Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETIR DISIANG BOLONG
Hujan sore itu tidak deras, tapi cukup untuk membuat genteng berisik dan hati Bailla tambah sumpek.
Di meja makan, surat-surat dari bank tergeletak seperti mayat. Amplop merah, cap “Peringatan Terakhir”, dan satu map berisi sertifikat rumah yang sudah atas nama orang lain sejak minggu lalu. Mami meremas ujung taplak. Papi menatap gelas kosong, seolah di dasarnya ada jawaban.
Tiba-tiba HP papi bunyi.
kring. kring. nomor ga dikenal.
Papi angkat. "Halo? ya saya..."
Dii seberang, suara cowok. berat. capek. tp tegas.
" Selamat Malam Pak Bayu . Saya Arya. Maaf ganggu malem2."
Papa kening berkerut. "Arya? Arya siapa ya?"
"Saya... Anaknya Almarhum Pak Bima , Pak. Saya ganti nomor Pak.". Jawab Arya.
"Oh nak Arya. Apa kabar?. Lama gak ada beritanya?" Tanya pak Bayu.
"Alhamdulillah Pak. Kabar saya Baik. Maaf pak kalau Jarang ngubungin Bapak. Saya Kehilangan kontak Bapak. Ini dapat nomor dari Pak Nanang teman Bapak.
" Ohh iya. Tinggal dimana sekarang nak?.
"Sekarang saya tinggal di kota ini Pak. Baru sebulan pindah kesini. Ngomong-ngomong Sy ada yang ingin di bicarakan dengan Bapak.
"Oh iya nak "?. Ada apa ya" Tanya Pak Bayu ingin tau.
" Begini Pak," Arya potong. pelan. "Saya denger kabar dr orang... soal perusahaan Bapak. Saya ikut prihatin."
Papi diem. tangannya remes HP. "Iya nak. Bapak lagi dapat musibah. Semua usaha Bapak Pailit"
"Saya mau bantu Pak. Tanpa syarat," Arya langsung. "Utang Bapak di bank berapa? Saya lunasi. Rumah Bapak yg disita? Saya tebus. Bapak bisa balik lg. Usaha lg."
Papa kaget. berdiri. "kamu... kamu ngomong apa? Kamu tau saya utang berapa? 12 M! Kamu siapa? Bandar narkoba?"
Arya ketawa. pendek. "bukan Pak. Alhamdulillah perusahaan saya sudah lumayan maju. Sekarang induknya dikota ini. Untuk bantu Bapak Insyaallah ada
Papi duduk lg. bingung. "terus... terus gimana cara saya membayarnya nak. Saya gak punya apa-apa sekarang! Papi masih belum yakin.
" Pak. Saya membantu Ikhlas Pak. Karena ini merupakan amanah dari Almarhum Bapak saya. Dan lagi Bapak juga sudah banyak membatu saya. sampai bisa seperti ini". Arya berusaha meyakinkan Pak Bayu.
" Saya gak bisa menerima begitu saja nak. ". Apa yang bisa Bapak lakukan untuk membalas semu bantuan ini".
"Pak apa boleh Saya minta bantuan Bapak. Tapi mohon maaf Pak mungkin ini terlalu berat. Tapi saya hanya percaya sama Bapak bisa membantu saya ". Suara Arya terdengar berat.
Pak Bayu : "Apa yang bisa Bapak bantu nak?
" Saya butuh ibu buat anak2 saya, Pak," Arya suaranya serak. "Istri saya meninggal 3 Tahun yang lalu. Anak saya yg paling Tua usianya 17 tahun, Yang kedua usianya 12 Tahun dan kecil 3 tahun. Anak yang kecil malem nangis nyari mama. Saya ga bisa bagi waktu. Anak saya ga keurus kalo saya kerja."
" Pak saya ingin menikahi Bailla anak Bapak. Saya ingin punya istri yang bisa mengurus anak-anak saya terutama yang kecil. Bisa ngajarin anak saya belajar dan menemani mereka bermain".
"jd... kamu mau... nikahin Bailla?" papa bisik. takut mama denger.
"iya Pak," Arya tegas. "Saya ga maksa Bailla. Saya cuma minta Bapak... minta tolong Bapak bujuk Bailla. Saya ingin menjadi bagian dari keluarga Bapak.
Papa napas. berat. 12 M. Rumah balik. Usaha bisa jalan lg. Mama ga usah cuci baju orang. Bailla ga usah jd barista.
Tapi... jual anak?
"Pak," Arya nyambung. "Saya janji. Saya ga bakal kasarin Bailla. Saya bakal jaga dia. Saya cuma... saya capek Pak. Saya butuh temen hidup. Anak2 saya butuh ibu. Bailla... dia baik. Saya liat dia sabar. Dan bisa menjadi ibu dan teman bagi anak saya
Papa tutup mata. inget bailla nangis di kamar mewah. inget bailla nahan gak jajan. inget bailla bilang "aku ga bisa hidup susah yah".
"Knak saya... dia masih 21 Pak," Dia masih kuliah. Masih punya banyak cita-cita. papa suaranya geter. "dia... dia ga pantes ngurus anak 3."
"Saya tau Pak," Arya jawab. "Makanya saya ga minta sekarang. Kasih waktu. Biar Bailla kenal anak2 saya dulu. Biar dia... biar dia yg mutusin. Saya ga bakal sentuh dia sebelum dia ikhlas."
"terus kalo dia ga mau?" papa ngetes.
"yaudah Pak," Arya pelan. "Saya tetep bantu. Saya ga tega liat Bapak dan keluarga kesusahan.
Hening. lama.
cuma suara kipas krek krek. sama suara mama cuci piring.
"Pak," Arya terakhir. "Saya ga minta jawaban sekarang. Bapak pikirin. Diskusi sama Bu. Sama Bailla. Nomor saya ada. Kalo Bapak mau, dateng ke bengkel saya. Jalan Raya Bogor KM 18. Bengkel Maju Motor. Tanya aja Arya."
tut. mati.
Papi masih pegang HP. bengong.
Mama dr belakang. "sama siapa Pi? Kok muka pucet?"
papa noleh. "ma... Arya anaknya Almarhum Pak Bima temannya Papi... mau lunasin utang kita."
"HAH?" piring hampir jatoh. "siapa? beneran? syukur alhamdulillah Pi!"
"Tapi..." papi susah ngomong. ". Karena dia juga minta bantuan kita"
"Bantuan apa Pi ? mama semangat.
"Dia... dia mau nikahin Bailla," papa bisik.
Piring jatoh. PRANG.
Pukul 20.00 Di Ruang Tamu.
Bailla baru keluar dari kamarnya. Tiba tiba ia dipanggil Maminya untuk duduk dekat mama.
"Ada apa mi". Apakah kita akan pindah? Tanya Bailla.
“Pak Arya mau bantu,” kata Mami akhirnya. Suaranya tipis, seperti kertas. “Semua utang perusahaan lunas. Rumah ini kembali. Kita akan kembali seperti semula dan kamu bisa tetap kuliah.”
Bailla yang baru melepas sepatu kuliah, mendadak lupa caranya menelan ludah. “Pak Arya temannya Papa yang hadir waktu ulang tahun ku dulu itu?”
Papi mengangguk. Tidak berani menatap mata anaknya. “Dia duda usia sekarang 38 tahun. Tiga tahun ditinggal istri. Anaknya tiga orang. Anak sulungnya SMA, yang tengah SMP sedangkan Yang paling kecil masih balita. Bayu itu orang baik Bailla Papi merasa tenang kalau kamu sama dia”
Kalimat itu jatuh ke lantai, pecah. Bailla menghitung: Jarak usia antara dia dan pak Bayu, sekarang Bailla berusia 20, sedangkan pak Bayu 38 tahun. 18 tahun jarak yang tidak bisa dijembatani dengan kata “dia orang baik”.
“Jadi syaratnya apa?” Bailla bertanya, meski dia sudah tahu. Orang kepepet tidak dapat tawaran gratis.
“Kamu,” jawab Mami. Satu kata itu saja sudah membuat tembok rumah terasa menghimpit. “Dia mau kamu jadi ibu buat anak-anaknya. Jadi istrinya.”
Bailla tertawa. Bukan karena lucu. Karena kalau tidak tertawa, dia akan menjerit dan mengemparkan seisi rumah . “Aku kuliah belum lulus, Mi. Aku mau kerja. Mau nulis. Mau pacaran kayak orang-orang. Bukan... bukan jadi mama dadakan buat tiga anak orang. Mama Bailla aja belum bisa masak, cuci pakaian saja Bailla gak pernah ini menikah langsung dapat 3 anak, mami bayangin gimana Bailla bisa-bisa Bailla jadi nenek-nenek sebelum waktunya belum lagi ngurus suami Bailla siang belum malamnya lagi.” ujar Bailla dengan suara yang tinggi
“Tidak ada yang mau, Bailla,” suara Papi serak. Lelaki yang dulu terlihat gagah dan plamboyan itu kini kusut dan tidak seceria seperti dulu, dikalahkan angka-angka. “Papi sudah jual semua aset dan mengadaikan semua termasuk rumah ini Bailla. Sudah gadai cincin kawin Mami juga. Tinggal rumah ini. Kalau ini hilang, kita ke mana?”
"Papa tau kamu pasti sulit untuk menerima ini, tapi papi tidak sanggup jika kamu dan mami hidup sengsara, Kamu satu-satunya nak kami. Sementara papi tidak tau Bailla mungkin papi akan meringkuk di penjara jika tidak bisa melunasi semua hutang perusahaan Papi bagaimana nasib kamu dan mami nanti". Suara Papi mulai terdengar bergetar.
Tuhan begitu berat nya cobaan ini batin Bailla. Dia bayangkan dirinya bangun jam 5 pagi bikin bekal, bukan ngejar deadline skripsi. Dia bayangkan teman-temannya wisuda, sementara dia wisuda jadi istri orang. Tidak terasa air matanya tumpah seakan seperti air bah yang tidak bisa tertahan lagi. bahannya bergetar kakinya seakan tidak bisa menopang tubuh mungilnya.
“Kalau aku bilang enggak?” bisik Bailla.
Mami menutup mulut dengan kedua tangan. Papi menunduk sampai dagunya hampir menyentuh meja. Tidak ada yang menjawab. Karena mereka tahu, “enggak” dari Bailla berarti itu harga mati.
Malam itu Bailla tidak tidur. Dia menulis di buku diari yang sampulnya sudah mengelupas:
“20 tahun aku dipanggil ‘Anak Mami Papi’. Ternyata harganya adalah jadi ‘Istri Orang’ dan ‘Mama Tiga Anak’ dalam semalam. Aku tidak benci Papi dan Mami dan juga Pak Arya. Aku benci karena aku tidak punya pilihan. Katanya wanita bebas memilih. Bohong. Aku cuma bisa memilih: keluargaku hancur, atau aku yang hancur pelan-pelan.”