"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sisa Harga Diri di Ujung Sepatu
Suasana ruang tamu di rumah besar keluarga Mega terasa begitu dingin bagi Tian, meski pendingin ruangan tidak menyala terlalu kencang. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan emas kakek Mega, dan Tian hadir mengenakan kemeja batik yang warnanya sudah mulai memudar di bagian kerah satu-satunya pakaian terbaik yang ia miliki.
"Taruh saja kado murahanmu itu di bawah meja, Tian. Jangan dicampur dengan kado dari tamu yang lain, nanti malah merusak pemandangan," suara ketus itu berasal dari Dewi, ibu mertuanya.
Tian hanya tersenyum tipis, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia melirik Mega yang duduk di sampingnya. Istrinya itu terlihat cantik dengan gaun sederhana yang ia jahit sendiri, namun matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. Mega menggenggam tangan Tian di bawah meja, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Ma, jangan begitu. Tian sudah berusaha membeli itu dengan menyisihkan uang makannya selama sebulan," bisik Mega lirih.
"Menyisihkan uang makan? Hah! Makanya, Mega, Mama sudah bilang berkali-kali. Menikah itu butuh makan, bukan cuma butuh cinta yang bikin perut keroncongan. Lihat Adrian," Dewi menunjuk seorang pria perlente yang baru saja masuk dengan jam tangan Rolex yang berkilau. "Dia baru saja menyumbang satu unit mobil untuk yayasan Kakek. Sedangkan suamimu? Memberi jam dinding plastik saja mungkin cicilannya belum lunas."
Tawa pecah dari kerabat yang lain. Tian menunduk. Ia bisa merasakan tatapan kasihan dan jijik dari orang-orang di sekitarnya. Di dunia ini, pria tanpa harta memang seringkali dianggap pria tanpa harga diri.
"Tian, kau tahu kenapa aku membencimu?" Dewi berdiri, mendekati Tian dan berbisik cukup keras agar terdengar semua orang. "Karena kau telah mencuri mutiara dari genggamanku, lalu kau rendam dia di dalam lumpur kemiskinan. Kau bukan suami, kau hanyalah beban."
Tian bangkit berdiri. Ia tidak marah, atau lebih tepatnya, ia tidak punya hak untuk marah. "Saya permisi ke belakang sebentar," pamitnya dengan suara serak.
Ia melangkah ke arah dapur, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Adrian, sang mantan kekasih Mega, sedang berbicara dengan salah satu paman Mega di lorong.
"Kasihan Mega. Dia dulu primadona kampus. Sekarang, untuk beli bedak saja mungkin dia harus menunggu suaminya narik ojek sampai tengah malam," ejek Adrian yang disambut tawa kecil. "Kalau Mega mau, aku masih punya satu posisi untuknya. Bukan sebagai sekretaris, tapi sebagai wanita yang akan kupenuhi segala kebutuhannya. Jauh lebih layak daripada hidup dengan pecundang itu."
Tangan Tian mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dadanya, namun kenyataan bahwa tabungannya hanya tersisa lima puluh ribu rupiah di dompet membuatnya kembali melunglai. Ia tidak bisa melawan dunia dengan tangan kosong.
Saat hendak kembali ke ruang tamu, ia melihat Mega sedang dipojokkan oleh ibunya di sudut ruangan. Mega sedang menangis.
"Ceraikan dia, Mega! Sebelum kau mati muda karena kekurangan gizi! Adrian siap menerimamu kembali!" bentak Dewi.
Tian tertegun di balik pilar. Ia melihat istrinya, wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, sedang memegang perutnya dengan wajah pucat pasi.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Tian, Ma. Dia suamiku... surga... surga dalam hidupku," jawab Mega dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, tubuh Mega limbung. Ia jatuh tersungkur di lantai marmer yang dingin.
"Mega!" Tian berlari kencang, menerjang kerumunan. Ia mendekap tubuh istrinya yang tak sadarkan diri. Wajah Mega seputih kertas, dan ada bercak darah yang merembes di roknya.
"Minggir kalian semua!" teriak Tian saat Dewi mencoba menarik tangan Mega.
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!" teriak Dewi histeris.
Tian menggendong Mega dengan tenaga yang tersisa. Ia tidak peduli lagi pada hinaan atau baju batiknya yang kini terkena noda. Ia berlari keluar rumah besar itu, mengabaikan gerimis yang mulai turun. Di depan gerbang, ia melihat mobil mewah Adrian terparkir, menghalangi jalannya.
"Butuh bantuan, Pecundang? Mobilku jauh lebih cepat daripada motormu yang berasap itu," tawar Adrian dengan nada meremehkan dari kejauhan.
Tian tidak menjawab. Ia terus berlari menuju jalan raya, mencari taksi atau apa saja. Di bawah lampu jalan yang remang, ia bersumpah di dalam hati.
Jika hari ini Tuhan membiarkan Mega tetap hidup, aku bersumpah akan meratakan gunung emas untuknya. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan siapa pun yang pernah menghinanya.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam melaju kencang dan mencipratkan air genangan tepat ke arah mereka, membasahi tubuh Mega yang pingsan. Tian terhuyung, namun tetap mendekap Mega erat. Di saat itulah, ia menyadari satu hal pahit: Di dunia ini, orang miskin bahkan tidak diberi ruang untuk bernapas dalam keadaan darurat.
Tian berhasil mencegat sebuah taksi, namun saat di dalam, ia merogoh sakunya. Dompetnya tertinggal di rumah mertuanya saat ia berlari tadi. Sopir taksi menatapnya curiga melalui spion. Sementara itu, napas Mega semakin pendek dan tidak teratur. Apa yang akan dilakukan Tian untuk menyelamatkan nyawa istrinya tanpa sepeser pun uang di saku?
Tian merapatkan dekapan tangannya pada tubuh Mega yang terasa semakin mendingin. Di dalam kabin taksi yang pengap dan beraroma parfum jeruk murahan itu, jantung Tian berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap wajah istrinya yang terpejam rapat; bulu mata lentik Mega tampak gemetar, menahan beban kesakitan yang bahkan tidak bisa ia suarakan.
"Pak, tolong lebih cepat sedikit," suara Tian serak, nyaris hilang di antara deru mesin mobil tua itu.
Sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan topi lusuh, melirik dari spion tengah. Matanya yang tajam menangkap kegelisahan Tian yang tidak wajar. "Sabar, Mas. Ini hujan, jalanan licin. Lagipula, itu istrinya kenapa? Jangan sampai ada apa-apa di mobil saya, urusannya panjang."
Tian tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu. Tangannya merayap ke saku celana, berharap ada mukjizat berupa lembaran uang yang terselip di sana. Namun nihil. Jemarinya hanya menyentuh kain saku yang bolong. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya, bercampur dengan sisa air hujan yang belum kering.
Pikirannya melayang kembali ke ruang tamu mewah tadi. Bayangan wajah mertuanya yang penuh kebencian dan tawa meremehkan Adrian berputar-putar seperti kaset rusak. Mereka semua sedang berpesta, berdansa di atas penderitaannya, sementara mutiara yang mereka banggakan kini sedang bertaruh nyawa di pelukannya.
“Tuhan, jangan ambil dia sekarang,” rintih Tian dalam hati. “Hina aku sepuas dunia mau, tapi jangan ambil sumber cahayaku.”
Taksi itu mengerem mendadak di lampu merah. Tubuh Mega sedikit terdorong ke depan, membuat Tian refleks menahannya lebih erat. Saat itulah, sebuah bros kecil berbentuk bunga melati yang tersemat di gaun Mega jatuh ke lantai mobil. Itu adalah bros imitasi murah yang dibelikan Tian saat ulang tahun Mega bulan lalu. Harganya tidak seberapa, tapi bagi Mega, itu adalah perhiasan paling berharga.
Melihat bros itu tergeletak di lantai yang kotor, air mata Tian jatuh tanpa bisa dibendung. Ia merasa menjadi lelaki paling pecundang di muka bumi. Seorang suami yang bahkan tidak bisa menjamin keamanan istrinya dari rasa lapar, apalagi dari maut.
"Mas, sudah sampai," ucap sopir taksi datar saat mereka berhenti di depan lobi IGD rumah sakit umum. "Argo-nya enam puluh lima ribu."
Tian mematung. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap sopir itu dengan tatapan memohon yang paling rendah yang pernah dimiliki seorang manusia. "Pak... dompet saya tertinggal. Istri saya darurat. Saya mohon, biarkan saya membawa dia masuk dulu. Saya janji akan kembali untuk membayar."
Sopir itu mendengus kasar, wajahnya seketika berubah garang. "Halah! Modus lama! Gaya perlente pakai batik, tapi naik taksi saja mau menipu. Turun sekarang! Cari cara lain kalau mau gratisan!"
"Saya mohon, Pak! Satu menit saja, nyawa istri saya dipertaruhkan!" suara Tian meninggi, penuh keputusasaan yang menyayat hati.
Beberapa perawat di depan IGD mulai menoleh. Sopir itu justru keluar dan membuka pintu belakang dengan kasar, memaksa Tian untuk keluar sambil menggendong Mega yang masih tak sadarkan diri.
Di bawah guyuran hujan yang kembali menderas, Tian berdiri mematung di depan lobi rumah sakit. Ia menggendong istrinya yang basah kuyup, sementara taksi itu melesat pergi setelah menghujaninya dengan makian. Ia sendirian. Tanpa uang, tanpa dukungan, hanya ada tubuh lemah Mega dalam dekapannya.
Ia melangkah masuk ke ruang IGD dengan sisa-sisa tenaga. "Suster! Tolong istri saya!" teriaknya.
Seorang petugas administrasi menghadangnya dengan papan klip di tangan. "Data pasiennya, Pak? Tolong selesaikan administrasi pendaftaran dan uang muka untuk pemeriksaan awal."
Tian menatap petugas itu dengan pandangan kosong. Kalimat "uang muka" terasa seperti vonis mati di telinganya. Di belakangnya, ia melihat Adrian baru saja turun dari mobil mewah, melangkah masuk ke lobi rumah sakit dengan payung yang dipegangkan oleh supirnya. Adrian berjalan mendekat, menatap kondisi Tian yang mengenaskan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ternyata benar," ucap Adrian sambil merogoh dompet kulitnya yang tebal. "Cinta tidak bisa membayar biaya rumah sakit, Tian. Minggir, biarkan aku yang menyelamatkannya dengan cara yang seharusnya."
Adrian mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke meja administrasi sambil menatap Tian dengan senyum kemenangan. Akankah Tian membiarkan harga dirinya diinjak-injak demi nyawa Mega, atau adakah cara lain bagi Tian untuk membuktikan bahwa dia tidak butuh belas kasihan sang rival?.
Jangan lupa like dan komen ya semoga novel ini bisa berkembang, dukungan dari kalian semua yang paling terbaik
Lanjut bab 2...