NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Hampir satu jam Papa Habibie Habibi di dalam ruang UGD.

Liana menggenggam tangan Mama Prameswari dan memintanya untuk tenang.

Ceklek!

Dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri mereka.

"Dok, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Liana dengan wajah yang cemas.

"Kondisi Pak Habibie sangat kritis. Serangan jantung ini dipicu oleh tekanan emosional yang hebat. Saat ini kami sudah menstabilkan kondisinya, tapi jantungnya masih sangat lemah." jawab dokter.

Kemudian dokter mengajak Liana masuk kedalam ruang UGD.

Liana melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk.

Di atas ranjang, Papa Habibie terbaring lemah dengan berbagai kabel menempel di dadanya.

Namun, begitu melihat Liana, sebuah senyum tipis terukir di wajah pucatnya.

"Liana..." bisik Papa Habibie.

Liana segera mendekat dan menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin.

"Papa, maafkan Liana. Liana janji nggak akan buat Papa sakit lagi. Papa harus sembuh."

Papa Habibie menggerakkan jemarinya, mencoba membalas genggaman Liana.

"Liana, Papa hanya ingin melihatmu aman, Nak. Paman Abi, dia orang baik. Papa tidak punya banyak waktu untuk memastikan ada yang menjagamu."

"Papa, tolong jangan bicara seperti itu. Papa pasti akan sembuh." ucap Liana.

Papa Habibie memejamkan matanya sejenak, napasnya terdengar berat di balik masker oksigen.

"Berjanjilah pada Papa, Liana. Menikahlah dengan Abi. Hanya itu yang bisa membuat Papa tenang."

Liana menoleh ke arah pintu UGD yang sedikit terbuka.

Di sana, ia bisa melihat bayangan Abi yang berdiri tegak namun dengan kepala tertunduk, serta Mamanya yang masih terisak.

Di satu sisi, ada harga dirinya sebagai wanita yang tak ingin menjadi yang kedua, namun di sisi lain, ada nyawa ayahnya yang seolah bergantung pada jawabannya.

"Iya, Pa. Liana akan menikah dengan Paman Abi. Apapun demi Papa, asal Papa tetap di sini bersama kami."

Mendengar jawaban dari putrinya, Papa Habibie tampak sedikit lebih rileks.

Genggaman tangannya pada jemari Liana mengerat sesaat sebelum ia kembali memejamkan mata untuk beristirahat.

Liana bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang UGD.

"A-aku akan menikah dengan Paman Abi," ucap Liana.

Mama Prameswari yang mendengarnya langsung memeluk tubuh putrinya.

"Sekarang kamu pulang dulu, Liana. Nanti Tante Rani akan datang ke rumah untuk menyiapkan pernikahanmu dengan Abi." ujar Mama Prameswari.

Liana menganggukkan kepalanya dan ia mengambil tasnya.

"Liana, aku antar kamu pulang," ucap Abi.

"Tidak usah, Paman. Aku naik taksi saja," ujar Liana sambil berjalan ke luar rumah sakit.

Abi menghela nafas panjang saat melihat Liana yang tidak mau ia antar.

Ia berdiri di lobi rumah sakit, menatap jalanan yang basah karena sisa gerimis. Meskipun ia menolak tawaran Abi, nyatanya mencari taksi di jam sedini ini tidaklah mudah.

Baru saja ia hendak membuka aplikasi transportasi di ponselnya, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.

Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah Abi yang tenang namun menyimpan ketegasan yang tak bisa dibantah.

“Masuklah, Liana. Ini sudah terlalu malam untuk seorang wanita sendirian. Jangan membuat orang tuamu makin khawatir jika terjadi sesuatu padamu di jalan,” ucap Abi dengan wajah khawatir.

Liana sempat ragu, namun rasa lelah yang luar biasa akhirnya mengalahkan egonya.

Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, menjaga jarak sejauh mungkin dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kabin mobil.

Hanya suara mesin halus dan rintik hujan yang menghantam kaca.

Liana menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang tampak kabur karena air mata yang kembali menggenang.

“Liana, aku tahu ini bukan pernikahan yang kamu impikan. Aku juga tahu, menjadi yang kedua bukanlah pilihan bagi wanita manapun.”

Liana tertawa getir tanpa menoleh ke arah Abi yang mengajaknya bicara.

“Lalu kenapa Paman setuju? Paman punya segalanya. Paman bisa mencari wanita lain yang mau, bukan memaksaku yang sudah menganggap Paman seperti keluarga sendiri.”

Abi terdiam sejenak dengan tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.

“Ada janji di masa lalu yang tidak kamu pahami. Dan tentang Genata, dia tulus menginginkan ini. Dia sangat menyayangimu, Liana.”

“Menyayangiku dengan menjadikanku alat untuk memberi keturunan? Itu bukan kasih sayang, Paman. Itu pengorbanan yang dipaksakan.” ucap Liana dengan nada protes.

Abi menghela nafas panjang dan tidak memperpanjang obrolan mereka.

Beberapa menit kemudian Abi menghentikan mobilnya di depan rumah Liana.

Liana langsung membuka pintu dan masuk kedalam rumah.

Abi kembali melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.

Sementara di sudut kota yang berbeda, di sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis, suasana malam terasa hening namun penuh beban.

Lampu gantung ruang keluarga menyala temaram, menyinari dua sosok yang tengah duduk di sofa besar berlapis beludru abu-abu.

Genata menyandarkan kepalanya di dada suaminya, Abi.

Tangannya melingkar di pinggang pria yang telah menjadi suaminya selama hampir lima tahun.

Di luar, hujan turun pelan, membasahi kaca jendela, seakan menjadi pengiring bagi kisah yang akan berubah selamanya.

Abi mengelus rambut Genata pelan dengan tatapannya yang kosong menembus jendela.

Di hatinya, ada banyak kata yang ingin ia ucapkan, tapi semua terasa berat, seperti ada beban yang mengikat lidahnya.

“Sayang…” panggil Abi.

“Hm?” Genata menoleh sedikit, masih dalam pelukannya.

“Kenapa? Kamu kelihatan gelisah sejak pulang dari rumah Mas Habibie tadi.”

Abi menarik napas panjang, lalu menatap mata istrinya.

Mata yang dulu selalu ia cari saat dunia terasa berat.

Mata yang penuh kasih, tapi juga menyimpan luka yang tak pernah mereka bicarakan dengan lantang dan ketidakmampuan mereka memiliki anak.

“Aku sudah bertemu dengan Liana dan mereka menyetujui dan dia juga sudah bilang iya.”

Genata perlahan menarik tubuhnya, menjauh sedikit agar bisa menatap wajah suaminya dengan lebih jelas.

“Liana…” ulangnya pelan. “Jadi, semuanya sudah terjadi?”

Abi menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan istrinya.

“Dia akan jadi istri kedua, atas permintaan kamu," ucap Abi.

Genata menundukkan wajahnya dengan jari-jarinya gemetar halus.

Ia sendiri yang mengusulkan agar Abi menikah lagi.

Ia sendiri yang mendorong suaminya untuk mencari keturunan.

Ia sendiri yang merasa bersalah karena rahimnya tak bisa memberi Abi seorang anak. Tapi tetap saja saat kenyataan itu benar-benar datang, sakitnya tak bisa dicegah.

“Dia tahu kamu sudah menikah?” tanya Genata pelan.

“Iya. Dia tahu. Dia akan jadi istri kedua, bukan karena cinta tapi karena desakan orang tuanya.”

“Dan kamu setuju?”

“Aku nggak punya pilihan, sayang. Karena kamu yang memintaku untuk mencari madu-mu dan mereka minta pernikahan ini disegerakan. Beberapa hari lagi.”

Genata menutup mulutnya, berusaha menahan gemuruh dalam dadanya.

“Aku pikir aku siap, tapi sekarang aku takut.Aku takut kehilangan kamu, Bi. Takut hatimu akan pindah."

“Kamu nggak akan pernah aku tinggalkan, Genata. Kamu tetap yang pertama. Yang paling aku cintai. Ini hanya sebuah jalan lain, untuk sesuatu yang kita inginkan bersama.”

“Anak…” Genata menyelesaikan kalimatnya dengan suara lirih.

Abi menganggukkan kepalanya dan Genata mengalihkan pandangan.

Hujan di luar semakin deras, tapi di dalam hatinya, badai baru saja mulai.

Malam masih basah oleh sisa hujan dan angin dari ventilasi perlahan menyapu gorden putih tipis di kamar tidur utama Abi dan Genata.

Lampu tidur menyala redup di meja sisi ranjang, memberikan cahaya lembut yang nyaris tak cukup untuk menghapus bayangan duka di wajah Genata.

Abi duduk di sisi ranjang dengan sebuah amplop kecil di tangannya.

Jemarinya ragu membukanya, seakan lem kertas itu adalah segel takdir yang sulit diterima. Tapi ia tahu, menyembunyikan wajah Liana dari Genata hanya akan menambah curiga.

Hari pernikahan akan dilakukan esok hari dan kenyataan ini harus mereka hadapi bersama.

“Gen…” Abi memanggil lembut.

Genata yang tengah bersandar sambil memeluk lututnya menoleh pelan.

“Ini foto Liana.”

Genata menatap amplop itu dengan sedikit gentar, seolah benda kecil itu bisa menorehkan luka lebih dalam dari apa pun yang pernah ia rasakan. Dengan tangan yang bergetar, ia menarik selembar foto dari dalam amplop.

Foto berukuran 4R dengan latar pantai dan matahari senja.

Liana berdiri mengenakan gaun santai warna krem, rambutnya tertiup angin, senyumnya tipis tapi menyimpan kesedihan yang entah kenapa begitu terasa bahkan lewat selembar foto.

“C-cantik ya, Bi,” ucap Genata dengan suara yang hampir tak keluar.

Bibirnya bergetar, mencoba tersenyum, tapi matanya mulai memerah.

“Gen, kamu nggak perlu pura-pura.”

“Aku nggak pura-pura, Bi. Dia memang cantik, masih muda, lembut dan kelihatan tulus. Apa kamu sudah mulai menyukainya?”

"Aku memang sudah kenal dia dari dia kecil, Gen. Tapi, semuanya terjadi begitu cepat. Aku bahkan belum tahu apakah dia masih suka dengan makanan yang dulu? Atau bagaimana dia tertawa. Tapi yang aku tahu dia terpaksa masuk ke hidup kita. Sama terpaksa seperti kita membiarkannya masuk.”

Genata menggenggam foto Liana lebih erat, lalu menunduk.

“Jadi kita semua korban, ya?”

“Bisa dibilang begitu,” jawab Abi pelan.

Beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup berlalu, sebelum akhirnya Genata meletakkan foto itu di meja kecil samping ranjang.

“Aku cuma takut satu hal, Mas. Kalau kamu suatu hari lebih memilih dia. Lebih mencintai serta lebih nyaman sama dia dan aku perlahan jadi bayang-bayang yang kamu lupakan.”

Abi segera meraih tangan Genata dan menggenggamnya erat.

“Jangan pernah pikir begitu, Gen. Liana mungkin akan jadi bagian dari hidup kita, tapi kamu adalah awal dari segalanya. Kamu perempuan pertama yang aku nikahi, yang aku cintai sepenuhnya. Aku nggak akan pernah lupakan itu.”

Air mata Genata tumpah tanpa suara. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba meredam semua kecamuk dalam dadanya.

“Maaf, karena semua ini harus terjadi.”

Di bawah cahaya lampu temaram itu, mereka berdua terdiam dalam pelukan panjang dan pelukan dua hati yang sama-sama terluka tapi masih mencoba bertahan.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!