masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Putri mahkota gemuk.
01.
.
"Nyonya!"
"Apa dia mati?"
"Eh! Bicaramu! Bagaimana kalau ada yang mendengar?"
"Heh, biarkan saja. Dia bukan ratu, tapi hanya istri tak dianggap."
Siapa itu? Kenapa ada orang yang bergosip di apartemennya?
Dia baru saja tertidur setelah menyelesaikan tugas penelitian politik. Tugas itu sampai membuatnya pusing tujuh keliling.
Selain harus riset, Morline juga harus turun lapangan untuk melakukan wawancara dan observasi isu politik yang terjadi lalu presentasi. Hal itu membuatnya sibuk hingga tak bisa beristirahat sedikitpun.
Sebelum tidur dia meminum beberapa pil sakit kepala kemudian berbaring tidur. Namun baru tidur sebentar, sudah ada yang mengganggunya.
Gara-gara suara dua wanita itu, dia jadi terbangun.
Morline mengerjapkan mata pelan, saat matanya terbuka, pandangannya masih kabur. Dia berkedip dua kali barulah pandangannya jelas. Namun ketika melihat dua objek di depannya, dia berkedip lagi, memastikan mereka berdua nyata atau hanya halusinasi setelah bangun tidur.
Morline mengucek matanya sampai terasa nyeri, tapi dua objek yang tampak asing itu masih ada di depannya. Tengah menatap dirinya dengan pandangan merendahkan?
Dia bergumam apakah ini mimpi atau tidak. Karena, apa yang dia lihat justru dua wanita bergaun dengan penutup kain di kepala mereka. Mirip baju dan style abat pertengahan.
Apa ini mimpi?
Morline menampar pipinya pelan, hal itu membuat kedua wanita berseragam mengerutkan alis, mulut mereka terbuka tapi tak ada suara yang keluar.
Tiba-tiba sebuah ingatan asing muncul, seperti film yang diputar berurutan.
Morline Moralles, itu adalah nama karakter sampingnya di dalam novel yang pernah dia baca saat liburan semester. Morline sangat mengingatnya karena dia sering membaca ulang novel itu.
Kisah Morline Moralles tidak panjang, dia hanya diceritakan sebagai pelengkap tokoh antagonis utama, Cedric Persius Hesperias.
Dalam ingatan pemilik tubuh ini. Morline Moralles terlahir sebagai putri ke 7 dari pasangan viscount, memiliki enam kakak perempuan, empat kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki.
Enam kakak perempuannya memilih tubuh yang langsing dan kurus. Berbeda dengannya yang memilki tubuh gemuk.
Sejak kecil Morline memang terkenal sebagai bayi gemuk yang imut, para pelayan serta ibu asuhnya sering kali memanjakannya dengan berbagai macam makanan hingga dia menjadi segemuk sekarang.
Sementara ayah dan ibunya selalu bersikap dingin, lalu para kakaknya sering kali menindasnya saat orang tua mereka tak ada di rumah.
Bahkan Morline sampai mengalami trauma, karena ulah para kakaknya. Dia pernah di paksa lompat dari balkon oleh kakak-kakaknya, kaki kanannya patah dan dia harus terbaring di kasur selama 2 minggu.
Meski keluarganya memperlakukannya dengan tidak adil, tapi masih ada orang yang menyayanginya. Ibu pengasuh dan beberapa pelayan sering kali memberinya makanan manis secara diam-diam. Ketika kedua orangtuanya dan para kakaknya pergi ke pesta Morline keluar rumah untuk bermain dengan anak-anak dari kalangan rakyat biasa.
Sebenarnya dia gadis yang ceria, manis dan cerdas. Namun pada saat sang ayah dan ibunya memberinya pelatihan calon putri mahkota, karakternya berubah. Dia menjadi gadis pendiam dan cenderung pasif ketika ada orang yang menjelek-jelekkan tentang dirinya.
Selama 3 bulan pelatihan putri mahkota, Morline sering mendapatkan perlakuan kasar dari ibunya sendiri. Setiap kali Morline melakukan kesalahan kecil, maka ibunya akan memukulnya dengan rotan dan penggaris kayu. Membuat tubuh penuh lebam dan memar.
Pernah Morline mengalaminya pingsan karena tak makan 3 hari, karena ibunya memaksanya untuk diet. Namun setelah kejadian itu, entah bagaimana ibunya yang keras tak memaksanya lagi.
Tiga bulan setelahnya, Morline dipertemukan dengan Cedric, putra mahkota saat itu. Sejak pertemuan pertama Cedric tidak menyukai Morline. Selain dari penampilannya yang gemuk, Morline juga tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk mendukungnya menjadi rata.
Ratu memang sengaja menunjuk Morline untuk menikah dengan putra mahkota.
Alasan ratu menjadikan Morline sebagai putri mahkota adalah untuk menekan kuasa Cedric. Menurut rumor, ratu tak ingin Cedric menggantikannya sebagai pemimpin. Dia ingin yang menjadi raja berikutnya adalah putra ke dua, Edward Helingburd Hesperias.
Ratu memang bukan ibu kandung Cedric, dia adalah istri kedua raja. Menjabat sebagai ratu ketika raja terdahulu meninggal di usia Cedric masih 5 tahun. Setelah 20 tahun berlalu, seharusnya tahta itu diberikan pada Cedric, tapi ratu memiliki rencana lain yaitu, menjadikan putranya sebagai raja.
Di umur Cedric yang ke 23, dia resmi menikah dengan Morline. Namun satu minggu setelah pernikahan, ratu meninggal karena serangan jantung. Karena meninggalnya sang ratu, Cedric naik takhta menjadi raja.
Seharusnya saat Cedric naik tahta, ada penobatan untuk Morline sebagai ratu, tapi Cedric tidak melakukan itu. Dia tetap mempertahankan status putri mahkota di nama Morline. Seolah tak ingin menjadikannya ratu.
Setelah menjadi raja, Cedric justru lebih sibuk pulang pergi antara Thalva dan Hesperias. Rumor beredar, Cedric tengah mengejar cinta pertamanya, putri Annellise sang putri dari kerajaan Thalva.
Kemudian kabar menggemparkan datang, beredar kabar bahwa Cedric menantang raja Aleron dari Orbelian untuk memperebutkan putri Annalise dari Thalva.
Mereka berduel pedang di kerajaan Thalva, tidak banyak orang tahu soal itu karena pertarungan hanya disaksikan oleh orang-orang penting. 12 hari setelah berita duel antara raja Hesperias dan raja Orbelian, kabar bahwa Cedric mengalami kekalahan menyebar luas bahkan menjadi topik terpanas di kalangan rakyat.
Sejak pulang dari duel itu, Cedric selalu menyembunyikan wajahnya dibalik tudung panjang, menyembunyikan dirinya dari keramaian dan hanya sedikit orang yang bisa berinteraksi dengannya.
Orang-orang mengatakan jika Cedric terlalu malu menunjukkan wajahnya karena kalah duel, tapi yang orang tidak ketahui adalah karena wajah Cedric telah berubah. Wajahnya mengalami luka bakar karena duel itu.
Dia melakukan kecurangan dengan melempar obor ke arah Aleron, tapi Aleron bisa menanganinya dan melempar kembali obor itu. Sayangnya Cedric tak bisa mengelak hingga obor dan minyak mengenai wajahnya, membuat sebagian wajah Cedric terbakar parah.
Ketika orang-orang sibuk membicarakan Cedric dan kekalahannya. Nasib Morline tidak jauh lebih baik, karena sikapnya yang pasif dan pendiam, dia menjadi bahan ejekan pelayan.
Karena tekanan yang dia alami, Morline memilih meminum racun di kamarnya dan meninggal saat itu juga. Dan itulah kenapa jiwanya bisa masuk ke dalam tubuh ini.
"Putri anda sudah gila ya? Sampai minum racun begini?"
Mendengar suara yang menggangu itu, Morline menoleh. Dia masih terbaring di ranjang, matanya menatap tajam pada pelayan di sampingnya. Morline bangkit dengan susah payah, menurunkan kedua kakinya dan duduk di tepi kasur. "Kau bilang apa?"
"Saya bilang apa anda sudah kehilangan akal sampai meminum racun?"
Alis tipis Morline mengkerut, dia berdiri. Berjalan tanpa alasan kaki mendekati pelayan itu. Si pelayan, mengangkat dua alisnya. Belum sempat dia mengetahui apa yang hendak Morline lakukan, tangan gemuk dan besar milik gadis itu melayang di pipinya. Si pelayan memegang pipinya yang panas lalu menatap Morline. "Putri...."
"Kenapa? Kau pikir aku tak berani menamparmu? Kau ini siapa sih sampai kurang ajar padaku?! Aku ini putri mahkota dan istri raja kalian, meski belum di nobatkan sebagai ratu tapi statusku tetap lebih tinggi dari kalian." Morline menatap mereka satu-persatu, manik hijau itu menggelap di bawah ruangan yang minim pencahayaan.
Dia ingat siapa dua pelayan di depannya, Susan dan Talise. Pelayan yang sering menyebar gosip yang tidak-tidak di belakangnya.
"Talise dan Susan, dalam hukum Hesperias tertulis bahwa pelayan yang tak hormat pada majikannya berhak di hukum mati. Kalian mau aku gantung?!" Morline mengepalkan tangannya, karena gemuk kepalan tangannya terlihat seperti roti. Dia menunjukkan tinjunya ke wajah Talise dan Susan.
Wajah keduanya tampak tenang, mereka bahkan saling melirik lalu tersenyum seakan mengejek Morline. Baik Susan dan Talise sama-sama tidak percaya jika Morline mampu melakukannya, karena dia tak memiliki pengaruh di istana ini, bahkan tak memiliki pelayan setia satupun. Kekuatannya tak akan cukup untuk sekedar menghukum pelayan.
Menyadari tatapan meremehkan mereka, Morline ingin rasanya menjambak rambut mereka sampai copot. Namun kewarasannya tiba-tiba kembali, dia menghela nafas pelan untuk menenangkan diri. "Talise dan Susan, aku tau kalian berasal dari rakyat biasa. Diangkat jadi pelayan istana karena pekerjaan kalian bagus. Meski aku belum melihat kemampuan kalian, tapi aku percaya menilainya pengurus pelayan istana. Kalau kalian terus bersikap tak hormat seperti ini, aku benar-benar akan menghukum kalian."
Morline berusaha bersikap tenang. Dia baru datang ke dunia ini, jika Morline bersikap impulsif dengan mencakar wajah mereka maka akan ada masalah besar.
Wajah keduanya terdistorsi, seolah ada cacing di mulut mereka.
"Talise, Susan apa kalian mau mengakui kesalahan kalian sekarang?"
Hening, baik Susan dan Talise tak menjawab. Mereka menatapnya dari atas kebawah dengan bola mata mereka yang besar. Didalam kepala mereka dipenuhi tanda tanya, mengapa Morline bisa berubah-ubah sikap seperti itu? Apakah ada roh yang masuk ke dalam tubuhnya?
Melihat tatapan mereka seperti itu padanya, Morline berusaha menggunakan akal sehatnya untuk menghadapi orang-orang seperti ini.
Sikap yang seperti itu adalah bentuk superioritas. Meski secara status mereka berada di bawahnya, tapi karena pemilik tubuh memiliki karakter yang lemah dan pengecut, para pelayan ini memanfaatkan keadaan dengan menjadikan dia pelampiasan.
"Kami tak takut padamu. Kau hanya seorang gadis yang tanpa kekuatan, raja tak peduli padamu bahkan keluargamu. Kami bahkan lebih bisa menindasmu dari apa yang kau bayangkan."
Wajah Morline mengeras, mereka benar-benar dua orang yang tidak tahu batasan. Mereka hanyalah pelayan tanpa status lebih, tapi mengapa begitu sombong dan arogan seolah-oleh merekalah yang berkuasa?
Morline tak cukup memiliki kesabaran untuk menghadapi mereka dengan kepala dingin, dia terbiasa dengan cara kekerasan.
Memanfaatkan statusnya sebagai bangsawan, Morline maju selangkah.
Plak!
Morline menampar keduanya dengan kedua tangan. Tidak membiarkan mereka mengoceh menyalahkannya, Morline menendang kaki mereka dengan kaki gemuknya. Keduanya jatuh berlutut, mengaduh kesakitan sambil memegang kaki masing-masing.
"Kalian kurang ajar! Kalian pikir aku tak bisa melakukan ini! Aku bahkan bisa menggantung kalian di alun-alun ibu kota!"
Morline maraih kedua kerah bagian belakang mereka dan menyeret mereka. Talise dan Susan memohon dilepaslan, tapi Morline menulikan telinganya. Dia melangkah semakin lebar ke ruang utama. Di sana kebetulan ada Joseph dan ketua pelayan.
Joseph si pengurus istana yang melihat seorang gadis gemuk menyeret dua pelayan segera berlari menghampiri. Wajahnya nampak kebingungan, dia melirik Morline dan kedua pelayan yang di seret. "Ada apa ini putri?"
Morline melempar mereka kedepan, keduanya tersungkur ke lantai marmer yang keras. Saat itu, ketua pelayan mendekat. Alisnya mengkerut saat menatap Talise dan Susan.
"Dua pelayan itu telah bersikap kurang ajar padaku! Tidak hanya itu, mereka bahkan berani menghinaku secara terang-terangan.''
Morline melipat tangan di dada sambil menatap kedua pelayan itu bangkit dan merangkak ke kaki ketua pelayan, Morline mencibir dalam hati.
"Ketua kami tak bersalah, kami hanya sedang membereskan kamar putri dan tidak sengaja memecahkan gelas tapi putri menyalahkan kami. Ketua mohon keadilan untuk kami.''
Ketua pelayan bernama Marnin itu menatap Morline. Dalam pandangannya, Morline saat ini seperti gadis penindas, sangat berbeda dari Morline yang pernah dia temui ketika pertama masuk istana. Apakah ada hal yang dia tak ketahui?
"Ketua kami hanya pelayan biasa yang berusaha mencari nafkah untuk keluarga, kami sudah terbiasa ditindas oleh majikan sendiri tapi saya mohon untuk kali ini saja ketua ampuni dan kasihanilah kami, jangan hukum kami karena kesalahan yang kami tak perbuat."
Ingin rasanya Morline bertepuk tangan untuk mereka, pantas dalam novel keduanya menjadi mata-mata untuk memantau Cedric, ternyata mereka cukup pintar dalam berakting. Luar biasa.
"Sebelum anda membela mereka, biar aku katakan dulu kebenarannya. Kedua pelayan ini sering menjelekkan anda, ketua pelayan. Kata mereka anda adalah wanita tua yang sukanya marah-marah tak punya pekerjaan, makan gaji buta bahkan berani menyumpahi anda mati.
Jika anda berpikir sayalah yang mengatakan itu, anda salah. Karena saya tak mungkin mengatakannya.
Bagaimana saya bisa mengatakan hal semacam itu, jika saya saja tak mengenal anda? Saya baru beberapa bulan di sini, interaksi kita bahkan bisa di hitung jari. Mana mungkin saya mengatakan itu jika tak mendengarnya dari orang lain. Ketua pelayan, jelas-jelas dua pelayan ini yang sering ke kamar saya."
Morline menunjuk kedua wanita yang sedang berlutut di lantai dengan tatapan hina. Mereka pikir siapa mereka? Keduanya tak lebih dari seorang pelayan yang tak bisa apa-apa di hadapan penguasa.
Talise langsung bersujud di kaki Marnin, menangis kencang meminta keadilan untuk mereka. Kedua pelayan yang bertindak seperti itu, membuat siapa saja yang melihatnya berpikir bahwa Morline-lah yang bersalah karena memfitnah mereka.
Morline berdecih sinis, dia tak bisa membiarkan mereka memenangkan drama ini. "Ingat guci yang ada dalam ruang musik, bukankah kalian sedang membicarakan benda-benda yang hilang barusan. Mereka berdua lah yang mencuri kemudian menjualnya, kalau tak percaya periksa kamar mereka."
Susan dan Talise menoleh padanya, menatapnya seakan-akan bicara; "kau lancang!"
Marnin dan Joseph saling berpandangan. marnin kemudian berkata, "Kalau begitu kita periksa kamar mereka."
Susan dan Talise segera meraih tangan Joseph serta Marnin, menarik dan menahan mereka untuk pergi. "Ketua jangan, saya tahu hak pelayan di istana ini sangat tidak adil tapi saya mohon percaya pada saya. Saya tak bersalah." Susan memohon dengan dramatis.
Marnin adalah sosok senior yang tegas dan sering kali para pelayan tidak menyukainya karena ketegasannya, tapi dia merupakan orang yang jujur. Hal yang paling Marnin tak suka adalah, dibohongi.
Ketika Marnin menghadapi dua pelayan ini, Marnin selalu melihat mereka sebagai pelayan yang baik, tapi di sisi lain Marnin mendengar dari pelayan lain jika Susan dan Talise sering membuat keributan. Bukan hanya itu, ada pelayan yang mengadu jika Susan dan Talise membulinya tapi keduanya membela diri dengan cara yang sama seperti ini. Menyalahkan diri mereka sendiri, tapi secara tersirat menuduh pelayan itu berbohong dan memfitnah.
Marnin mengerutkan dahinya, dia menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman Susan. "Kalau begitu mari kita ke sana."
Marnin melangkah lebar di ikuti Joseph. Morline menatap mereka, yang seakan mengatakan; siap-siap kalian.
Di bangunan asrama yang terpisah dari istana utama adalah tempat bagi para pekerja perempuan terutama pelayan. Hanya di batasi tembok setinggi dua meter, di sebelahnya tepat asrama pekerja pria.
Ketika mereka datang ke asrama pelayan, beberapa pelayan yang sedang istirahat, entah duduk bersantai, makan atau menjahit segera berdiri ketika melihat ketua pelayan, Marnin.
Pelayan-pelayan itu lalu menatap Morline yang bertubuh gemuk. Baru pertama kali melihat gadis gemuk di dalam istana. Mereka melihatnya seolah melihat sesuatu yang langka.
Menyadari tatapan aneh para pelayan padanya, Morline tampak biasa karena di kehidupan sebelumnya Morline juga merupakan wanita yang tak cantik. Kulitnya sawo matang di tengah orang-orang yang menganggap kulit putih sempurna, dia sering didiskriminasi hal itu. Jadi anggap saja, tatapan mereka sudah kebal terhadapnya. Dia tetap berjalan dengan dagu terangkat dan langkah lebar.
Perhatian mereka pada Morline lalu beralih pada Talise dan Susan yang ekpresi wajah mereka terlihat buruk, seolah ada lalat yang mengerumuni wajah keduanya.
Para pelayan yang tak berhubungan baik dengan mereka segera merapat, berbisik mengapa ada Marnin dan Joseph dengan membawa mereka berdua, lalu putri mahkota yang jarang mereka lihat menampakkan wujudnya. Jelas ada masalah yang terjadi.
"Dimana kamar Talise dan Susan?" Marnin bertanya dengan nada galak seperti biasanya.
"Di sini ketua." Salah satu pelayan menunjuk pintu kamar mereka. Marnin segera ke sana, dia mengambil kunci cadangan yang tergantung di pinggangnya. Memutar kunci dan membukanya.
Saat pintu terbuka, Talise dan Susan berusaha mencegah dengan cara yang dia bisa. Melihat tindakan mereka yang berusaha menahannya, membuat kecurigaan Marnin semakin dalam.
"Tahan mereka berdua, biarkan Marnin bekerja!" Suara itu milik Morline.
Marnin menatapnya, tatapannya tak terbaca tapi dia hanya diam.
"Kalian menunggu apa? Cepat tahan Talise dan Susan!" Joseph mengulangi dengan nada menegur. Para pelayan segera menarik mereka berdua dan membiarkan Marnin menggeledah kamar mereka.
Saat mencari di lemari, Marnin terhenti. "Apa ini?" alisnya menukik begitu dalam dan kerutan di dahinya bagai garis-garis sungai. Marnin mengangkat tinggi-tinggi bungkusan kain hitam di udara.
Talise dan Susan membelakkan matanya saat melihat benda itu di tangan Marnin. Mereka memberontak saat Marnin membuka penutupnya. Para pelayan yang juga merasa aneh serta curiga menahan mereka sekuat tenaga.
"Lepaskan! Itu bukan apa-apa ketua. Itu adalah barang peninggalan keluarga saya! Jangan sentuh! Itu sangat berharga bagi saya!" Talise tak bisa menyembunyikan raut cemasnya.
Morline hanya memperhatikan dengan tenang di samping Joseph.
Saat bungkusan itu terbuka hanya ada sekumpulan surat. Marnin tentu membacanya, matanya melotot dan wajahnya menggelap bagai awan badai. Morline yang melihatnya hanya tersenyum dalam hati, diam-diam menunggu reaksi semua orang.
"Kalian!" Marnin menatap mereka berdua dengan penuh kemarahan, kata-katanya tertahan. "Apa semua ini! Kalian bersekongkol!? Kalian mata-mata!"
Mendengar kata terakhir, semua orang terkecuali Morline terkejut. Mata mereka menatap Talise dan Susan dengan tatapan menghakimi.
Joseph segera meraih surat-surat itu dan membacanya. Sebenarnya surat itu adalah surat romantis, tapi percakapannya tidak demikian. Ada kalimat seperti; awasi raja, pantau raja, kabari aku.
Susan dan Talise duduk lemas. Mata mereka terbuka dengan tatapan kosong, tak percaya jika hari seperti ini akan datang dalam hidup mereka.
Morline sendiri sudah tahu tentang ini karena membaca novel, tentu saja. Talise dan Susan sebenarnya mata-mata dari pihak musuh yang menginginkan kehancuran Cedric. Mereka bisa di bilang adalah pemberontak, karena berafiliasi dengan orang-orang pemberontak.
Morline melangkah ke depan dua pelayan itu, dia menatap mereka kemudian tersenyum. Mengatakan secara tidak langsung; sudah aku bilang aku bisa melakukan ini pada kalian.
{Sistem berhasil terikat. Selamat anda berhasil terikat dengan sistem pengubah nasib}
Suara itu melanjutkan. {Aku adalah sistem pengubah nasib yang bertugas membimbing tuan rumah untuk mengubah nasib tokoh-tokoh dalam novel ini.}
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍