NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 1

“Apaa! Kita terancam bangkrut? Papa pasti bercanda, kan? Nggak mungkin dong kita bangkrut, Pah!” Helena syok saat mendengar kabar yang baru saja diucapkan suaminya.

Bak disambar petir di siang bolong, seluruh tubuhnya terasa lemas. Namun, benaknya masih berusaha menyangkal. Ia yakin suaminya hanya sedang bercanda.

“Jawab, Pah! Kenapa Papa diam saja?” Helena mendesak suaminya yang sejak tadi hanya tertunduk lesu.

Siang itu, Helena tengah duduk santai di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat dan majalah di tangannya.

Ia terkejut ketika sang suami pulang lebih awal. Pemandangan langka yang nyaris tak pernah terjadi. Biasanya, Tyo selalu memberi kabar lebih dulu jika hendak pulang cepat.

Namun, kepulangan kali ini berbeda. Wajah Tyo tampak kusut, pucat, dan penuh beban. Rasa penasaran membuat Helena bertanya berkali-kali.

Awalnya pria itu bungkam. Hingga desakan sang istri akhirnya memaksanya membuka suara.

“Kita bangkrut, Mah... kita bangkrut. Tender yang Papa jalani kalah. Ada seseorang di balik layar yang bermain kotor dan menyabotasenya,” ujar Tyo lirih, kepala tetap tertunduk.

“Astaga, Papa! Gimana bisa Papa kecolongan seperti itu? Terus gimana sekarang? Mama nggak siap kalau kita harus jatuh miskin, Pah!”

“Miskin? Siapa yang bakal jatuh miskin?”

Suara lembut seseorang terdengar dari arah pintu. Keduanya kompak menoleh. Ternyata itu putri sulung mereka.

“Ella... kita bakal jatuh miskin, Nak!” Helena berlari menghampiri putrinya dengan tangis pecah seketika.

Eleanor Gabrielsen. Putri pertama pasangan Tyo Gabrielsen dan Helena Gabrielsen. Wanita cantik berusia dua puluh tahun itu berdiri terpaku, seolah kakinya menancap di lantai.

Paper bag belanjaan yang dibawanya terlepas dan jatuh berserakan.

“B-bangkrut? B-bagaimana bisa?” bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat itu.

Matanya beralih pada sang ibu yang menangis sesenggukan.

“Mama sama Papa pasti bercanda, kan? Nggak mungkin dong kita bangkrut, Mah.”

Lalu ia menatap ayahnya yang masih terduduk diam.

Ella mendekat, lalu menyentuh lutut sang ayah. Ia menatap wajah pria itu lekat-lekat.

“Pah... Papa bercanda, kan? Ayolah, Pah, jangan bercanda seperti ini. Papa tahu, kan, kalau perkataan itu doa? Masa Papa tega ngomong begitu? Kalau kita bangkrut beneran gimana?”

“Atau Papa sengaja ngomong begini biar Ella nggak shopping dan hidup hedon lagi? Papa sengaja, kan? Sengaja, kan?!”

“Tidak, El. Apa yang mamamu katakan itu benar. Papa bangkrut... dan kita akan jatuh miskin.”

Tyo berhenti sejenak, suaranya semakin berat.

“Bahkan... Papa terancam masuk penjara.”

Deg!

Untuk kedua kalinya, mereka dibuat membeku. Selain kehilangan harta, kini kepala keluarga mereka terancam mendekam di balik jeruji besi.

'Ya Tuhan... gimana ini?' batin Ella panik.

“Memang nggak ada satu pun keluarga kita atau rekan kerja Papa yang bisa bantu? Aku nggak mau jatuh miskin, Pah! Aku benar-benar nggak sanggup!”

“Ngebayangin nanti kita tinggal di rumah kecil, jorok, dan kumuh... ih, menjijikkan! Apa kata teman-temanku nanti? Aku malu, Pah! MALU!”

“Benar itu!” sahut Helena cepat. “Gimana dengan teman-teman arisan Mama? Teman sosialita Mama yang lain? Gimana Mama mau pamer harta, emas, dan barang-barang branded lainnya, Pah?”

Tyo menggeleng lemah.

“Kalau pun ada keluarga yang mau membantu, mereka pasti nggak akan sanggup. Nilai kerugian Papa sangat besar, Ella.”

“Pokoknya aku nggak mau kita jatuh miskin, titik! Apa pun caranya, Papa harus cari jalan keluar. Aku nggak mau tahu!”

Ella bangkit dari duduknya, lalu berlari ke lantai atas. Pintu kamarnya dibanting keras hingga menggema ke seluruh rumah.

Hal serupa dilakukan Helena. Wanita itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Tyo mengembuskan napas kasar.

Dalam keadaan sehancur ini pun, yang dipikirkan anak dan istrinya hanyalah uang, harta, dan gengsi.

Ia gusar. Bagaimana bisa ia kalah? Siapa orang yang bermain licik di belakang layar? Dan bagaimana dirinya bisa kecolongan separah ini?

Pandangan Tyo berkeliling menatap seluruh isi rumah mewah itu.

Perusahaan yang ia bangun sejak masih lajang, yang ia rawat bertahun-tahun dengan darah dan keringat, kini hancur karena kelalaiannya sendiri.

Belum lagi gaji para karyawan yang masih harus dibayar. Semua itu membuatnya berpikir untuk menjual seluruh aset yang dimilikinya.

Meski jauh di lubuk hati, ia tahu... itu pun tak akan cukup menutup semuanya.

Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

~*~

Suasana aneh terasa sangat kentara di meja makan malam itu. Alya, putri kedua keluarga Gabrielsen, hanya bisa memandang bingung.

Tak pernah sekalipun meja makan mereka sehening ini. Biasanya penuh obrolan, tawa, atau setidaknya suara keluhan Helena.

Apa keluargaku lagi ikut aturan kerajaan? Table manner gitu? Harus diam selama makan?

Alya menggeleng cepat, menepis pikiran absurdnya sendiri.

Ia berdeham, berusaha mencairkan suasana.

“Sepi banget, ya. Alya ngerasa kayak lagi makan di kuburan, hehe...”

Sunyi.

Tak ada satu pun sahutan.

Ia melirik ibu, ayah, dan kakaknya. Ketiganya tampak muram, seperti sedang memikul beban berat.

Terutama sang ayah. Biasanya pria itu selalu ceria, tetapi malam ini wajahnya dipenuhi kerutan dan kelelahan.

Cukup sudah. Alya benar-benar tak tahan dengan rasa penasaran ini.

PRANG!

Ia membanting sendok ke atas piring hingga suara nyaring memecah keheningan. Semua mata langsung menoleh padanya.

“Ada apa, Nak? Apa makanan hari ini nggak enak?” tanya Tyo lembut.

Alya nyengir tanpa dosa, memperlihatkan deretan gigi rapi miliknya.

“Nggak kok, Pah. Makanannya enak kayak biasanya.”

Tyo mengangguk pelan.

“Aku selesai.”

“Mama juga.”

Ella dan Helena berdiri bersamaan, lalu pergi meninggalkan meja makan.

Tyo tak menggubris. Ia hanya menatap sekilas, lalu kembali fokus pada putri bungsunya.

“Ya sudah, habiskan makan malammu, lalu istirahat.”

Hah? Apa-apaan ini?

Bukan itu yang Alya inginkan. Namun ia memilih diam. Mungkin nanti setelah selesai makan, ia bisa bertanya langsung pada ayahnya.

Beberapa menit kemudian, makan malam usai. Saat melihat Tyo hendak berdiri, Alya buru-buru menahannya.

“Sebentar, Pah!”

“Ada apa, Alya?” Tyo kembali duduk dan menatap putrinya yang wajahnya sangat mirip dengannya.

Dengan raut serius, Alya bertanya hati-hati.

“Eum... Papa sama Mama lagi berantem?”

Tyo sedikit terkejut.

“Tidak, Nak. Papa sama sekali nggak berantem dengan mamamu.”

Alis Alya berkerut.

“Tapi kenapa tadi kalian semua diam? Apa rumah kita lagi menerapkan table manner?”

Pertanyaan polos itu membuat Tyo tergelak kecil.

“Hahaha... nggak ada aturan seperti itu, Sayang. Mungkin Mama dan kakakmu lagi nggak enak badan.”

Ia mengusap lembut puncak kepala putrinya.

“Nggak enak badan kok makannya lahap begitu. Mana ada?” Alya menunjuk piring bekas kakak dan ibunya.

Tyo ikut menoleh, lalu menghela napas panjang.

“Nah, kan! Papa aja ngeluh panjang banget. Pasti ada sesuatu yang Papa sembunyikan dari Alya. Ayo ngaku!”

Tyo tersenyum kecil. Memang tak pernah mudah menyembunyikan apa pun dari anak ini.

Alya mewarisi kepekaannya.

“Baiklah... baiklah. Papa kalah.”

Alya tersenyum puas.

“Nah, ayo cerita. Ada apa sebenarnya, Pah?”

Tyo menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang tender yang gagal, sabotase, kebangkrutan, hingga ancaman penjara jika utang perusahaan tak segera dilunasi.

Alya mendengarnya dengan wajah pucat.

“Papa bingung, Nak. Papa nggak tahu harus berbuat apa lagi. Sekalipun seluruh isi rumah dan harta benda dijual, itu pun nggak akan cukup menutup setengahnya.”

Air mata Alya luruh. Ia menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

“Papa nggak usah khawatir. Alya punya tabungan. Papa bisa pakai dulu.”

Ucapan sederhana itu membuat dada Tyo sesak oleh haru. Ia buru-buru mengusap sudut matanya agar air mata tak jatuh.

Alya benar-benar anak yang baik.

“Tidak, Nak. Uang itu simpan saja,” ucap Tyo menolak halus.

“Tapi Alya nggak mau Papa masuk penjara. Di rumah ini cuma Papa yang Alya punya. Meskipun ada Mama dan Kakak... tapi Alya nggak sedekat itu sama mereka, Pah...” rengeknya lirih.

Tyo langsung memeluk putrinya erat.

Tanpa mereka sadari, seluruh percakapan dan pemandangan itu disaksikan jelas oleh sepasang mata dari kejauhan.

Merasa sudah cukup melihat, sosok itu pun berbalik... "Aku menantikan kehancuran mu.." lalu pergi dalam diam.

1
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!