Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi itu, langit sekolah terasa mendung, seolah ikut merasakan beban berat yang dipikul Sheila. Ia berdiri di sudut paling terpencil di taman belakang sekolah, tempat di mana pohon-pohon besar menyembunyikan isak tangisnya. Tak lama, Risma datang dengan wajah panik dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Sheil... kamu serius? Kamu sudah tes?" tanya Risma dengan suara berbisik, matanya berkaca-kaca melihat wajah Sheila yang sangat pucat dan layu.
Sheila hanya bisa mengangguk lemah. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku roknya—dua garis merah yang terlihat begitu nyata.
"Aku takut, Ris. Aku takut banget. Beasiswa itu, masa depanku... semuanya bakal hancur kalau Bunda tahu. Aku mau pergi ke luar kota setelah kelulusan. Aku mau sembunyiin ini sendirian," ucap Sheila dengan suara tercekat.
"Kamu gila, Sheil! Mana bisa kamu sendirian di luar kota dengan keadaan kamu tengah mengandung," kata Risma dengan menatap iba pada Sheila.
"Aku yakin bisa, Ris! Aku mohon sembunyikan ini semua dari siapa pun, termasuk Bunda," pinta Sheila.
Saat Sheila dan Risma berjalan kembali menuju kelas, suasana sekolah terasa semakin menghimpit. Meski rahasia kehamilannya belum tersebar, perubahan fisik Sheila yang sering terlihat lemas menjadi bahan perbincangan.
"Lihat deh Sheila, kok sekarang pucat banget ya? Padahal kan baru menang olimpiade."
"Iya, terus dia sering banget pake jaket kebesaran. Padahal biasanya modis."
"Mungkin kecapekan karena terlalu ambisius. Tapi jujur, aura cantiknya kayak hilang, ganti jadi aura sedih."
Suara-suara itu terus berdengung, membuat Sheila semakin menundukkan kepalanya. Di belakangnya, dari jarak yang cukup jauh, Devano berjalan mengikuti dengan tatapan yang kosong dan hancur. Ia mendengar semua bisikan itu, dan setiap kata-kata mereka terasa seperti belati yang menusuk punggungnya sendiri.
"Maafkan aku Sheil, kalau aja aku gak egois dan keras kepala! Kamu gak akan kaya gini," batin Devano, tanpa ia ketahui bahwa Sheila telah mengandung benihnya dan itu akan tetap menjadi rahasia bagi Risma dan Sheila.
Siang itu, matahari terik menyengat lapangan sekolah. Seluruh siswa kelas 12 diwajibkan mengikuti pengambilan nilai lari. Sheila berdiri di garis start dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Sheil, kamu nggak usah ikut ya? Aku bilang ke Pak Bandi kamu sakit," bisik Risma cemas, memegangi lengan Sheila yang terasa dingin.
"Nggak, Ris. Kalau aku izin terus, mereka bakal makin curiga," jawab Sheila keras kepala.
Baru saja peluit dibunyikan dan Sheila berlari beberapa meter, dunianya tiba-tiba berputar. Pandangannya mengabur, dan dalam sekejap, tubuh ringkih itu tumbang di tengah lapangan.
"SHEILA!" teriak Risma histeris.
Sebelum guru atau siswa lain sempat bereaksi, sebuah bayangan hitam melesat cepat. Devano, yang sejak tadi mengawasi dari tribun jauh, sudah lebih dulu sampai di sana. Tanpa memedulikan tatapan kaget ribuan pasang mata, ia langsung mengangkat tubuh Sheila ke dalam dekapannya.
Saat menggendong Sheila, Devano merasakan sesuatu yang aneh. Tubuh Sheila terasa sangat ringan namun ada ketegangan yang berbeda di balik jaket tebalnya. Jantung Devano berdegup kencang. Ia menatap wajah Sheila yang pingsan dengan perasaan campur aduk—khawatir, namun juga ada secercah kecurigaan yang mulai merayap di benaknya melihat Sheila begitu sering memegang perutnya belakangan ini.
"Minggir semua!" bentak Devano dingin saat kerumunan siswa mencoba mendekat. Ia membawa Sheila menuju ruang UKS dengan langkah lebar, diikuti Risma yang berlari dengan wajah penuh ketakutan.
Di dalam ruang UKS, Devano menatap wajah pucat Sheila. Ia menemukan sebuah kertas kecil yang terjatuh dari saku jaket Sheila. Itu adalah kuitansi klinik laboratorium. Darah Devano terasa berhenti mengalir, namun Risma dengan cepat merebut kertas itu sebelum Devano bisa membaca hasilnya.
"Risma, katakan jujur. Sheila sakit apa?! Apa hubungannya dengan kuitansi klinik itu?" tanya Devano dengan suara serak.
Risma menatap Devano dengan tajam, menyembunyikan gemertak giginya karena takut rahasia sahabatnya terbongkar. "Dia sakit tipus akibat stres memikirkan luka yang kamu beri, Devano! Jangan kegeeran dengan berpikir macam-macam. Kuitansi itu cuma pemeriksaan darah rutin!"
Devano terpaku. Ia ingin percaya, namun hati kecilnya merasakan ada sesuatu yang lebih besar. Namun, melihat Sheila yang mulai terbangun dan langsung menatapnya dengan ketakutan luar biasa, Devano tidak berani bertanya lebih jauh.
Devano melangkah keluar dari ruang UKS. Meski ia tidak pernah tahu secara pasti tentang kehamilan itu—karena Risma berhasil menyembunyikan bukti fisiknya—Devano tetap merasakan bahwa Sheila sedang mengalami penderitaan yang luar biasa.
Ia kembali menghubungi asistennya. "Batalkan rencana beasiswa lokal. Cari tahu universitas di luar kota yang paling jauh, yang sedang dituju Sheila. Siapkan semuanya. Apartemen, biaya hidup, dan fasilitas kesehatan terbaik atas nama yayasan anonim."
"Baik Tuan, tugas akan saya laksanakan."
Devano berdiri di koridor, menatap langit mendung. Ia memutuskan untuk tidak pernah mencari tahu kebenaran lebih dalam lagi agar tidak melukai Sheila lebih jauh. Baginya, selama Sheila bisa pergi dan memulai hidup baru dengan tenang, itu sudah cukup.
Sheila akan pergi membawa rahasianya sendiri ke luar kota, menghilangkan jejak dari seluruh penghuni sekolah, termasuk dari Bunda. Dan Devano, sang "pecundang" yang kini hanya bisa menjadi bayangan, akan terus memantau keselamatan Sheila dari jauh tanpa pernah tahu bahwa ada darah dagingnya yang sedang tumbuh di sana.
"Hiduplah dengan baik di sana, Sheil. Meski aku harus mati dalam penyesalan tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," bisik Devano sebelum ia melangkah pergi, menghilang di balik lorong sekolah.
Sheila membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma karbol yang menyengat dan rasa dingin di keningnya. Ia menatap langit-langit putih ruang UKS dengan tatapan linglung, sebelum ingatannya kembali pada kejadian di lapangan tadi. Secara refleks, tangannya langsung meraba perutnya di balik selimut.
"Bagaimana keadaan kamu, Sheil?" suara lembut Risma memecah keheningan. Risma duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Sheila yang masih terasa sangat dingin.
"Ris... anak ini... dia gak apa-apa, kan?" tanya Sheila dengan suara serak, nyaris berbisik. Matanya yang sembab menatap Risma dengan penuh kecemasan.
"Kamu cuma kelelahan dan dehidrasi, Sheil. Untungnya tadi... tadi ada yang langsung nolongin kamu," jawab Risma ragu. Ia tidak ingin menyebut nama Devano karena tahu itu hanya akan membuat Sheila semakin tertekan.
Sheila terpaku. Ia teringat samar-samar aroma parfum yang pernah begitu ia kenali—aroma yang menyeretnya kembali pada malam mengerikan di apartemen itu. Ia meraba saku jaketnya dan seketika wajahnya berubah menjadi sangat ketakutan.
"Ris! Kuitansi dari klinik itu... di mana?!" seru Sheila panik, mencoba duduk meski kepalanya masih terasa berputar hebat.
"Tenang, Sheil. Aku sudah ambil. Devano sempat lihat, tapi aku sudah kasih alasan kalau kamu sakit tipus. Dia gak tahu apa-apa," Risma berusaha menenangkan sahabatnya itu, meski ia sendiri masih merasa gemetar mengingat tatapan menuntut Devano tadi.
Sheila menyandarkan kepalanya kembali ke bantal, air matanya jatuh membasahi pipinya. "Aku harus pergi lebih cepat, Ris. Aku gak bisa lama-lama di sini. Sekolah ini, atmosfer ini... semuanya membunuhku secara perlahan."
Di balik pintu UKS yang sedikit terbuka, Devano ternyata masih ada di sana. Ia tidak benar-benar pergi. Ia mendengar isak tangis Sheila, namun ia tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan tentang "anak ini". Baginya, Sheila yang menangis saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh ego yang tersisa di dirinya.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/