NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1. Namanya Hanum Sekar Salsabila

Langit pedesaan Garut sore itu berwarna jingga pucat. Angin berembus pelan melewati hamparan sawah yang mulai menguning, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji di surau kecil ujung kampung, bercampur dengan bunyi ayam pulang kandang dan gesekan daun bambu yang saling beradu.

Rumah sederhana milik keluarga Rahman berdiri tenang di tengah halaman luas yang di penuhi pohon mangga, jambu air, dan beberapa tanaman buah lain yang di tanam almarhum Bapak Rahman bertahun-tahun lalu. Dulu rumah itu selalu ramai oleh ibu-ibu pengajian yang datang selepas asar. Tawa mereka sering memenuhi teras rumah sambil menunggu Bu Rahman selesai membuat teh manis hangat.

Namun sudah seminggu terakhir, rumah itu terasa berbeda.

Terlalu sunyi.

Pengajian ibu-ibu di masjid bahkan diliburkan sementara karena Bu Rahman jatuh sakit. Dan tiga hari lalu, semuanya semakin memburuk ketika perempuan sepuh itu terpeleset di kamar mandi selepas subuh. Sejak saat itu tubuhnya melemah dramatis.

Kini Bu Rahman hanya bisa berbaring di atas ranjang tua di kamarnya.

Tubuhnya semakin kurus. Tulang pipinya menonjol. Tatapannya kosong lalu tiba-tiba kembali sadar, seolah ingatannya berjalan pergi lalu pulang sesuka hati.

Kadang ia mengenali orang-orang disekitarnya, kadang tidak.

"Bu...minum dulu sedikit," ucap Indah pelan, putri sulungnya.

Perempuan berjilbab cokelat itu duduk di samping ranjang sambil menyodorkan sendok berisi air hangat. Namun bibir Bu Rahman hanya bergerak sedikit sebelum kembali diam.

Di sudut kamar, Mila-- kakak kedua Galang-- menahan tangis sambil melipat mukena ibunya yang sejak seminggu lalu tak pernah di pakai lagi.

Padahal biasanya, bahkan saat hujan deras sekalipun, Bu Rahman selalu berjalan ke mesjid untuk mengajar ibu-ibu mengaji.

Sekarang bangun dari posisi tidur saja sudah sulit.

"Barusan ibu nanyain Bapak," bisik Mila lirih, "katanya Bapak belum pulang ngajar."

Indah langsung menunduk.

Pak Rahman sudah meninggal empat bulan lalu.

Suasana kamar mendadak semakin berat.

Di atas ranjang, Bu Rahman memejamkan mata dengan napas yang terdengar pelan dan tidak teratur. Sesekali dadanya naik turun lebih dalam seperti sedang menahan sesuatu yang sakit di dalam tubuhnya.

Sementara di sisi ranjang, Galang duduk diam.

Putra bungsu keluarga itu mengenakan kaus hitam sederhana dan celana training abu-abu. Wajahnya terlihat lelah. Matanya sembab karena kurang tidur selama beberapa hari terakhir.

Tangannya terus menggenggam tangan ibunya erat.

Hangat tangan itu mulai berbeda.

Tidak sekuat dulu.

Galang menelan ludah susah payah.

Sebagai seorang dokter, ia tahu apa arti tatapan kosong, napas melemah, dan tubuh yang perlahan kehilangan tenaga seperti ini.

Tapi sebagai anak...

Ia belum siap.

"Bu..." suaranya serak. "Galang di sini."

Pelan sekali, kelopak mata Bu Rahman bergerak membuka.

Tatapannya samar menatap wajah putra bungsunya.

Beberapa detik perempuan itu diam, sebelum bibir pucatnya bergetar pelan.

"...Bapak?"

Dada Galang langsung terasa di remas.

Indah menutup mulutnya cepat-cepat agar isaknya tidak terdengar.

Galang tersenyum tipis meski matanya mulai memanas.

"Bukan, Bu..." bisiknya lirih sambil mengusap punggung tangan ibunya. "Ini Galang."

Bu Rahman mengernyit kecil seperti sedang berusaha mengingat sesuatu yang sangat jauh. Lama sekali ia menatap wajah putranya sebelum akhirnya air mata jatuh dari sudut matanya yang keriput.

"...Galang..."

"Iya, Bu."

"Kamu pulang..."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat dada Galang semakin sesak.

Karena selama beberapa tahun terakhir, ia bekerja sebagai dokter anestesi di kota. Waktu Galang untuk pulang memang semakin sedikit. Ia lebih sering sibuk dengan rumah sakit, seminar dan sosialiasi.

Dan kini...

Saat ia akhirnya benar-benar pulang, ibunya justru sedang berada di ambang kehilangan kesadaran.

Angin sore masuk dari jendela kamar membawa aroma daun mangga yang jatuh di halaman.

Bu Rahman kembali memejamkan mata. Jarinya bergerak lemah menggenggam tangan Galang.

"Indah...siapkan beberapa camilan. Sebentar lagi tamu akan berdatangan." Ucap Bu Rahman seraya kembali membuka matanya.

Indah dan Mila saling berpandangan. Bu Rahman kembali menggenggam tangan putranya, lalu tersenyum kecil.

"Galang, ibu akan merasa tenang jika kamu sudah ada yang ngurusin kamu." Kata Bu Rahman seolah tidak sedang sakit.

Galang tersenyum, ia tertunduk seraya mengusap punggung tangan ibunya lembut.

"Ibu nggak usah khawatir, kan ada teh Indah sama teh Mila." Jawab Galang.

Bu Rahman diam sejenak. Napasnya tetap pelan.

"Jangan kemana-mana lagi, Nak. Ibu suka kamu tinggal disini. Ibu nggak mau kamu jauh-jauh. Ibu mau lihat kamu sama istrimu tinggal di sini. Kalau ibu pergi, dan kamu sudah ada yang ngurusin...ibu bisa pulang dengan tenang." Ujarnya membuat Galang terhenyak.

Suara mobil yang berhenti di halaman rumah memecah kesunyian sore itu.

Indah yang sedang berada di ruang tengah langsung berjalan menuju pintu utama. Dari ambang pintu, terlihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah. Beberapa tetangga yang sejak tadi duduk di gardu dekat mushola ikut melirik ke arah rumah keluarga Rahman.

Pintu mobil terbuka perlahan.

Seorang perempuan paruh baya turun lebih dulu. Ia mengenakan gamis abu muda dengan kerudung panjang senada. Wajahnya teduh, tetapi tampak menyimpan rasa khawatir. Di belakangnya turun seorang lelaki berkacamata dengan batik cokelat tua.

Dan terakhir...

Seorang perempuan muda melangkah turun pelan.

Cantik.

Wajahnya lembut dengan kulit sawo matang cerah khas perempuan Sunda. Gamis sederhananya berwarna putih tulang dengan cardigan rajut krem panjang. Kerudungnya dipakai rapi tanpa banyak aksesoris, justru membuat penampilannya terlihat tenang dan hangat.

Perempuan itu memandang rumah sederhana di depannya cukup lama.

Halaman luas dengan pohon jambu air yang rindang, pot-pot bunga tua, dan kursi kayu panjang di teras membuat suasana rumah itu terasa damai meski sedang diliputi kesedihan.

"Assalamualaikum..." suara Bu Dewi terdengar hati-hati.

"Waalaikumsalam..." jawab indah cepat sambil menghampiri.

Mata indah sedikit membesar saat mengenali tamu itu.

"Ya Allah...Bu Dewi?"

Bu Dewi langsung menggenggam tangan indah erat.

"Gimana keadaan ibu sekarang, neng?" tanyanya lirih dengan khas logat Sundanya.

Indah tersenyum tipis meski matanya terlihat lelah. "Masih turun naik kesadarannya, Bu."

Wajah Bu Dewi langsung berubah sendu, "Astaghfirullah..."

Dari dalam kamar, Mila keluar menyusul. Perempuan itu tampak kaget melihat kedatangan mereka.

"Bu Dewi jauh-jauh dari Bandung?"

"Kami baru dengar kabarnya tadi pagi," jawab suami Bu Dewi pelan. "Langsung berangkat."

Sementara itu, perempuan muda di belakang mereka sedari tadi hanya diam. Tatapannya perlahan menyusuri rumah itu sebelum akhirnya berhenti pada jendela kamar tempat Bu Rahman terbaring.

Dan tak sengaja, Galang yang tengah duduk di dekat ibunya ikut menoleh. Kedua bola mata mereka bersitatap hanya tiga detik, sebelum pada akhirnya Bu Dewi memperkenalkan gadis itu kepada dua kakaknya Galang.

"Ini Sekar," ujar Bu Dewi seraya melirik ke arah putrinya. "Hanum Sekar Salsabila, putri saya."

Sekar langsung menunduk kepala sopan.

"Assalamualaikum,"

Suaranya halus sekali, tidak mendayu.

"Waalaikumsalam..." Jawab kakak beradik itu kompak.

"Mari masuk, ibu ada di dalam." Seru Indah mempersilahkan masuk.

°°°°°°°°°°

Hai, semoga betah di novel ini🫶

Dukung Yehppee dengan cara komen, like, vote, subscribenya...jangan lupa bintang limanya ya Hehhe...

Btw ada orang Garut di sini????

Salam kenal ya👋

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!