Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Datang di "Neraka"
Keputusan kedua orang tua mereka ternyata tidak main-main. Pagi harinya, dunia Ghea seolah runtuh. Tidak ada tiket pesawat ke Paris. Tidak ada supir pribadi yang siap mengantar. Yang ada hanya koper besarnya yang diseret paksa keluar dari gerbang rumah, ponsel mahal yang disita dan diganti dengan ponsel Android murah, serta satu lembar uang kertas berwarna merah bergambar Soekarno-Hatta sebanyak sepuluh lembar.
Satu juta rupiah untuk satu bulan.
"Kamu harus belajar mandiri, Ghea. Masuk ke universitas pilihan Papa di Sukaasih, rasakan bagaimana orang biasa berjuang tanpa nama Baskara di belakang kamu," ucap ayahnya dingin, sebelum menutup pintu rumah rapat-rapat.
Hal yang sama persis terjadi pada Arkan. Mobil sport barunya dikunci di garasi, semua kartu kreditnya digunting di depan matanya sendiri, dan dia didepak dari rumah hanya dengan sebuah duffel bag besar berisi pakaian seadanya.
Sore harinya, di bawah langit daerah Sukaasih yang rasanya ada tiga karena terlalu terik, berdebu, dan sama sekali tidak ramah untuk kulit mereka, dua anak manja ini akhirnya dipertemukan oleh takdir yang kejam.
Ghea berdiri di depan sebuah gerbang besi berkarat yang cat hijaunya sudah mengelupas di sana-sini. Di tangannya, ada secarik kertas berisi alamat kosan bernama "Kos Bu Retno". Di sampingnya, koper mahal bermerek terkenal miliknya kini teronggok pasrah di atas jalanan semen yang retak.
"Gila. Bokap bener-bener tega," gumam Ghea dengan napas terengah-engah, menyeka keringat di pelipisnya.
Baru saja Ghea mau mendorong gerbang besi yang berat itu, sebuah taksi tua berhenti tepat di belakangnya. Suara knalpot taksi yang berisik langsung membuat Ghea menutup telinga karena bising.
Pintu taksi terbuka. Seorang cowok turun dengan wajah sekusut baju yang belum disetrika. Dia memakai kaus hitam polos dan celana jins robek, sambil memanggul sebuah duffel bag besar di bahunya.
Ghea mengerutkan kening. Begitu cowok itu menurunkan tasnya dan menatap lurus ke arah gerbang, mata mereka bertemu.
Seketika, dunia seolah berhenti. Bukan karena ada getaran cinta, melainkan karena ada petir kemarahan yang mendadak menyambar di antara mereka.
"Arkan?!" teriak Ghea, matanya melotot hampir keluar.
Cowok bernama Arkan itu tak kalah kaget. Dia mengerjap beberapa kali, lalu mendengus kasar. "Lo... ngapain lo di sini? Jangan bilang lo nguntit gue ya, Ghea?!"
"Nguntit lo?! Idih, najis banget!" Ghea langsung berkacak pinggang, mengabaikan keringat yang mengalir deras di dahi. "Harusnya gue yang nanya! Lo ngapain bawa-bawa tas segede gaban ke sini? Jangan-jangan bokap lo juga..."
Ghea menggantung kalimatnya. Kesadaran tiba-tiba menghantam mereka berdua.
“Kamu harus belajar dari anak sahabat Papa. Dia juga bakal Papa hukum biar kalian berdua tahu rasa!” Ucapan Baskara tadi pagi mendadak terngiang jelas di kepala Ghea.
"Jangan bilang..." Arkan memijat pangkal hidungnya yang mancung, terlihat sangat frustrasi. "Kita dikirim ke tempat yang sama?"
"Gak mungkin! Gue gak mau sekosan sama lo!" jerit Ghea histeris.
Sebelum mereka sempat berdebat lebih panjang, pintu rumah utama di balik gerbang terbuka. Seorang wanita paruh baya berkaus daster motif bunga dengan rol rambut masih terpasang di kepalanya berjalan keluar sambil mengunyah keripik singkong.
"Eh, kalian berdua ya? Anak baru yang dibilang Pak Surya sama Pak Baskara?" tanya wanita itu dengan suara cempreng khas ibu-ibu pemilik kos. "Kenalin, saya Bu Retno. Sini, sini masuk. Jangan berisik di depan pagar, nanti dikira mau maling."
Ghea dan Arkan saling pandang dengan tatapan jijik, lalu terpaksa menyeret barang bawaan mereka mengikuti langkah Bu Retno masuk ke dalam area kos-kosan.
Kos Bu Retno adalah bangunan dua lantai yang sangat sederhana. Lantai bawah untuk kosan putri, lantai atas untuk kosan putra. Kamar mereka ternyata bersebelahan secara vertikal—Ghea di kamar nomor 3 di bawah, dan Arkan tepat di atasnya, kamar nomor 13.
"Nih, kuncinya," kata Bu Retno sambil memberikan dua anak kunci kuningan yang agak berkarat. "Fasilitasnya cuma kasur, lemari kecil, sama kipas angin dinding. Kamar mandi di luar, ya. Airnya jangan dibuang-buang, lagi musim kemarau. Di sini gak ada AC, jadi kalau gerah, buka aja jendela."
Setelah memberikan penjelasan singkat, Bu Retno langsung pergi meninggalkan mereka berdua yang membeku di depan lorong kamar masing-masing.
Ghea membuka pintu kamarnya. Bau apek langsung menyengat hidungnya. Kamar itu sangat sempit, mungkin hanya berukuran 3x3 meter. Kasurnya tipis, dan kipas angin di dinding tampak berdebu tebal.
Ghea duduk di tepi kasur yang keras, matanya mendadak terasa panas. Dia ingin menangis, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk memperlihatkan kelemahan di depan Arkan yang kamarnya hanya berjarak beberapa meter di atas kepalanya.
Sementara itu, di kamar lantai atas, Arkan melempar tasnya ke lantai. Dia merebahkan diri di atas kasur yang terasa sekeras papan. Kamarnya terasa sangat pengap dan panas. Dia menatap langit-langit kamar, lalu mendesah pelan. Namun, samar-samar dari arah bawah melalui celah ventilasi, dia bisa mendengar suara isakan kecil yang sangat familier.
Arkan tahu itu suara Ghea. Cewek manja itu pasti sedang menangis meratapi nasibnya yang berubah drastis.
"Dasar lemah," gumam Arkan pelan. Tapi, entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak mendengar suara tangisan yang biasanya selalu terdengar galak dan berisik itu.
Sore harinya, udara Sukaasih semakin gerah. Ghea mencoba menyalakan kipas angin di dinding kamarnya. Begitu tombol ditekan, kipas itu hanya berputar sangat lambat, mengeluarkan suara mendecit keras, lalu mati total dengan kepulan asap tipis berbau gosong.
"Kipas sialan! Semuanya sialan!" umpat Ghea frustrasi. Tubuhnya sudah sangat lengket oleh keringat. Dia akhirnya memutuskan keluar dari kamar untuk mencari minimarket terdekat, sekadar membeli air mineral dingin dan tisu basah untuk menyeka badannya.
Saat melewati koridor tangga, dia melihat Arkan sedang duduk di sana sambil memainkan ponsel Android murahnya yang tampak lemot.
"Kipas kamar lo mati ya? Kasihan deh. Makanya kalau hidup jangan kebanyakan gaya, jadi gak tahan banting kan pas dikasih susah," ejek Arkan saat melihat wajah Ghea yang merah padam karena kepanasan.
"Bisa diem gak?! Gak usah ngajak ribut ya, gue lagi capek!" semprot Ghea galak dengan mata yang masih sedikit sembap, lalu berjalan cepat melewati Arkan dan keluar dari gerbang kosan.
Arkan menatap punggung Ghea sampai menghilang di tikungan jalan gang. Begitu memastikan cewek itu benar-benar pergi, Arkan langsung berdiri dari tangga. Dia buru-buru turun ke lantai bawah dan mengetuk pintu kamar pemilik kos.
"Bu Retno!" panggil Arkan.
Bu Retno membuka pintu kamarnya sambil memegang kipas anyaman bambu. "Kenapa, Le? Ada yang kurang?"
Arkan merogoh saku celananya, mengambil selembar uang seratus ribu rupiah—yang merupakan sepuluh persen dari seluruh uang makannya sebulan penuh. Dia menyodorkan uang itu kepada Bu Retno.
"Bu, tolong panggilin tukang servis buat benerin atau ganti kipas angin di kamar nomor 3 sekarang juga selagi orangnya lagi keluar," kata Arkan dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kepeduliannya. "Tapi ada satu syarat."
Bu Retno menerima uang itu dengan mata berbinar-binar. "Syarat apa, Le?"
"Jangan pernah bilang kalau saya yang nyuruh atau yang bayar. Bilang aja Ibu baru inget kalau itu fasilitas kos yang emang harus diganti baru karena rusak. Oke?"
Bu Retno mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. "Beres, Le! Ibu langsung panggil Mang Dadang di sebelah rumah. Sepuluh menit kelar!"
Arkan mengangguk puas, lalu buru-buru kembali naik ke lantai atas sebelum Ghea pulang. Dia kembali duduk di kamarnya yang juga panas, namun kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Setengah jam kemudian, Ghea kembali dengan membawa satu kantong kresek berisi air minum dingin dan beberapa mi instan. Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia terkejut setengah mati melihat sebuah kipas angin dinding baru berwarna biru cerah sudah terpasang rapi di sana, berputar dengan kencang menyebarkan angin sejuk ke seluruh ruangan.
Di atas meja kayu kecil, ada secarik kertas dengan tulisan tangan cakar ayam: “Neng, ini kipasnya udah Ibu ganti yang baru ya. Maaf tadi Ibu lupa kalau kamar nomor 3 kipasnya emang udah rusak.”
Ghea langsung tersenyum lebar, rasa sedih dan lelahnya menguap seketika. Dia berdiri di depan kipas angin itu, membiarkan rambut panjangnya tertiup angin sejuk.
"Untung Bu Retno peka banget," gumam Ghea lega. "Gak kayak cowok songong di lantai atas."
Di lantai atas, Arkan yang sedang berbaring di kasurnya yang panas mendengar suara tawa kecil Ghea yang terdengar senang dari arah bawah. Cowok itu tersenyum tipis tanpa sadar, lalu memejamkan matanya, bersiap menghadapi hari esok yang pasti akan jauh lebih melelahkan di kampus baru mereka.