NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjual Jiwa pada Iblis Berjas Hitam

Kalau ada definisi nyata dari kata 'sempurna tapi mematikan', pria itu adalah jawabannya. Dia duduk di sana, di pojok VIP kafe yang biasanya cuma diisi orang-orang dengan saldo rekening tanpa seri. Setelan jasnya tampak sangat mahal, tipikal pakaian yang nggak akan kamu temukan di mal biasa. Dia adalah Bimo, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang namanya sering muncul di berita ekonomi, tapi wajahnya lebih cocok jadi model majalah fashion kelas atas.

Nara menyesap kopinya yang sudah mendingin, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal, matanya nggak lepas dari Bimo. Sebagai seorang penulis yang lagi dikejar deadline dan butuh ide segar, melihat Bimo secara langsung itu seperti menemukan bongkahan emas di tengah gurun. Rahang tegas pria itu, caranya menatap orang dengan pandangan yang seolah bisa bikin lawan bicaranya menciut, sampai gerakan tangannya saat memutar-mutar cangkir espresso—semuanya Nara rekam dalam kepala.

"Gila, ini sih tokoh CEO dingin paling nyata yang pernah gue liat," bisik Nara nyaris tak terdengar. Jemarinya dengan lincah mengetik setiap detail di layar ponsel. Dia harus menangkap aura 'mahal' dan 'kejam' itu sekarang juga.

Namun, keasyikan Nara mendadak buyar saat Bimo tiba-tiba berdiri. Tanpa diduga, langkah kaki pria itu justru menuju ke mejanya. Suara sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai kayu kafe terdengar seperti lonceng kematian bagi Nara.

"Sudah puas membedah saya lewat layar ponsel itu?"

Suara bariton Bimo yang berat dan rendah langsung bikin Nara merinding. Pria itu sudah berdiri tepat di depannya, menatap Nara dengan sorot mata yang tajamnya nggak main-main. Tanpa nunggu izin, Bimo narik kursi dan duduk santai di depan Nara—tapi auranya benar-benar menindas.

"Maaf?" Nara mencoba masang muka bego, strategi paling ampuh buat kabur dari situasi canggung. "Maksud Bapak apa ya? Saya cuma lagi... ngerjain tugas."

Bimo mendengus, senyum tipis yang lebih mirip ejekan muncul di sudut bibirnya. "Tiga puluh menit. Kamu sudah menatap saya selama itu tanpa sekali pun menyentuh kopi kamu. Kamu mata-mata perusahaan sebelah, atau cuma orang asing yang nggak punya kerjaan?"

Nara menelan ludah. Oke, ketahuan. "Saya jurnalis lepas!" bohong Nara sambil memeluk ponselnya di dada. Dia nggak boleh sampai Bimo tahu kalau dia penulis yang lagi diam-diam menjadikan hidup pria itu sebagai inspirasi cerita.

Bimo nggak tampak percaya, tapi dia juga nggak tampak peduli. Dia justru diam sebentar, memperhatikan penampilan Nara dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Kamu butuh uang?" tanya Bimo tiba-tiba. Pertanyaannya lebih mirip tembakan langsung ke ulu hati.

Nara mengernyit, sedikit tersinggung tapi juga penasaran. "Ya... siapa sih yang nggak butuh uang di kota ini?"

Bimo menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat berkuasa. "Saya butuh sandiwara. Kakek saya memaksa saya segera menikah kalau mau memegang kendali penuh perusahaan tahun depan. Saya nggak butuh cinta, saya nggak butuh perasaan. Saya cuma butuh istri yang bisa diajak akting di depan publik dan nggak punya koneksi ke kalangan elit."

Nara tertegun. Pernikahan kontrak? Plot novel yang biasa dia tulis sekarang malah ditawarkan langsung ke depan mukanya.

"Satu tahun. Saya bayar semua hutang kamu, saya jamin hidup kamu mewah, asal kamu mau jadi istri kontrak saya. Syaratnya cuma dua: jangan pernah menyentuh saya tanpa izin, dan jangan pernah jatuh cinta."

Nara menarik napas panjang. Ini gila. Ini riset paling berbahaya, tapi juga paling menggiurkan sepanjang hidupnya. "Saya terima," jawab Nara akhirnya, mencoba terdengar tenang. "Tapi saya punya satu syarat. Pekerjaan saya itu menulis. Jadi, Bapak nggak boleh ngelarang saya ngetik kapan pun dan di mana pun."

Bimo bangkit berdiri, merapikan jasnya yang nggak kusut sedikit pun. "Terserah. Tulis saja fantasi picisan kamu itu. Saya nggak punya waktu buat baca fiksi."

Pria itu langsung melangkah pergi menuju parkiran tanpa nunggu Nara. "Ikut saya sekarang. Kakek saya ingin ketemu calon istrinya."

Nara bergegas nyambar tasnya, mengikuti langkah lebar Bimo sambil buru-buru mengirim pesan singkat ke editornya: Gue dapet materi gila. Ini bakal jadi cerita paling panas yang pernah gue tulis.

Saat sampai di samping mobil hitam mewah yang sudah menunggu, Bimo menahan pintu, lalu membisikkan sesuatu di dekat telinga Nara. "Satu lagi, Nara. Jangan pernah coba-coba main api sama saya. Sekali kamu bikin kesalahan yang merusak reputasi saya... saya pastikan kamu nggak akan punya tempat buat sembunyi."

Bimo masuk ke mobil, meninggalkan Nara yang masih mematung dengan jantung berdebar kencang. Dia tahu, dia baru saja masuk ke dalam sangkar harimau. Tapi sebagai penulis, Nara juga tahu satu hal: semakin berbahaya ceritanya, semakin manis hasilnya.

Mobil pun melaju, membawa mereka menuju istana megah keluarga Bimo, tempat sandiwara terbesar dalam hidup Nara baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!