Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bloodveil Butcher
Darcel menekankan pergelangan tangannya ke bibirku. Darahnya yang muncrat, menutupi mulutku. Dingin. Kental. Menempel di gusiku.
Dan sesuatu di dalam diriku langsung menyala.
Semua mejadi jernih. Tajam. Fokus ke satu hal saja ... darah.
Aku mencengkeram dia dan mulai menghisap. Lidahku bergerak dan kenikmatan menjalar di tubuhku. Darcel mengerang, dan aku bisa merasakan, buyungnya mengeras di antara kami, menekan perutku.
Aku enggak bisa berpikir.
Enggak bisa berhenti.
Aku menjadi budak darah.
Lalu Darcel tarik pergelangan tangannya.
Aku langsung ingin lagi.
Ingin menelan lebih banyak.
Ingin darah itu kembali ke mulut aku.
Tapi dia malah memelukku.
Dan tiba-tiba, pandanganku kabur.
Wajah Darcel melayang di atasku. Suaranya berdengung keras di kepalaku.
“Ada yang salah,” gumamku terbata-bata.
“Kamu mikikku sekarang, Rowena. Selamanya,” katanya.
Aku berkedip bingung.
"Milikmu?"
Dr. Darcel berdiri, menatapku dengan senyum puas, sepertinya dia bangga sama apa yang baru saja dia lakukan.
“Tidur!” perintahnya.
Suaranya berdengung aneh.
Rasanya seperti jari-jari dia masuk ke tengkorakku, menekan otakku langsung dan mataku pun tertutup.
Aku melayang di antara sadar dan enggak sadar, karena seberapa pun perasaanku ke Darcel, satu hal yang pasti, dia berbahaya. Dia jahat. Dan aku enggak tahu apa yang baru saja dia lakukan ke aku.
...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...
Mataku terbuka lebar.
Sial.
Aku ketiduran.
Padahal aku merasa sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar.
Langit di balik jendela tampak gelap.
Darcel enggak ada.
Dan itu bikin panikku makin parah.
Aku loncat turun dan lari sekencang-kencangnya. Dengan tangan gemetar, aku buka pintu depan dan keluar. Suara serangga langsung menyerang kupingku.
Aku terhuyung ke depan, nyaris jatuh, terus meluncur menuruni jalan masuk rumahnya yang panjang dan sepi. Tujuan aku cuma satu, mobilku.
Akhirnya aku masuk ke dalam mobil, jari-jariku gemetar waktu aku pencet tombol starter.
Mesin menyala.
Syukurlah.
Aku tarik tuas persneling, dan tepat saat itu ...
BRAK.
Aku menjerit kencang waktu Darcel tiba-tiba muncul di depan mobil, tangannya menghantam kap mobil dengan keras, tubuhnya berdiri kokoh.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya datar.
Aku cuma bisa menggeleng pelan. Otakku kosong.
Dia mundur dari depan mobilku dan beri isyarat menyuruhku pergi.
“Oke ... Silakan, Rowena. Toh aku bakal nemuin kamu besok,” katanya santai. “Nggak ada jalan untuk kabur dari aku sekarang. Lari aja. Coba selamatin diri kamu.”
Dia terkekeh pelan.
“Dan nggak akan ada yang percaya sama kamu. Kamu gila, ingat? Aku udah pastiin itu tercatat rapi di berkasmu.”
Senyumnya makin lebar, kejam.
“Coba bilang ke semua orang kalau Bloodveil Butcher itu sebenarnya Dokter Terapi kamu. Aku pingin kamu sadar, kebebasanmu itu cuma ilusi. Dan sekarang … hahahaha aku ambil itu.”
Kata-katanya menusuk kepalaku. Cowok ini sama sekali bukan sosok yang selama ini dia perankan, dan masalahnya … itu berpengaruh ke aku. Sampai terasa nikmat.
Aku injak pedal gas dan mobil pun melesat.
Dan sialnya, aku ingin merasakan darahnya lagi di tenggorokanku. Pikiran-pikiran kacau itu membuatku jijik sama diri sendiri.
Mobilku berhenti di depan rumah. Aku menyeret tubuhku masuk, rasanya seperti jalan di rawa setinggi paha.
Darcel punya kendali atas diriku sekarang, dan aku harus menemukan cara untuk menyeimbangkan kekuasaan itu.
Dia benar-benar berpikir enggak ada yang akan percaya kalau aku buka rahasianya?
Konyol.
Seluruh dunia pantas tahu siapa sebenarnya si Bloodveil itu.
Psikopat.
Dia sudah meneror kota kami selama tiga tahun. Tapi di beritanya, Si Bloodveil Butcher sudah beroperasi lebih dari lima puluh tahun. Enggak masuk akal. Sedangkan Darcel kelihatannya paling banter umur empat puluh tahun.
Aku menelan ludah. Pikiran itu lenyap bersama rasa capek yang akhirnya menghajar aku habis-habisan. Malam ini, ngantuk akan datang sendiri. Aku terlalu capek. Terlalu capek untuk tetap melek dan menyusun rencana. Terlalu capek untuk berpikir.
Mungkin setelah tidur, baru aku akan memikirkan semua kegilaan ini.