NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dosen
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: pena pedang

Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.

kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendekatan

Rembulan menghiasi malam, harum bunga dari halaman tercium masuk kedalam rumah melewati lubang ventilasi udara.

Di dalam rumah. Suara jam dinding berdetak terasa lambat seolah waktu sedang memberi ruang bahwa malam ini banyak hal yang tak dapat dilewatkan begitu saja.

Meja makan dan kursi tertata rapi, diatas meja itu banyak makanan yang telah disiapkan, aroma sedap dan gurih mengisi didalam ruangan membangkitkan rasa lapar.

Anita membuat teh di dapur, sedang Bu Dewi berdiri di samping meja makan, wajahnya tersenyum hangat, sebagai seorang ibu yang telah bertahun tahun mengerjakan pekerjaan rumah, kini walau memasuki usia paruh bahaya tak membuat ia merasa malas, rasa lelah dan letih tak pernah ia ucapkan, tak ada sebuah keluhan, yang ada hanya sebuah senyuman tulus yang terlukis di raut wajahnya.

"Kasihan... Anak itu pasti kesepian" sekilas perasaan sebagai seorang ibu muncul didalam pikirannya.

..........

Di Ruang tamu.

Dua mudah mudi duduk di sofa berhadapan, meja itu menjadi pembatas diantara mereka berdua.

"Anita pernah berkata padaku, katanya kamu pinter banget main saham, boleh kamu ajari aku cara bermain yang bisa untung besar", kata Vivi, tatapannya tajam seolah tak ingin terlewatkan sedikitpun apa yang hendak Bayu jawab.

Bayu menggaruk kepala dengan santai, "ah... Aku gak sepandai itu kok".

"Udahlah... Masa sih sama aku pelit banget," lanjut Vivi sambil melambaikan tangannya.

Bayu terdiam, hanya menatap, namun tatapan itu terasa dingin saat terkunci pada kedua mata Vivi.

Vivi mulai ragu-ragu, tadinya ia sedikit mencondongkan tubuh kedepan, dengan pelan mulai kembali kebelakang dan menjadi tegap.

........

Suara tirai cendela bergesek pelan tertiup Angin malam.

"Hehe, bisa aja.... Tapi aku takut kamu sendiri yang bakal nyerah", kata Bayu tertawa kecil.

Tubuh Vivi yang tadinya menegang kini kembali rileks, "jangan sok misterius gitu dong... Aku jadi takut", lanjutnya tersenyum.

"Kamu serius mau belajar?" Kata Bayu.

Vivi menganggukkan kepalanya tanpa bicara, namun matanya menyimpan keinginan yang kuat.

"Jika mau belajar, butuh percobaan yang banyak, pengetahuan survei pasar yang teliti, menghafal jejak riwayat setiap saham, menghafal setiap pola kenaikan dan penurunan, mengabdet berita terbaru dan yang paling penting di awal membutuhkan modal yang besar," jelas Bayu.

Vivi terdiam, matanya mulai menyiratkan keraguan.

"Apakah sesulit itu" jawabnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.

"Apakah sesulit itu ya...?" Ulangnya kembali menjadi semakin ragu.

"Bisa dibilang sulit, bisa juga dibilang mudah, sebab pasar tak menentu... Ada saham sampah yang tiba-tiba melejit tinggi... Semua seperti perjalanan hidup manusia yang tak tahu masa depannya akan lari kemana, namun ada peramal yang berani menebak dak itu benar". Jelas Bayu.

"Kok makin kesini makin terasa rumit ya... Gelap", jawab Vivi cemberut menatap Bayu.

Bayu hanya bisa tersenyum menghadapi itu semua.

"Hehehe.." Vivi tertawa kecil kembali menggaruk kepalanya.

"Baiklah... Aku akan memberi kuncinya" kata Bayu.

"Apa?" Tanggap Vivi cepat.

"Jika kamu terjatuh hal apa yang pertama kali kamu lakukan?" Tanya Bayu.

"Bangun"

Bayu mengangguk, "jika kamu mencintai seseorang hal apa yang ingin kamu lakukan?".

"Mengutarakannya."

Bayu kembali mengangguk, "jika kamu sakit hati karena cinta hal apa yang ingin kamu lakukan?" Lanjut Bayu.

"Membenci, tak ingin kembali", jawab Vivi.

"Bisa benar, bisa juga salah", kata Bayu, "pikiran manusia tak sama dengan data."

Vivi mengerngit. Tatapannya semakin tajam.

"Jadi... Gimana?"

"Jika ada satu jawaban itu hitungan matematika,"

"Maksudnya?" Kata Vivi.

"Cari tahu inti kebenaran data tujuan satu persatu dari saham apakah bisa naik atau menurun, dan jangan terlalu fokus dalam satu jawaban. Ingat setiap pengalaman".

"Sulit" kata Vivi menundukkan kepala. "Bagaimana kalau kamu langsung tunjukkan satu kali aja mana yang tepat".

"Bisa... Tapi aku gak suka" jelas Bayu.

"Kenapa?"

"Apa kamu suka berusaha dan bekerja?" Kata Bayu tersenyum.

"Suka".

Bayu menyandarkan tubuhnya ke sofa, "jika kamu suka bekerja, pasti kamu gak suka jadi pengemis" lanjut Bayu.

"Kamu......" Vivi kembali mencondongkan tubuhnya kedepan, "ok... Aku ngerti". Katanya.

"Jadi gimana?" Kata Bayu.

Vivi menatap tajam kedepan kedua tangannya ia letakkan di atas meja, "Tapi kamu harus ingat, kebanyakan seorang pasien tak bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri" katanya.

Bayu tersenyum, "menarik... Aku suka kesimpulanmu yang ini" jawab Bayu.

"Jadi...?" Tanya Vivi.

"Aku mau membantu" kata Bayu.

"Janji?",

"Iya... Jika benar-benar kepepet", lanjut Bayu.

"Kepepet... Maksudnya harus terlilit hutang dulu" jawab Vivi cepat.

"Bisa jadi itu benar", kata Bayu lanjut tersenyum.

"Apa itu sebuah syarat?" Vivi melotot.

"Jika kamu belajar sendiri, mungkin syarat itu hilang, aku bisa mengajari tanpa syarat".

"Baiklah... Lupakan, Dasar emang kamu pelit".

Bayu kembali tersenyum.

............

"Plak...plak....plak." suara langkah kaki datang menghampiri mereka.

"Kalian di panggil ibu kedalam", kata Anita.

Ketiganya masuk melewati ruang tengah, dan berhenti di ruang makan, satu persatu mulai mengambil tempat duduk.

"Makan yang banyak", kata Bu Dewi.

"Loo.... Tante gak ikut makan?" Tanya Vivi.

"Tante makan nanti sama om", jawab bu Dewi yang berjalan menuju ruang tengah lalu menyalakan televisi.

"Hmmm.... Contoh itu nit, nanti kalau bersuami kalau mau makan nunggu suami pulang dan makan bersama biar romantis", sindir Vivi sambil melirik Bayu.

"Kak Vivi ngomong apa sih, pembahasan itu masih jauh", jawab Anita.

"Cukup sebagai pengingat aja, dan seorang suami juga gitu... Gak boleh pelit sama istri dan juga keluarga dari istri", kata Vivi melanjutkan sindirannya sambil melirik Bayu.

"Uhuuukgh...!!!" Bayu langsung tersedak saat menelan makanan.

Anita langsung menoleh, "eh... Pelan-pelan" katanya berdiri dari kursi memberi segelas air putih untuk diminum.

"Romantisnya" ucap Vivi kembali menggoda.

"Apa sih kakak ini", kata Anita cepat.

Sedang Bayu segera mengambil gelas dari tangan Anita yang sedang mengarahkan minuman kearah bibir Bayu.

"Dasar gadis ini... Mulai bertingkah lagi", grutu Bayu dalam hati.

.....

Malam itu terasa panjang, Bayu pamit pulang.

Namun momen itu, suatu momen yang akan selalu membekas dengan ingatan hangat, di dalam pikirannya, kenangan yang sangat berharga.

Walau sederhana namun ia sangat menyadari bahwa dari kecil tak pernah ia mendapatkan perasaan seperti ini.

Sebab tahun-tahun itu yang telah ia jalani, hanyalah sebuah latihan yang keras.

Pagi olahraga berat, siang latihan menembak, sore latihan beladiri, dan malam belajar didik oleh profesor agar menjadi orang yang jenius.

Ingatan masa lalu itu tiba-tiba muncul satu persatu saat ia mengendarai motor sportnya.

Weeeng...!!!!

Raungan mesin motor semakin keras saat ia mempercepat laju motor.

Dunia semakin gelap namun disisi lain dari tujuannya, persiapan untuk menguliti kulit naga sudah ia siapkan.

......

Bersambung.

1
Fatmawati Qomaria
novel baru ya kk
Muhammad Salim: iya kak
total 1 replies
Muhammad Salim
kalau ada yang kurang pas, komen saja ya... maklum masih baru dan masih belajar.
Muhammad Salim: iya kakak... terimakasih 🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!