Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Dan Amarah
Di dalam gudang yang disulap menjadi pusat kebugaran darurat itu, udara terasa pengap dan berat. Aroma keringat bercampur dengan bau besi berkarat memenuhi setiap sudut ruangan. Nanda, si raksasa dari Selatan, sedang mengangkat barbel seberat dua kali lipat berat badannya. Otot-ototnya menegang hebat, urat-urat di lehernya membesar seolah mau pecah, dan raungan seraknya memenuhi ruangan yang sunyi itu.
"AAARRRGGHH!" teriaknya keras sambil mengangkat beban besi itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Keringat mengucur deras membasahi kaus tanpa lengan yang sudah compang-camping. Lengannya yang kekar gemetar menahan beban, namun ia tak mau menyerah. Ia berlatih dengan brutal, tanpa henti, tanpa ampun pada tubuhnya sendiri. Dia tahu bahwa duel satu lawan satu yang diusulkan Misca adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa kekuatan fisik murni adalah yang paling unggul di atas segalanya.
"Satu lagi!" geram Nanda pada dirinya sendiri. Ia mengangkat barbel itu sekali lagi, kali ini lebih lambat, lebih terkontrol, merasakan setiap serat otot di tubuhnya bekerja maksimal. Saat barbel itu akhirnya mencapai puncak, ia menahannya sejenak—tiga detik yang terasa seperti keabadian—sebelum akhirnya menjatuhkannya ke lantai dengan dentuman keras yang membuat seluruh gudang bergetar.
BRAK!
Lantai beton retak sedikit di titik jatuhnya barbel. Nanda berdiri tegak, dadanya naik turun mengatur napas. Tangannya masih gemetar, tapi senyum puas tersungging di wajahnya yang penuh luka bekas latihan.
Di luar gudang, di antara tumpukan besi tua dan sampah yang berserakan, Dian berdiri tegak dengan postur yang kontras dengan pemimpinnya. Ia adalah pengikut setia Nanda yang bertubuh kecil namun memiliki tatapan tajam yang menyimpan dendam membara. Pagi ini, ia sedang melatih teknik-teknik cepat dan mematikan, tetapi pikirannya sama sekali tidak pada latihan, melainkan pada Vino.
Dian melayangkan beberapa pukulan ke udara kosong, gerakannya cepat dan akurat. Setiap pukulan diarahkan seolah-olah ada wajah Vino di depannya. Ia masih ingat jelas bagaimana Vino dan Misca mempermalukannya waktu itu di gudang.
"Menyebalkan," gumamnya pelan sambil menghentikan gerakan dan menatap tangannya yang mengepal erat. Buku-buku jarinya memutih karena terlalu kencang.
"Kamu harusnya fokus, Dian."
Suara Nanda yang serak dan berat memecah lamunannya. Dian menoleh dan melihat sosok besar itu berjalan keluar dari gudang dengan handuk melingkar di leher. Peluh masih membasahi seluruh kausnya hingga terlihat seperti baru keluar dari kolam renang.
Dian berhenti, menatap Nanda yang kini berjalan ke arahnya dengan peluh membasahi seluruh kausnya.
"Aku fokus, Nda," balas Dian datar, mencoba menyembunyikan kegundahannya. "Aku cuma kepikiran kenapa kamu membiarkan si Vino itu lolos waktu di gudang."
Nanda mendengus kasar. Ia mengambil botol air mineral besar di dekatnya dan meminumnya dalam satu tegukan panjang. Setengah isi botol tumpah ke dadanya, tapi ia tidak peduli. Setelah menghabiskan isinya, ia melempar botol kosong itu sembarangan.
"Vino cuma anjing penjaga," ujar Nanda sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan. "Yang masalah itu tuannya, si Misca. Dia yang punya dominasi. Dia membuatku malu di depan kalian semua. Dan kamu tahu, aku paling benci dipermalukan."
Nanda menunjuk ke tubuhnya yang besar dan kokoh dengan kedua tangannya. Ototnya yang masih mengencang terlihat jelas di balik kaus yang basah. "Duel ini adil. Ini yang aku butuhkan. Aku akan tunjukkan ke si kalem itu, kalau semua rumus fisika dan strategi gilanya nggak ada gunanya di hadapan kekuatan alam."
Ia melangkah lebih dekat pada Dian. "Dan kamu," katanya sambil menunjuk wajah Dian dengan jari telunjuknya yang besar, "kamu harus tenang. Jangan sampai gara-gara dendam pribadimu sama si Vino, fokusku terpecah. Kamu dengar aku?"
Dian menatap Nanda tanpa berkedip. Ada bara api di matanya, kekesalan yang mendalam karena Nanda menganggap remeh Misca dan Vino. Dian tahu—ia tahu lebih baik dari siapa pun—bahwa Misca dan Vino jauh lebih berbahaya daripada yang bisa dibayangkan oleh Nanda.
Tapi Dian juga tahu, tidak ada gunanya berdebat dengan Nanda saat ini. Sang pemimpin sudah terlalu yakin dengan kekuatannya sendiri.
"Aku mengerti, Nda," jawab Dian sambil mengangguk kecil, tetapi janji yang ia buat di dalam hati jauh lebih besar. Ia tahu, jika Misca menang, Wilayah Selatan akan hancur lebur di bawah kontrol yang dingin.
Dian harus menemukan cara untuk melampiaskan dendamnya kepada Vino tanpa melibatkan Nanda dan duel penentuan tersebut.
"Kamu harus terus waspada, Nda. Misca punya sesuatu yang kita tidak lihat," Dian mencoba memperingatkan sekali lagi dengan suara yang lebih rendah.
Nanda tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggelegar hingga terdengar memantul di antara tumpukan besi tua. Ia menepuk bahu Dian dengan kekuatan yang membuat tubuh kecil itu hampir terhuyung.
"Cuma anak kecil yang main catur. Aku main tinju, Dian. Cuma 25 hari lagi. Setelah itu, empat wilayah akan tunduk di bawahku."
Dian hanya bisa mengangguk lagi, menyembunyikan keraguan yang semakin besar di hatinya. Ia menatap punggung besar Nanda yang berjalan kembali ke dalam gudang untuk melanjutkan latihan. Suara dentuman barbel yang dijatuhkan kembali terdengar, diikuti raungan kemarahan dan tekad.
Sementara itu, pikiran Dian melayang ke tempat lain. Ke wajah Vino yang selalu tersenyum penuh percaya diri. Ke cara Misca menatapnya dengan pandangan dingin yang meremehkan.
"Tunggu saja," bisik Dian pelan pada dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya erat-erat. "Aku akan membuat kalian menyesal. Entah sebelum atau sesudah duel. Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan waktu itu."
Sementara itu, di wilayah Timur, suasananya jauh berbeda. Tino, si ketua dari Timur yang terkenal dengan senyum liciknya, duduk santai di kursi rotan tua sambil menyesap kopi hitamnya yang pekat. Senyum cengengesannya kembali menghiasi wajahnya yang licik. Ia dikelilingi oleh lima anggota inti, termasuk dua anggota yang bertugas sebagai informan lapangan—mata-mata yang selalu berkeliaran mengumpulkan informasi dari berbagai sudut wilayah.
Ruangan mereka berada—sebuah rumah toko kosong yang dijadikan markas—terlihat berantakan dengan tumpukan kardus dan barang-barang rongsokan. Tapi di balik kekacauan visual itu, Tino selalu punya kontrol penuh atas situasi.
"Jadi, begal-begal itu makin hari makin meresahkan, ya," ujar Tino sambil memutar-mutar sendok di cangkir kopinya. Nadanya ringan seolah-olah mereka sedang membahas hasil pertandingan sepak bola kemarin.
"Iya, Tino," lapor Joni, salah satu anggota intelijen yang kurus dan tinggi dengan mata sipit yang tajam. Ia melangkah maju sambil membuka catatan kecil di tangannya. "Mereka bukan lagi cuma di pasar. Mereka sudah berani masuk ke perumahan, merampas motor di siang hari. Warga sudah mulai panik dan ketakutan."
Tino menyilangkan tangannya di depan dada sambil mengangguk-angguk perlahan. "Masyarakat panik itu bagus," katanya dengan senyum tipis. "Itu artinya mereka butuh sosok penyelamat. Tapi kita, Timur, belum siap. Petarung kita kurang. Apalagi sekarang ada kelompok The Phantom itu, mereka jauh lebih brutal dari begal biasa."
"Terus rencana kita bagaimana, Tino?" tanya Eko, anggota lainnya dengan wajah serius.
Tino tertawa pelan sambil menunjukkan deretan giginya yang agak kuning karena kebiasaan minum kopi hitam. Ia menaruh cangkirnya di meja dengan pelan, lalu memajukan tubuhnya ke arah meja.
"Rencana kita?" Tino mengulang pertanyaan itu sambil tersenyum lebar. "Kita biarkan dulu kekacauan itu terjadi. Kita fokus ke duel bulan depan. Kalau aku bisa menang lawan Raka dan Nanda, dan aku yakin bisa, aku punya rencana licik untuk mereka, maka aku tidak perlu capek-capek berurusan dengan begal murahan itu."
Ia berdiri dan mulai mondar-mandir di depan anak buahnya dengan tangan di belakang punggung, seperti jenderal yang sedang menjelaskan strategi perang.
"Masalah utama sekarang adalah Misca. Kalian lihat dia di gudang? Dia diam, tapi kata-katanya menusuk. Dia juga punya skill gila seperti di film-film. Aku dengar dari sumber di Utara, dia hampir membuat anak kelas dua belas patah tangannya."
Suasana langsung berubah. Semua anggota yang tadinya santai langsung menegakkan punggung mereka. Nama Misca selalu membawa aura yang berbeda—aura yang membuat bahkan orang seperti Tino harus berpikir dua kali.
"Kita tidak bisa duel fisik secara langsung dengannya," simpul Tino tegas. "Kita harus cari cara untuk menguras energinya sebelum hari duel. Kalian sebarkan rumor ke tiga wilayah. Bilang kalau Misca itu sebenarnya terlalu bersih dan lembek untuk jadi ketua. Dorong Nanda dan Raka untuk fokus menyerang Misca lebih dulu. Biarkan Misca capek duluan sebelum berhadapan denganku."
Tino menyeringai puas sambil bersandar lagi ke kursinya. Ia tahu benar, di antara empat ketua, dialah yang paling pandai memainkan psikologi dan rumor kotor.
"Kita tidak perlu menang di arena. Kita hanya perlu menang di kepala Misca. Kalau dia goyah, kita yang menang."
"Dan soal begal?" tanya Joni memastikan, masih khawatir dengan ancaman di lapangan.
"Aku akan kasih mereka umpan," jawab Tino dengan mata menyipit berbahaya. "Begal itu pasti punya markas. Cari tahu lokasinya. Jangan diserang. Tunggu sampai duel selesai. Setelah aku resmi jadi ketua tunggal, aku akan hancurkan mereka. Itu akan jadi pertunjukan kekuatanku yang pertama di mata masyarakat."
Kelima anggotnya mengangguk paham. Rencana Tino memang licik, tapi harus diakui sangat brilian.