Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pesona Singhamandawa dan Armada Sang Maharani
Mesin tempel Scout Boat menderu halus, membelah ombak biru yang membentang antara Buton dan Kepulauan Sunda Kecil. Di bawah terik matahari tahun 700 Masehi, Yudi berdiri di kemudi dengan kacamata hitam yang ia ambil dari inventory sipil. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma kebebasan yang belum pernah ia rasakan di hiruk-pikuk Jakarta masa depan.
"Mumpung sudah transmigrasi, jalan-jalan sejenak sepertinya sabi juga. Anggap saja survei wilayah sebelum benar-benar mengurus urusan keluarga kerajaan," gumam Yudi santai.
Ia sengaja menonaktifkan fungsi deteksi otomatis pada sistemnya. Baginya, teknologi masa depan itu hanya akan muncul saat keadaan mendesak atau perang. Untuk saat ini, ia hanya ingin menjadi pemuda biasa yang menikmati petualangan. Dengan skill navigasi tingkat master yang sudah tertanam di otaknya, Yudi dengan mudah mengarahkan perahunya menuju titik koordinat Kerajaan Singhamandawa di Pulau Bali.
Sementara itu, jauh di belahan laut utara, sebuah pemandangan kontras sedang terjadi. Sebuah armada raksasa yang terdiri dari puluhan kapal perang Louchuan milik Dinasti Zhou sedang membelah lautan menuju selatan. Di kapal pusat yang paling megah, bendera naga emas berkibar tinggi, menandakan kehadiran sang penguasa tertinggi yang tengah melakukan perjalanan rahasia namun sangat penting.
Maharani Wu Lin berdiri di anjungan kapal, menatap cakrawala dengan tatapan rindu yang terpendam selama belasan tahun. Tujuh belas tahun lalu, ia terpaksa meninggalkan bayi laki-lakinya dan pria yang ia cintai di pesisir Buton karena krisis besar di kekaisaran. Kakek Yudi, Kaisar saat itu, sedang dikepung oleh pemberontakan saudara-saudaranya. Sebagai putri mahkota, Wu Lin harus kembali untuk memimpin pasukan dan mengamankan takhta.
Perang saudara itu memakan waktu bertahun-tahun dan penuh darah. Dalam masa sulit dan penuh tekanan politik itu, Wu Lin harus menikah dua kali demi stabilitas dukungan militer. Dari pernikahan pertamanya, ia dikaruniai anak kembar yang kini berusia 15 tahun. Setelah suami pertamanya gugur, ia menikah lagi dan memiliki dua putra lagi yang kini berusia 13 dan 12 tahun. Namun, meski telah memiliki keluarga baru, hati Wu Lin tetap tertambat pada pria sederhana yang menyelamatkannya di gubuk bambu Buton. Baginya, Yudi adalah putra sulung yang sah, simbol cinta sejatinya yang murni.
Di samping Wu Lin, berdiri seorang gadis muda berpakaian anggun dengan aura yang tenang namun tajam. Gadis itu adalah Yue Qing, putri dari bangsawan paling setia di kekaisaran. Wu Lin telah menganggapnya seperti anak sendiri dan dalam diam telah menyiapkan rencana besar untuk menjodohkannya dengan Yudi saat mereka bertemu nanti. Namun, Yudi yang berada jauh di selatan, sama sekali belum mengetahui keberadaan gadis ini, apalagi rencana ibunya.
"Yue Qing, menurutmu apakah dia masih mengingat wajahku? Ataukah dia akan membenciku karena meninggalkannya begitu saja?" tanya Wu Lin lirih, suaranya nyaris tertelan deru ombak.
Yue Qing menatap laut lepas dengan tenang. "Hamba yakin Pangeran memiliki hati yang luas seperti samudera ini, Yang Mulia. Tugas hamba nanti adalah memastikan beliau merasa dicintai saat kembali ke pelukan Anda."
Kembali ke Pulau Bali, Yudi baru saja merapatkan perahunya di sebuah teluk tersembunyi yang terlindung oleh tebing karang tinggi di wilayah Singhamandawa. Ia menyimpan perahunya kembali ke dalam inventory sipil dengan satu jentikan jari—sebuah keajaiban yang untungnya tidak disaksikan oleh mata penduduk lokal.
Yudi berjalan memasuki pasar Singhamandawa. Ia mengenakan kemeja linen putih modern dan celana kain yang terlihat sangat asing namun sangat elegan bagi penduduk setempat. Berkat skill linguistik tingkat tertinggi, ia memahami setiap bisikan penduduk yang menggunakan bahasa Bali kuno dengan aksen yang sangat kental.
"Dunia ini benar-benar unik," batin Yudi saat melewati sebuah kuil besar dengan ukiran batu yang rumit.
Seperti yang pernah ia pelajari sekilas, wilayah ini sangat kental dengan pengaruh Hindu. Namun, ada hal yang membuatnya heran; setiap kali orang-orang menyebut "Tanah Suci di Utara", mereka merujuk pada daratan China. Bagi masyarakat Bali tahun 700 M di dunia ini, Dinasti Zhou adalah pusat peradaban Hindu agung. Mereka sangat menghormati Maharani Wu Lin sebagai pemimpin spiritual yang sakti mandraguna.
Yudi mengeluarkan sekeping koin emas murni dari kekayaan pribadinya untuk membeli beberapa tusuk sate daging lokal. Penjualnya gemetar, matanya hampir keluar melihat kemurnian emas yang disodorkan pemuda itu.
"Tuan... koin ini... ini bisa membeli seluruh dagangan saya selama setahun. Saya tidak punya kembaliannya," ucap pedagang itu dengan suara gemetar ketakutan.
"Simpan saja. Anggap saja bayaran untuk informasi: Di mana tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam di kerajaan ini?" jawab Yudi dalam bahasa Bali yang sangat halus dan terstruktur, membuat orang-orang di sekitar langsung membungkuk hormat. Mereka mengira Yudi adalah pangeran dari kerajaan seberang yang sedang menyamar.
Yudi berjalan menuju sebuah tebing tinggi yang menghadap ke laut lepas. Ia duduk di sana sambil mengeluarkan sebotol minuman dingin yang ia simpan. Di bawah sana, nelayan tradisional Bali sedang menarik jala mereka di atas perahu cadik yang kecil. Mereka tidak akan pernah membayangkan bahwa pemuda yang duduk di atas mereka memiliki kekuatan untuk mengguncang dunia hanya dengan satu tarikan pelatuk.
Yudi menatap cakrawala, menikmati ketenangan tanpa gangguan radar atau notifikasi sistem yang ia matikan. Ia tidak tahu bahwa jauh di sana, armada besar ibunya sedang bergerak menuju rumah lamanya. Ia juga tidak tahu bahwa seorang gadis bernama Yue Qing sedang menanti pertemuan mereka.
"Baguslah," gumam Yudi pelan. "Aku masih ingin menikmati ketenangan ini sebentar lagi sebelum semuanya menjadi rumit."
Di Singhamandawa, langit mulai berubah warna menjadi ungu dan jingga keemasan. Yudi memejamkan mata, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Ia adalah orang paling kuat di planet ini saat ini, namun untuk malam ini, ia hanya ingin menjadi seorang musafir yang mengagumi keindahan matahari terbenam di Bali abad ke-8.