Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Menyerap Kelopak Teratai, Terobosan di Dalam Perut Bumi
Lorong bawah tanah itu sempit, pengap, dan berbau tanah pekat yang bercampur dengan s sisa-sisa aroma buas. Lin Tian merangkak menembus kegelapan mutlak, hanya mengandalkan insting spasial dan indra peraba dari Tubuh Pedang Kekacauannya.
Di atasnya, bumi terus bergetar hebat. Suara raungan Beruang Hitam Lapis Baja Bumi dan dentuman ledakan energi es bergema merambat melalui dinding lorong, menciptakan hujan debu dan kerikil yang tak henti-hentinya. Sesekali, getaran seismik itu nyaris meruntuhkan langit-langit terowongan, mengancam untuk mengubur Lin Tian hidup-hidup.
"Mereka melancarkan serangan area secara membabi buta," analisa Lin Tian dalam hati, ritme napasnya tetap dipertahankan pada tingkat terendah. "Itu artinya mereka berdua gagal melacak sisa auraku dan kini hanya mengandalkan insting perusakan untuk memaksaku keluar."
Logika bertahan hidup mengatakan bahwa ia harus terus bergerak sejauh mungkin dari episentrum. Ia menelusuri terowongan berliku itu selama hampir satu jam, turun semakin dalam ke perut bumi. Hingga akhirnya, lorong sempit itu berujung pada sebuah rongga bawah tanah yang cukup luas.
Lin Tian melompat turun tanpa suara. Tempat ini adalah sebuah gua alami yang dipenuhi dengan stalaktit batu kapur. Cahaya kuning pudar memancar dari lumut bercahaya yang menempel di dinding. Di tengah gua, terdapat sebuah kolam kecil yang memancarkan aura elemen tanah yang sangat padat.
Ini adalah sarang rahasia sejati dari sang Beruang Hitam, tempat di mana siluman raksasa itu biasanya memulihkan diri dengan menyerap energi urat bumi.
"Aman untuk sementara waktu," gumam Lin Tian.
Ia tidak segera beristirahat. Sebaliknya, ia berjalan mengitari gua, menaburkan sisa bubuk penyamar aroma di setiap pintu masuk lorong, lalu duduk bersila di atas sebuah batu pipih di dekat kolam urat bumi. Dengan jentikan jarinya, cincin penyimpanannya berkedip, dan kotak giok yang berisi Teratai Salju Seribu Tahun muncul di pangkuannya.
Begitu kotak itu dibuka, suhu di dalam gua langsung anjlok. Cahaya perak yang menyilaukan menerangi dinding-dinding batu, dan aroma wangi yang sangat pekat menyerbak, menenangkan jiwa namun secara bersamaan mengintimidasi dengan energi yang terkandung di dalamnya.
Teratai Salju ini memiliki dua belas kelopak sebening kristal. Mengonsumsi seluruh bunga ini pada Tahap Pengumpulan Qi Tingkat 2 adalah tindakan bunuh diri yang absolut; energi yang setara dengan ratusan tahun kultivasi akan meledakkan tubuh fana Lin Tian dari dalam.
"Inti sari bunga, akar, dan enam kelopak bagian dalam adalah bagian yang memiliki elemen penyembuh terkuat. Itu harus disimpan untuk ayah," pikir Lin Tian rasional. Ia mencabut belati berukirnya, memfokuskan Qi Primordial di ujung bilahnya agar energi bunga tidak bocor, lalu dengan sangat hati-hati memotong dua kelopak terluar.
Dua kelopak itu tampak seperti helaian es abadi yang bergetar pelan di telapak tangannya.
"Meskipun ini hanya kelopak terluar, energi spiritual di dalamnya cukup untuk menyuplai kebutuhan Tubuh Pedang Kekacauan."
Tanpa ragu sedetik pun, Lin Tian memasukkan kedua kelopak itu ke dalam mulutnya.
Seketika, sensasi beku yang luar biasa meledak di lidahnya. Kelopak itu tidak perlu dikunyah; mereka langsung mencair menjadi aliran energi biru keperakan yang mengalir deras ke kerongkongan, menuju meridian utamanya.
BOOM!
Jika Qi biasa diibaratkan seperti aliran sungai, energi dari Teratai Salju Seribu Tahun ini adalah tsunami es yang menghancurkan bendungan. Meridian Lin Tian yang berwarna abu-abu keperakan seketika menegang. Lapisan es mulai terbentuk di bawah kulitnya, membuat tubuh pemuda itu terlihat seperti patung kristal di dalam gua yang remang.
"Tunduk!"
Lin Tian mengertakkan giginya. Matanya terbuka lebar, memancarkan niat membunuh yang liar terhadap energi pemberontak di dalam tubuhnya sendiri. Dantiannya berputar dengan kecepatan maksimum yang belum pernah terjadi sebelumnya. Qi Primordial—sang penguasa hierarki segala elemen—meluap keluar bagaikan serigala lapar yang dilepaskan dari rantainya.
Di dalam tubuhnya, peperangan elemen kembali terjadi, namun dalam skala yang ratusan kali lipat lebih brutal daripada saat ia menyembuhkan ayahnya.
Energi es dari teratai mencoba membekukan darah dan organ dalam Lin Tian, sementara Qi abu-abu dari Tubuh Pedang Kekacauan bertindak sebagai mesin penggiling mutlak, menabrak, menghancurkan, dan menelan energi es tersebut secara paksa. Rasa sakit dari meridian yang membeku dan kemudian dicairkan secara instan oleh Hukum Kekacauan membuat Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam berulang kali. Keringat yang keluar dari pori-porinya langsung membeku menjadi kristal-kristal es kecil.
Namun, hasilnya sepadan.
Setiap untaian energi es yang berhasil ditelan oleh Dantiannya langsung diubah menjadi Qi murni dengan kepadatan yang menakutkan. Batas kultivasi yang selama ini terasa jauh kini mulai retak.
Krak!
Sebuah suara retakan halus terdengar dari dalam tubuh Lin Tian, diikuti oleh letupan udara di sekelilingnya.
Pengumpulan Qi Tingkat 3!
Energi tidak berhenti di sana. Sisa energi dari dua kelopak Teratai Salju Seribu Tahun masih membanjiri meridiannya layaknya samudra yang tak berujung. Lin Tian memandu energi yang baru terbentuk itu untuk memperkuat tulang dan jaringan ototnya, mengulangi proses Penempaan Tulang untuk kedua kalinya.
Otot-ototnya semakin liat, kulitnya memancarkan pendaran giok samar, dan pendengarannya meluas, mampu menangkap suara tetesan air dari ujung stalaktit sejauh seratus meter dengan kejernihan absolut.
Dua jam berlalu di dunia luar. Di dalam gua, Lin Tian terus menyerap tanpa henti.
Krak!
Pengumpulan Qi Tingkat 4!
Kali ini, Dantiannya mengalami perluasan. Jika sebelumnya Dantiannya berukuran sebesar kepalan tangan, kini ia melebar menjadi sebesar danau kecil. Aliran Qi abu-abu di dalamnya tidak lagi berbentuk kabut, melainkan mulai memadat menyerupai tetesan cairan kental. Ini adalah tanda fondasi yang sempurna, sesuatu yang biasanya hanya terlihat pada kultivator di Tahap Inti Emas.
Lin Tian tidak menghentikan momentumnya. Ia memeras setiap tetes terakhir dari esensi kelopak teratai tersebut, mendorongnya menuju dinding pembatas meridian berikutnya. Tubuhnya gemetar hebat, udara di dalam rongga gua berputar menciptakan pusaran angin kecil yang berpusat padanya.
BUM!
Gelombang kejut yang kuat meledak dari tubuh Lin Tian, menyapu lumut bercahaya di dinding gua hingga meredup sesaat. Batu pipih tempatnya duduk retak menjadi jaring laba-laba.
Mata Lin Tian terbuka perlahan. Sebuah cahaya sedingin es, diiringi kilauan pedang yang tak kasat mata, berkelebat di pupil matanya.
Pengumpulan Qi Tingkat 5!
Hanya dalam waktu beberapa jam, berkat akumulasi fondasi Tubuh Pedang Kekacauan dan peluang emas dari Teratai Salju Seribu Tahun, ia berhasil merebut kembali tingkat kultivasi puncaknya tiga tahun yang lalu! Bahkan, dengan kepadatan Qi-nya saat ini, kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 8 pun akan terbunuh dalam satu pukulan frontal jika berani meremehkannya.
Lin Tian berdiri perlahan, mengepalkan tinjunya. Suara tulang-tulangnya bergemeretak layaknya petasan. Ia merasakan kekuatan fisik yang meledak-ledak. Beban dan kelemahan tiga tahun yang penuh siksaan benar-benar telah ia injak di bawah telapak kakinya.
Namun, belum sempat ia merayakan kembalinya kekuatannya, raut wajah Lin Tian tiba-tiba berubah tajam.
Suhu udara di dalam gua bawah tanah ini, yang seharusnya hangat karena dekat dengan urat bumi, tiba-tiba anjlok dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Lapisan embun beku mulai merayap dari langit-langit tanah liat tepat di atas kepalanya.
Indra pendengaran tajam Lin Tian menangkap suara denting pedang es dari kejauhan yang menembus lapisan tanah tebal.
"Dia menggunakan Domain Musim Dingin Mutlak," mata Lin Tian menyipit, menganalisis situasi dengan rasionalitas tinggi.
Kultivator wanita berbaju biru itu rupanya tidak bodoh. Gagal menemukannya di permukaan, wanita itu menggunakan seluruh energi Inti Emasnya untuk membekukan tanah lapis demi lapis ke arah bawah. Itu adalah metode yang sangat boros energi, namun mematikan. Siapa pun yang bersembunyi di bawah tanah akan mati membeku atau terpaksa melarikan diri ke permukaan dan masuk ke dalam perangkapnya.
"Waktunya pergi," Lin Tian menyarungkan belatinya. Menghadapi master Inti Emas yang sedang murka secara langsung masih di luar kemampuannya saat ini.
Namun, sesaat sebelum ia melesat ke lorong pelarian di sisi lain gua, sudut matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Di dasar kolam kecil yang berisi air urat bumi, cahaya beku dari serangan wanita di atas secara tidak sengaja memantulkan kilauan logam kuno.
Insting Lin Tian mengatakan bahwa itu bukan sekadar batu biasa. Ia merogohkan tangannya ke dalam air kolam yang kini mulai membeku di permukaannya, dan menarik keluar sebuah cincin hitam berkarat dengan ukiran sisik naga yang sangat halus.
Sebuah Cincin Tata Ruang kelas tinggi yang terbuang di sarang siluman.
Lin Tian tidak punya waktu untuk memeriksanya. Langit-langit gua mulai retak tertusuk duri es raksasa. Menyimpan cincin itu ke dalam saku jubahnya, Lin Tian berubah menjadi bayangan abu-abu, melesat masuk ke dalam lorong gelap menjauhi jangkauan maut sang penyihir es.