Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: JEJAK YANG TERHAPUS
BAB 11: JEJAK YANG TERHAPUS
Tangan Arga masih bergetar saat ia menatap angka "6" yang kini terukir permanen di telapak tangannya. Namun, angka "30" di foto bayi yang dipegang bayangan ayahnya di cermin tadi jauh lebih menghantui.
"Tiga puluh..." bisik Arga. "Apa itu batas usiaku? Atau jumlah nyawa yang harus kukirim?"
Ibunya masih duduk di meja makan, menyendok nasi goreng dengan tenang seolah tidak terjadi drama hidup dan mati di kamar sebelah. Arga memperhatikannya dari ambang pintu. Melalui lubang koin emas yang masih ia genggam, ibunya terlihat normal—tidak ada hawa hitam atau wujud Pengawas. Tapi Arga tahu, di dunia ini, ketenangan adalah kamuflase yang paling berbahaya.
"Bu," panggil Arga pelan. "Ibu ingat foto Arga waktu bayi? Yang ada tanda di tangannya?"
Ibunya terhenti. Sendoknya berdenting pelan menyentuh piring. Tanpa menoleh, suaranya berubah menjadi datar. "Jangan mencari apa yang sudah dikubur, Arga. Makanlah, lalu tidur. Besok shiftmu mulai lebih awal, kan?"
Jawaban itu bukan jawaban seorang ibu. Itu adalah peringatan.
Arga kembali ke kamar dan mengunci pintu. Ia mengeluarkan buku catatan kumal milik ayahnya. Ia membalik halaman demi halaman hingga menemukan lembar yang selama ini lengket dan sulit dibuka. Dengan bantuan cahaya dari telapak tangannya, tulisan rahasia di sana muncul.
Aturan Nomor 7: Jika kau melihat angka masa lalumu, jangan kembali ke rumah. Rumah bukan lagi tempat perlindungan, tapi jebakan bagi mereka yang sudah ditandai.
Jantung Arga mencelos. Jika ia sudah ditandai sejak bayi dengan angka 30, berarti rumah ini sudah diawasi selama puluhan tahun.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi pengiriman misterius itu muncul.
Tugas Baru: Pengiriman VIP.
Lokasi Penjemputan: Gudang Sektor 4 (Lantai Bawah Tanah).
Tujuan: Alamat yang tidak terdaftar di peta.
Catatan: Bawa koin emas dan jangan menoleh ke belakang, apapun yang kau dengar.
Arga tahu ia tidak punya pilihan. Jika ia tetap di rumah, ia membahayakan ibunya. Jika ia pergi, ia masuk lebih dalam ke lubang kelinci ini.
Ia menyambar jaketnya dan keluar lewat jendela kamar agar tidak perlu melewati ibunya di ruang makan. Saat kakinya menyentuh tanah, suhu udara turun drastis. Kabut tebal menyelimuti gang sempit di depan kontrakannya.
Di ujung gang, sosok Pengawas jangkung itu berdiri menunggunya di samping motor Arga. Kali ini, sosok itu tidak diam. Ia menunjuk ke arah speedometer motor Arga.
Angka di speedometer itu tidak menunjukkan kecepatan, melainkan hitungan mundur: 24:00:00.
"Dua puluh empat jam?" Arga bertanya pada kegelapan.
"Itu sisa waktu sebelum kontrakmu berakhir, atau nyawamu yang diambil," sebuah suara berat bergema di kepala Arga. Bukan suara Pengawas, tapi suara pemilik gudang.
Arga memacu motornya menuju gudang. Namun, di tengah jalan, ia menyadari sesuatu yang aneh. Jalanan kota Jakarta yang biasanya macet total, kini kosong melompong. Semua lampu jalan berwarna merah.
Setiap kali ia melewati cermin toko atau kaca mobil yang terparkir, pantulan dirinya bukan lagi Arga yang berusia 25 tahun, melainkan Arga kecil dengan angka 30 di tangannya.
Tiba di gudang, pintu besi besar terbuka otomatis. Arga turun ke lantai bawah tanah yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Di sana, bukan paket kardus yang ia temukan, melainkan ribuan toples kaca berisi asap hitam yang bergejolak.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua yang membelakanginya. Pria itu sedang menjahit sebuah kain beludru merah—kain yang sama dengan pembungkus peti di kamarnya tadi.
"Kau datang lebih cepat, Arga," ucap pria itu. Saat dia berbalik, Arga hampir terjatuh.
Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Arga, namun versi yang jauh lebih tua dan penuh bekas luka.
"Ayah?" suara Arga tercekat.
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada geraman monster. "Aku bukan ayahmu. Aku adalah apa yang akan terjadi padamu jika kau berhasil menyelesaikan paket ke-30."
Ia menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kain kafan. "Ini kiriman terakhir untuk hari ini. Antarkan ke Pemakaman Jeruk Purut. Pohon kembar. Jangan bicara pada wanita yang menangis di sana."
Arga menerima kotak itu. Kotak itu terasa dingin, seolah-olah ia memegang sebongkah es yang terbuat dari rasa sakit.
"Dan Arga..." pria itu menahan lengan Arga. "Jangan percaya pada angka di tanganmu. Itu bukan jumlah hari, itu jumlah dosa yang harus kau tanggung."
Arga pergi dengan pikiran yang semakin hancur. Saat ia keluar dari gudang, ia melihat ke telapak tangannya lagi. Angka 6 itu mulai berkedip, dan di bawahnya muncul tulisan kecil:
Tujuan selanjutnya: Dirimu sendiri.
Apakah Arga akan mengantarkan paket itu ke pemakaman, atau dia akan mencoba mematahkan aturan untuk mencari tahu siapa pria di gudang itu sebenarnya?