NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Langkah Menuntun ke Kenyataan

Waktu ketiga pekerjaan paruh waktu Anjani dimulai dari jam 17.00 hingga jam 21.00.

Sekarang dia sudah di sana, di pukul 19.30 yang terasa semakin hampa.

Sebuah roti lapis kemasan tengah dikunyahnya dengan perlahan sembari menatap jalanan di luar kaca toserba. Gerimis kecil tersebar membasahi jalan. Toko mendadak sepi seolah ikut mengolok perasaan yang sedang galau.

Tidak satu pun membeli mie instan atau sekedar numpang berteduh di luar, mereka enggan atau mungkin punya tempat yang lebih baik dari sekedar toserba kecil yang malam ini dijaga Anjani, sendiri.

Wanita itu sedang mengutuk diri dengan kesialannya hari ini.

"Aku ingin cepat bertemu Woojun, aku ingin tanyakan siapa wanita itu, tapi ... aku takut kecewa."

Tenggelam dengan imaji-nya sendiri, suara gemeresak di belakang nampak tidak mengusiknya. Ternyata Anjani salah, seseorang sudah masuk ke dalam sana dan sedang memilih sesuatu di rak kebutuhan rumah.

Pikirannya benar-benar sesak dikuasai Woojun sampai jadi sekonyol itu, tak menyadari seseorang mendorong pintu untuk membeli barang dagangan.

"Nona Kasir, bisa kau hitungkan belanjaanku?"

Membuat Anjani tersentak langsung menoleh.

"Ah, maafー" Langsung berbalik badan. Tapi wajah bermasker itu sungguh mengejutkannya. "A-anda ...?"

"Kita bertemu lagi ya, Nona. Aku kebetulan lewat sini dan butuh sesuatu," jawab pembeli itu, dari matanya ada senyuman.

Meski sedang kacau pikiran, ingatan Anjani tidak ikut buruk untuk mengenali sosok yang beberapa kali dilihatnya di toko roti milik Nam Jisu.

Tuan Berkaki Panjang.

"Maaf aku tak mendengar Anda, Tuan,” Anjani menyesalkan, gegas diraihnya barang belian dari tangan lelaki itu. "Akan kuhitung belanjaannya."

Dengan kedua tangan terselip di kiri dan kanan saku long coat yang dikenakan, pria itu mengekori Anjani menuju meja kasirnya. Senyum di sorot matanya langsung memudar, berganti tatapan datar yang seakan mengutuk udara dengan kedipan.

Sekarang Anjani sedang menghitung dan memasukkan belanjaan pria itu ke dalam kantong. Hanya satu pak kantong sampah dan dua varian pengharum ruangan yang dibelinya. Totalnya kurang dari tujuh ribu won, pria itu membayar dengan uang cash.

"Terima kasih, selamat datang kembali."

Pria itu tersenyum tipis saja, kemudian berlalu keluar dengan kantong belanjaan ditenteng tangan kirinya. Sekilas matanya melirik Anjani, lalu bergegas.

Sampai jam pulangnya pun tiba, toserba diambil alih oleh pemilik yang seorang bapak paruh baya berusia 40-an bernama Kwon Seokjin.

"Terima kasih, Anjani. Jaga kesehatanmu dan istirahatlah," ucap pria itu seperti biasa dengan keramahan yang menyenangkan.

"Baik, Tuan Kwon. Terima kasih. Aku permisi pulang."

Tas lusuhnya sudah tersampir di pundak, Anjani keluar dari toserba dengan wajah seperti anak sekolah gagal ujian.

Gerimis belum pudar, masih merantai dari ketinggian langit dan kini menimpa Anjani juga. Wanita itu tak peduli, terus berjalan menyusur aspal yang sudah basah.

Di beberapa jarak, dia berhenti. Merogoh ponsel di dalam tas lalu membuka laman berbalas pesan.

Kontak suaminya yang dia beri nama: My Woojun❤️

-𝙹𝚊𝚖 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚔𝚊𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚞𝚕𝚊𝚗𝚐?

Tidak jadi, kalimat itu kembali dihapusnya, lalu mengetik yang lain.

-𝙱𝚒𝚜𝚊 𝚔𝚊𝚞 𝚙𝚞𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝? 𝙰𝚔𝚞 𝚒𝚗𝚐𝚒𝚗 𝚋𝚒𝚌𝚊𝚛𝚊

Kedap-kedip spasi ditatapnya, lalu ... “Tidak.”

Ketikan dihapus lagi. Pikirannya berputar, bisa saja Woojun sudah di rumah, 'kan?

Lalu ....

-𝙺𝚊𝚞 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚙𝚞𝚕𝚊𝚗𝚐?

Itu yang pada akhir dipilihnya, masih centang satu saat dia tatap sebanyak lima ketukan detik. Melupakannya sementara, Anjani akan menunggu sambil berjalan. Ponsel dicengkram dalam genggaman dan terayun di kiri tubuh.

Saat langkah baru tersusun beberapa saja, suara balasan terdengar. Dicek-nya tanpa babibu.

My Woojun❤️: 𝚂𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚋𝚒𝚊𝚜𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚊𝚖𝚋𝚊𝚝. 𝙺𝚊𝚞 𝚝𝚒𝚍𝚞𝚛 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚍𝚞𝚕𝚞𝚊𝚗. 𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚗 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚔 𝚊𝚙𝚊 𝚙𝚞𝚗 𝚔𝚎𝚌𝚞𝚊𝚕𝚒 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚍𝚒𝚛𝚒𝚖𝚞 𝚜𝚎𝚗𝚍𝚒𝚛𝚒. 𝙰𝚔𝚞 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚓𝚊𝚝𝚊𝚑 𝚖𝚊𝚔𝚊𝚗𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚜𝚒𝚗𝚒.

Balasan itu ditatap dengan mata tanpa berkedip, menyusul satu hentakan keras dari jantungnya. Perasaan ngilu dalam hati menyergap keras.

Sampai sebersit pikiran melintasi kepala yang sempat kosong untuk beberapa saat.

Taksi di jalanan dia hentikan, lalu masuk ke dalamnya tanpa pertimbangan apa pun.

"Hang Food, Pak."

Setelah tujuan disebutkan pada sang supir, mobil melaju cepat.

Anjani tak peduli lagi dengan argometer taksi yang berjalan, menghabiskan sedikit uang demi sebuah kepastian, tidak akan membuatnya jadi gelandangan dalam sehari.

HANG FOOD, ukiran besar nama pabrik yang mempekerjakan Ahn Woojun di dalamnya itu kini sudah di depan mata.

"Nona, Anda mencari siapa?" Seorang satpam menghampiri Anjani yang berdiri celingukan ke dalam pabrik, di depan gerbang yang tidak tertutup.

"Woojun, Ahn Woojun, pekerja baru bagian melipat kardus kemasan, apakah sudah pulang?"

"Oh, bagian melipat ya ... bagian itu sudah pulang sejak jam tujuh tadi, Nona."

Jawaban dan pemberitahuan satpam membuat Anjani tertegun, juga terkejut di waktu sama.

"Oh, jam tujuh ya, Pak?”

“Iya.”

“Apakah seperti itu setiap hari?"

“Betul, Nona. Itu sudah termasuk satu jam lembur.”

Sesuatu yang berat lagi-lagi menghantam dada Anjani. Napas dipautnya kasar, lalu memaksakan tetap tersenyum di depan satpam yang ditanyai.

“Sepertinya saya salah informasi, Pak, maaf. Saya permisi. Terima kasih." Merunduk tipis, lalu berbalik dan pergi setelah diangguki satpam.

“Sepertinya dia bukan asli Korea, matanya bulat dan bibirnya terlihat seksi.”

Langkah terkatung, perasaan Anjani bertambah buruk setelah tahu bahwa Woojun telah berbohong.

“Kemana dia? Apa yang sedang dilakukannya? Apakah dengan wanita itu lagi?" Sesak pertanyaan dalam kepala, tidak satu pun bernilai positif.

Udara dingin tidak memengaruhi hati yang sudah panas.

Bangku halte diduduki Anjani setelah berjalan kurang lebih 150 meter dari halaman pabrik, sembari menunggu bus dengan wajah lesu dan lusuh.

Tidak lagi dengan taksi, uangnya tak akan cukup.

Bus terakhir pun datang dan Anjani menaikinya. Di perjalanan, semua terasa gelap walau lampu-lampu terang menyala.

Itu karena hatinya.

Saat sampai, tepat bus yang menurunkannya baru saja berlalu, mata Anjani terpaku pada sebuah pemandangan di tepi jalan yang sama dengan yang dipijaknya.

Mobil putih itu lagi, mobil yang tadi pagi dinaiki Woojun. Dan di dalamnya ... sesuatu lebih membakar hati dibanding kebohongan tentang jam kerja.

Meski sedikit kelam suasana, Anjani masih bisa melihatnya lumayan jelas dari depan seperti ini.

Ahn Woojunーsuaminya, dan wanita muda yang tadi pagi, sedang berpeluk cumbu di dalam mobil.

Gemetar kakinya melangkah sampai berakhir tepat di depan mobil.

Keberadaannya disadari lebih dulu oleh Ahn Woojun.

“Anjani!”

Air mata Anjani sudah berjatuhan, tapi wajahnya datar seolah kebas.

Pelukan dilepas cepat oleh Ahn Woojun, menjauhkan diri dari wanita yang dia cumbui. Wanita itu terkejut langsung ikut menoleh pada sejurus tatapan Woojun.

“Dia siapa?"

Woojun tidak menjawabnya.

Setelah menjadi tolol dengan keterkejutan, dia keluar lalu menghampiri Anjani. “Anja ... sejak kapan kau di sini?”

Tidak menjawab Woojun, tatapan Anjani menyorot wanita yang masih diam di dalam mobil, lalu menajam ke wajah suaminya lagi.

"Apa ... yang kau lakukan, Ahn Woojun? ... Dan siapa wanita itu?”

Woojun terkejut, sedikit melebar bola matanya. Panggilan Anjani padanya ... langsung berubah, menggunakan lengkap dengan marganya.

Jika sudah begitu berarti ...

Namun dalam sekejap pria ini sudah menguasai diri dan bersikap kembali santai.

“Hanya temanku.”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!