Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 1
Perkenalkan namaku Amanda. Aku anak bungsu di keluargaku. Keluargaku mungkin bisa dibilang keluarga yang sedang-sedang saja secara ekonomi. Tadinya. Tapi setelah ayahku meninggal karena penyakitnya, aku putus sekolah. Mencari pekerjaan di tengah-tengah masyarakat yang begitu asing bagiku waktu itu. Apa saja ku kerjakan. Kata ibuku asalkan aku pulang membawa uang atau paling tidak nasi bungkus untuknya.
Kakakku? Dia masih melanjutkan sekolahnya. Ibuku bilang kalau laki-laki harus sekolah yang tinggi agar bisa mencari pekerjaan yang baik. Sempat aku bertanya, kenapa aku juga tidak melanjutkan sekolahku? Tapi malah aku yang kena omelan. Katanya, perempuan itu gunanya di dapur. Tak perlu sekolah tinggi asal tau bumbu dan bahan masakan sudah cukup.
Aku ingin mendebat. Tapi itu pikiranku sekarang setelah usiaku cukup untuk berpikir jika itu tidak benar. Dulu boro-boro mendebat ibu, untuk paham jika ayahku sudah tiada saja rasanya butuh waktu yang lama.
Sekarang disinilah aku, warung bakso pinggir jalan yang ada di kotaku. Bukan untuk menikmati hidangannya, melainkan aku lah yang melayani mereka yang datang singgah di warung ini. Aku sudah bekerja disini hampir 2 bulan lamanya. Belum cukup lama memang, tapi aku berusaha untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa.
"Man, tolong bersihkan meja itu ya!"
Teriak bos ku yang juga sedang melayani para pelanggan.
"Iya mba." Aku bergegas mengambil mangkok-mangkok yang berada di atas meja begitupula gelas gelas dan sampahnya. Mengangkutnya ke belakang, tempat biasa aku mencucinya.
Aku tak langsung mencuci bekas kotor itu, karna mba Nia, bosku itu sudah memanggilku kembali.
Walaupun badanku terasa lelah, aku masih berusaha cekatan. Bukan apa-apa, aku hanya merasa jika aku dipekerjakan oleh orang maka sudah tugasku untuk bersikap profesional. Walaupun hanya tukang bakso, aku merasa hal itu juga merupakan suatu kewajibanku sebagai karyawan.
Hari ini warung terasa lebih pengap dan ramai. Ruang gerak ku juga sempit karena memang warungnya juga tak terlalu luas. Di tambah pelanggan yang silih berganti.
"Semoga saja bonusnya juga banyak." Gumamku dibelakang.
"Manda. Ambilkan saus dan kecap di belakang."
Aku bergegas meninggalkan pekerjaanku untuk mengambil barangnya.
Tak terasa hari sudah berganti gelap. Aku masih duduk di kursi plastik. Pekerjaanku sudah selesai semua. Rasanya kakiku kram sampai tak terasa.
"Ini gajimu hari ini. Karena rame aku tambahin gajimu. Anggaplah bonus hari ini."
Aku berbinar menerima uang puluhan ribu itu. "Terimakasih mba."
Aku berlalu setelah berpamitan pada bosku. Aku tak langsung pulang, aku mampir ke warteg yang biasa aku datangi sebelum pulang ke rumah.
"Budhe nasi rames 3 ya."
"Kakakmu blm nemu kerjaan juga man?"
Aku menggeleng setelah diriku duduk di depan kursi panjang depan etalase lauk.
"Belum lulus juga sekolahnya?"
Aku menghembuskan nafas pelan. Masalah ini cukup sensitif bagiku. "Sudah budhe. Tapi kayaknya blm ada kerjaan yang cocok aja."
"Halah. Kakakmu loh laki-laki! Bukannya jadi tulang punggung keluarga malah enak leha-leha makan hasil kerja keras adiknya."
"Sudahlah budhe. Percuma juga ngomong begitu, apalagi tau sendiri kan ibu sama kakakku gimana?"
Budhe sarti mengangguk. Tak menjawab. Dia memberi ku plastik berisi pesananku.
Aku tau budhe sarti pemilik warteg ini masih memandangku iba. Bahkan, setelah aku berlalu pergi dengan perasaan campur aduk itupun aku masih merasa mata belas kasihan budhe sarti masih menujuku.
"Assalamualaikum."
Aku membuka pintu kayu rumahku pelan. Udara pengap, bukan karena hawa rumahnya tapi karena tekanan batinku mulai merambah dadaku.
"Sudah pulang? Kamu beli apa yang aku minta tadi pagi kan?"
Ah! Kakakku tadi pagi minta dibelikan makan malam dengan ayam krispi.
Aku menggeleng. Lalu meletakkan bungkusan nasi rames warteg itu di meja dapur.
"Bukannya tadi warungnya rame ya? Pasti dapet bonus banyak kan?"
"Kok kakak bisa tau?" Aku bertanya heran.
"Tadi aku sama ibu ke pasar lewatin warung kamu kerja."
"Ngapain ke pasar?" Aku bertanya seraya menghampiri kakakku yang sedang berbaring di kursi ruang tamu.
"Ya beli keperluan lah." Bukan kakakku yang menjawab tapi ibuku yang menjawab seraya keluar dari dalam kamar.
"Ke pasar lagi? Tapi itu token listrik belum di isi juga bu."
"Ya itu tugas kamu lah. Kamu udah dapet gaji lagi kan?" Tanya ibuku sambil berlalu ke dapur. "Nasi rames lagi? Uangmu ga cukup buat beli makanan yang lain kah?"
"Cukup bu. Tapi kan aku juga harus ngisi token listrik juga. Aku juga harus nabung Bu." Jawabku.
"Nabung buat apa?"
"Aku juga pengin sekolah kaya kak Toni."
"Halah! Buat apa sekolah mending cari kerja yang gajinya lebih gede dari warung bakso itu."
"Bu! Yang harusnya pontang panting cari kerja buat nafkahin kita itu kan kak Toni. Tapi apa? Dia enak-enakan ongkang kaki di rumah." Aku berbicara geram.
"Kakakmu baru lulus sekolah-"
"Udah mau setahun bu dia lulus kalo ibu lupa! Lagian ya Bu, ibu kan masih cukup muda. Kenapa ibu ga ikut cari uang. Seenggaknya buat ibu sendiri. Buat beli keperluan ibu."
"Banyak nyerocos kamu! Kamu itu harus tau diri!"
"Tau diri kenapa? Kenapa ibu semenjak ayah ga ada jadi pilih kasih sama kak Toni dan aku?"
"Diam! Pergi ke kamar mu!"
Sebelum aku pergi, kulihat ibu mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah. Aku tau ibu sangat marah. Tapi kenapa? Setiap aku bertanya soal itu harus dengan amarah untuk menjawabnya?
Ku buang asal tas slempangku di dalam kamar. Kubenamkan wajahku dalam bantal. Berharap rasa sesak dalam dadaku berangsur hilang. Tapi bukan hilang, malah bayang-bayang ayahku yang muncul. Setiap aku merasa sedih bayangan ayahku muncul seperti menenangkan. Tapi kenapa malah makin deras air mataku? Bukannya harusnya aku langsung diam dan dadaku lega?
"Ayah.. kenapa ibu selalu marah? Aku ada salah apa? Padahal aku selalu berusaha untuk bekerja keras. Harusnya kan kak Toni yang dimarahin karena hanya di rumah saja."
Aku menggerutu manja. Seperti dulu saat ayahku masih ada di dunia ini. Memeluk lengan besarnya seakan dunia aman jika ada dirinya. Tapi sekarang, apa aku boleh bilang jika dunia ini sangat kejam untukku? Bahkan orang terdekatku saja malah makin membuat duniaku hancur.