"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maryani
Hujan turun begitu deras di kampung cadas, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat istiadat di sana, bahkan untuk masuk ke dalam kampung itu di butuhkan perjalanan yang begitu panjang melewati banyaknya jurang batu dan jalan yang begitu licin.
"Aakhhhh! Perutku sakit Bu" ucap seorang perempuan yang sedang menahan rasa sakit karena dia terjatuh di kamar mandi setelah mencuci piring.
"Tahan nak, Mbah Rumi dan dokter Nurdin sudah di panggil sejak sore, tapi mereka belum sampai, pasti terjebak hujan" ucap sang ibu mertua yang bernama Saidah begitu terlihat khawatir.
"Darahnya semakin banyak Saidah, bagaimana kalau terjadi sesuatu, kamu jaga Maryani aku akan menyusul Mbah Rumi ke kampung bukit Mahoni" ucap suami dari Saidah yang bernama Jamal.
"Tapi ini sudah malam kang, bagaimana kalau terjadi sesuatu, di rumah tidak ada siapapun, Kaelan masih belum pulang dari kota" ucap Saidah khawatir
"Mau bagaimana lagi, rumah kita jauh dari tetangga, mereka juga pasti ketakutan dengan hujan petir di luar, aku harus melakukan sesuatu untuk cucu kita dan Maryani, kasihan mereka" jawab Jamal dan akhirnya Saidah mengangguk setuju
"Maryani, kamu tahan ya nak, kamu kuat karena ibu di sini, kamu pegang golok ini, ibu mau mengunci semua pintu dan jendela dulu, nanti bapakmu bawa kunci cadangan" bujuk Saidah
"Jangan lama Bu, perut Maryani sakit sekali" lirih Maryani
"Iya nak, ibu akan cepat" jawab Saidah mengusap keringat dingin yang keluar dari kening Maryani.
Maryani Sujana adalah seorang perempuan muda berusia dua puluh satu tahun, dia menikah dengan Kaelan Rahmadi yang sekarang berusia dua puluh lima tahun, mereka menikah sejak tiga tahun lalu dan itu adalah kehamilan pertamanya. Di kampung cadas memang para remaja sering di nikahkan di usia dini, namun Kaelan yang bersekolah di kota memilih untuk menikah di usia yang menurutnya cukup karena dia tidak mau terikat dengan adat yang menurutnya terlalu mengikat dan tidak masuk akal.
Para warga juga kurang menyukai Kaelan yang sempat ingin membuka sekolah di sana tapi tetua di sana menolak keras, hingga Kaelan menyerah dan memilih menjadi seorang karyawan di sebuah resort di Jakarta.
Kembali ke keadaan Maryani, Saidah sudah menyiapkan air panas di termos, selimut dan beberapa kain untuk berjaga jaga apabila menantunya itu melahirkan, semuanya sudah di siapkan sejak awal karena memang kehamilan Maryani sudah masuk bulan ke sembilan.
"Aakhhhh... Bu sakit sekali!" lirih Maryani
"Sabar nak, ibu juga tidak tahu harus bagaimana, harusnya kalau mau melahirkan kamu sudah mulai pecah ketuban tapi kamu juga tidak mengeluarkan darah" ucap Saidah
"Sakit Bu...."
Saidah semakin panik, apalagi tubuh Maryani juga terlihat lemas karena terus menahan rasa sakit yang tak tertahankan, keringatnya bahkan sudah membasahi pakaian yang dia pakai sampai Saidah harus beberapa kali mengganti pakaian Maryani.
"Haus..."
"Ini nak, kamu minum dulu air gula merahnya"
"Bu..."
"Iya nak"
"Kapan kang Kaelan pulang?"
"Kata pak RT dua hari lagi, gerbang resort kan di buka seminggu sekali di hari Jum'at"
"Dua hari.... Apa Maryani bisa bertahan"
"Jangan bicara sembarangan, kamu pasti akan bertahan, melahirkan anak kalian dan merawatnya bersama"
"Maryani ngantuk Bu..."
"Jangan tidur, kamu pegang tasbih ini, baca bacaan tasbih bersama ibu"
"Maryani.... Nak" panggil Saidah mengusap pipi Maryani yang terasa dingin.
"Iya Bu..."
"Baca tasbih"
"Subhanallah...."
"Kalau tetua tahu kita ikut agama orang orang di kampung mahoni, mereka pasti murka" ucap Saidah
"Kita pindah saja ke sana Bu, Maryani ingin anak Maryani bisa sekolah dan berkumpul dengan anak anak yang baik" ungkap Maryani
"Nanti kita bahas dengan bapak kamu ya"
"Iya..."
Saidah terus membaca tasbih dengan mata yang mulai mengantuk, dia tidak menyadari kalau Maryani juga sudah mulai memejamkan matanya bahkan tasbih yang dia pegang sudah terjatuh. Hingga suaranya ketukan mengagetkan Saidah yang sudah tertidur.
Tok. Tok. Tok.
"Bu... Aku lupa kunci rumah di dalam jaket!" teriak Jamal
"Astagfirullah, pak itu kamu?" tanya Saidah masih tidak menyadari kalau Maryani sudah memejamkan matanya.
"Iya ini aku, buka pintunya Mbah Rumi sudah di sini bersama dokter Nurdin" jawab Jamal
Saidah segera berdiri dan menuju ke ruang tamu, dia membuka pintu dan begitu senang ketika melihat suaminya sudah datang bersama Rumi seorang dukun beranak dan anaknya Nurdin yanh seorang dokter dari kampung Mahoni.
"Mana anakmu?" tanya Rumi
"Di kamar Mbah, sudah saya minta memegang golok" jawab Saidah
"Ayo ke sana, perasaanku tidak enak" ucap Rumi
"Bu, biar Nurdin tunggu di sini saja" ucap Nurdin
"Iya, nanti kalau ada luka yang harus di jahit ibu akan panggil kamu" jawab Rumi.
Saat masuk ke dalam kamar, Rumi dan Saidah begitu terkejut karena melihat Maryani sudah terpejam dan tubuhnya sedikit membiru, bibirnya bahkan sudah begitu pucat dan Rumi segera memeriksa perut Maryani.
"Bayinya sungsang, kalian tidak pernah periksa kandungan?" tanya Rumi
"Tidak pernah Mbah, jalan ke kampung mahoni terlalu jauh dan warga di sini tidak ada yang mau meminjamkan delman ataupun gerobak sapi mereka.
"Ini salahku, harusnya saat Kaelan mengatakan kalian di musuhi di sini aku meminta tetua kampung Mahoni membawa kalian" ungkap Rumi mencoba menyadarkan Maryani yang semakin lemah denyut nadinya.
"Lalu bagaimana Mbah?"
"Panggil Nurdin"
"Baik Mbah"
Saidah kembali berdiri untuk keluar kamar, dia memanggil Nurdin yang sedang mengobrol dengan Jamal, setelah Nurdin masuk dia langsung memeriksa kondisi tekanan darah dan jantung Maryani. Semuanya dia cek dengan alat yang dia bawa.
Matanya terbelalak karena dari hasil pemeriksaan yang dia lakukan, jantung Maryani sudah berhenti berdetak dan bisa di bilang meninggal.
"Maaf Bu, biar Nurdin periksa detak jantung bayinya" ucap Nurdin dan Rumi yang sedang menyelimuti Maryani bergeser.
"Bagaimana?"
"Detak jantung bayi masih ada, maaf Bu Saidah saya harus menyampaikan ini, tapi Maryani sudah meninggal" ucap Nurdin
"Tidak, itu tidak mungkin! Tadi dia masih membaca tasbih bersama saya" kaget Saidah bahkan Jamal juga ikut masuk ke dalam.
"Ada apa Mbah?" tanya Jamal
"Maryani meninggal, tapi bayinya masih bisa di selamatkan" jawab Rumi
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, bagaimana ini Mbah, adat di sini kalau seorang ibu hamil meninggal, maka bayinya harus di kubur bersama ibunya" ucap Jamal menitikkan air matanya bahkan Saidah sudah menangis sambil memeluk Maryani yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Maryani bangun nak, kamu harus melahirkan anak kamu, merawatnya sampai besar, Kaelan akan marah kalau kamu pergi Maryani" panggil Saidah
"Saidah... Jangan berteriak nanti tetangga dengar, mereka bisa tahu kalau Maryani meninggal" bisik Jamal