NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Menghancurkan Periuk Nasinya

"Mbak Naya, berita ini naik jam tujuh pagi tadi lho." Suara Dinda mencicit. Tenggorokannya bergerak kasar menahan gugup.

Shanaya mengambil tablet itu. Jarinya menggeser layar ke bawah.

Isi artikel itu kotor. Penulisnya membingkai Nyonya Rini Kesuma sebagai parasit yang menggerogoti Kesuma Group sejak almarhum ayah Shanaya meninggal.

Paragraf selanjutnya lebih menjijikkan. Artikel itu menuduh Nyonya Rini sengaja pura-pura sakit untuk menarik simpati, lalu memaksa dewan direksi mengangkat Shanaya demi menutupi kebangkrutan.

Penulis itu menyebut Shanaya sebagai anak ingusan yang tidak tahu cara membedakan sutra dan katun murahan.

Dada Shanaya nyeri tertusuk.

Ibunya menghabiskan separuh hidupnya mendampingi ayah Shanaya membangun perusahaan ini. Ibunya menelan semua hinaan keluarga besar demi menjaga warisan untuk Shanaya.

Dan sekarang, nama baik itu diinjak-injak demi ambisi dangkal Anastasia Lim.

Ini lebih menyakitkan daripada racun yang membunuhnya di masa lalu.

Anastasia bergerak cepat. Sepupunya itu sadar artikel bantahan soal presentasi kemarin menaikkan posisi Shanaya.

Perempuan licik itu memilih target yang sedang tidak bisa melawan. Mamanya yang masih terbaring lemah dengan jarum infus di rumah sakit.

Pintu ruang kerja Shanaya terbuka tanpa ketukan.

Steven Aditya melangkah masuk. Pria itu memakai kemeja hitam pekat. Lengannya digulung hingga siku. Wajahnya dingin, tapi langkah kakinya panjang dan memancarkan aura ancaman.

"Keluar, Dinda," perintah Steven.

Dinda langsung menunduk dan berlari kecil meninggalkan ruangan. Pintu tertutup rapat. Bunyi klik kunci terdengar pelan.

Steven berjalan mendekati meja Shanaya. Pria itu meletakkan secarik kertas di atas meja mahoni.

"Itu nomor telepon pemimpin redaksi The Jakarta Insider," ucap Steven. Suaranya rendah dan tajam. "Situs murahan. Mereka pakai peladen luar negeri. Tapi timku berhasil melacak nomor telepon asli dan rekening pribadi redakturnya."

Shanaya menatap deretan angka di kertas itu. "Kamu retas rekening istri orang jam delapan pagi?"

"Aku tidak tidur." Steven menarik kursi dan duduk bersandar. Matanya menyorot tajam wajah Shanaya. "Aku bisa menurunkan artikel itu sekarang. Jaringanku bisa menelan situs mereka dalam sepuluh menit. Redakturnya akan menangis minta maaf di depan publik sebelum jam makan siang."

Shanaya meletakkan tablet Dinda. Dia menatap lurus mata Steven. "Jangan."

Dahi Steven berkerut tipis. "Artikel itu menyerang ibumu. Berita itu merusak kepercayaan publik. Membiarkannya hidup satu jam lagi sama dengan bunuh diri untuk saham perusahaan kalian."

"Menurunkan artikel itu pakai kekuatan media kamu hanya membuktikan satu hal." Shanaya mengetuk permukaan kertas di mejanya. "Itu membuktikan bahwa Kesuma Group panik."

"Lalu?" Steven menyilangkan kaki. Pria ini sedang menguji kapasitas Shanaya.

"Anastasia mau main lumpur lewat opini publik. Dia pikir media adalah satu-satunya medan perang." Ujung bibir Shanaya tertarik ke atas. Senyum itu tidak mencapai matanya yang menyala redup. "Gue tidak akan menyerang medianya."

Shanaya menarik gagang telepon kabel di mejanya. Dia menekan deretan angka dari kertas yang dibawa Steven.

Nada sambung berbunyi tiga kali. Terdengar suara klik.

"Halo?" Suara parau seorang pria terdengar dari pelantang suara.

"Pagi." Nada bicara Shanaya mengalun stabil. "Saya Shanaya Kesuma."

Hening total di seberang sana. Terdengar bunyi napas yang mendadak tertahan.

"Dengar baik-baik." Shanaya memajukan tubuhnya. "Saya punya data lengkap rekening BCA istri anda. Ada aliran dana seratus juta masuk jam tiga pagi tadi dari rekening tanpa nama."

"A-anda bicara apa? Saya tidak ngerti." Pria itu gelagapan.

"Artikel soal Nyonya Rini Kesuma." Shanaya memotong cepat. "Siapa yang kasih draf tulisan itu?"

"Itu kebebasan pers! Kami dapat sumber anonim. Anda tidak bisa mengancam media!"

Steven mendengus sinis mendengar jawaban klise itu.

Shanaya tidak memberi celah bernapas. "Dua pilihan. Kasih tahu nama sumber itu sekarang, atau saya serahkan bukti transfer itu ke tim audit pajak. Situs anda belum terdaftar resmi. Seratus juta masuk tanpa pajak, istri anda bisa kena pasal pencucian uang?"

Terdengar bunyi benda jatuh di seberang sana. Napas pria itu memburu. Dia hanya pemilik situs gosip kecil. Ancaman audit pajak dari pewaris Kesuma Group bukan hal yang bisa dia lawan.

"Oke! Oke!" Pria itu menyerah. Suaranya bergetar ngeri. "Boni Satria. Dia humas lepas. Dia yang kirim draf artikel dan uangnya tadi malam. Saya cuma diminta menaikkan beritanya."

Shanaya memutuskan sambungan tanpa salam penutup.

"Boni Satria." Steven mengetik sesuatu di layar. "Dia agen humas bayaran. Spesialis kampanye hitam. Klien utamanya saat ini lima perusahaan tingkat menengah. Tiga merek kosmetik lokal dan dua perusahaan ritel busana."

Shanaya berdiri dari kursinya. "Kirim daftar lima nama perusahaan itu ke email gue, sekarang."

"Mau kau apakan?"

"Menghancurkan periuk nasinya." Shanaya berjalan ke arah pintu dan membukanya kasar. "Dinda! Ke ruangan saya bawa buku kontak vendor!"

Dinda tergopoh-gopoh masuk membawa buku tebal bersampul hitam.

Dua puluh menit berikutnya, ruang direksi itu berubah menjadi panggung eksekusi. Steven duduk diam di kursinya. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Shanaya dengan kilatan kekaguman yang tersembunyi.

Shanaya menekan nomor urut pertama. Perusahaan ritel busana Urban Style.

"Pagi, Pak Hendra." Suara Shanaya kembali profesional, namun dingin menusuk. "Ini Shanaya Kesuma."

"O-oh, pagi, Mbak Shanaya." Suara pria paruh baya di ujung telepon terdengar gugup. "Ada yang bisa saya bantu? Proposal masuknya barang kami ke mal Kesuma sudah disetujui?"

"Proposal Bapak bagus." Shanaya menelusuri nama Boni di buku kontak. "Tapi saya punya satu syarat mutlak. Putus kontrak kehumasan perusahaan Bapak dengan Boni Satria hari ini juga."

"Lho? Kenapa tiba-tiba begini, Mbak? Boni itu humas andalan kami. Kami sudah bayar dia di muka."

"Pilihan ada di tangan Bapak." Shanaya membungkam protes pria itu. "Putus kontrak Boni sekarang, atau produk Urban Style tidak akan pernah menginjakkan kaki di satu pun etalase mal Kesuma Group selamanya. Saya tunggu surat pemutusannya di email asisten saya sepuluh menit lagi."

Klik.

Shanaya menekan tombol merah. Dia langsung memutar nomor kedua. Pemilik merek kosmetik lokal.

"Ibu Sari. Pagi. Singkat saja. Putus kontrak Boni Satria hari ini, atau posisi gerai kosmetik Ibu di lantai dasar Kesuma Mall saya cabut dan saya berikan ke kompetitor Ibu besok pagi."

"Mbak Shanaya! Jangan begitu dong! Kami bisa bangkrut kalau gerai itu ditutup!" Suara wanita itu histeris.

"Kalau begitu pecat Boni. Sepuluh menit dari sekarang."

Panggilan ketiga. Keempat. Kelima.

Semuanya diselesaikan dengan ritme pembantaian. Brutal. Tanpa ampun. Tidak ada kompromi. Shanaya tidak membiarkan satu pun dari mereka merangkai alasan.

Steven menyilangkan kaki. Ujung jarinya mengetuk sandaran kursi. "Anastasia salah besar memilih musuh."

Steven berdiri. Dia berjalan mendekati meja Shanaya. Tubuh tingginya menutupi cahaya dari jendela. "Lalu bagaimana dengan Alvian? Dia bersembunyi di balik rok Anastasia. Kau menendang anjing peliharaannya, dia tidak akan tinggal diam."

Shanaya mendongak menatap wajah tegas Steven. "Biar dia keluar sendiri. Pengecut selalu bereaksi kalau kantong uangnya dikeringkan."

1
gina altira
Anastasia makin menjadi aja
sukensri hardiati
melihat perubahan drastis sikapnya....mungkinkah steven yg mengulang waktu?
sukensri hardiati
jiwa maling dan nggak punya malu anastasia dah mendarah daging....kebentus2 masalah nggak kapok2 juga...
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!