NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Mula Segalanya

Suara ketukan pantofel yang beradu dengan lantai marmer memecah keheningan di lantai sebelas. Aiena tersentak. Wanita dua puluh lima tahun itu buru-buru merunduk, menyembunyikan wajahnya di balik layar monitor yang sudah menggelap. Jari-jarinya mencengkeram erat tepi meja kerjanya.

“Kamu berniat menginap lagi, Aiena?”

Suara bariton itu membuat Aiena mendongak perlahan. 

Shane berdiri tepat di ambang kubikelnya. Bos mudanya yang baru berusia dua puluh sembilan tahun itu sudah melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tangannya menyodorkan secangkir teh kamomil hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

“Eh, Pak Shane. Belum pulang?” Aiena menegakkan tubuhnya menerima cangkir teh itu. “Makasih, Pak.”

“Saya yang seharusnya tanya begitu,” jawab Shane. Ia menarik kursi kosong dari kubikel sebelah, lalu duduk berhadapan dengan Aiena. “Ini sudah jam sembilan malam, dan ini malam ketiga berturut-turut saya melihat kamu berselimut jaket di sofa pantry. Ada masalah?”

Aiena menelan ludah. Ia membuang pandangan ke arah jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, tepat ke arah pintu keluar lobi gedung di bawah sana. Matanya memancarkan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.

“Saya... masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Pak,” kilah Aiena pelan, merapatkan kardigan rajit di tubuhnya.

Shane menghela napas panjang. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap karyawannya itu dengan saksama. “Panggil Shane saja kalau di luar jam kerja begini, Na. Dan saya tahu persis semua draft desain dari tim kamu sudah di meja saya sejak jam lima sore tadi.” Pria itu menjeda kalimatnya, menurunkan nada suaranya. “Kamu takut pulang?”

Mendengar pertanyaan telak itu, pertahanan Aiena runtuh. Bahunya merosot lemah. Tangannya berpindah untuk memeluk dirinya sendiri, seolah mencari perlindungan dari sesuatu yang tak kasat mata.

“Dia ada di bawah, Shane,” bisik Aiena akhirnya. Suaranya parau, nyaris seperti isakan yang tertahan.

Alis Shane bertaut. Pria itu menegakkan punggungnya. “Dia siapa?”

“Pacar saya,” jawab Aiena. Ia memberanikan diri menatap Shane dengan mata berkaca-kaca, kepanikan kini mengambil alih nada bicaranya. “Dia menunggu di depan dari tadi sore. Saya tidak berani turun. Kalau saya memaksakan diri turun dan menemuinya sekarang... dia tidak akan segan menyakiti saya lagi.”

Hening sejenak. Shane tidak langsung merespons. Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan lambat mendekati jendela kaca tempat Aiena tadi membuang muka, dan menatap tajam ke arah pelataran lobi gedung di bawah sana. Rahangnya mengeras seketika.

Hening merayap di sela-sela kubikel kantor yang sebagian besar sudah gelap. Shane tidak langsung merespons. Ia membiarkan jeda waktu yang cukup lama, membiarkan pengakuan Aiena mengendap di udara. Pria itu menatap Aiena lurus-lurus, seolah sedang membaca setiap gurat kecemasan di wajah bawahannya yang sedang menyesap teh kamomil buatannya. 

Tatapan Shane tidak lagi sekadar tatapan bos kepada karyawan, melainkan tatapan seorang pria yang menyadari bobot ketakutan yang sesungguhnya di mata wanita di hadapannya.

Alih-alih langsung menyela atau meremehkan ketakutan itu sebagai sesuatu yang berlebihan, Shane justru berdiri perlahan dari kursi yang ia duduki. Pergerakannya tenang namun terukur, tanpa suara pantofel yang berlebihan di atas lantai maer. 

Ia melangkah mendekati jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, yang menampilkan pemandangan kota di malam hari yang gemerlap namun sekaligus mencekam.

Aiena mematung di tempat duduknya, menahan napas. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Shane dengan perasaan was-was yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu, atau apa yang akan dilakukannya setelah mendengar pengakuannya. 

Pria itu hanya diam, tangannya bersedekap di dada saat ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk menatap tajam ke bawah, ke pelataran lobi gedung di seberang sana. Ia menatap lurus ke seberang jalan, ke area trotoar yang remang-remang di depan kedai kopi yang sudah tutup. 

Di bawah sorotan lampu jalan yang kuning dan agak redup, Shane melihat seorang pria berdiri mematung. Pria itu mengenakan hoodie hitam yang tudungnya ditarik menutupi kepalanya, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku, sementara tangan kanannya tampak memegang sesuatu yang sesekali ia periksa. Meskipun wajahnya tidak terlihat jelas dari ketinggian ini, postur tubuhnya, cara ia terus-menerus menatap ke arah pintu keluar gedung kantor mereka, dan kegelisahan yang terpancar dari gerak-geriknya sudah lebih dari cukup untuk mengonfirmasi ketakutan Aiena.

Setelah sekian detik, Aiena memberanikan diri. “Dia akan selalu tahu jika saya keluar dari pintu lobi utama, Shane,” ucap Aiena, suaranya begitu lirih, hampir seperti isakan yang tertahan. “Tiap ada mobil di depan lobi, taksi di depan lobi, bahkan jika saya mencoba menyelinap keluar lewat pintu samping, dia akan menyadarinya. Dia tahu pola saya.”

Shane menghela napas panjang, lalu berbalik dari jendela. Ekspresi keras di wajahnya tadi sedikit melunak saat ia kembali menatap Aiena. Ia melangkah kembali ke kubikel Aiena, berdiri cukup dekat namun tetap memberikan ruang pribadi yang nyaman. Kedua tangannya ditumpukan pada pinggiran meja, menatap Aiena dengan keyakinan penuh.

“Na, dengarkan saya,” ujar Shane, suaranya kini terdengar tenang namun tegas. “Saya mengerti kenapa kamu takut. Dan saya tidak akan membiarkan kamu pulang sendirian malam ini.”

Aiena mendongak, matanya yang basah menatap Shane dengan keraguan. “Tapi bagaimana? Dia menunggu di bawah…”

“Ada cara lain,” Shane memotong perkataannya dengan lembut. “Kita tidak perlu keluar lewat pintu lobi utama. Mobil saya ada di basement. Kita langsung masuk ke mobil dari basement.” 

Aiena tampak mempertimbangkan usulan itu, kerutan di keningnya masih terlihat jelas. 

Shane menegaskan kembali, nada suaranya memberi jaminan keamanan, “dia tidak akan pernah melihat kamu keluar dari gedung ini, apalagi menyadari di mobil mana kamu berada. Begitu kita berada di basement, kita aman. Saya akan mengantarmu langsung ke depan pintu rumahmu. Saya pastikan kamu masuk rumah dengan aman sebelum pergi.”

Pria itu menjeda kalimatnya, membiarkan Aiena mencerna tawarannya. “Pikirkan, Na. Kamu tidak bisa menginap di kantor terus-menerus. Itu bukan solusi jangka panjang, dan rasa takutmu justru akan semakin menguasaimu. Ini adalah cara paling aman yang bisa kita lakukan sekarang.”

Aiena menunduk, menatap jari-jarinya yang masih mencengkeram erat telinga cangkir tehnya yang sudah hampir kosong. Tawaran Shane terdengar sangat masuk akal, namun sisa-sisa rasa trauma dan ketakutan itu masih terus berbisik di benaknya. Ia membayangkan pria di seberang jalan sana, dengan hoodie hitam yang kelam, dan bayangan itu masih cukup untuk membuatnya gemetar. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di kantor. Ia membutuhkan seseorang untuk menolongnya keluar dari situasi ini, dan Shane menawarkan solusi yang tampak sangat meyakinkan.

“Shane, kamu yakin... dia tidak akan tahu?” bisik Aiena akhirnya, menatap Shane dengan tatapan penuh permohonan.

“Saya yakin seratus persen, Na,” jawab Shane dengan senyum tipis yang menenangkan. “Saya tidak akan mengambil risiko yang bisa membahayakan kamu. Sekarang, kemaslah barang-barangmu. Kita berangkat sekarang juga.”

***

Udara dingin dari pendingin ruangan mobil sedan hitam mewah itu menyambut Aiena saat ia menyelinap masuk ke kursi penumpang depan. Aroma maskulin yang elegan, campuran antara aroma sandalwood dan vanilla menyelubungi kabin yang senyap, kontras dengan suasana di lantai sebelas tadi. 

Shane bergerak cepat namun tenang, menutup pintu kemudi dengan suara klik yang solid, mengunci seluruh pintu, dan menyalakan mesin.

Aiena masih memeluk tasnya erat-erat di pangkuan. Napasnya pendek-pendek, matanya terus melirik ke arah kaca spion samping, membayangkan pacarnya akan tiba-tiba muncul di kegelapan basement. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan irama yang menyakitkan.

“Tenang, Na. Kita sudah aman.” Suara Shane memecah keheningan, rendah dan stabil.

Namun, sebelum Aiena sempat menyahut, Shane bergerak cepat ke arah sisi kursi penumpang. Tanpa peringatan, pria itu menarik tuas pengatur kursi. Dalam satu gerakan mekanis yang halus, sandaran punggung kursi Aiena merosot tajam ke belakang. Tubuh Aiena terjungkal mengikuti gravitasi hingga ia berada dalam posisi berbaring sepenuhnya, menatap langit-langit mobil yang dilapisi bahan suede gelap.

“Eh! Shane! Mau apa?!” pekikan panik lolos dari bibir Aiena. Tangannya refleks menahan bahu Shane yang sempat condong ke arahnya untuk memastikan tuas itu terkunci. Pikiran buruk seketika menyerbu benak Aiena. Trauma dari ancaman sang kekasih di luar sana membuat insting pertahanannya bekerja berlebihan. Ia membayangkan skenario terburuk, bahwa ia baru saja keluar dari mulut harimau hanya untuk masuk ke kandang singa. Matanya membelalak lebar, penuh kecurigaan dan rasa takut yang baru. 

“Lepasin! Jangan macam-macam, Shane!”

Suara tawa rendah, renyah, dan tulus tiba-tiba memenuhi kabin mobil. Shane menarik tubuhnya kembali ke posisi duduk sempurna di kursi kemudi, tangan kanannya memasang seat belt pada tubuhnya sementara tangan kirinya menutupi mulutnya yang sedang terkekeh. Ia menoleh ke arah Aiena yang masih terbaring kaku dengan wajah merah padam antara marah dan takut.

“Tenang, Na. Saya bukan cowok mesum,” ujar Shane di sela tawanya yang mulai mereda. Ia menggelengkan kepala, menatap Aiena dengan binar jenaka yang jarang terlihat di kantor. “Kamu pikir saya tipe orang yang akan memanfaatkan situasi seperti ini? Di dalam mobil saya sendiri?”

Aiena mengerjapkan mata, masih merasa bingung dan waspada. “Lalu kenapa kamu menurunkan kursinya sampai begini? Ini posisi yang tidak sopan!”

Shane mulai melepaskan injakannya pada pedal rem dan memutar kemudi, perlahan menjalankan sedan itu keluar dari slot parkir. “Coba kamu pikir secara logis. Kita akan melewati gerbang keluar basement yang posisinya hanya terpaut beberapa meter dari trotoar tempat pacarmu itu berdiri. Meskipun kaca mobil ini dilapisi film yang cukup gelap, bayangan seseorang yang duduk tegak di kursi penumpang tetap akan terlihat jika dia jeli, apalagi jika lampu jalan menyorot tepat ke arah kita.”

Pria itu melirik Aiena lewat sudut matanya, senyum tipis masih menghiasi wajahnya yang tampan. “Dengan posisi berbaring seperti itu, kamu benar-benar hilang dari pandangan siapapun yang melihat dari luar. Kamu tidak akan terlihat di kaca samping maupun kaca depan. Kamu hanya perlu tetap diam di sana sampai kita benar-benar keluar dari jalan ini dan berbelok ke jalan utama.”

Aiena terdiam. Rasa malu yang luar biasa seketika menyapu sisa-sisa kepanikannya. Ia merasa sangat bodoh karena telah berpikiran kotor pada pria yang justru sedang berusaha keras melindunginya. Perlahan cengkeramannya pada tas ia lepaskan, membiarkan tubuhnya rileks di atas jok kulit yang nyaman. Benar juga, dalam posisi ini, ia tersembunyi dengan sempurna.

“Maaf, saya terlalu sensitif malam ini,” ujar Aiena, masih merasa malu pada bos tampannya itu. 

“Saya tahu, saya tidak tersinggung. Dalam situasi, waspada itu jadi refleks,” sahut Shane, suaranya kembali melembut, kehilangan nada candaan yang tadi. 

Mobil itu perlahan menanjak naik menyusuri jalur keluar basement. Cahaya lampu jalanan mulai masuk lewat kaca depan dan jendela saat mereka mendekati pintu keluar. Aiena menahan napas, memejamkan mata erat-erat saat merasakan mobil itu berhenti sejenak di ambang pintu keluar, lalu berbelok perlahan. 

Dari posisinya yang aman itu, Aiena bisa merasakan kehadiran ancaman itu hanya beberapa meter di luar sana. Namun disini, di bawah perlindungan Shane dan posisinya yang tersembunyi, ia merasa untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia benar-benar tidak tersentuh.

“Sudah aman,” kata Shane beberapa menit kemudian setelah mereka berhasil melewati beberapa tikungan. “Kamu boleh duduk tegak sekarang, Na. Kita sudah jauh dari kantor.”

Aiena menarik tuas joknya sendiri dan duduk kembali dengan perasaan lega yang membuncah. Ia menoleh ke samping, menatap profil samping wajah Shane yang diterangi lampu-lampu kota yang melintas cepat. Ada ketegasan di rahangnya, namun juga ada ketenangan yang anehnya menular kepada Aiena. 

Malam ini, di dalam sedan hitam ini, Aiena menyadari bahwa bantuan terkadang datang dari arah yang paling tidak terduga, dan dengan cara yang sedikit memalukan.

***

1
Wid Sity
waw gercep, langsung melamar 😍
Wid Sity
tiba-tiba jadi merakyat
Wid Sity
pacarannya lama banget, gak putus2
Wid Sity
si Haze mah seenak jidat di rumah Aiena, gak ada etika
Wid Sity
yang penting enak. Gak peduli tempatnya mewah atau estitik atau viral
Wid Sity
ambigu banget bang, Aiena jadi salah paham
Wid Sity
Haze gak jelas banget. Apa2 diatur, jam pulang diatur, pakaian diatur, makanan pun diatur
Wid Sity
kalo jumlah menunya banyak juga membingungkan, saking banyaknya bingung pilih menu apa
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!