Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada gajah yang sedang berpesta dansa di atas otaknya. Rasa pusing itu datang bertubi-tubi sampai ia bahkan kesulitan membuka mata.
Di telinganya terdengar suara gaduh yang samar.
"Nona Freya. Tolong bangun."
"Cepat ambil air hangat!"
"Panggil tabib lagi! Demamnya belum turun."
'Freya? Siapa itu? Nama itu terasa asing… tapi juga anehnya familiar.'
Dengan susah payah, gadis itu akhirnya membuka matanya perlahan. Cahaya terang langsung menusuk penglihatannya hingga ia harus memicingkan mata beberapa kali.
Begitu pandangannya mulai jelas, napasnya langsung tertahan.
Itu bukan kamar kosnya. Bukan dinding kusam penuh tempelan jadwal kuliah. Bukan kipas angin berisik yang biasa bunyi tiap malam.
Yang ada di atas kepalanya justru langit-langit tinggi dengan ukiran emas megah. Tirai sutra merah maroon menjuntai di sekeliling tempat tidur besar yang terlihat lebih mahal daripada isi rekeningnya selama hidup.
Aroma bunga dan obat-obatan memenuhi ruangan luas itu.
"Ah… Nona sudah sadar."
Seorang gadis berpakaian pelayan buru-buru mendekat. Wajahnya penuh lega sampai hampir menangis.
"Kau siapa?" suara gadis itu keluar pelan dan serak.
Pelayan itu tampak kaget.
"Nona tidak ingat saya? Saya Lily… pelayan pribadi Anda."
Lily?
Pelayan pribadi?
Otaknya langsung berdenyut lebih keras.
"Tunggu…" gumamnya pelan.
Ingatan terakhirnya muncul perlahan.
Ia sedang rebahan santai di kamar kos sambil membaca novel fantasy romance favoritnya berjudul Cinta Abadi Pangeran.
Novel tentang Aria, gadis baik hati yang dicintai Pangeran Mahkota.
Dan ada satu karakter yang paling ia ingat.
Villainess-nya.
Freya Valencia Vane.
Wanita cantik, arogan, obsesif, dan menyebalkan yang sepanjang cerita kerjaannya cuma mengganggu tokoh utama.
Lalu di akhir novel…mati tragis.
Jantung gadis itu langsung serasa jatuh ke dasar bumi.
Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar. Tangan itu kecil. Putih mulus. Jari-jarinya lentik dan kuku-kukunya terawat sempurna.Itu bukan tangannya.
"A… ah…"
"Nona?"
Tanpa menjawab, ia langsung menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidur dengan langkah sempoyongan. Lily panik mencoba menahan, tapi gadis itu sudah berjalan cepat menuju cermin besar di sudut ruangan.
Dan begitu melihat pantulannya...
"AAAAAAAKKKK!!"
Jeritannya menggema ke seluruh kamar.
Wajah di cermin itu terlalu cantik untuk manusia biasa. Kulit putih mulus. Mata merah ruby. Rambut emas panjang yang jatuh bergelombang sampai pinggang.
Wajah yang langsung dikenali siapa pun yang pernah membaca novel itu.
Freya Valencia Vane.
"No no no no… jangan bercanda…" gadis itu mundur beberapa langkah dengan wajah pucat. "Ini mimpi. Pasti mimpi."
Ia langsung mencubit pipinya sendiri keras-keras.
"Aduh!"
Sakit.
'Oh tidak. INI NYATA.' jeritnya dalam hati.
"Ya Tuhan…" Ia memegang kepalanya frustasi. "Kenapa malah jadi villainess? Kenapa bukan jadi tokoh utama kaya orang-orang normal?"
Lily yang melihat tingkah majikannya mulai panik lagi.
"N-Nona, apa kepala Anda masih sakit?"
Yang sakit bukan kepala. Tapi nasib hidupnya.
Karena Freya Valencia Vane bukan sekadar villainess biasa. Dia villainess yang tamat mengenaskan.
Dipermalukan.
Dibenci semua orang.
Lalu mati.
Dibunuh langsung oleh Zevian.
Dan yang paling parah, semuanya terjadi karena Freya terlalu sibuk jadi wanita menyebalkan.
"Gawat…" gumamnya pelan.
Lalu dua detik kemudian...
"GAWAT PARAH."
Lily sampai melompat kaget.
Freya mulai mondar-mandir kecil sambil mencengkeram rambutnya sendiri.
'Oke tenang. Tenang. Panik tidak menyelesaikan masalah.' Ia menarik napas panjang. 'Yang penting sekarang adalah bertahan hidup.'
Ya. Itu prioritas utama. Bukan cinta. Bukan harta. Bukan pangeran tampan. Tapi hidup panjang umur.
Karena kalau mengikuti alur novel asli, beberapa tahun lagi kepalanya bisa menggelinding cantik di depan umum.
"Ogah banget…" gumamnya ngeri.
Ia langsung berhenti berjalan.
Matanya perlahan menatap Lily.
'Oh right. Lily adalah pelayan yang paling setia pada Freya. Bahkan di novel asli, gadis ini tetap menemani Freya sampai akhir meski sering dimarahi. Berarti…misi pertama adalah memperbaiki image.'
Freya langsung menarik napas panjang lalu mengubah ekspresinya secepat kilat.
Wajah sedih?
Aktif.
Tatapan lembut?
Aktif.
Senyum polos tak berdosa?
Aktif maksimal.
“Aku tidak apa-apa, Lily,” ucapnya lembut.
Lily membeku.
Freya hampir bisa melihat roh gadis itu keluar sebentar karena kaget.
"A-apa?"
"Aku hanya sedikit pusing." Freya tersenyum manis. "Maaf kalau membuat kalian khawatir."
Hening.
Lily berkedip sekali.
Dua kali.
Lalu wajahnya berubah pucat.
"N-Nona…" suaranya bergetar. "Biasanya kalau bangun sakit, Anda pasti sudah melempar vas bunga ke arah saya…"
Freya tersenyum makin lembut.
Di dalam hati?
‘Syukurlah Freya asli sudah mati duluan sebelum aku masuk sini. Image dia parah banget ternyata.’
"Aku minta maaf kalau selama ini aku sering kasar," katanya pelan sambil memasang wajah penuh penyesalan. "Mulai sekarang aku akan berubah."
DOR.
Efeknya luar biasa.
Mata Lily langsung berkaca-kaca.
"Huuaaa… Nona akhirnya sadar." Gadis itu langsung memeluk lengan Freya erat-erat. "Saya senang sekali."
Freya tersenyum canggung sambil menepuk kepala Lily pelan.
Dalam hati?
‘Oke… fase pertama berhasil.’
Ia menelan ludah.
‘Sekarang tinggal menghadapi bos terakhir.’
Keluarga Duke Vane.