NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Wanita dengan Satu Koper

Dia tidak berencana kembali ke rumah itu.

Tapi pagi selalu punya caranya sendiri untuk mengkhianati keputusan yang dibuat di malam hari.

Ardi tidak tidur semalam. Bukan karena tidak bisa—tapi karena setiap kali matanya terpejam, sesuatu yang bahkan belum pernah dia lihat terus membayang. Bukan wajah. Hanya nama. *Maya.* Jadi dia memilih duduk di balkon apartemen sampai langit berubah dari hitam menjadi biru pucat, ditemani segelas wiski yang tidak pernah habis dan keheningan yang terlalu penuh isi.

Pukul enam, dia mandi. Pukul tujuh, mobilnya sudah melaju ke arah Menteng.

Tanpa tujuan yang jelas. Atau mungkin tujuan itu sudah jelas sejak awal—dia hanya tidak mau mengakuinya.

 

Rumah Hartono terlihat sunyi saat Ardi memarkir di garasi. Pagar besi hitam masih tertutup. Taman masih rapi. Tapi ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang tidak bisa dia lihat, hanya rasakan. Seperti ada kehadiran asing yang mengubah ritme udara di rumah ini.

Ardi keluar dari mobil, membawa tas kerja meskipun ini Sabtu. Alasan resminya: dokumen yang tertinggal. Alasan sebenarnya—dia tidak tahu. Mungkin hanya ingin melihat. Melihat bagaimana wanita bernama Maya itu menjalani pagi pertamanya di rumah yang dulu milik ibunya.

Pintu utama tidak terkunci. Dia masuk tanpa mengetuk.

Rumah itu gelap. Gorden-gorden masih tertutup rapat. Tidak ada bau kopi, tidak ada suara televisi, tidak ada langkah ART yang biasanya sudah sibuk sejak subuh. Hanya udara yang diam dan hangat—udara yang telah ditinggalkan oleh seseorang yang tidur terlalu lama atau tidak tidur sama sekali.

Ardi berhenti di tengah ruang keluarga. Mendengarkan.

Sunyi. Tapi tidak kosong.

Dari arah tangga, terdengar langkah kaki—pelan, berhati-hati, seperti tidak ingin mengusik sesuatu. Ardi mendongak.

Maya berdiri di anak tangga ketiga dari bawah.

Rambutnya masih basah, menempel di leher. Wajah tanpa riasan, pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan oleh cahaya pagi manapun. Kemeja putih lengan panjang yang terlalu longgar—mungkin punya Bram—basah di beberapa bagian karena tetesan air dari rambutnya. Kaki telanjang di atas tangga marmer.

Mereka berdua diam.

Mata Maya membesar sebentar. Lalu dia menunduk, menyilangkan tangan di depan dada—gerakan kecil yang lebih mirip pertahanan daripada kesopanan.

"Maaf," katanya pelan. "Aku tidak tahu ada yang datang."

Suaranya serak. Seperti habis menangis, atau belum selesai menangis.

Ardi memandangnya dari bawah. Wanita ini lebih pendek dari perkiraannya. Lebih kurus. Dan tanpa riasan, di cahaya pagi yang belum sempurna, dia terlihat—muda. Terlalu muda untuk menjadi istri siapapun di rumah ini.

"Aku Ardi."

Suaranya terdengar lebih dingin dari yang dia inginkan.

Maya mengangguk kecil. "Aku tahu. Bram sudah cerita tentang kamu."

Bram. Bukan suamiku*. Bukan Mas Bram. Langsung nama depan—seperti mereka dua orang yang baru kenal di seminar, bukan pasangan yang baru saja menikah. Ardi menyimpan pengamatan itu tanpa berkomentar.

Matanya bergerak ke sudut tangga.

Dua koper krem yang kemarin dia lihat di teras kini duduk rapi di samping tangga. Sebuah ransel hitam lusuh tersandar di dinding. Sepasang sepatu kets putih yang warnanya sudah memudar.

Itu saja. Tidak ada kardus, tidak ada barang-barang pindahan. Satu koper, satu ransel, satu pasang sepatu. Orang yang pindah ke rumah baru biasanya membawa lebih banyak dari ini. Atau mungkin dia memang tidak punya lebih banyak.

"Kamu sudah sarapan?"

Ardi bertanya bukan karena peduli. Tapi karena suasananya terlalu berat untuk dibiarkan diam.

"Belum." Maya menggeleng. "Aku tidak tahu ada yang masak."

"ART libur. Biasanya datang besok."

"Oh."

Satu suku kata. Tidak ada kelanjutan. Mereka terdiam lagi—Maya masih di tangga, Ardi masih di ruang keluarga. Lima meter terasa seperti lima mil.

"Aku buat kopi," kata Ardi akhirnya. "Kamu mau?"

Maya ragu sebentar. Lalu menurut.

 

Dapur rumah ini besar, tapi Ardi tahu persis di mana letak semua peralatan. Tangan bergerak otomatis—membuka lemari, mengambil biji kopi, menyalakan mesin penggiling yang jarang dipakai sejak ibunya meninggal. Suara gilingan mengisi keheningan, memberi alasan untuk tidak bicara, tidak berpikir, tidak merasakan ironi duduk di dapur ini bersama wanita yang bukan ibunya.

Maya duduk di meja dapur, tangan di pangkuan, mata mengikuti gerak-gerik Ardi dengan waspada—seperti kucing liar yang baru pertama kali masuk ke rumah orang lain.

"Kamu tinggal di sini?" tanyanya tiba-tiba.

"Tidak. Aku punya apartemen."

"Oh." Lagi-lagi suara itu. Kecil, menggantung. "Maaf, aku tidak tahu. Bram bilang kamu kadang menginap."

Bram bilang. Ardi hampir tersenyum pahit. Ayahnya tidak pernah tahu kebiasaannya—tidak pernah tahu banyak hal tentang dirinya. Tapi rupanya, pada wanita ini, dia menceritakan hal-hal yang tidak pernah dia tanyakan langsung kepada anaknya sendiri.

"Aku jarang ke sini," katanya sambil menuang air panas ke dalam dua cangkir. "Hanya kalau ada keperluan."

Cangkir berpindah tangan. Jari-jari mereka hampir bersentuhan. Maya menarik cepat, seperti tersengat sesuatu yang tidak terlihat.

Ardi berpura-pura tidak melihat.

Mereka minum kopi dalam diam. Di luar, matahari mulai naik. Sinarnya menembus jendela dapur perlahan, memotong debu-debu kecil yang berkilauan di udara—seperti serpihan waktu yang tidak tahu harus jatuh ke mana.

Dari balik ujung cangkirnya, Ardi memperhatikan Maya. Wanita ini tidak melihat ke arahnya. Matanya tertuju pada sesuatu di dinding—foto keluarga lama. Ardi kecil, berdiri di antara dua orang dewasa yang sudah lama tidak berdiri bersama.

"Kamu mirip ibumu," kata Maya pelan.

Cangkir Ardi mendarat di meja lebih keras dari yang dia rencanakan.

"Kamu tidak kenal ibuku."

Maya tersentak. Matanya beralih ke Ardi—dan untuk pertama kalinya sejak masuk dapur, dia tidak menunduk. Mereka saling menatap. Mata Maya cokelat tua, lembab, seperti menyimpan air yang belum selesai jatuh. Dia tidak melawan. Tapi juga tidak mundur.

"Maaf," katanya akhirnya. "Aku hanya... melihat foto itu. Tidak bermaksud—"

"Tidak usah." Ardi berdiri, membawa cangkirnya ke wastafel. Punggungnya membelakangi Maya. "Aku hanya mengambil dokumen. Nanti aku pergi."

Dia keluar dari dapur tanpa menoleh.

 

Di ruang kerja ayahnya, Ardi membuka lemari dokumen tanpa benar-benar mencari apa pun. Jarinya bergerak di antara map-map berurutan—tapi pikirannya tidak di sini. Pikirannya masih di dapur. Masih di foto itu. Masih di suara Maya yang mengatakan kalimat yang tidak pernah dia minta siapapun untuk mengatakannya.

Kamu mirip ibumu.

Orang terakhir yang mengatakannya adalah ibu itu sendiri.

Ardi mengambil sebuah map dari lemari. Kosong. Tidak ada isinya. Dia membawanya keluar, melewati ruang keluarga, menuju pintu—tanpa melihat ke arah dapur. Tanpa mengucapkan apa pun.

Pintu menutup lebih keras dari yang dia rencanakan.

 

Seharusnya dia pergi.

Tapi mobilnya tidak bergerak dari garasi. Ardi duduk di balik setir, menatap fasad rumah dari balik kaca depan. Rumah yang dulu selalu berbau masakan dan suara ibunya yang menyanyi tidak rapi tapi penuh—kini terasa seperti tempat yang dipinjam oleh orang asing.

Dan di dalamnya, ada wanita yang dia benci tanpa alasan yang cukup.

Atau mungkin alasannya terlalu jelas: wanita itu ada di rumah yang seharusnya hanya menjadi kenangan. Wanita itu melihat foto keluarganya dan berani berbicara tentang ibunya seolah dia berhak.

Ardi menyalakan mesin.

Tapi matanya menangkap gerakan di jendela dapur.

Maya berdiri di sana—memegang cangkir kopi yang setengah penuh, menatap ke arah garasi. Ke arah mobil. Ke arah Ardi. Wajahnya tidak bisa dibaca dari jarak ini. Tapi dia tidak memalingkan muka.

Untuk sesaat, mereka bertatapan dari balik dua lapis kaca.

Lalu Maya tersenyum.

Bukan senyum bahagia. Bukan senyum yang meminta sesuatu. Senyum kecil yang pahit—seperti dia tahu Ardi membencinya, memahami kenapa, dan tidak bisa menyalahkannya.

Ardi menginjak gas.

Mobil meluncur keluar gerbang, meninggalkan jalan Menteng, meninggalkan rumah, meninggalkan Maya dan cangkir kopinya. Tapi sepanjang perjalanan, senyum itu terus ada—menempel di pinggir kesadarannya seperti noda yang tidak mau pergi bersama kecepatan.

Bukan karena indah.

Tapi karena di balik senyum itu, ada sesuatu yang tidak dia mengerti. Sesuatu yang lebih berbahaya dari kebencian.

 

Malam harinya, Ardi kembali ke rumah Menteng.

Alasannya: Bram telepon, memintanya menjaga rumah karena ada dokumen penting—Bram sendiri berangkat ke Surabaya mendadak. Ardi tahu itu hanya alibi. Dokumen penting tidak pernah ditinggal tanpa pengamanan. Tapi dia tidak menolak.

Mungkin karena senyum Maya terus mengganggunya.

Rumah gelap ketika dia tiba. Hanya lampu taman yang menyala redup, membilas halaman dengan cahaya kuning pucat. Ardi masuk dengan kuncinya sendiri—langkah pelan di lantai marmer, tidak ingin mengusik keheningan yang sudah terbentuk.

Tidak ada Maya di ruang tamu. Tidak ada di dapur. Mungkin sudah tidur.

Ardi naik ke lantai dua. Di lorong, dia melewati pintu kamar utama—kamar yang dulu milik orang tuanya, kini milik Bram dan Maya. Pintu tertutup rapat. Tidak ada cahaya dari balik celah bawahnya.

Dia masuk ke kamarnya sendiri. Semua masih sama: sprei biru tua, meja belajar penuh buku, lemari yang setengah kosong. Ruang yang membeku di suatu titik waktu dan memilih untuk tidak bergerak.

Ardi membuka jurnal. Menulis beberapa kalimat—tentang senyum Maya, tentang kebencian yang mulai terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri. Lalu dia meletakkan buku di meja, berdiri, berjalan ke kamar mandi.

Pintu terbuka sedikit. Dia mendorongnya tanpa berpikir.

Dan membeku.

Air masih mengalir dari keran. Uap tipis mengambang di udara yang sempit. Dan di depan wastafel, dengan handuk yang baru setengah melilit tubuhnya, Maya berdiri—kaku, terkejut, mata merah dan basah. Air mata masih mengalir di pipinya, bercampur dengan tetesan air dari rambutnya yang belum kering.

Ardi tidak bergerak. Tidak bisa.

Maya lebih dulu bereaksi. Tangannya meraih tepi handuk, menariknya lebih erat—tapi tidak berteriak. Tidak marah. Hanya menunduk, bahunya bergetar pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.

"Aku... kira pintunya terkunci," bisiknya. Suaranya pecah di ujung.

Ardi mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tiga—sampai punggungnya membentur dinding lorong yang dingin.

"Maaf." Suaranya sendiri terasa asing di telinganya. "Aku tidak tahu... aku tidak—"

Maya tidak menjawab.

Di balik pintu yang setengah tertutup, Ardi melihat bahunya terus bergetar. Tangis yang dikunci dari dalam. Dia harus pergi. Seharusnya sudah pergi dua langkah yang lalu. Tapi kakinya tidak menerima perintah itu.

"Aku... hanya tidak terbiasa sendiri."

Suara itu muncul dari balik pintu. Lembut. Rapuh. Seperti perempuan yang sedang berbicara kepada dinding—bukan kepada Ardi, tapi Ardi mendengarnya. Mendengarnya dengan cara yang tidak dia inginkan.

Dia menggenggam gagang pintu. Perlahan menariknya. Bunyi klik kunci terdengar jelas di lorong yang sunyi—seperti titik di akhir kalimat yang tidak ada kelanjutannya.

Ardi kembali ke kamarnya. Menutup pintu. Duduk di tepi ranjang dengan kepala di kedua tangan.

Di luar, di balik dua lapis kayu, suara tangis Maya merayap—pelan, tertahan, tapi nyata. Masuk ke bawah pintu. Mengisi ruangan. Menetap di tempat yang tidak bisa dia usir.

Dia membuka jurnal. Tangannya sedikit gemetar saat pena menyentuh kertas.

Aku seperti ayahku.

Lima kata. Ardi menatapnya lama. Lalu menutup buku—keras, seperti ingin memenjarakan kalimat itu sebelum dia sempat mengakui bahwa itu bukan satu-satunya hal yang benar malam ini.

Karena jika dia jujur, yang mengganggunya bukan tangis itu sendiri.

Yang mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak bisa berhenti mendengarkannya.

Ardi memejamkan mata.

Suara itu tidak pergi.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!