NovelToon NovelToon
After Reuni

After Reuni

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: rachmaraaa

Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.

Dan Reuni itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hari sudah mulai gelap dan baru selesai hujan. Seharian cuaca panas ketika menjelang sore, tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang. Akhir-akhir ini, cuacanya sulit diprediksi seperti hati Mita saat ini.

Kebetulan hari ini Mita mendapatkan shift siang. Ia tidak sendirian, tapi bersama empat karyawan lainnya. Mita yang menjabat sebagai kepala toko, selalu pulang terakhir.

Dirasa semuanya sudah aman dan stok bahan juga masih aman, Mita pun bersiap untuk pulang. Sebelumnya ia mematikan lampu dan mengunci pintunya. Toko tempat Mita bekerja adalah toko puding dan bakery.

Mita berjalan ke halte busway sendirian. Jaraknya sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sudah biasa bagi Mita, ia menjalaninya hampir lima tahun, lebih tepatnya setelah diceraikan oleh Rio.

Sebelum masuk ke dalam halte, entah mengapa, Mita tertarik membeli cilok yang sedang mangkal tidak jauh darinya.

"Tumben banget tukang ciloknya nggak rame. Biasanya sampai nggak kelihatan itu yang jual." Mita menghampiri dan membeli secukupnya untuk mengganjal perutnya yang tidak begitu lapar. Setelah dicoba, ternyata memang enak. "Pantesan rame terus. Enak ternyata."

Ia memutuskan untuk menghabiskan dulu, baru melanjutkan perjalanannya. Saat sedang menunggu busway dengan rute tujuannya. Tiba-tiba saja ada yang menyapanya.

"Mita?"

Mita menatapnya , memperhatikan sejenak lalu tersenyum. "Hai, Dri!"

Adrian ikut tersenyum, mengulurkan tangannya lebih dulu untuk berjabat tangan. "Apa kabar? Sendirian aja."

Mita menyambutnya dengan hangat. "Aku baik. Nggak sendirian kok."

Senyum Adrian lenyap, diganti dengan mata yang membulat. "Oh, sama kawan?"

Mita menggeleng dan tertawa renyah, "nggak, tapi sama penumpang yang lain."

Terlihat Adrian menghela napas lega, "Oh, kirain. Berarti sama aku juga. Kamu masih tinggal di Kebagusan kan?"

Mita kali ini mengangguk, "iya, Dri. Emang kamu masih di Kebagusan juga?"

"Iya, memangnya mau kemana lagi aku! Berarti rute busway kita sama."

"Iya." Jawabnya singkat.

Adrian tahu betul apa yang terjadi dengan cerita rumah tangga Mita. Karena cerita itu ramai di kantor. Rio yang merupakan rekan kerjanya, selingkuh dengan cinta pertamanya, yang merupakan janda anak dua. Pertemuan itu terjadi setelah acara reuni alumni kampusnya. Adrian pun kenal siapa perempuan itu. Dulunya adalah perempuan yang selalu jadi incaran teman-temannya di kampus.

"Ta, jangan ngelamun. Nanti ketinggalan busway lho!" Adrian memperhatikan wanita di depannya.

"Nggak ngelamun kok. Oya, kamu selalu naik busway? Bukannya kantor kamu rutenya nggak kesini ya? Masih sekantor sama Rio kan?"

Adrian tersenyum ketika pertanyaan beruntun terlontar dari bibir pink milik Mita. "Oke, aku jawab satu-satu ya... Aku tadi habis ada rapat di luar. Kebetulan daerah ini tuh rawan macet, jadi males bawa kendaraan sendiri. Jadi, aku parkir kendaraan di halte tempat kita turun. Rute kantor emang nggak di sini. Aku masih sekantor sama Rio."

Mita mengangguk dan terkekeh, merasa puas dengan jawabannya.

"Eh, itu busway nya datang ," ujar Adrian.

Mita bersiap untuk masuk, tetapi karena banyaknya penumpang, membuat Mita terdorong ke samping. Lalu, ia merasakan kalau Adrian menahan tubuhnya supaya tidak makin terdorong. Justru Adrian membantunya supaya masuk ke dalam busway, tepat di belakangnya.

"Ya ... Nggak kebagian duduk," keluh Adrian.

"Nggak apa-apa, Dri. Udah biasa kok." Mita langsung mencari tiang pegangan.

"Kamu kerja dimana kalau boleh tau, Ta?"

"Sweety puding dan bakery, Dri. Nggak jauh dari halte tadi." Mita dan Adrian berdiri dalam posisi berhadapan.

Ketika sampai di halte berikutnya, penumpang yang masuk, membuat tubuh mereka semakin lebih dekat. Bahkan, keduanya bisa merasakan jika kulit lengan mereka sering bersentuhan tanpa sengaja.

Mita yang tingginya hanya mencapai bahu Adrian, bisa mencium aroma parfum yang wanginya nyaman dan candu. Di mata Mita, Adrian sekarang jauh lebih dewasa dan matang, dibandingkan dengan lima tahun lalu saat acara reuni. Bahkan jauh sekali dibandingkan saat mereka sekolah dulu. Sekarang Adrian memiliki urat-urat yang menyembul di lengannya, bahkan Mita bisa melihat kalau ada otot yang tersembunyi di balik kemeja yang dipakai.

Bukan hanya Mita, tapi cewek-cewek yang berada di busway saja, sering melirik ke arah Adrian secara terang-terangan. Adrian memiliki pesonanya sendiri. Tetap tampan dan segar, meskipun hari sudah malam.

Mita dan Adrian tidak banyak bicara di dalam busway. Karena penuh dan takut mengganggu kenyamanan yang lain.

◉⁠‿⁠◉

Pemberhentian bus terakhir menjadi tujuan Mita dan Adrian. Saat turun, Adrian tidak bisa lepaskan pandangannya dari Mita yang menurutnya masih cantik.

'Kok bisa Rio malah kepincut janda anak dua. Padahal Mita semok gini!'

"Aduh, maaf!" Adrian menabrak orang lain saat keluar halte.

Mita juga terkejut dan reflek memegang lengan Adrian supaya tidak jatuh. "Hati-hati, Dri."

"Iya. Aku agak ngelamun tadi." Adrian menghela napas panjang. "Pulang bareng aja. Aku bawa motor, kan kita searah. Udah malem gini."

"Nggak apa-apa, aku biasa naik ojol," tolak Mita secara halus.

Adrian menggeleng, "aku maksa. Aku anter sampai depan rumah. Nggak ada yang marah kan?"

Mendengar itu , gelengan kepala menjadi jawaban Mita. Nggak mungkin kalau Adrian nggak tahu tentang rumah tangganya yang rusak. Karena saat itu memang beritanya heboh sekali. Ia merasa wajahnya panas, karena malu.

"Ya udah, kalau gitu tunggu sini. Aku ambil motor dulu." Adrian berlari kecil menuju parkiran motor.

Selagi menunggu Adrian mengambil motornya. Mita membeli dua botol air mineral. Sejak tadi tenggorokannya agak kering karena belum minum. Sambil menunggu, pikirannya kembali ke masa lalu. Tentang Adrian yang semasa dulu memang sudah tampan. Tiba-tiba dipertemukan kembali saat reuni kampus suaminya dan kini bertemu tanpa sengaja.

Motor matic merah berhenti tepat didepan Mita berdiri.

"Sesuai aplikasi ya, Kak," goda Adrian layaknya supir ojek online.

"Iya, Mas." Mita terkekeh. "Ini minum dulu." Mita memberikan air mineral ke Adrian.

"Wah, makasih ya." Adrian langsung meneguknya. "Alhamdulillah. Ayo naik," sambungnya.

Dalam perjalanan mereka pun saling bercerita tentang masa sekolah dulu. Mereka tertawa setiap kali ingat itu. Rasanya hangat dan menyenangkan. Seharusnya mereka sudah sampai, tapi Adrian sengaja berkeliling dulu, demi bisa mengobrol dengan Mita.

Mita tahu kalau Adrian mengajaknya berputar lebih jauh. Harusnya ia bisa menolaknya dan meminta Adrian untuk mengantarnya ke rumah. Tapi, malam itu Mita membiarkannya. Selama ini ia kesepian dan butuh teman cerita. Dan malam ini ia dapatkan itu.

"Dri, jangan muter lagi. Nanti aku takut istri kamu salah paham. Aku nggak mau dicap aneh-aneh," ujar Mita.

"Nggak ada yang marah kok. Santai aja. Tapi, aku akan tetap antar kamu." Adrian menurut untuk tidak berputar lagi. "Kamu tinggal sendirian?" Adrian melihat gedung kos-kosan tiga lantai. Kosmu adalah tempat kos-kosan campuran yang ternyata dekat sekali dengan tempat tinggalnya selama ini. Satu kecamatan, satu kelurahan, hanya beda RT dan RW saja. "Deket banget, Ta. Kemana aja selama ini ya," sambung Adrian sambil terkekeh.

"Iya. Makasih ya, udah ngerepotin," ucap Mita.

"Nggak ngerepotin kok. Aku seneng malah bisa ngobrol sama kamu. Tenang aja, aku nih duda, Ta. Aku udah lama cerai sama mantan istri. Kamu masih—" Adrian menggantung kalimat terakhir.

"Aku masih sendiri, Dri. Masih agak trauma juga. Sekali lagi makasih ya." Mita mengucapkannya dengan tulus.

Adrian mengangguk dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. "Tolong masukin nomor handphone kamu. Boleh kan aku hubungin kamu?"

{}

1
riza
haduuh 🧐
riza
mudah²an nggak terjadi apa-apa sih sama Mita 🥺
riza
kok nyesek ya 🥺
riza
iya betul 🥺 sebelum semua terlambat, mending di obrolin dari skrg 🥰
riza
uhuuuuyy 🤭🤭
Secilia Cindy
bacanya sambil meriang2 ka..🤭
Dila Dilabeladila
hadehhhhhh udah langsung ajak k KUA aja bias bisa nambah dengam bebas🤣🤣
riza
hot ya kak 🔥🤭
riza
si Rio sakit emang
riza
lah dasar si Rio tolil
riza
fitnah jir
riza
eh gila si Rio
riza
lah sama mas ... saya yg baca juga udh GK sabar ini 🤭
riza
mulai deh ngeselinnya
riza
mas Adrian maunya mewah ya 🤭
Ika Alif
tak tunggu sampai end aja bacanya😍
riza
nanggung sekali ya 🤭
riza
setuju nih
riza
ceritanya bagus kak. semoga karyamu banyak yg baca dan laris manis ya kak 😍
rachmaraaa: aamiin 🙏
total 1 replies
riza
ciee... mereka jadian juga 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!