NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:497
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUNIA YANG TERLALU RAMAI

Senja Valencia selalu merasa dunia berjalan begitu cepat.

Orang-orang berbicara tanpa jeda, tertawa tanpa alasan yang benar-benar ia pahami, dan bergerak seolah tahu ke mana arah hidup mereka.

Sementara dirinya… hanya berdiri di tengah semua itu, mencoba mengikuti tanpa pernah benar-benar merasa menjadi bagian.

Bukan karena ia tidak ingin, ia hanya… lelah.

Pikirannya tidak pernah benar-benar sunyi.

Bahkan saat pagi masih terlalu buta dan lorong sekolah belum dipenuhi suara langkah kaki, kepala Senja sudah ramai oleh kemungkinan-kemungkinan kecil yang belum tentu terjadi.

Bagaimana jika ia salah bicara?

Bagaimana jika orang lain sebenarnya tidak menyukainya?

Bagaimana jika keberadaannya memang tidak terlalu penting? Senja menghela napas pelan.

Ia memilih bangku dekat jendela — tempat favoritnya sejak dulu. Dari sana, ia bisa melihat halaman sekolah tanpa harus ikut berada di tengah keramaian.

Angin pagi menyelinap masuk, menggerakkan tirai tipis, terang.

Setidaknya dunia terasa sedikit lebih pelan di luar sana, suara pintu kelas terbuka keras.

"Senjaaa!"

Tanpa perlu menoleh, Senja sudah tahu siapa yang datang.

Arelina muncul dengan energi yang selalu terasa terlalu besar untuk pukul tujuh pagi. Tasnya dijatuhkan begitu saja ke meja Senja sebelum ia duduk. "Kamu datang pagi lagi? Serius deh, aku curiga kamu tidur di kelas."

Senja tersenyum kecil.

"Menghindari macet pikiran," jawabnya pelan.

Arelina mengerjap bingung, lalu tertawa.

"Nah tuh. Kalimat kamu lagi-lagi terlalu filosofis buat otakku."

Berbeda dengan Senja yang tenang seperti air diam, Arelina adalah matahari kecil yang selalu bergerak. Ia berbicara cepat, tertawa keras, dan mengenal hampir semua orang di sekolah.

Dan entah bagaimana… gadis secerah itu memilih tetap tinggal di sisi Senja sejak kecil.

"Eh, nanti istirahat ikut aku ya," kata Arelina tiba-tiba.

"Ada anak baru pindahan. Katanya anak basket. Ganteng banget."

Senja hanya mengangguk samar.

Informasi sosial seperti itu jarang benar-benar menarik perhatiannya.

Namun saat ia kembali menatap keluar jendela—

ia melihat seseorang berdiri di lapangan, seorang laki-laki, tertawa lepas bersama beberapa siswa lain, seolah dunia adalah tempat yang mudah untuk ditinggali, suara tawanya bahkan terdengar sampai kelas.

Ringan, bebas, tanpa beban, untuk alasan yang tidak ia mengerti, Senja memperhatikannya sedikit lebih lama dari seharusnya.

Laki-laki itu menoleh, sejenak.

Pandangan mereka hampir bertemu.

Senja refleks memalingkan wajah.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Aneh.

Ia bahkan tidak mengenalnya.

Dan saat itu… Senja belum tahu—

bahwa pertemuan kecil yang nyaris terjadi itu akan perlahan mengubah dunianya yang sunyi.

Suara bel sekolah berbunyi memecah pagi.

Langkah kaki mulai memenuhi lorong. Siswa-siswi masuk satu per satu, membawa suara tawa, obrolan, dan energi yang terasa terlalu ramai bagi Senja.

Ia kembali menatap buku di mejanya, mencoba menenangkan pikirannya, pintu kelas terbuka.

Seorang guru masuk sambil membawa beberapa lembar buku dan spidol.

"Selamat pagi."

"Pagiii, Bu," jawab siswa serempak, meski tidak sepenuhnya kompak.

Guru itu mulai menuliskan materi pelajaran di papan tulis. Suara spidol bergesekan dengan papan terdengar jelas di ruangan yang mendadak hening.

Semua terlihat fokus, beberapa siswa mencatat.

Beberapa memperhatikan dengan serius.

Kelas tampak tenang.

Namun tidak dengan kepala Senja.

Suara guru terdengar… jauh, kalimat demi kalimat masuk ke telinganya, tapi tidak benar-benar menetap, pikirannya kembali berisik, kenapa tadi dia melihat ke arahku?

Apa dia sadar aku memperhatikannya?

Kenapa aku malah gugup?

Senja menarik napas perlahan.

Ia mencoba memaksa dirinya fokus pada tulisan di papan tulis, persamaan. Penjelasan. Rumus.

Namun huruf-huruf itu terasa seperti bergerak.

Pikirannya melompat ke mana-mana.

Bagaimana kalau nanti Arelina benar-benar mengajaknya bertemu anak baru itu?

Haruskah aku bicara?

Kalau aku diam, apa akan terlihat aneh?

Tangannya tetap menulis, tapi tanpa sadar.

Seolah tubuhnya berada di kelas… sementara pikirannya berjalan di tempat lain.

"Senja." panggil guru di depan kelas

Suara guru tiba-tiba terdengar jelas, ia tersentak.

Seluruh kelas menoleh, "Iya… Bu?" jawabnya pelan.

"Bisa jelaskan ulang poin terakhir yang Ibu sampaikan?"

Hening.

Jantungnya langsung berdebar keras.

Ia tahu semua mata sedang melihatnya.

Kepalanya kosong, bukan karena tidak mampu.

Hanya… pikirannya terlalu penuh oleh hal lain.

Senja menelan ludah.

"Maaf, Bu… saya kurang fokus."

Beberapa siswa terkikik kecil, panas menjalar ke wajahnya.

Guru itu mengangguk ringan, tidak marah.

"Coba lebih diperhatikan, ya."

"Iya, Bu."

Senja kembali duduk tegak.

Tangannya menggenggam pulpen sedikit lebih erat.

Ia menatap buku catatannya, namun di sela tulisan-tulisan itu, tanpa sadar—bayangan laki-laki di lapangan tadi kembali muncul di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

keramaian di dalam pikirannya bukan hanya tentang kecemasan.

Ada rasa penasaran kecil yang ikut tinggal di sana.

Suara bel akhirnya berbunyi.

Nyaring. Membebaskan.

Beberapa siswa langsung menghela napas lega. Kursi bergeser, buku ditutup, percakapan kembali memenuhi ruangan yang sebelumnya hening.

Senja menutup bukunya pelan.

Ia sebenarnya menyukai suasana belajar yang tenang. Setidaknya, saat semua orang diam, pikirannya terasa sedikit lebih mudah diatur.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

"ISTIRAHAT!" seru Arelina tiba-tiba sambil berdiri.

Sebelum Senja sempat bereaksi, tangannya sudah ditarik.

"Ayo!"

Senja refleks menahan.

"Rel… aku di sini aja."

Arelina menoleh, wajahnya penuh ekspresi tidak percaya, "Di sini, sendirian Lagi?"

"Aku mau baca bentar."

"Itu alasan paling Senja Valencia sedunia," sahut Arelina sambil menyipitkan mata.

Senja tersenyum kecil, hampir menyerah.

"Kamu kan tahu aku gak suka keramaian."

Arelina mendekat, lalu menatapnya serius — terlalu serius untuk ukuran dirinya yang biasanya ceria.

"Justru itu. Kamu harus keluar sebentar dari kepalamu sendiri."

Kalimat itu membuat Senja terdiam.

Sebelum ia sempat mencari alasan lain, Arelina sudah kembali menarik lengannya.

"Ayo ke lapangan basket! Anak baru itu lagi latihan. Semua orang lagi di sana!"

Senja menggeleng cepat.

"Rel, serius… aku nggak—"

Terlambat.

Arelina sudah menyeretnya keluar kelas.

Koridor sekolah dipenuhi siswa. Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan bercampur menjadi satu. Senja sedikit menunduk, berusaha tidak menarik perhatian siapa pun.

Tangannya masih digenggam Arelina erat.

Seperti biasa, seperti sejak kecil.

Dan mungkin… hanya karena Arelina lah Senja bersedia mengikuti arah yang bukan pilihannya sendiri.

Mereka menuruni tangga menuju lapangan.

Suara bola basket memantul terdengar bahkan sebelum mereka sampai.

Duk.

Duk.

Duk.

Semakin dekat.

Jantung Senja ikut berdetak mengikuti ritme itu.

Lapangan basket dipenuhi siswa yang menonton dari pinggir. Sorak kecil terdengar setiap kali bola masuk ring.

Arelina langsung berhenti di barisan depan.

"Nah! Itu dia!"

Senja awalnya hanya berdiri di belakang.

Namun tanpa sadar, pandangannya ikut terarah ke tengah lapangan.

Seorang laki-laki melompat tinggi, menangkap bola di udara, lalu memasukkan bola dengan gerakan mulus.

Sorakan langsung pecah.

Ia tertawa setelahnya, tawa yang sama.

Tawa yang tadi pagi ia dengar dari jendela kelas.

Senja membeku.

"Oh, jadi… dia"

Untuk sesaat, dunia terasa melambat.

Angin siang menggerakkan rambutnya pelan.

Laki-laki itu menyeka keringat di dahinya, lalu menoleh ke arah kerumunan penonton.

Dan kali ini—pandangan mereka benar-benar bertemu, tidak sengaja, tidak siap.

Jantung Senja kembali berdetak lebih cepat.

Ia segera memalingkan wajah.

Namun entah kenapa… rasanya sudah terlambat.

Seolah seseorang baru saja mengetuk pintu dunia kecil yang selama ini ia jaga rapat.

Siapa ya kira-kira murid baru nya .....yuk ..ikutin cerita senja selanjutnya....🤩

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!