Bella menikah dengan lelaki pujaan hatinya dengan perjodohan yang dirancang oleh nya dengan bantuan keluarganya, tapi kehidupan yang dia inginkan dan nantikan setelah menikah tidak pernah dia dapatkan.
suaminya bahkan tidak pernah melihatnya sebagai seorang istri, baginya pernikahan Dnegan Bella adalah neraka
Tapi siapa sangka setelah 49 hari yang diminta oleh Bella pada suaminya menumbuhkan rasa cinta yang besar dan rasa penyesalan pada suaminya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Niko kini kehabisan kata-kata, dia bahkan tidak pernah menyangka akan seperti pecundang seperti ini dihadapan seorang yang selama ini dia hina dan dia sia-siakan.
Bella bukan lagi istrinya yang bagitu memujanya dan mencintainya, dia menjelma menjadi sosok lain yang kuat dan berkarakter hebat dan sulit untuk dia genggam erat seperti biasa.
"Tentu saja ibu Bella, kami adalah saksinya dan juga penentu bagi kelangsungan perusahaan ini, apalagi kedua orangtua anda memang menugaskan kami untuk mengawasi segalanya". Ucap Revan dengan senyuman tulus.
"Benar yang dikatakan pak Revan, perusahaan ini didirikan karena kita semua sekalipun pak Niko adalah pemilik saham mayoritas tapi tanpa kami apalagi tanpa ibu Bella, dia dan perusahaan nya ini bukan apa-apa".Ucap mereka begitu merendahkan Niko.
Niko tidak tahu jika hampir semua lelaki muda dihadapannya ini adalah orang yang memiliki perasaan kepada istrinya sejak lama hanya saja Bella malah memilih dirinya saat itu daripada mereka.
"Keduanya benar ibu Bella, kami bahkan siap jika ibu Bella ingin membangun perusahaan sendiri, kami akan mundur dan menarik semua saham kami untuk mengikuti ibu Bella dibanding pak Niko yang sok berkuasa dan sok paling hebat ini". Ucapnya menatap tajam Niko.
Inilah mereka tidak sukai dari Niko, selain selalu berbuat seenaknya, dia juga sangat sombong dan arogan pada orang lain seolah dirinya lah yang paling g hebat diantara mereka semua padahal dia lupa jika bukan karena Bella perusahaan itu tidak akan warna berdiri.
"Kalian semua menghina dan mengancam ku??". Niko mengepalkan tangannya.
Giginya bergemetuk dan berbunyi nyaring karena emosinya yang tidka bisa dia kontrol.
"Kami tidak menghina anda tuan Niko, tapi apa yang kami katakan adalah kebenarannya, andai bukan karena Ibu Bella yang ada disini maka kami tidak akan sudi bekerjasama dengan manusia seperti anda". Hina Revan dengan penuh ejekan.
Dia betul-betul akan membuat Niko yang tempramental itu menjadi hilang kendali dan menyerang mereka jadi mereka semua tidak punya alasan lagi untuk bertahan di perusahaan ini.
"Kurang ajar kalian semua, kalian pikir kalian siapa bernai menghinaku seperti itu, aku adalah pemilik perusahaan ini dan juga pemilik saham mayoritas, jangan keterlaluan". Hardik Niko menggebrak meja dengan keras dan juga kasar.
Mereka semua menggeleng kan kepalanya melihat tingkah laku Niko yang sungguh arogan, entah apa yang dilihat Bella pada lelaki ini.
"Kami akan menunggu keputusan anda ibu Bella, dan kami akan melindungi gak anda selama perusahaan ini berdiri dan anda pak Niko, anda sendirian". Ucao Revan dengan tatapan mengejek dan juga menghina.
"Sialan kau Revan, seperti nya kamu mau mati". Umpat Niko kini kehilangan kendali.
Dia memegang kerah baju Revan dan siap memberikan pukulan keras kepada orang yang sejak tadi menghinanya tapi langkahnya terhenti begitu mendengar suara pintu terbuka.
Mereka semua menoleh dan mendapati dua lelaki parubayah yang merupakan kedua orang tua Niko dan Bella yang memang diundang oleh para pemegang saham di perusahaan itu.
Tubuh Niko menegang sempurna melihat ayahnya kini berdiri menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi dan peringatan.
Dia menurunkan tangannya dan menghempaskan Revan dengan sangat kesal tapi tak mengatakan apapun.
"Apa yang kamu lakukan Niko? , kenapa kau menjadi orang tempramental seperti itu di kantor?? ". Tanya sang ayah dengan dingin.
Matanya menatap tajam sang anak, dan Niko hanya bisa menunduk dan tidak menjawab pertanyaan sang ayah.
"Loh ayah dan daddy kok datang kesini?, memang kalian da keperluan?? ". Tanya Bella mendekati keduanya kemudian mencium tangannya.
Inilah yang disukai oleh ayah Niko, menantunya ini walau berasal dari keluarga konglomerat tapi sangat sopan dan juga sangat lembut pada orang tua serta sangat menghormati mereka tidak seperti anak konglomerat lainnya..
"Kami diundang oleh Dewan direksi nak, katanya akan ada rapat darurat membahas hal yang sangat penting dan juga membahas tentang kelangsungan perusahaan ini, terus kenapa kamu ada disini?? ". Tanya sang mertua dengan pelan.
Handoko menatap lembut sang menantu, walau pernikahan anaknya ini berasal dari perjodohan tapi dia menyayangi perempuan yang menjadi menantunya itu.
"Benar nak, tumben sekali kamu ada dikantor, biasanya kamu ada dirumah atau sedang pergi bersama anak-anak yatim itu, tidak pernah mau ke kantor". Tanya sang ayah dengan heran.
"Aku ada rapat penting di kantor daddy, lagian setelah ini aku akan kekantor dan bekerja setiap hari seperti biasanya seperti sebelum menikah". Ucapnya dengan manja sambil memeluk lengan sang daddy dengan sayang.
Dia tidak segan menunjukkan pada orang-orang jika dia adalah kesyangan keluarganya dan begitu dimanja oleh mereka.
Antonio Fernandez itu menatap Handoko dengan tatapan penuh arti seolah mereka tengah berkomunikasi lewat tatapan itu.
"Baiklah nak jika itu keinginanmu, daddy hanya heran karena kamu tiba-tiba tertarik masuk kantor lagi setelah menikah". Antonio mengelus kepala sang anak kemudian beralih menatap menantunya dengan tatapan dingin.
Dulu dia menikahkan anaknya dengan Niko karena permintaan anaknya yang begitu tergila-gila dengan Niko tanpa melihat kondisi dan ternyata Niko adalah putra dari salah satu teman sekolahnya saat dia berkuliah di Amerika, sebenarnya dia tidak menyukainya tapi karena putrinya, dia harus menerima lelaki ini dalam keluarganya
"Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa kalian bersitegang seperti ini? ". Tanyanya dengan dingin.
Niko mengepalkan tangannya berusaha ingin menjawab tapi begitu ingin mengeluarkan suaranya ucapan Revan kembali menyulut emosinya.
"Kami hanya berusaha mengamankan yang dimiliki nyonya Bella di perusahaan tuan Antonio, karena menantu anda melakukan kecurangan dengan mengambil hak yang menjadi nyonya Bella yang berada di rekening bersama yang digunakan untuk keperluan mereka dan lebih parahnya lagi nyonya Bella tidak mengetahuinya kecuali saat dia diberitahu oleh Nana sekretaris nya". Ucap Revan dengan gamblang membuat Niko semakin menatapnya tajam.
Mata Handoko membulat sempurna, bagaimana bisa melakukan hal itu kepada istrinya sendiri. Matanya semakin menatap tajam anaknya seakan dia akan memakan Niko hidup-hidup.
"Benar begitu Niko?? ". Tanyanya dengan nada meninggi.
" Jawab ayah Niko, kamu tuli dan bisu? ". Kini Handoko tidak bisa mengendalikan amarahnya.
Dia bahkan berteriak karena sangat emosi mendengar jika anaknya berbuat curang seperti itu.
"Aku". Jawabnya terbata-bata dan juga ketakutan.
Revan berjalan ke meja dan mengambil laporan yang dibagikan Bella tadi, dia akan membuat Niko lengser dari jabatannya bagaimanapun caranya, dia sangat mengenal bagaimana karakter tuan Handoko yang tegas dan tidak pandang bulu.
"Ini laporannya pak, anda bisa melihat sendiri bagaimana perbuatan putra anda kepada perusahaan, kami sebagai pemegang saham merasa dia keterlaluan".
"Niko". Teriak Handoko begitu melihat isi laporan itu
😆😆😆😆
kalau Niko melakukan nya saat masih bujangan masih bisa dimaafkan,mungkin saat itu masih labil.laaaah ini malah udah nikah tapi indehoi ma cewe lain.bukan ma istri sendiri... haddeuh, gimana mau maafin
ya kesalahan nya sangat fatal... dari awal tidak ada sedikit pun hati Niko terbuka untuk Bella...
setelah semua kejahatan Merry terungkap baru ingat Bella...
kemana aja selama ini??? 😆
Bella kayak ban serap,Merry pergi masih ada Bella...
gila aja ya kamu 😆😆😆
klo gak bakalan sibuk kelonan ma Merry
yang kemaren di bela habis habisan...
sekarang di hina di caci maki habis habisan juga...
kesiaaaaaan...
kemaren video cctv,kalau sekarang di depan biji mata ya Niko