NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 11

Siang ini panas matahari terik sekali. Padahal beberapa hari kebelakang sudah rutin turun hujan. Aku kira sudah mulai masuk musim penghujan tapi ternyata cuaca sekarang tidak bisa di prediksi.

Aku sudah pulang dari warung. Nasi pun sudah ada di tanganku.

"Sudah pulang, manda?"

Itu salah satu tetanggaku. Ibu dari teman masa kecilku dulu.

"Sudah bu. Tadi pagi."

Aku kembali melangkahkan kaki pulang. Matahari yang terik membuat kulitku terasa terbakar.

"Ibu? Dimana?" Teriakku setelah membuka pintu rumah. Aku menggapai kenop pintu kamar ibu. Ibu masih tertidur rupanya.

"Biarkan ibu bagun sendiri kalau begitu." Aku kembali menutup pintu. Ke dapur sendirian untuk makan dan menyiapkan makan ibu.

Aku jadi teringat pesanku yang belum dibalas tadi. Aku sangat penasaran bagaimana jawabannya.

Aku bergegas ke kamar setelah aku menghabiskan makananku. Membuka ponselku, masuk ke ruang chat.

Ternyata sudah ada balasan. Aku membukanya pelan.

Membaca dengan perlahan seakan takut ada kata yang terlewat begitu saja.

'Ada perlu apa?'

Aku segera mengetik balasan.

'aku mau nanya soal kak Toni. Apa kakak tau dimana kak Toni tinggal sekarang?'

Online. Tulisan itu terpampang pada profilnya. Berarti dia sedang memegang ponselnya.

'Dia tinggal di kosan. Katanya nanti malam mau ngobrolin sesuatu ke rumah.'

Deg.. entah kenapa aku jadi deg-degan melihat pesan itu. Seperti ada sesuatu yang benar-benar penting.

'Iya kak. Aku tunggu di rumah sama ibu ya. Salam buat kak Toni.'

Tak ada balasan setelahnya. Hanya dibaca saja. Tapi aku tak begitu menghiraukan balasannya. Tapi pernyataan sebelumnya yang kini gantian mengusik pikiranku.

"Manda? Ini makanan kamu yang beli?"

Suara ibu dari luar menyadarkanku dari lamunan.

"Iya bu." Aku keluar dari kamar. "Dimakan bu. Nanti manda siapkan obatnya setelah ibu makan."

Ibu mengangguk. Lesu. Mungkin efek sakitnya belum benar-benar pulih atau ibu kepikiran soal kak Toni.

Aku menemani ibu makan sambil menyiapkan obat yang akan ibu minum siang ini. Ibu tidak tau mana saja yang akan diminum karena memang pas di rumah sakit aku yang diberi tau oleh perawatnya. Aku tak masalah soal itu. Yang terpenting ibu cepat sembuh.

Aku terlalu takut jika ada keluargaku yang sakit. Takut mereka meninggalkanku menyusul ayah. Aku tidak mau tinggal sendirian di dunia ini. Setidaknya walaupun aku harus bekerja seumur hidup aku masih punya tujuan dan alasan untuk terus hidup.

"Ini bu obatnya." Aku menyodorkan beberapa pil obat ke tangan ibu. Aku terus memperhatikan ibu.

"Ibu... Tadi aku ngechat pacarnya kak Toni."

Ibu yang sudah meminum obatnya itu segera mendekatkan tubuhnya ke arahku.

"Pacarnya? Apa katanya?"

"Iya. Katanya kak Toni sekarang tinggal di kosan. Tapi ga tau ada dimana kosannya."

Ibu keheranan. "Loh.. kok ga tau?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Tapi bu. Nanti malam katanya kak Toni mau kerumah."

Ibu tersenyum senang. "Syukur kalau gitu, man. Nanti kamu beliin makanan ya buat dia."

Aku mengangguk lagi sebagai jawaban.

"Apa dia bareng pacarnya juga?"

Aku tidak tau soal itu. "Ga tau bu. Pesanku saja belum dibalas lagi dari tadi."

"Yasudah ga papa. Ibu mau bersihin kamar kakakmu dulu ya."

Aku mencegat ibu. "Biar manda saja bu yang bersihkan. Ibu istirahat saja."

Ibu melepaskan tanganku yang memegang tangan ibu. "Ibu ga papa. Ibu sudah sehat. Kalau begitu ayo kita bersihkan sama-sama."

Aku mengangguk setuju mendengar itu. Setidaknya ibu tidak melakukannya sendirian.

Waktu berlalu begitu cepat. Tadi selesai membersihkan kamar kak Toni sudah cukup sore. Ibu masih mandi dan aku akan pergi keluar untuk membeli nasi.

"Apa ibumu sudah baikan?"

Tanya budhe sarti padaku. Warungnya sedang sepi.

"Sudah lebih baik budhe."

Budhe sarti memberiku kantong berisi pesananku. "Kenapa tidak masak sendiri saja? Lebih hemat sepertinya."

Aku tersenyum. "Lebih hemat kalau beli di warungnya budhe. Nih segini cuma 35 ribu dapet nasi sama lauknya juga." Aku tertawa.

"Bisa saja kamu itu."

Aku menyudahi tertawaku. "Yasudah budhe. Manda pulang dulu ya."

Aku pulang dengan hati yang lebih ringan. Tapi masih ada yang mengganjal hatiku soal kakakku itu. Seperti apa yang akan kak Toni katakan pada kami. Apa masalah serius lagi? Atau malah kabar baik?

"Sudah beli manda?"

Aku mengangkat nasi yang berada di tanganku. "Beli tiga saja kan bu?"

Ibu mengangguk. "Iya tiga saja. Kalau pacarnya kakakmu ikut juga nanti baru beli lagi. Takut ga kemakan."

Aku menaruh nasiku di atas meja. "Ibu mau makan sekarang apa nanti saja."

"Ibu nanti saja nunggu kakakmu. Biar bareng-bareng."

"Aku juga kalau gitu."

Aku dan ibu menunggu kak Toni datang. Entah jam berapa datangnya. Tapi semakin gelap langit hatiku juga semakin bergemuruh tak karuan. Tidak tau kenapa bisa begini.

Tok..tok...

Aku segera membuka pintu. Sudah menebak sosok yang berada di balik pintu itu siapa.

"Masuk kak."

Aku lihat wajah kakakku tidak seperti ibu dan aku yang bahagia menyambutnya, tapi wajahnya malah murung.

"Duduk, nak." Ibu mempersilahkan kak Toni duduk. Dia datang sendirian. Untung saja aku menurut apa kata ibu untuk membeli nasi bungkus tiga saja. Kalau membeli lebih apa tidak mubazir nantinya.

"Sudah makan belum Toni?"

Kak Toni menggeleng. "Aku ke dapur buat nyiapin makan ya bu."

"Iya bawa kesini saja yang enak duduknya."

Aku mengangguk paham perintah ibu. Meja dapur hanya memliki dua kursi makanya ibu menyuruh ku untuk makan di depan saja.

Aku meletakkan piring makan dimeja. "Yuk makan."

Kami makan dengan nikmat. Kadang disela makan ibu melontarkan pertanyaan pada kak Toni tapi hanya dijawab singkat. Wajahnya tetap murung. Dia jadi banyak diam.

"Biar nanti aja beresinnya man." Kak Toni tiba-tiba berbicara saat aku hendak mengangkat piring kotor untuk kubawa ke dapur.

"Aku mau bicara sekarang saja."

Aku mengangguk. "Iya kak." Aku kembali duduk. Menunggu kata apa yang akan kak Toni ucapkan.

"Bu, manda. Sebelumnya aku mau minta maaf sama kalian. Pasti khawatir sekali kan aku tidak ada kabar hampir satu bulan ini."

Ibu mengelus pundak kak Toni. "Ga masalah. Yang penting kamu ga bakal pergi-pergi lagi, Ton."

"Aku ga tau setelah ini apa aku masih dianggap di rumah ini, bu." Kak Toni menunduk. Suaranya memelan.

"Memangnya ada apa kak?" Akupun ikut penasaran.

Kak Toni mengangkat wajahnya kembali. "Pacarku... Dia hamil." Suaranya memelan di akhir. Aku saja hampir tidak mendengarnya.

"Tapi.. bukan kamu kan yang melakukan?" Ucap ibu sedikit syok.

Kak Toni menggeleng. "Aku bu.." suaranya benar-benar lirih.

Ibu berdiri. Wajahnya menegang. "Kamu bohong... Toni katakan kamu sedang berbohong kan?"

Aku bingung harus bersikap bagaimana. Aku diam. Duduk saja di tempatku. Tak mau berkomentar apapun.

"Toni! Katakan pada ibu kamu sedang berbohong kan?"

"Ibu tenang." Aku sudah tidak bisa diam. Ibu sudah mulai histeris. "Duduk bu."

"Manda! Tanya pada kakakmu kalau apa yang dia bilang itu bohongan!"

Aku menggeleng. "Ibu duduk dulu. Kita bicara baik-baik."

Ibu masih histeris. "Ga manda! Anakku! Toni apa yang kamu lakukan!"

Kulihat kak Toni menghapus air matanya. Dia diam menunduk.

"Kak. Mana pacar kakak? Kenapa ga kesini?"

Kak Toni mendongakkan kepalanya. Matanya memerah. "Aku larang dia kesini sebelum aku bilang ke kalian."

Aku menghembuskan nafasku berat. "Lalu apa yang akan kakak lakukan?"

"Pergi! Kamu pergi! Kamu sudah membuat ibu sangat kecewa Toni!"

Aku berusaha menenangkan ibu. "Ibu, tenang. Jangan teriak-teriak begitu."

"Manda! Usir orang ini! Pergi dari rumahku!"

Aku mengode kak Toni untuk pergi dulu. Ibu pasti butuh waktu sendiri.

"Aku pergi dulu, bu." Kak Toni hendak menyalami ibu tapi tangan ibu menepis. Wajahnya tak mau menatap kak Toni. "Manda. Nanti kabari lagi ya."

Aku mengangguk. Aku tak mau membuat kegaduhan. Apalagi ini malam hari. Yang pasti lara tetangga sedang ada di rumah.

"Ibu, duduk ya. Manda ambilkan minum untuk ibu."

Ibu akhirnya duduk setelah kak Toni benar-benar hilang dari pandangannya.

Aku tau bagaimana kecewanya ibu. Dan bagaimana bingungnya kak Toni memikirkan masalahnya sendiri selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!