Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Canggung
Karena melihat Aina sudah berhasil diobati oleh Gavin. Akhirnya Naumi pun meninggalkan kamar gadis itu, dia ingin menghubungi Erzan untuk melapor.
Kebetulan saat itu Erzan masih ada dalam perjalanan. Dia yang merasakan bahwa ponselnya bergetar, lantas merogoh benda itu dari saku jasnya.
Tanpa pikir panjang, Erzan langsung menerima telepon dari sang pelayan.
"Bagaimana?" tanya Erzan, dia sedikit merasa heran, karena Naumi begitu cepat dalam menjalankan perintah.
"Sudah, Tuan. Luka Nona Aina sudah diobati, tapi bukan saya yang melakukannya," jawab Naumi dengan jujur.
"Lalu?"
"Den Gavin yang membantunya, Tuan. Saat saya datang, dia sudah lebih dulu membawa kotak p3k ke kamar Nona Aina. Sepertinya Den Gavin iba pada gadis itu."
"Apa? Gavin?" Erzan mengulang nama sang anak dengan nada terkejut, karena lagi-lagi dia mendengar bahwa Gavin membantu Aina. Ya, sebelumnya dia juga sudah mendapat laporan yang sama.
"Benar, Tuan, bahkan Den Gavin juga memperingati anda supaya lebih cepat dalam memberi pertolongan pada Nona Aina. Ya, mungkin saja dia ingin anda lebih perhatian dengan gadis itu," balas Naumi, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat Erzan berhenti menyiksa istri kecilnya.
Karena sebenarnya Naumi juga iba pada nasib Aina. Dia selalu berpikir bagaimana jika anak gadisnya ada di posisi tersebut, sungguh dia tidak akan sanggup dengan membayangkannya saja.
Erzan tak lagi menjawab, sementara panggilan telepon itu sudah dia matikan. Dia terus menatap ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan.
Entah kesal atau justru mulai merenungi semua ucapan asisten rumah tangganya.
***
Matahari mulai mengucapkan selamat tinggal pada bumi. Dan itu artinya petang sebentar lagi datang. Tepat pada saat itu, Erzan telah kembali ke rumah utama.
Namun, kali ini dia tidak langsung naik ke lantai dua. Sebab tujuannya adalah menemui Aina. Dia sempat bertanya pada Naumi, dan ternyata gadis itu ada di kamarnya.
Tanpa mengetuk pintu Erzan langsung membuka benda persegi panjang itu. Hingga kedua netranya menangkap sosok cantik yang sedang duduk di depan cermin.
Rambut Aina nampak basah, menandakan bahwa dia baru saja membersihkan tubuhnya.
Melihat siapa yang datang, sontak saja Aina langsung bangkit. Sementara Erzan terus melangkah hingga mereka berhadapan. Tanpa diduga Erzan mengulurkan tangan untuk menyentuh sudut bibir Aina.
Namun, gadis cantik itu reflek menghindar. Karena dia takut Erzan akan melakukan kekerasan lagi padanya.
Seketika itu juga gigi depan Erzan langsung mengatup rapat. Dia berkata, "Diam, karena aku hanya ingin melihatnya!"
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Aina langsung patuh. Dia membiarkan jari besar itu menyusuri sekitar bibirnya.
"Jika kamu ingin aku berhenti bersikap kasar, maka jangan pernah melakukan kesalahan. Apalagi berani melawan ucapanku, paham?!" cetus Erzan seraya menatap wajah Aina yang terlihat lugu.
Dia melakukan itu karena menimbang ucapan Naumi tadi pagi. Di mana Gavin mulai kembali ikut campur dengan kehidupannya, jadi dia sadar bahwa perlakuannya terhadap Aina sudah sangat keterlaluan.
Dan sungguh dia tidak ingin hal itu menyebabkan Gavin memandangnya dengan sebelah mata.
Aina mengangguk kecil. "Iya, Tuan. Saya minta maaf." Jawabnya lirih tanpa berani menatap mata Erzan.
"Tatap lawan bicaramu!" titah Erzan. Membuat Aina terpaksa mengangkat pandangannya, hingga mereka berdua saling tatap.
Sudut bibir Erzan terangkat, dia menarik tangannya dari wajah Aina, lalu kembali bicara. "Ikut aku ke kamar."
Aina tidak bisa membantah sedikit pun, dia mengekor pada Erzan untuk naik ke kamar utama. Biasanya dia akan mendatangi tempat ini ketika Erzan sedang membersihkan diri.
Namun, entah ada angin apa, tiba-tiba Erzan meminta Aina yang membantu dia untuk melepas seluruh setelan kerjanya.
Dengan rasa canggung karena tidak biasa, Aina memisahkan kancing dari pengaitnya, hingga perlahan-lahan dada bidang Erzan mulai terbuka.
Bahkan tanpa rasa malu sedikit pun, Erzan berani bertelanjang bulat di depan Aina. Sementara gadis itu hanya bisa memalingkan wajah.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Erzan lebih dulu mendekati sang istri, lalu berbisik tepat di telinga gadis itu. "Walaupun aku memperlakukanmu seperti budak. Tapi kamu harus ingat, bahwa aku masih suamimu."
Aina langsung merinding saat nafas Erzan menerpa tengkuk dan daun telinganya. Apalagi mendengar kalimat pria paruh baya itu. Entah kenapa perasaan Aina jadi tak enak.
*
*
*
Mau ape lu bandot tua🙄🙄🙄
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡