NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 SWMU

Obsesi Nadia terhadap aroma Bramantya dan rasa aman semu yang ia rasakan mulai membentuk dinding tebal di sekitar logikanya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, sisa-sisa kewaspadaan Nadia Clarissa belum sepenuhnya padam. Ia merasa seperti hidup di dalam dua dunia; satu dunia di mana ia ingin terus meringkuk di bawah ketiak pamannya yang berwibawa, dan dunia lain yang terus berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat salah di rumah ini.

Pagi itu, Bramantya sudah berangkat menuju kantor pusat Mahendra Corp sejak fajar menyingsing. Mansion terasa lebih sepi dari biasanya. Bi Inah dan para pelayan lainnya sibuk di sayap kiri bangunan, memberikan Nadia kesempatan langka untuk menjelajah tanpa pengawasan ketat.

Nadia kembali ke ruang kerja Bramantya. Aroma cendana itu masih ada di sana, tipis dan menggoda, namun kali ini Nadia tidak datang untuk menghirup jas atau duduk di kursi kebesaran pamannya. Ia datang karena sebuah rasa penasaran yang mendesak.

Ia teringat kata-kata Bramantya tentang ayahnya. Ayahmu mengambil sesuatu yang sangat berharga dariku.

Nadia mulai menggeledah rak buku yang menjulang tinggi. Jemarinya menelusuri punggung-punggung buku kulit tua, hingga matanya tertuju pada sebuah buku tebal berjudul The History of Mahendra Dynasty. Buku itu tampak sedikit berdebu, seolah jarang disentuh. Saat Nadia menariknya, ia merasakan ada sesuatu yang tidak rata di balik sampul bagian dalam.

Dengan jantung berdebar, Nadia membawa buku itu ke sofa. Ia meraba sampulnya dan menemukan sebuah celah kecil di antara lapisan kulit. Di dalamnya, terselip sebuah amplop yang sudah menguning dimakan usia. Tidak ada nama pengirim atau penerima, hanya ada segel lilin merah yang sudah pecah.

Nadia mengeluarkan isinya. Itu adalah sebuah surat tulisan tangan. Saat ia membaca baris pertama, napasnya seolah berhenti.

“Bram, aku tidak bisa melakukannya lagi. Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena paksaan ayahmu. Aku mencintai kakakmu, bukan kau. Jangan cari aku lagi setelah kami pergi.”

Surat itu tidak ditandatangani, namun Nadia mengenali tulisan tangan yang sangat halus dan meliuk-liuk itu. Itu adalah tulisan tangan ibunya.

Tangan Nadia gemetar hebat hingga kertas di genggamannya berbunyi kresek. Jadi, teori yang selama ini menghantuinya benar. Bramantya mencintai ibunya. Dan ibunya memilih melarikan diri bersama ayahnya. Cinta segitiga yang tragis di masa lalu inilah yang menjadi akar dari segala kebencian dan obsesi yang sekarang diarahkan kepadanya.

"Ibu..." bisik Nadia. Air mata mulai menggenang.

Ia terus membaca surat itu. Di bagian belakang, ada catatan kecil dengan tinta yang berbeda, tampak seperti tulisan yang ditambahkan bertahun-tahun kemudian dengan kemarahan yang meluap:

“Dia mengambilmu dariku, tapi takdir akan membawa putrimu kembali ke pelukanku. Apa yang tidak bisa kudapatkan darimu, akan kudapatkan darinya.”

Nadia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Tulisan kedua itu jelas milik Bramantya. Kalimat itu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sebuah rencana. Selama ini, Bramantya tidak menyelamatkannya karena rasa kasihan. Dia tidak menjadi walinya karena hubungan darah. Bramantya sedang menagih utang cinta masa lalu kepada Nadia.

Ia adalah pengganti. Ia adalah bayangan ibunya yang kini terperangkap dalam obsesi pria yang gagal mendapatkan cintanya di masa lalu.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar pintu. Nadia dengan panik mencoba memasukkan kembali surat itu ke dalam buku, namun karena tangannya gemetar, kertas itu justru terjatuh ke bawah sofa.

Cklek.

Pintu terbuka. Bi Inah berdiri di sana dengan wajah datarnya. "Nona Nadia? Apa yang Anda lakukan di sini? Tuan Bramantya melarang siapa pun masuk ke ruang kerjanya tanpa izin."

Nadia berusaha bersikap tenang, meskipun jantungnya terasa seperti akan melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri sambil memeluk buku sejarah itu. "Aku... aku hanya mencari sesuatu untuk dibaca. Aku bosan di kamar."

Mata Bi Inah melirik ke arah tangan Nadia yang memegang buku, lalu ke arah sofa. Nadia segera berdiri tepat di depan tempat surat itu terjatuh, menutupi celah di bawah sofa dengan gaunnya yang panjang.

"Mari saya antarkan kembali ke kamar, Nona. Sebentar lagi makan siang akan siap," ujar Bi Inah. Nada bicaranya tidak membantah, tapi mengandung paksaan yang tidak bisa ditolak.

Nadia mengangguk kaku. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti Bi Inah keluar. Sepanjang jalan menuju kamarnya, Nadia merasa dunia di sekelilingnya berputar. Aroma maskulin yang tadinya terasa menenangkan, kini berubah menjadi aroma kematian yang menyesakkan. Setiap sudut mansion yang megah ini sekarang tampak seperti bukti dari kegilaan Bramantya.

Sesampainya di kamar, Nadia segera mengunci pintu. Ia jatuh terduduk di atas tempat tidur. Bayangan pelukan hangat Bramantya semalam kini terasa menjijikkan. Saat pria itu mencium keningnya, apakah dia melihat wajah Nadia? Ataukah dia melihat wajah ibunya?

"Aku harus keluar dari sini," gumam Nadia dengan tekad yang baru. "Aku tidak boleh menjadi boneka pengganti."

Namun, ia teringat surat itu masih tertinggal di bawah sofa di ruang kerja. Jika Bramantya menemukannya, atau menyadari posisinya telah berubah, pria itu akan tahu bahwa Nadia sudah mengetahui rahasianya.

Malam itu, jamuan makan malam terasa sangat berbeda. Nadia duduk di hadapan Bramantya dengan perasaan yang berkecamuk. Ia mencoba tidak menatap mata pria itu, namun Bramantya tampaknya menyadari sesuatu yang berbeda.

"Kau tampak pucat, Nadia. Apa kau sakit?" tanya Bramantya, suaranya terdengar sangat lembut, namun di telinga Nadia, itu terdengar seperti suara ular yang mendesis.

"Hanya pusing sedikit, Paman," jawab Nadia, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Bramantya bangkit, berjalan mendekati Nadia. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh kening Nadia untuk memeriksa suhu tubuhnya. Sentuhan yang biasanya membuat Nadia merasa tenang, kini membuatnya ingin berteriak dan lari sejauh mungkin.

"Kau tidak demam. Mungkin kau hanya butuh istirahat lebih awal," kata Bramantya. Ia membelai pipi Nadia dengan ibu jarinya. "Bi Inah akan membawakan susumu seperti biasa. Pastikan kau meminumnya sampai habis, ya?"

Nadia menatap mata Bramantya. Di sana, ia tidak lagi melihat seorang paman yang protektif. Ia melihat seorang pria yang dihantui oleh masa lalu, seorang pria yang sudah kehilangan akal sehatnya demi sebuah cinta yang tidak pernah ia miliki.

"Paman..." panggil Nadia pelan.

"Ya, Sayang?"

"Apakah Paman benar-benar menyayangiku? Bukan karena aku adalah putri kakakmu?"

Bramantya terdiam sejenak. Senyumnya tidak luntur, namun matanya berkilat dengan emosi yang gelap. "Aku menyayangimu lebih dari apa pun di dunia ini, Nadia. Kau adalah cahaya yang kembali ke rumah ini setelah sekian lama gelap."

Cahaya yang kembali. Nadia tahu maksudnya. Ia adalah kembalinya cinta ibunya yang hilang.

Malam itu, saat susu diantarkan, Nadia tidak meminumnya. Ia menunggu hingga Bi Inah pergi, lalu ia segera menuju kamar mandi untuk membuang isinya ke dalam saluran air. Ia harus tetap sadar. Ia harus mengambil surat itu kembali sebelum fajar menyingsing.

Nadia menunggu hingga seluruh mansion sunyi. Dengan langkah kaki tanpa alas agar tidak menimbulkan suara, ia menyelinap keluar kamar. Pintu kamarnya tidak dikunci malam itu, mungkin karena Bramantya berpikir Nadia sudah "jinak" setelah kejadian semalam.

Ia menuruni tangga dengan hati-hati. Kegelapan mansion terasa mencekam. Bayangan dari guci-guci antik tampak seperti orang yang sedang berdiri mengawasinya. Ia sampai di depan ruang kerja Bramantya. Pintu itu tidak sepenuhnya tertutup.

Nadia mengintip dari celah pintu. Jantungnya nyaris berhenti.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lampu meja, Bramantya sedang duduk di sofa tempat Nadia tadi siang membaca. Di tangannya, pria itu memegang amplop kuning yang sudah ia temukan.

Bramantya membaca surat itu berulang-ulang, air mata mengalir di pipinya yang tegas—pemandangan yang sangat kontras dengan sosoknya yang biasanya dingin dan tak tersentuh. Ia menciumi kertas surat itu, menggumamkan sebuah nama yang bukan nama Nadia.

"Althea... kau kembali padaku lewat putrimu... kali ini kau tidak akan bisa lari lagi," bisik Bramantya dengan suara parau yang dipenuhi kegilaan.

Nadia mundur perlahan, menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar. Ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kamarnya. Ia menutup pintu dan menguncinya dengan tangan gemetar hebat.

Di dalam kegelapan kamarnya, Nadia menangis dalam diam. Ia merindukan ibunya lebih dari sebelumnya. Ia ingin berteriak meminta tolong pada ayahnya. Namun, ia menyadari bahwa ia sendirian di sarang monster ini.

Surat yang disembunyikan itu telah membuka kotak Pandora. Dan kini, Nadia tahu bahwa setiap perhatian, setiap pelukan, dan setiap wangi maskulin yang ia hirup selama ini hanyalah jaring laba-laba yang dirajut dengan rapi untuk menjadikannya tawanan selamanya.

Malam itu, di bawah pengawasan cermin dua arah, Nadia berpura-pura tidur dengan air mata yang membasahi bantalnya. Sementara di balik kaca, Bramantya menatapnya dengan tatapan pemenang, sambil memegang surat dari masa lalu.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!