evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengakhiri hidup
Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Hujan turun tanpa ampun, menghantam jendela kamar dengan suara berisik yang bercampur dengan deru angin yang menderu liar. Langit seolah runtuh, memuntahkan ketakutan ke setiap sudut rumah.
Di dalam kamar yang remang, Evelyn Valencia—gadis berusia 23 tahun—meringkuk di pojok kasurnya. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya memeluk lutut erat seakan itu satu-satunya cara agar dirinya tidak hancur. Nafasnya tak beraturan, sesak, seolah udara di sekitarnya ikut mencekik.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan terdengar berulang kali, menggema hingga ke dalam dadanya. Setiap letusan membuat tubuhnya tersentak, matanya membelalak penuh ketakutan. Ia menggigit bibirnya, menahan isak yang hampir lolos.
“Apa yang telah terjadi…?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
Lampu kamar berkedip sesaat, lalu kembali redup. Bayangan di dinding tampak bergerak-gerak, seakan ikut hidup dalam kekacauan malam itu. Evelyn memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk—mimpi yang akan hilang saat ia membuka mata kembali.
Namun suara langkah kaki di luar kamar mematahkan harapannya.
Pelan… berat… mendekat.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia menahan napas, telinganya berusaha menangkap setiap suara di balik pintu. Tangannya meraih selimut, menariknya hingga menutupi sebagian wajahnya, seakan kain tipis itu mampu melindunginya dari dunia luar.
Klik…
Suara gagang pintu yang diputar.
Evelyn membeku.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Di tengah badai dan suara tembakan yang masih menggema di kejauhan, satu hal yang ia sadari—malam ini… hidupnya tidak akan pernah sama lagi.Pintu itu terbuka perlahan.
Di ambangnya, berdiri seorang pria.
Sosok yang begitu Evelyn kenal—terlalu kenal.
“Cristian…?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar.
Cristian Noah Alexander berdiri di sana, tinggi dan tegap seperti biasanya. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya dingin, tanpa kehangatan yang selama ini selalu ia lihat setiap kali pria itu membuka pintu mobil untuknya. Jas hitamnya basah oleh hujan… dan noda gelap yang tak mungkin ia salah artikan.
Evelyn menggeleng pelan, mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
“Tidak… ini tidak mungkin…”
Pria itu melangkah masuk, sepatu kulitnya meninggalkan jejak basah di lantai kamar. Suara hujan dari luar kini terasa jauh, kalah oleh sunyi yang mencekam di antara mereka.
“Maaf, Nona Evelyn,” ucapnya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Anda seharusnya tidak melihat ini.”
Kata-katanya seperti pisau yang menembus dada.
Air mata Evelyn jatuh semakin deras. Kepalanya terasa berputar.
“Di mana… semua orang…?” tanyanya dengan suara patah.
Keheningan.
Jawaban itu sebenarnya sudah ia tahu… dari suara tembakan tadi.
Namun ia tetap berharap. Berharap ini semua hanya salah paham. Berharap pria di hadapannya akan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Sayangnya, harapan itu hancur oleh satu kalimat.
“Mereka sudah tidak ada.”
Dunia Evelyn runtuh seketika.
Tubuhnya melemas, jatuh terduduk di lantai. Tangannya gemetar hebat, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
“Kenapa…?” bisiknya lirih. “Kenapa kamu melakukan ini…? Bukankah kamu…selalu bersikap baik pada semua orang…?”
Cristian berhenti melangkah.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang samar melintas di matanya—entah penyesalan, atau hanya bayangan yang tertangkap cahaya lampu.
“sebenarnya aku tidak benar-benar baik,” jawabnya pelan. “Aku hanya menjalankan misi yang memang harus kulakukan.”
Kata “misi” terdengar begitu dingin. Begitu kejam.
Evelyn tertawa kecil—tawa yang pecah bersama air mata.
“Jadi… selama ini… kebohongan?”
Pria itu tidak menjawab.
Dan diamnya… adalah jawaban paling menyakitkan.
Angin kencang kembali menghantam jendela. Petir menyambar, menerangi ruangan sesaat—cukup untuk memperlihatkan wajah Evelyn yang hancur… dan wajah Cristian yang tak terbaca.
Malam itu, akhirnya evelyn mengerti.
Orang yang paling ia percaya… adalah orang yang menghancurkan dunianya.
“Menikah denganku. Aku akan menjamin hidupmu.”
Suara itu terdengar lembut—terlalu lembut untuk seseorang yang baru saja menghancurkan segalanya.
Cristian Noah Alexander menatapnya tanpa berkedip, seolah apa yang ia tawarkan adalah sesuatu yang wajar. Sesuatu yang bisa menebus semua yang telah terjadi.
Namun bagi Evelyn…
Itu bukan penawaran.
Itu ancaman.
Tatapannya kosong, napasnya memburu. Sosok pria di depannya tak lagi terlihat seperti seseorang yang pernah ia percaya. Yang ada hanyalah bayangan gelap—sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat.
“Kamu… monster…” bisiknya parau.
Perlahan, ia bangkit. Kakinya lemah, namun rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa sakit atau kehilangan. Ia mundur satu langkah… dua langkah… hingga punggungnya menyentuh dinginnya dinding dekat jendela yang terbuka.
Angin malam menerobos masuk, membawa hujan yang membasahi lantai kamar.
“No… jangan lakukan itu…” suara Cristian mulai berubah. Ada sesuatu di dalamnya—kepanikan.
Untuk pertama kalinya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Evelyn menggeleng, air matanya bercampur dengan tetesan hujan yang menyentuh wajahnya.
“Lebih baik… aku pergi…”
Dan dalam satu gerakan cepat—
Ia berbalik, berlari, lalu menjatuhkan dirinya keluar jendela.
“Tidak!”
Teriakan itu menggema, namun tak mampu menghentikan apa pun.
Waktu seolah melambat.
Tubuh Evelyn jatuh, diterpa angin dan hujan, rambutnya berkibar liar, sementara pikirannya dipenuhi serpihan kenangan yang berputar tanpa kendali.
Di atas sana, Cristian Noah Alexander berdiri terpaku di ambang jendela.
Tangannya terulur… terlambat.
Matanya melebar, napasnya terhenti.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai… ekspresi dingin itu runtuh.
Dan di tengah hujan yang tak kunjung berhenti, satu kenyataan menghantamnya lebih keras dari apa pun—
Ia baru saja kehilangan satu-satunya hal… yang entah sejak kapan… menjadi penting baginya.