kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
awal kisah
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang sudah mampir di karya novel pertamaku ini. Ini adalah karya asli saya.
Saya masih pemula, mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan yang kurang baik di dalam karya novelku ini. Semoga kalian terhibur membaca kisah ini. :)
*Dan inilah awal kisahku*
Pagi itu indah. Udara sejuk, hangatnya sinar mentari pagi berpadu dengan kicauan burung yang merdu, membuatku bersemangat menjalani hari.
“”Krek! “”
Suara kaca helm ditutup. Dengan gaya sok keren, dia menyalakan motornya lalu menarik gas dalam-dalam. “” Brungg-brung”” Suara knalpotnya menggelegar, gahar tak karuan.
Dia bernama Dony. Dia adalah Sahabatku sejak kecil. Kami tinggal di satu desa yang sama, sekolah di satu sekolahan yang sama, bahkan satu kelas. Sekarang kami baru saja naik ke kelas 3 SMA. Dony adalah sahabat terbaikku.
Pagi itu, setelah memanaskan motor, Dony bersiap berangkat. Namun, baru saja dia mau melajukan motornya, tiba-tiba emaknya yang super cerewet keluar rumah membawa sapu.
“Berisik, kebiasaan loe pagi pagi, ganti gak tuh kenalpot motor loe, gue bakar juga nih motor lama lama,!” Emaknya ngomel sambil memukul punggung Dony dengan sapu.
Dony panik. Dengan terburu-buru dia tancap gas, kabur meninggalkan rumah. Lucunya, motor bebek bututnya sama sekali tidak sebanding dengan suara knalpotnya yang menggelegar.
Sementara aku? Aku masih di rumah, bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Perkenalkan, namaku *SATRIA*
Aku lahir dari keluarga sederhana. Bisa di bilang, aku orang tidak punya. Bahkan kendaraan pribadi pun aku tak punya. Setiap hari, aku berangkat dan pulang sekolah naik angkutan umum.
Ibuku seorang ibu rumah tangga, dan Bapakku hanya petani kecil. Meski begitu, aku sangat mencintai mereka, dan juga Kakakku. Bagi ku, mereka segalanya. Mereka harta paling berharga yang kupunya. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku laki-laki, namanya Asep. Dia sudah menikah dan punya satu anak perempuan berusia empat tahun. Dia tinggal di kota yang sama, tapi beda daerah.
Setelah selesai bersiap, aku pamit pada kedua orang tuaku lalu berjalan ke luar kampung.
Seperti biasa, aku berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. Tak lama, angkot datang. Aku menahan dan naik ke dalamnya. Bau, sumpek, gerah, itu sudah jadi makanan sehari-hari bagiku di dalam angkot.
Di tengah perjalanan, seorang nenek habis dari pasar melambaikan tangan. Angkot berhenti. Aku yang duduk dekat pintu langsung membantu mengangkat barang belanjaannya: sayuran, ayam hidup, dan plastik-plastik lain. Seketika, angkot jadi makin sempit. Beberapa penumpang melirik nenek itu dengan wajah tidak senang.
Angkot kembali melaju. Tak lama kemudian, tiba tiba tali di kaki ayam milik nenek itu terlepas. _Kepak-kepak!_ Ayam itu terbang ke sana kemari di dalam angkot. Suasana langsung rusuh. Aku sigap menangkapnya. Setelah berhasil, aku ikat kembali kakinya sampai dia diam. Nenek itu tersenyum dan berterima kasih padaku.
Penumpang lain kesal. Aku sempat menahan tawa saat melihat rambut penumpang wanita di sebelahku jadi acak-acakan karena disambar ayam tadi. Dengan wajah kesal dia merapikan rambutnya sambil menatap sinis ke si nenek. Nenek itu hanya bisa meminta maaf berkali-kali.
Tak lama kemudian, aku sampai di sekolah. Aku turun setelah membayar ongkos. Baru beberapa langkah dari angkot, aku sadar... baju seragamku kotor penuh bekas cakar ayam. Parahnya, ada kotoran ayam menempel di dadaku. Baunya minta ampun.
Tanpa pikir panjang, kucolek kotoran itu dengan tangan. Jijik, tapi mau gimana lagi. Aku langsung jalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkannya. Sepanjang jalan, teman-teman melirik sambil menutup hidung, Ada juga yang tertawa. Aku tak peduli, Aku terus berjalan.
Di dekat kamar mandi, aku berpapasan dengan Dony.
“Loe baru nyampe, Sat?” tanya Dony. Dia memperhatikan bajuku lalu mengendus-endus. “Wangi bener loe. Pake parfum apaan nih?!” ledeknya konyol.
“Udah jangan nanya, Yang pasti mahal. Minggir, gue mau ke kamar mandi,” jawabku ketus sambil melewatinya.
“Baju loe kenapa, Sat?” Dony masih teriak, tapi aku tak menggubris. Aku langsung masuk ke kamar mandi.
Tak lama, aku keluar dengan seragam yang basah kuyup tapi setidaknya sudah tidak bau. Melihat keadaanku, aku jadi malas masuk kelas. Apalagi hari ini ada guru paling menyebalkan yang mengajar. Akhirnya, aku ajak Dony bolos.
“Gass!” Dony malah girang bukan main.
Diam-diam kami berjalan ke tempat biasa kami memanjat tembok untuk kabur dari sekolah. Dengan waswas kami menengok kanan-kiri, takut ketahuan guru.
Saat sedang bersiap memanjat, tanpa sengaja kami terlihat oleh teman wanita kami yang sedang lewat sendirian. Dia bernama MAYA. Teman dekat kami yang tomboy dan menyebalkan. Beruntungnya, kali ini Maya hanya diam. Mungkin dia sudah bosan menegur kami, kami selalu menhiraukanya, Jujur saja, aku dan Dony memang sering bolos sekolah, Hehe.
Kami berhasil memanjat tembok dan kabur dari sekolahan.
Aku mengikuti Dony ke parkiran liar tak jauh dari sekolah.
“Lah, motor loe di sini Don?” tanyaku heran. Biasanya dia parkir di dalam.
“Iya, gue sengaja taruh sini. Buat jaga-jaga kalo mau bolos. Hehe. Gue juga dari rumah emang lagi males sekolah Sat,! ” jawab Dony cengengesan.
“Ah, loe sih males mulu. Udah, yuk cabut!” ajakku.
Kami pun berangkat ke tempat biasa kami bolos sekolah.
Aku dan Dony pergi ke tempat biasa kami bolos, ke rental PS tak jauh dari sekolah. Siang itu kami habiskan dengan seru-seruan main game, lupa waktu, lupa dosa.
Sementara itu di sekolah, saat pelajaran dimulai, Pak Guru sadar aku dan Dony tidak ada di kelas. Beliau bertanya ke murid-murid, dan sialnya Maya malah celetuk, “Mereka bolos, Pak!”
Wajah Pak Guru langsung merah padam. “Kamu tau mereka biasa bolos ke mana?” tanya beliau lagi. Dan sialnya lagi, Maya tahu persis tempat bolos kami. Tanpa ragu dia kasih tahu semuanya.
Dengan langkah kesal, Pak Guru langsung menuju rental PS. Maya? Dia malah nyengir puas melihat Pak Guru pergi nyari kami.
Di rental, aku dan Dony masih asyik main. Kami tak sadar ada pak guru diam-diam datang dari belakang. Beliau tidak langsung menegur, hanya diam memperhatikan kami. Dony yang sedang serius karena kalah dariku, makin emosi.
“Serius banget mainnya...” tiba-tiba ada suara dari belakang. Kami tak menyadari itu suara Pak Guru.
“Berisik loe ah!” sahut Dony ketus tanpa menoleh.
Tak lama, game berakhir. Aku menang. Aku ketawa ngakak melihat Dony manyun.
“Hahh... curang loe ah!” gerutu Dony.
“Yah, kalah ya kalah aja. Emang dasar gue jago. Haha!” ledekku puas.
“Yah gimana sih, masa kalah. Payah...” tiba-tiba suara dari belakang menimpali lagi. Dony yang sudah emosi, langsung membanting stik PS.
“Berisik loe, taik loe ah! Gara-gara loe gue jadi...?...?” kalimat Dony terputus. Dia menoleh ke belakang dan... matanya membelalak. Yang ngomong ternyata Pak Guru.
Dengan muka pucat dan salah tingkah, Dony lanjut bicara, “...jadi malu sama Bapak... hehe.”