karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar bahagia
__________________________________
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar utama di apartemen rahasia itu terasa lebih hangat. Annelise mengerjapkan matanya perlahan, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih tertinggal di alam mimpi. Namun, saat ia mencoba bergerak, ia merasakan beban hangat di pinggangnya. Jantungnya berdesir kencang saat ia menoleh dan menemukan sosok pria yang seharusnya berada ribuan mil jauhnya di Singapura.
Reynard ada di sana, tidur dengan tenang di sampingnya. Wajah yang biasanya kaku dan penuh otoritas itu kini tampak damai, dengan helaian rambut hitam yang jatuh berantakan di keningnya.
"Reynard?" bisik Annelise hampir tak terdengar. Ia terkejut sekaligus tidak percaya. Seingatnya, Reynard baru saja berangkat beberapa hari lalu. Bagaimana bisa pria itu sudah kembali tanpa suara?
Baru saja Annelise ingin menyentuh pipi suaminya untuk memastikan ini bukan mimpi, perutnya tiba-tiba bergejolak hebat. Rasa mual yang luar biasa menghantamnya seperti ombak yang menggulung. Dengan panik, ia melepaskan diri dari pelukan Reynard dan berlari menuju kamar mandi, tidak memedulikan rasa pening yang menyerang kepalanya.
Reynard tersentak bangun karena gerakan tiba-tiba itu. Ia langsung terduduk, matanya yang tajam segera mencari sosok istrinya. Suara muntahan dari kamar mandi membuatnya panik seketika.
"Annelise!" Reynard melompat dari ranjang dan bergegas menyusul. Ia menemukan Annelise bersimpuh di depan wastafel, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Reynard segera berlutut di belakangnya, memijat tengkuk istrinya dengan lembut sembari menahan rambut panjang Annelise agar tidak terkena muntahan.
"Sayang, ada apa? Apakah kau sakit?" suara Reynard terdengar parau karena kecemasan yang mendalam.
Annelise hanya bisa menggeleng lemah. Ia membasuh mulutnya dengan air, napasnya tersengal. "Aku... aku tidak tahu. Sejak kemarin pagi aku selalu merasa mual setiap kali mencium bau parfum atau makanan tertentu."
Reynard terdiam, otaknya yang cerdas bekerja cepat. Ia mengingat kembali setiap detail kehidupannya yang pertama kehidupan di mana ia kehilangan segalanya karena buta oleh obsesi semu pada Seraphina. Ingatan tentang Annelise yang mati dalam pelukannya sambil membisikkan tentang bayi mereka yang berusia dua bulan menghantam dadanya seperti pukulan godam.
Mual pagi. Sensitivitas terhadap bau.
Reynard membeku. Selama beberapa minggu terakhir, ia terlalu fokus pada rencana untuk menjebak Seraphina dan Victor. Ia terlalu sibuk membersihkan duri-duri dalam bisnisnya agar Annelise bisa hidup tenang. Ia bahkan hampir melupakan garis waktu di mana Annelise seharusnya sedang mengandung di kehidupan ini.
"Annelise..." Reynard menangkup wajah pucat istrinya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kapan terakhir kali kau mendapatkan siklus bulananmu?"
Annelise mengerjapkan matanya, mencoba mengingat. Kesadarannya seolah tersedot ke dalam kenyataan yang baru saja ia sadari. "Aku... aku terlambat hampir tiga minggu, Reynard. Kupikir itu hanya karena stres ."
Reynard menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Ia membawa Annelise ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah takut wanita itu akan menghilang lagi menjadi debu kenangan. "Maafkan aku... maafkan aku karena terlalu sibuk sampai tidak menyadari hal ini," bisiknya penuh penyesalan.
"Reynard, apa maksudmu?" tanya Annelise bingung.
"Kita akan ke dokter sekarang juga, tapi sebelumnya, kau harus makan sesuatu," ucap Reynard tegas. Ia membantu Annelise berdiri dan menggendongnya kembali ke ranjang dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah Annelise adalah porselen yang paling rapuh di dunia.
Beberapa saat kemudian, aroma dari dapur apartemen rahasia itu mulai tercium. Bibi Rose bersama koki sedang bersiap memasak sarapan.
Annelise yang memperhatikan dari ambang pintu dapur merasa mualnya kembali saat mencium aroma tumisan bawang yang dibuat asisten rumah tangga. "Reynard, tolong... suruh mereka berhenti memasak. Bau itu... aku tidak tahan."
Reynard pun menyuruh mereka berhenti. Pria itu melepaskan kemeja mahalnya, menyisakan kaos dalam, dan mengambil alih apron. Reynard segera menyuruh para pelayan keluar dari dapur. Ia teringat saat ia memasak sup untuk Annelise beberapa waktu lalu, dan Annelise bisa memakannya dengan lahap.
"Annelise, apakah kau ingin aku yang memasak?" tanya Reynard lembut.
Annelise mengangguk pelan, wajahnya sedikit bersemu. "Sejak terakhir kali aku memakan masakanmu, aku merasa perutku jauh lebih tenang. Tapi kalau masakan orang lain, meskipun itu buatan Bibi Rose yang biasanya kusukai, rasanya perutku menolak."
Reynard tersenyum tulus, sebuah senyum yang kini hanya ia tujukan untuk istrinya. "Apapun untukmu, Sayang. Duduklah di sana, aku akan membuatkanmu sarapan."
Dengan telaten, Reynard mulai mengolah bahan makanan. Ia memastikan setiap aromanya tidak terlalu tajam. Melihat suaminya yang merupakan penguasa Aethelred Group sibuk di dapur demi dirinya, Annelise merasa hatinya dipenuhi kehangatan yang tak terlukiskan. Kesempatan kedua ini benar-benar terasa seperti keajaiban.
Setelah sarapan yang akhirnya bisa dihabiskan Annelise tanpa rasa mual, Reynard segera membawanya ke dokter kandungan. Setelah menempuh perjalanan singkat dari apartemen, mereka tiba di sebuah klinik spesialis kandungan eksklusif yang telah dipesan secara pribadi oleh Reynard. Reynard tidak melepaskan genggaman tangannya dari Annelise, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, realitas ini akan menguap.
Di dalam ruang periksa yang tenang, dr.marsya, dokter senior kepercayaan keluarga Aethelred, menyambut mereka. Setelah melakukan prosedur ultrasonografi (USG) awal, dr. Marsya tersenyum dan memutar layar monitor ke arah mereka.
"Lihat titik kecil yang berkedip itu?" dr. Marsya menunjuk sebuah noktah cahaya di tengah kegelapan layar. "Itu adalah detak jantung janin Anda. Saat ini usianya sekitar empat minggu."
Reynard terpaku. Matanya tidak berkedip menatap layar itu. Di kehidupan sebelumnya, ia baru mengetahui tentang keberadaan anak ini saat Annelise sedang meregang nyawa di pelukannya. Mendengar detak jantung itu sekarang terasa seperti sebuah pengampunan dosa baginya.
"Dokter," suara Reynard terdengar serak, "Apa yang harus saya lakukan agar dia tetap aman? Maksud saya... benar-benar aman."
Dokter Marsya terkekeh kecil melihat ekspresi kaku sang taipan bisnis yang biasanya tak kenal takut itu. "Tenang, Tuan Reynard. Kehamilan bukan sebuah penyakit. Namun, karena Nyonya Annelise sempat mengalami tekanan mental dan fisik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan."
Reynard segera mengeluarkan ponselnya, siap mencatat setiap kata layaknya instruksi bisnis bernilai miliaran dolar. "Silakan, Dokter. Saya mendengarkan."
"Pertama, soal mual di pagi hari atau morning sickness yang ia alami," lanjut dr. Marsya.
"Annelise hanya bisa makan masakan saya," potong Reynard cepat. "Dia mual jika mencium bau masakan orang lain, bahkan koki profesional sekalipun. Apakah itu normal? Apakah ada nutrisi yang hilang jika dia hanya makan menu terbatas yang saya buat?"
"Itu sangat wajar, Tuan. Seringkali ibu hamil memiliki keterikatan emosional dengan aroma tertentu. Jika masakan Anda adalah satu-satunya yang bisa diterima perutnya, maka memasaklah untuknya. Pastikan Anda memasukkan protein tinggi, asam folat, dan zat besi ke dalam bahan-bahannya. Saya akan memberikan daftar bahan makanan yang wajib ada."
Reynard mengangguk cepat. "Bagaimana dengan aktivitasnya? Dia baru saja pulih dari luka di kakinya akibat kejadian tempo hari. Apakah dia boleh berjalan jauh? Atau haruskah saya membelikannya kursi roda agar dia tidak kelelahan?"
Annelise tersipu malu dan menyentuh lengan Reynard. "Reynard, jangan berlebihan. Aku masih bisa berjalan."
Dokter Marsya tersenyum. "Kursi roda tidak perlu, Tuan. Tapi benar, jangan membiarkannya berdiri terlalu lama. Trimester pertama adalah masa pembentukan organ vital. Hindari stres, suara bising yang mengejutkan, dan tentu saja, aktivitas fisik yang berat."
"Bagaimana dengan vitamin?" tanya Reynard lagi, pertanyaannya mengalir tanpa henti. "Apakah ada vitamin terbaik di dunia ini yang bisa saya pesan dari luar negeri? Dan apakah ada tanda-tanda bahaya yang harus saya waspadai secara instan? Saya ingin tahu kapan saya harus segera membawanya ke rumah sakit tanpa menunda sedetik pun."
"Saya akan meresepkan vitamin penguat kandungan terbaik," jawab dr. Marsya sabar. "Tanda bahayanya adalah flek atau kram perut yang hebat. Jika itu terjadi, segera hubungi saya. Tapi melihat posisi janin yang sangat bagus ini, saya optimis jika Nyonya Annelise merasa bahagia dan tenang, bayi ini akan tumbuh sangat kuat."
Reynard menatap Annelise, matanya yang biasa dingin kini berkaca-kaca. Ia mencium punggung tangan istrinya di depan dokter. "Dia akan bahagia, Dokter. Saya akan memastikan setiap detiknya dihabiskan dengan kebahagiaan."
Annelise merasakan matanya memanas. Perhatian Reynard yang begitu detail menanyakan soal nutrisi, vitamin, hingga tanda bahaya terkecil membuatnya sadar bahwa pria ini benar-benar telah berubah. Reynard bukan lagi pria yang mengabaikannya demi Seraphina, melainkan seorang calon ayah yang sangat protektif.
"Satu hal lagi, Dokter," Reynard menambahkan dengan nada serius sebelum mereka keluar. "Siapkan tim medis terbaik untuk memantau kondisinya di rumah secara berkala. Saya tidak ingin ada celah sedikit pun dalam keselamatannya."
Setelah mendapatkan semua instruksi dan resep, mereka meninggalkan klinik. Reynard merangkul pinggang Annelise dengan sangat protektif saat mereka menuju mobil, siap menghadapi Seraphina di kantor polisi dengan kekuatan baru sebuah nyawa yang kini sedang tumbuh di rahim istrinya.
orang kaya mereka harus membusuk