Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Hutan Wyrm: Labirin Kematian
Dingin.
Itu adalah sensasi pertama yang menusuk paksa kesadarannya. Bukan dingin dari mesin pendingin ruangan yang stabil, melainkan dingin yang lembap, tajam, dan membawa aroma amis tanah basah yang pekat.
Alice tersentak bangun. Paru-parunya dipaksa bekerja keras menghirup oksigen yang terasa terlalu padat, seolah udara di tempat itu memiliki bobotnya sendiri. Matanya terbuka lebar, namun yang ia dapati bukanlah langit-langit apartemennya yang akrab. Di atas sana, kanopi pepohonan raksasa dengan dedaunan ungu gelap menjalin rimbun, menelan langit hingga hanya menyisakan celah sempit bagi cahaya pucat yang redup.
"Di mana... Aku?" Alice memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Saat ia mencoba bangkit, dunianya terasa runtuh. Rambut hitam sebahu miliknya telah berubah menjadi helaian merah muda panjang yang menjuntai kasar di atas tanah kotor. Jemarinya yang biasa menggenggam controller kini terbungkus sarung tangan sutra putih yang telah sobek.
"Stelion, apa alatnya rusak?" Pikirnya kalut.
"Atau mungkin... aku ketiduran?" Ia mencoba menekan menu logout di ruang hampa.
Satu detik. Lima detik.
Hening. Hanya ada suara gesekan daun yang saling beradu tertiup angin kencang.
"Logout!!" teriaknya parau.
Nihil. Sebagai gantinya, sebuah panel status semi-transparan muncul dengan pendar neon di sudut penglihatannya.
[ STATUS ]
Nama: Alice
Kelas: Penyihir Support (Lv. 30)
HP: 3.000 / 3.000
MP: 1.000 / 1.000
Lokasi: Benua Vlagria - Hutan Wyrm
Status: Confusion / Shock
"Wyrm?" Alice memucat. Jantungnya berdegup kencang hingga denyutnya terasa di pangkal tenggorokan.
Hutan Wyrm adalah zona maut untuk pemain level 60 ke atas. Karakter level 30 miliknya hanyalah cemilan sekali gigit bagi predator di sini.
KRETAK.
Sesosok siluet merayap keluar dari kegelapan. Tingginya dua meter, dengan kulit bersisik hitam yang tampak berminyak, serta taring yang meneteskan cairan hijau korosif yang berasap saat menyentuh tanah.
[ MONSTER ]
Nama: Venom Stalker (Elite)
Level: 60
HP: 15.000 / 15.000
Status: Agresif
Monster itu mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Alice. Makhluk itu melompat kecepatannya tidak masuk akal, melesat bagaikan bayangan hitam dengan cakar yang terhunus.
"Jangan mendekat!" Alice mundur secara insting.
"[Holy Shield]"
Secara refleks, ia mengangkat tangan. Partikel cahaya suci muncul dari udara kosong, membungkus tubuhnya dalam sekejap.
PRANG!
Kubah cahaya itu hancur seketika layaknya kaca yang dihantam palu godam. Alice terhempas hebat, punggungnya menghantam batang pohon tua dengan bunyi debukan keras. Rasa sakitnya... nyata. Paru-parunya menyempit, dan rasa amis darah mulai membanjiri mulutnya.
"Sakit!! Kalau aku mati di sini... aku benar-benar mati."
[ STATUS ]
HP: 950 / 3.000 (Kritis)
MP: 950 / 1.000
Monster itu merendahkan tubuh, bersiap menerkam kembali. Alice tahu, satu serangan fisik lagi akan memutus benang nyawanya. Di tengah rasa sakit yang mengoyak kesadaran, otaknya yang terbiasa menganalisis strategi raid mulai berputar liar.
"Apa aku akan mati? Tidak... Aku tidak ingin mati... Pasti ada... kelemahan... venom... stalker... Cahaya!"
Alice melihat sisa-sisa Holy Shieldnya yang hancur menjadi serpihan cahaya di tanah. Alih-alih merapalkan mantra serangan yang tak akan mempan, ia menyentuh partikel-partikel tersebut.
"[Light Synthesis]!" teriaknya dengan sisa tenaga.
Itu bukan sihir serangan, melainkan sihir buff untuk memanipulasi intensitas cahaya. Serpihan perisai yang pecah itu justru meledak menjadi pijaran putih yang luar biasa intens, membutakan sang monster tepat di depan wajahnya. Makhluk itu melengking kesakitan, cakarnya menghantam angin secara membabi buta.
Alice tidak berhenti. Ia tahu fisiknya terlalu lambat untuk berlari di medan ini. Sambil merangkak mundur, ia mengangkat tongkat kayunya, mengarahkan ujungnya pada dirinya sendiri.
"[Weightless Grace]"
Tubuhnya terasa seringan kapas. Namun, ia tidak sekadar lari. Ia menggunakan sisa Mananya untuk merapalkan [Mass Slow], bukan pada monster itu (karena akan resist pada level yang jauh lebih tinggi), melainkan pada area tanah berlumpur di bawah kaki predator tersebut.
Lumpur itu berubah menjadi cairan kental yang mengisap. Sang Venom Stalker yang buta dan mengamuk justru terperosok ke dalam jebakan buatannya.
Alice berusaha melarikan diri, namun semburan cairan korosif mendadak menyambar, menghentikan langkahnya secara paksa.
Ceeessshh!
Cairan itu seketika melelehkan sebatang pohon setinggi lima meter tepat di depan wajahnya dalam hitungan detik.
"Mmmpph... Hampir saja..!!!" Alice tersentak mundur, jantungnya berdegup kencang menatap sisa pohon yang mencair.
Di belakangnya, sang monster menyemburkan zat asam secara membabi buta ke segala arah.
Cessh... Spassh... Ceesh...
Dengan tubuh yang diperingan sihir, Alice melompat dan berlari dalam pola zig-zag, menghindari setiap percikan maut hijau yang sanggup melumat dagingnya.
"Terkena sedikit saja, aku akan meleleh seperti pohon ini..."
Ia memaksakan kakinya terus memacu. Berkat buff kecepatan, ia mampu melompati semak berduri dengan kelincahan yang mustahil. Paru-parunya terasa terbakar dan jubahnya tercabik-cabik, namun ia terus menembus kegelapan hutan.
Sementara itu, penglihatan Venom Stalker mulai pulih. Setelah lolos dari lumpur hisap, makhluk itu mengejar dengan raungan buas yang menggetarkan hutan.
"Hah.. Ughh.." Alice mulai kehabisan napas. Dadanya terasa panas seperti disiram air raksa.
Ia jatuh tersungkur di sebuah lereng bukit kecil, terengah-engah dalam debu.
"Hah... Mmmm... Hah... Bagaimana ini?" Alice menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi.
Ia terjebak. Di depannya hanya ada hutan rimbun yang menyesatkan dan jurang yang menganga lebar di belakang. Ia terperangkap dalam tubuh ini, di dunia yang seharusnya hanyalah deretan kode biner.
Ssssrrrkkkk...
Suara dedaunan bergeser. Bukan angin. Itu adalah gesekan kulit bersisik sang Venom Stalker, monster itu kian mendekat.
Groooaaarr...!!!
Alice memaksakan tubuhnya berdiri meski tungkainya terasa seberat timah. Makhluk itu menerjang keluar dari kegelapan, meluncur lurus ke arahnya bagaikan peluru hitam.
Entah karena refleks atau murni insting bertahan hidup, Alice melempar tubuhnya ke samping. Ia jatuh terseret di atas tanah yang lembap, merasakan tekstur lumpur yang dingin di kulitnya.
"Uuuukkkh..." Alice terguling-guling, mengotori jubah putihnya.
Venom Stalker yang sudah terlanjur melompat tak lagi mampu melawan hukum fisika. Ia meluncur melewati batas tebing, cakarnya mencakar udara kosong sebelum jatuh ke jurang dalam.
Groooaaar...!!!
Raungannya kian menjauh hingga menyisakan dentuman tumpul di dasar jurang, pertanda sang predator telah menemui ajalnya di kegelapan yang lebih dalam.
"Hah... hah... hah..."
Napas Alice berpacu cepat. Sisa adrenalin masih menyetrum sarafnya.
Tes!
Air mata mulai jatuh, membasahi pipinya yang kotor oleh debu peperangan.
"Tempat apa ini? Bagaimana aku bisa ada di sini?" Tangannya bergetar hebat. Rasa takut yang murni dan primitif menyelimuti jiwanya.
Di tengah isak tangis yang tertahan, telinga Alice menangkap sesuatu.
TRANG! CLANG!
Bukan raungan monster. Itu adalah suara logam yang menghantam logam. Berat, berirama, dan penuh tenaga.
Alice mendongak, matanya yang besar berkaca-kaca menatap ke puncak bukit. Di sana, di balik kabut tebal, ada tanda-tanda kehidupan. Gema pertarungan yang jauh lebih megah.
Alice menguatkan genggamannya pada tongkat kayu penyihirnya, menyeret tubuhnya yang gemetar menuju sumber suara tersebut.
cape😅