya yang saat ini sedang tertidur, satu-satunya lampu yang menjadi penerangnya kini harus padam. Hanya ada cahaya rembulan yang masuk melewati cela-cela jendela kecil kamar Anya.
Krek ... Kereeeet ...
Suara dari jendela Anya yang tiba-tiba terbuka sendiri. Mengarah langsung ke halaman belakang luas rumah keluarga Adiwijaya.
Syuuu~
Hordeng tipis yang terpasang di jendela, sekarang mulai terlihat bergoyang-goyang oleh terpaan angin malam yang masuk. Perlahan, angin yang masuk itu melewati wajah cantik Anya yang sedang beristirahat malam ini.
Merasa dingin dan ada yang melewati wajahnya, Anya tiba-tiba membuka matanya. Pandangannya masih sedikit buram berusaha sadar ketika melihat ke arah jendela yang terbuka saat ini.
Sebuah sosok berwarna putih dengan wajah yang sangat menyeramkan bagi Anya, sedang berdiri menatapnya dari luar jendela kamar Anya.
"Aaaaa ... !!!" teriak Anya, merasa sangat ketakutan ketika pertama kali melihat sosok itu. Ia beringsut mundur menuju ujung kasur seraya menarik selimutnya.
Ketika melihat Anya yang sudah ketakutan, sosok yang tengah berdiri itu tidak langsung menghilang. Ia ingin masuk untuk lebih mendekat ke arah Anya yang masih merasa sangat ketakutan sambil melihatnya.
Pikiran Anya kalut, ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain ingin kabur dari ruangan kamarnya sekarang. Karena sosok itu, mulai berani masuk dengan membawa senjata tajam di tangannya.
"Tu-tunggu ... Siapa kamu? ..." kata Anya masih dengan perasaan takut dan tegang, ia semakin bergerak mundur terjatuh tepat di depan pintu kamarnya.
Bruuk!
Suara Anya ketika jatuh, ia berusaha kembali mundur, kini punggung Anya menempel pada sisi pintu dan tidak lagi bisa bergerak kemana-mana.
"Jangan mendekat ... Tolong !!!" teriak Anya lagi dengan wajah yang sangat panik sambil terus memeluk selimut tebal yang terbawa ketika ia jatuh.
Ketika sosok itu mulai semakin dekat dan mengancam Anya dengan senjata tajamnya, Anya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menutup seluruh wajahnya dengan selimut yang terus ia pegang dengan sangat erat.
Deg ... Deg ... Deg ... !!!
Deru nafas Anya kacau, tidak beraturan seperti orang yang tidak sanggup lagi menahan ketakutannya saat ini.
"Yaa tuhan ... Tolong, aku ..." ucap Anya di dalam hati. Ketika ia hanya bisa menunduk menutup wajahnya karena ketakutannya kepada sosok yang semakin dekat mengancam itu.
Tap ... Tap ... Tap ...
Terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang seperti menghampiri kamar Anya dari luar. Ketika mendengar suara itu, sosok yang sedang mengancam Anya langsung kabur, melalui pintu jendela yang masih terbuka lebar di samping tempat tidur Anya.
Tok ... Tok ... Tok ... !!!
"Anya ... Anya! ... Buka pintunya ..." suara Bi Inah, yang terdengar panik ketika berusaha membuka pintu dari luar kamar Anya. Di belakangnya, sudah ada Nyonya Laras dan Adi serta Bianca yang datang akibat mendengar teriakan Anya.
Cekelek!
Ketika membuka pintu, Anya langsung memeluk Bi Inah dengan erat. Merasakan takut yang amat mendalam akibat teror barusan.
"Ada apa sih, ribut-ribut?! ... Udah malem juga," kata Laras, dengan nada yang tinggi menatap Anya dan Bi Inah yang sedang berpelukan di garis pintu.
Anya meneteskan air matanya tanpa sadar, berlarut di pelukan Bi Inah karena terlalu merasa takut.
"Ada apa Anya? ... Kamu kenapa?" kata Bi Inah pelan bertanya, dengan nada yang mampu membuat Anya menatapnya, berusaha menenangkan Anya yang kini di hadapannya.
"Hiks ... Ada sesuatu yang menyeramkan tadi Bi ... Sosok itu masuk dari jendela kamar dan berusaha mengancam ... Hiks, Anya ..." kata Anya di sela-sela tangisnya, berusaha menjelaskan keadaannya.
"Alaah ... Paling alesan doang dia, mah! ... Mana? Buktinya nggak ada apa-apa kok," sahut Bianca, sama kerasnya bersuara seperti ibunya menyudutkan Anya.
Mereka semua menatap dan melihat hanya ada jendela yang terbuka di pinggir kasur Anya, serta hordeng berwarna putih yang menjuntai lambat tertiup angin.
Adiwijaya menghampiri jendela itu. Menutupnya dan membuat keadaan menjadi normal kembali.
"Sudah-sudah ... Yang penting, sekarang tidak terjadi apa-apa kepada Anya. Dan Bi Inah ... Untuk malam ini, bisakah Bibi menemani Anya tidur?" tanya pak Adi, bermaksud agar Anya merasa tenang kembali setelah peristiwa ini.
Laras dan Bianca langsung secara bersamaan menatap Adiwijaya. Satu-satunya orang yang sekarang merasa perduli kepada Anya selain Bi Inah.
"Ish! ... Apa-apaan, sih papih? ... Kok, malah belain Anya terus?! Kesel deh dengernya!" gumam Bianca, di dalam hatinya memandang kesal wajah Anya yang dianggap berpura-pura takut dan lemah.
Ekspresi Bianca kembali mencuri perhatian Laras yang melihatnya saat ini.
"Emangnya anak kecil ... Tidurnya harus di temenin segala ..." kata Laras tiba-tiba, bola matanya memutar ke atas seakan enggan sambil menyindir Anya yang terlihat masih ketakutan.
Sssttt!!!
Suara Adiwijaya dengan keras, dan berhasil membuat Laras kembali terdiam. Membuat keadaan menjadi sunyi menunggu jawaban Bi Inah.
"Baik Tuan ... Saya akan menemani Anya tidur malam ini ..." jawab Bi Inah, ketika melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Anya yang sedang menghapus air matanya.
"Yasudah ... Kalau gitu, semuanya bisa kembali beristirahat," kata Adiwijaya, langsung pergi meninggalkan mereka yang masih berdiam diri di tempatnya.
Laras dan Bianca yang masih merasa kesal, menunjukan ekspresinya kepada Anya sebelum mereka pergi meninggalkannya.
Tap ... Tap ... Tap ...
Suara langkah ibu dan anak itu ketika pergi meninggakan mereka. Berjalan dengan sangat angkuh layaknya ratu dan puterinya.
"Terimakasih, yaa Bi ..." kata Anya, memandang dengan penuh ketulusan dari ucapannya kepada Bi Inah. Ia mengangguk sekali sambil tersenyum, menjawab perkataan Anya sambil sekali lagi memeluknya.
Sebelum kembali masuk ke dalam kamar pribadi Adiwijaya, Laras mengantar Bianca sampai depan kamarnya yang tidak jauh dari kamar mereka.
"Aku sebel banget deh, Mih! ... Kok, Papih kayak membela Anya terus, sih?!" kata Bianca, ketika menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Mamihnya di depan pintu kamarnya.
"Sabar sayang ... Kita harus main, cantik. Dalam keadaan seperti itu, Papih kamu tuh bukannya membela. Tau sendiri 'kan sifat tegasnya Papih kamu itu seperti apa ..." jawab Laras, berusaha menenangkan anaknya yang sedang kesal merajuk.
"Iyaa, juga sih ..." sambung Bianca, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang entah apa.
"... Mamih jadi penasaran deh! Kalau benar apa yang di katakan Anya tadi tentang peristiwa ada sosok yang masuk mengancam itu ... Apa itu ulah kamu?" tanya Laras, yang sudah menduga kalau itu perbuatan iseng anaknya.
Dengan cepat, Bianca mengangguk. Menyetujui semua tuduhan Laras kepada anaknya sambil tersenyum menahan tawa.
"Sudah ibu duga ... Kamu, tuh yaa ... Bener-bener deh! Isengnya kelewatan ..." ujar Laras, yang malah terlihat senang ketika memuji perbuatan jahat anaknya.
"Atuh Bian kesel Mih! ... Maka nya, Bian suruh aja temen kampus Bian, buat ngasih pelajaran ke anak kampung itu ... Tapi nggak beneran buat niat mencelakai kok! ..."
"Cuma mau ngasih pelajaran aja buat si Anya! Itu ... Biar nggak usah sok cari-cari perhatian lagi," sambung Bianca, sambil berusaha terus menahan tawanya ketika membayangkan bagaimana ekspresi ketakutan Anya saat itu.
Hahaha~
Mereka tiba-tiba tertawa bersama, ketika Bianca menunjukan ekspresi takutnya Anya menurut pandangannya di dalam pikirannya sendiri.
"Yaudah, sudah malam ... Tidur gih! Tapi inget, yaa Bian ... Mamih nggak mau sampai berurusan dengan pihak berwajib tentang perbuatan kamu," pinta Laras sedikit memberi saran kepada Bianca, di sela-sela ia menghabiskan sisa tertawanya.
"Ha .. Haha ... Iyaa Mih! Aman pokoknya!" sambung Bianca, menatap senang ke arah Mamihnya karena merasa puas saat ini.
Bersambung ...