Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.
Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Sistem atau Ketergantungan
Malam itu, Arga menutup buku catatannya lebih lambat dari biasanya.
Ucapan Bu Rina terus terngiang di kepalanya.
Anaknya diterima bekerja di kota sebelah.
Kabar itu sebenarnya baik.
Sangat baik bahkan.
Bu Rina telah membantu keluarga mereka selama beberapa bulan terakhir.
Jika kini keluarganya mendapat kesempatan untuk memperbaiki kehidupan, tentu itu patut disyukuri.
Namun dari sudut pandang bisnis, situasinya jauh lebih rumit.
Karena tepat ketika mereka akan memulai kerja sama dengan minimarket Rudi, salah satu orang terpenting dalam operasional warung justru kemungkinan akan mengurangi jam kerjanya.
Arga menghela napas panjang.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar sebuah kalimat dari seorang manajer senior.
"Kalau sebuah usaha berhenti berjalan saat satu orang pergi, berarti usaha itu belum punya sistem."
Saat itu ia hanya mengangguk tanpa terlalu memahami maksudnya.
Kini ia mengerti.
Dan ia tidak menyukai kenyataan yang sedang dihadapinya.
Pagi berikutnya, Arga bangun lebih awal.
Saat memasuki dapur, ia melihat ibunya dan Bu Rina sudah mulai bekerja seperti biasa.
Suara minyak mendesis memenuhi ruangan.
Aroma pisang goreng yang baru matang memenuhi udara.
Semuanya terlihat normal.
Namun sekarang Arga melihatnya dari sudut pandang berbeda.
Ia mulai memperhatikan setiap langkah kerja.
Cara mengupas pisang.
Cara mencampur adonan.
Cara menentukan tingkat kematangan gorengan.
Cara mengemas.
Semua dilakukan hampir secara otomatis.
Karena sudah terbiasa.
Dan di situlah masalahnya.
Banyak hal hanya diketahui oleh orang yang mengerjakannya.
Kalau orang itu pergi, pengetahuan tersebut ikut menghilang.
"Kenapa melihat kami seperti itu?"
Suara ibunya membuat Arga tersadar.
"Tidak apa-apa."
"Bohong."
Bu Rina ikut tertawa.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu."
Arga tersenyum kecil.
Menyembunyikan sesuatu dari dua wanita itu memang hampir mustahil.
"Aku sedang memperhatikan cara kerja."
"Untuk apa?"
"Kita terlalu bergantung pada kebiasaan."
Kedua wanita itu saling berpandangan.
Lalu kembali melihat Arga.
"Jelaskan."
Setelah sarapan, Arga mulai menjelaskan pemikirannya.
Kalau suatu hari ibunya sakit.
Kalau suatu hari Bu Rina tidak bisa datang.
Kalau suatu hari mereka ingin menambah pekerja.
Apa yang akan terjadi?
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi lebih serius.
Karena jawabannya sederhana.
Produksi akan terganggu.
Atau bahkan berhenti.
"Kita harus membuat cara kerja yang bisa diajarkan."
Arga berbicara perlahan.
"Agar siapa pun yang membantu bisa belajar lebih cepat."
Ayahnya yang baru datang dari gudang langsung mengangguk.
"Itu masuk akal."
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang langsung membantah idenya.
Karena semua orang memahami masalah yang sedang mereka hadapi.
Hari itu, pekerjaan yang biasanya berlangsung otomatis mulai dicatat.
Berapa banyak tepung untuk satu adonan.
Berapa banyak air.
Berapa lama waktu menggoreng.
Berapa jumlah gorengan per batch.
Hal-hal sederhana.
Namun sangat penting.
Bu Rina sempat tertawa melihat Arga mencatat begitu rinci.
"Kalau ada orang melihat ini, mereka kira kita pabrik."
Arga ikut tersenyum.
"Tidak ada usaha besar yang langsung jadi besar."
Kalimat itu membuat Bu Rina terdiam sejenak.
Kemudian mengangguk pelan.
Tiga hari kemudian, kerja sama percobaan dengan minimarket Rudi dimulai.
Jumlah yang disepakati tidak besar.
Dua puluh porsi per hari.
Angka yang masih bisa mereka tangani.
Pagi itu, Arga sendiri yang mengantar produk pertama.
Saat memasuki minimarket, Rudi sudah menunggu.
"Siap?"
Arga tertawa kecil.
"Harus siap."
Mereka menata produk di area dekat kasir.
Lokasi yang cukup strategis.
Pelanggan yang hendak membayar pasti akan melihatnya.
Saat semuanya selesai, Arga berdiri beberapa langkah ke belakang.
Perasaannya aneh.
Untuk pertama kalinya, produk keluarga mereka dijual di tempat lain.
Bukan di warung sendiri.
Bukan melalui pesanan acara.
Melainkan di sebuah minimarket.
Langkah kecil.
Tetapi terasa besar.
"Jangan terlalu banyak berpikir."
Suara Rudi terdengar santai.
"Aku sedang mencoba."
"Kamu gagal."
Mereka berdua tertawa.
Namun jauh di dalam hati, Arga tetap gugup.
Karena sekarang keputusan pelanggan akan menentukan segalanya.
Hari pertama berjalan cukup lambat.
Hanya sebagian produk yang terjual.
Namun Arga tidak kecewa.
Karena memang tidak memiliki ekspektasi berlebihan.
Hari kedua lebih baik.
Hari ketiga lebih baik lagi.
Beberapa pelanggan mulai membeli gorengan saat berbelanja kebutuhan lain.
Dan yang paling menarik, sebagian pelanggan bahkan datang ke warung setelah mengetahui asal produk tersebut.
Efek yang sebelumnya tidak ia perkirakan.
Malam itu, Arga menghitung hasil percobaan.
Keuntungannya memang belum besar.
Namun ada sesuatu yang lebih penting.
Mereka berhasil menjangkau pelanggan baru.
Tanpa membuka cabang.
Tanpa menyewa tempat.
Tanpa investasi besar.
Itu perkembangan yang sangat menarik.
Namun kabar baik itu tidak bertahan lama.
Sore hari berikutnya, Bu Rina datang dengan wajah yang lebih serius dibanding biasanya.
"Aku sudah mendapat kepastian."
Arga langsung memahami maksudnya.
"Tentang anak Ibu?"
Bu Rina mengangguk.
"Minggu depan dia mulai bekerja."
Ruangan mendadak tenang.
Ibunya berhenti menyusun kemasan.
Ayahnya menghentikan perhitungan stok.
Semua orang tahu apa arti kabar tersebut.
"Berapa sering Ibu harus pergi?" tanya Arga.
"Mungkin beberapa hari dalam seminggu."
Jawaban itu sebenarnya lebih baik daripada kemungkinan terburuk.
Namun tetap saja menimbulkan masalah.
Karena beberapa hari dalam seminggu adalah waktu yang cukup besar dalam operasional mereka.
Malam itu, keluarga kembali berdiskusi.
Suasana tidak setegang sebelumnya.
Karena kali ini mereka sudah lebih siap menghadapi masalah.
"Bagaimana kalau mencari bantuan baru?" tanya ayahnya.
"Itu salah satu pilihan."
Arga mengangguk.
"Tapi tidak bisa sembarangan."
Karena mencari orang baru berarti melatih dari awal.
Membutuhkan waktu.
Membutuhkan tenaga.
Dan berisiko menurunkan kualitas.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Sampai akhirnya ibunya berkata pelan.
"Sebenarnya ada satu orang."
Semua langsung menoleh.
"Siapa?"
"Keponakan Bu Rina."
Bu Rina terlihat sedikit terkejut.
"Maya?"
Ibunya mengangguk.
"Setahuku dia sedang mencari pekerjaan."
Ruangan kembali hening.
Ide itu terdengar masuk akal.
Karena Maya setidaknya memiliki hubungan dengan Bu Rina.
Proses adaptasinya mungkin lebih mudah.
Namun Arga tidak langsung setuju.
Bukan karena tidak suka.
Melainkan karena ia baru saja mempelajari sesuatu.
Masalah mereka bukan sekadar kekurangan orang.
Masalah mereka adalah ketergantungan.
Kalau hanya mengganti satu orang dengan orang lain tanpa memperbaiki sistem, masalah yang sama bisa terulang lagi di masa depan.
Karena itu, kali ini ia ingin lebih berhati-hati.
"Sebelum memutuskan."
Arga menatap semua orang.
"Kita harus memastikan satu hal."
"Apa?"
Ayahnya bertanya.
Arga melihat catatan yang dibuatnya selama beberapa hari terakhir.
Catatan tentang proses kerja.
Standar produksi.
Dan berbagai hal yang sebelumnya hanya ada di kepala masing-masing orang.
"Kita harus memastikan usaha ini bisa berjalan karena sistem."
"Bukan karena satu orang."
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya, semua orang mulai menyadari bahwa warung kecil mereka perlahan sedang berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar warung keluarga biasa.
Sementara itu, di luar rumah, proyek jalan terus berjalan.
Dan tanpa disadari siapa pun, perubahan yang jauh lebih besar sedang mendekat ke arah mereka.