Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
BAB 8: Sarapan Pagi dan Air Mata yang Jujur
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden jendela penthouse yang menjulang tinggi, memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer hitam apartemen Zayn. Suasana pagi itu sangat tenang, hanya diiringi suara denting spatula dan desis mentega yang meleleh di atas wajan.
Zayn Dominic berdiri di depan meja dapur bergaya minimalis modern. Pagi ini, dia tidak memakai jaket kulit hitamnya yang intimidatif, melainkan hanya mengenakan kaus oblong abu-abu santai dan celana training panjang. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, khas orang yang baru bangun tidur—atau lebih tepatnya, orang yang tidak tidur semalaman karena sibuk mengecek suhu tubuh gadis di kamarnya setiap satu jam sekali.
Kedua tangan kekar yang biasanya dipakai untuk mencengkeram kerah baju musuhnya, kini dengan telaten membalikkan french toast dan menata potongan buah stroberi segar di atas piring plastik putih. Zayn mendengus pelan, menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Jangankan memasak untuk perempuan, membuatkan sarapan untuk dirinya sendiri saja tidak pernah dia lakukan. Namun hari ini, melihat kondisi Elva yang begitu lemah, Zayn mendadak kehilangan semua ego kepenguasaannya.
"Z-Zayn...?"
Sebuah suara cicitan lirih yang sangat halus memecah keheningan dapur. Zayn seketika mematikan kompor dan membalikkan badannya.
Di ambang pintu koridor kamar, Elva Ileana berdiri dengan ragu. Dia memakai salah satu kemeja kebesaran milik Zayn berwarna putih yang panjangnya mencapai lutut, membuat tubuh mungilnya terlihat semakin tenggelam dan menggemaskan. Wajahnya masih pucat, namun bengkak di pipi kirinya sudah sedikit mereda berkat salep kompres dari Dokter Dika semalam.
Zayn meletakkan penarik wajan, lalu melangkah mendekati Elva. "Kenapa turun dari kasur? Badan lo masih panas," ucap Zayn, nadanya terdengar ketus namun tangannya bergerak otomatis menyentuh dahi Elva untuk memeriksa suhunya.
Elva menunduk, matanya menatap ujung jari kakinya yang telanjang di atas marmer dingin.
"Aku... aku mencium bau masakan. Aku bingung saat bangun dan tidak melihatmu di kamar."
Melihat kepolosan gadis itu, sudut bibir Zayn terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Dia memegang pundak Elva lembut, menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi bar tinggi di depan meja dapur. "Duduk di sini. Makanannya baru matang."
Zayn menggeser piring berisi french toast hangat murni buatan tangannya sendiri, lengkap dengan segelas susu putih hangat. Elva menatap makanan itu dengan mata bulatnya yang berbinar, lalu mendongak menatap Zayn tidak percaya.
"Kamu... yang masak semua ini?"
"Nggak usah banyak tanya. Habisin," sahut Zayn gengsi sambil menuangkan kopi hitam untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi sebelah Elva.
Elva tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat manis meskipun gurat kesedihan belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Dia mulai menyuap potongan roti itu perlahan. Rasanya ternyata sangat enak, atau mungkin terasa jauh lebih enak karena makanan ini dibuatkan khusus untuknya dengan ketulusan yang belum pernah dia dapatkan di rumah mewahnya sendiri.
Setelah menghabiskan setengah dari porsinya, gerakan tangan Elva perlahan melambat. Pandangan matanya kembali meredup, menatap kosong pada segelas susu di depannya. Keheningan yang mendalam mendadak menyelimuti dapur apartemen itu.
Zayn yang sejak tadi tidak melepas pandangannya dari Elva, meletakkan cangkir kopinya. "Ada yang mau lo ceritain ke gue?" tanya Zayn rendah, suaranya melunak, memberikan ruang yang aman bagi Elva untuk membuka diri.
Bahu kecil Elva sedikit bergetar. Dia meremas ujung kemeja Zayn yang dipakainya.
"Zayn... kenapa kamu repot-repot sampai sejauh ini untuk melindungi aku? Aku ini... aku ini cuma anak pembawa sial di keluargaku."
Zayn mengernyitkan dahi tajam. "Siapa yang bilang lo pembawa sial? Orang tua busuk lo itu?"
Air mata Elva akhirnya luruh satu demi satu, membasahi pipinya yang memar. "Sejak kecil, aku selalu disalahkan atas semua hal buruk yang terjadi di rumah. Kak Nadine adalah kebanggaan Mama karena dia cantik dan pintar bersosialisasi. Adikku, Dion, adalah anak emas Papa karena dia laki-laki yang akan meneruskan bisnis perusahaan."
Elva menarik napasnya yang tercekat akibat isak tangis. "Sedangkan aku... aku lahir saat perusahaan Papa sempat hampir bangkrut belasan tahun lalu. Mama bilang, kehadiranku memutus rezeki keluarga. Sejak saat itu, aku ditaruh di kamar paling belakang. Aku tidak pernah diajak kalau ada acara keluarga atau jamuan penting. Aku selalu makan sendirian di dapur setelah semua orang selesai."
Zayn mengepalkan tinjunya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih mendengarkan penuturan itu. Amarah di dadanya bergolak hebat mendengarkan betapa kejamnya perlakuan keluarga Ileana pada gadis sepolos Elva.
"Kemarin malam..." Elva mengusap air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. "Papa tahu soal kamu yang menolongku di sekolah. Papa langsung menyuruhku memberikan kartu undangan makan malam emas untukmu. Papa dan Mama ingin menggunakan kedekatan kita agar mereka bisa mendapat tanda tangan investasi proyek properti besar dari Dominic Group."
Elva mendongak, menatap Zayn dengan mata yang basah dan penuh rasa bersalah. "Tapi aku menolaknya, Zayn. Aku diam-diam menyimpan undangan itu di tas. Aku nggak mau memanfaatkan kebaikanmu demi uang Papa. Aku nggak mau kamu menganggap ku sama liciknya dengan mereka. Dan... karena aku membangkang, Papa menyuruh pengawal menyeret ku ke gudang bawah tanah yang gelap itu."
Tangis Elva pecah sepenuhnya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mengingat kembali trauma mencekam dikurung berjam-jam di tempat dingin tanpa cahaya.
"Gudang itu menakutkan banget, Zayn... Aku teriak-teriak minta tolong tapi Dion dan Kak Nadine cuma lewat sambil menertawakan ku... Aku benci rumah itu..."
Sebelum Elva tenggelam semakin dalam pada traumanya, sebuah rengkuhan hangat dan posesif seketika melingkari tubuh kecilnya. Zayn sudah berdiri dari kursinya dan menarik Elva ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Tangan besar Zayn mengusap lembut rambut hitam panjang Elva yang tergerai, sementara sebelah tangannya yang lain memeluk pinggang gadis itu dengan sangat erat, seolah-olah berusaha menyerap seluruh rasa sakit yang dirasakan Elva ke dalam dirinya sendiri.
"Udah, Elva. Cukup. Lo nggak usah cerita lagi," bisik Zayn tepat di samping telinga Elva. Suara cowok itu bergetar hebat oleh perpaduan antara amarah murni dan rasa protektif yang teramat sangat.
Zayn membiarkan kemejanya basah oleh air mata Elva. Dia memejamkan mata elangnya, menatap tajam ke luar jendela apartemen. "Dengar gue baik-baik. Mulai hari ini, detik ini, lo nggak akan pernah kembali ke rumah itu lagi. Gue yang akan jadi pelindung lo. Tempat ini... apartemen ini, adalah rumah lo yang baru. Dan gue bersumpah demi nama keluarga Dominic, orang-orang yang udah bikin lo nangis kayak gini bakal membayar semuanya dengan harga yang sangat mahal."
Di dalam dekapan hangat Zayn yang begitu nyata, Elva merasakan detak jantung cowok itu yang berdegup kencang beriringan dengan detak jantungnya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, di tengah badai penderitaan yang menghancurkan dunianya, Elva merasa benar-benar diinginkan, dijaga, dan memiliki tempat pulang yang sesungguhnya.