Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
"Kita sudah resmi menikah, Kak Arumi." bisik Brian dengan nada sarkas yang kental. Ia sengaja menekankan kata 'Kak' untuk mengejek status mereka sebelumnya. Bagaimana bisa kau berpura-pura suci dan menolak berhubungan intim dengan suamimu sendiri, hmm?"
Nafas Brian terasa panas di ceruk leher Arumi. Pria itu mengunci kedua tangan Arumi di atas kepala, mengurung tubuh mungil wanita itu di bawah kurungan tubuh kekarnya yang dominan.
"Jangan macam-macam, Brian!" Arumi bergerak gelisah di bawah himpitan tubuh kekar itu. Jantungnya berpacu liar. "Kau sudah bersumpah tidak akan menyentuhku!"
Brian tidak menjauh, ia justru menyeringai, sebuah senyuman tipis yang terlihat berbahaya sekaligus menawan. "Sumpah dibuat untuk dilanggar, Arumi. Apalagi jika godaannya tepat di depan mata."
"Menyingkir lah, atau aku akan pergi dari hidupmu sekarang juga!" tantang Arumi nekat.
"Cobalah kalau berani." Brian justru semakin mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Arumi bisa merasakan deru nafas pria itu yang memburu.
"Kau gila, Brian," desis Arumi dengan suara tertahan.
"Mungkin," jawab Brian santai jarinya kini beralih menelusuri rahang Arumi dengan gerakan yang lambat dan menggoda. "Tapi itulah harga yang harus kau bayar jika ingin bebas dariku, istriku. Berikan aku pewaris Aditama, dan kau boleh pergi ke mana pun kau mau."
Brian tidak memberikan celah sedikit pun bagi Arumi untuk memprotes. Ia membungkam bibir Arumi itu dengan ciuman yang jauh dari kata lembut, sebuah serangan yang penuh tuntutan, amarah dan keinginan untuk berkuasa.
Arumi sempat meronta. Tangannya terkepal, mendorong dada bidang Brian, yang sekeras batu karang. Namun, pertahanannya perlahan luruh. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Brian campuran dari kayu cendana dan hawa panas yang provokatif mulai mengaburkan sisa-sisa logika Arumi. Napasnya mulai pendek, kalah dengan oleh dominasi pria itu.
Tangan Brian yang kasar tetapi hangat mulai menjelajah, menuntut hak yang kini secara hukum telah ia miliki. Setiap sentuhannya terasa seperti api yang menjalar, membakar dinding kebencian yang selama ini Arumi bangun. Lalu menyisakan getaran asing yang menyesakkan dada.
"Katakan kau menginginkanku, Arumi," bisik Brian parau suaranya rendah, terdengar seperti titah yang tidak mengenal penolakan.
Arumi hanya bisa mencengkeram seprai sutra dibawahnya, hingga jemarinya memutih. Matanya terpejam rapat saat setetes air mata jatuh di sudut pelupuknya. Bayangan mendiang suaminya, melintas sekilas dingin dan sunyi, membuat nuraninya mengiyakan kata pengkhianatan. Namun, tubuhnya justru berkhianat dengan cara yang paling memalukan, merespon setiap sentuhan Brian dengan reaksi yang tak terkendali.
Malam itu, dibawah temaram lampu kamar yang mewah, garis batas antara benci dan gairah menjadi abu-abu. Brian tidak hanya sedang mengambil tubuh Arumi, ia sedang meruntuhkan benteng harga diri wanita itu hingga tak tersisa.
Saat kegelapan malam semakin pekat, hanya suara nafas yang bersahutan dan detak jantung yang berpacu kencang menjadi saksi bisu. Brian memeluk Arumi dari belakang, membiarkan keheningan itu mencekam sesaat sebelum akhirnya ia memecah kesunyian dengan suara berat dan penuh penekanan.
"Aku akan mengisi rahimmu dengan benihku setiap hari hingga kau hamil anakku," gumam Brian, suaranya menggetarkan udara di antara mereka. Ia mengecup bahu Arumi, lalu turun menyusuri lekuk tubuhnya. "Dan saat itu tiba, tidak ada lagi nama pria itu di pikiranmu, bahkan di hatimu."
Brian mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman dalam di punggung Arumi yang terbuka, menandai kepemilikannya secara mutlak. Mulai detik ini, hidup mereka telah terjerat dalam ikatan yang paling berbahaya.