Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku kembali Ayah! 1
chaaaat
chaaaat
Terdengar suara cam-bukan dari dalam ruang keluarga bersamaan dengan teriakan suara seorang wanita. Sedangkan dua orang anak yang masih kecil berada di sana menyaksikan yang di lakukan oleh ayah mereka. Ayah yang sedang murka dengan berita yang entah dia dapat dari mana jika ibunya tak setia kepadanya dan mengkhianati pernikahan mereka. Usia Aruna baru 12tahun sedangkan Arkha baru tujuh tahun.
"Kau lakukan saja tes DNA jika tak percaya kalau Aruna anak kandungmu! Aku tak pernah mengkhianati pernikahan dan juga cinta kita mas! Kau dapat kabar dari mana? Kenapa kamu tidak cek dulu semua beritanya?" Mutiara yang sudah terluka parah berbicara dengan sisa tenaganya.
"Sudah jelas jika kau berse-ling-kuh dan memiliki anak ha-ram dari hubungan kalian. Masih tak mau mengakui! Dasar wanita ja-lang mu-ra-han! Aku tak mengira jika kamu bisa membuat aku kecewa seperti ini Mutiara!" geram Bima Rahardian.
"Demi tuhan Mas! Aku tak pernah melakukan hal menji-jikan seperti itu! Percayalah padaku!" Mutiara mencoba untuk meyakinkan Suaminya.
"Bawa dia ke kamarnya dan obati lu-kanya! Jangan biarkan dia keluar dari dalam kamar!" perintah Bima kepada anak buahnya.
"Ayah ...," panggil Aruna saat ayahnya mendekat ke arah dirinya yang sedang mendekap Arkha yang masih kecil. Tapi harus melihat kemarahan dan murka ayahnya kepada sang ibu.
"Arkha, sini sama ayah sayang," Bima mengabaikan Aruna.
Karena beranggapan jika Aruna bukanlah anak kandungnya. Sedangkan Arkha malah terlihat ketakutan tak mau kepada ayahnya dan semakin mengeratkan pelukan kepada Aruna. Bima menatap tajam ke arah Aruna sebagai kode. Aruna mengerti dan mencoba membujuk Arkha agar mau pergi bersama dengan ayahnya.
"Aku takut kak ... Ayah jahat sama Ibu," jawab Arkha membuat Aruna bingung..
Salah Bima sendiri melakukan ke-ke-ra-san kepada istrinya di depan kedua anak mereka. Sehingga membuat Arkha yang masih kecil ketakutan melihat yang terjadi. Bukan hanya Arkha, Aruna juga sangat syok. Apalagi di dalam pembicaraan itu mengatakan jika ayahnya tak mengakui dirinya sebagai anak. Dan hanya mengakui Arkha dia antara mereka sebagai anak kandung.
Aruna ingin menangis tapi dia menahan keinginan itu karena melihat keadaan ibunya yang bahkan jauh lebih tersakiti tapi tak meneteskan air matanya. ibunya tegar walau dalam keadaan seperti itu. Mencoba menjelaskan kesalahan pahamanan yang terjadi antara mereka walau hasilnya sia-sia. Karena Bima tak mau mendengar semuanya. Seolah semua yang di jelaskan ibunya adalah kebohongan.
"Ayah, biarkan aku mengantar adek ke kamarnya dulu. Setelah lebih tenang, ayah bisa menemui Arkha kembali," ucap Aruna yang tak di tanggapi oleh Bima.
Sreeeeettttt
Bima menarik Arkha yang sedang berpelukan dengan kakaknya dengan ka-sar. Perlakuan Bima itu semakin membuat Arkha ketakutan. Bahkan berteriak meminta tolong kepada Aruna. Saat Aruna akan membawa kembali Arkha yang di bawa paksa ayahnya, dengan tanpa perasaan Bima menendang Aruna.
"Jangan pernah tangan ko-tor dan hi-na mu itu menyentuh anakku!" ucap Bima dengan penuh penekanan dan tatapan tajam ke arah Aruna.
"Ayaaah ..." panggil Aruna tak percaya.
"Jangan pernah panggil aku Ayah! Panggil Aku Tuan Bima. Aku bukan ayahmu! Kau harus membayar semua uang yang sudah kau gunakan sejak lahir. Kau akan ku jadikan bu-/dak-ku. Aku tak akan membiarkan kamu dan ibumu yang ja-lang itu pergi dari rumah ini! Sebelum kalian membayar semuanya!" jawab Pak Bima penuh amarah dengan mata yang masih memerah.
Tubuh kecil Aruna gemetar melihat tatapan menakutkan dari ayahnya. Ayah yang selama ini dia kenal sangat penyayang dan penuh cinta. Walau memang Bima adalah orang yang tegas dan selalu meminta dia untuk melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan laki-laki. Karena memang dia terobsesi mendapatkan anak pertama laki-laki bukan perempuan.
Sehingga sedari kecil, Aruna di didik dengan semua hal yang berhubungan dengan hobi anak laki-laki. Aruna harus belajar naik motor, naik kuda, bela diri, bahkan semua permainan yang dia lakukan sedari kecil adalah permainan laki-laki sehingga membuatnya menjadi gadis tomboy. Dia juga memiliki sifat yang keras seperti ayahnya. Aruna di larang menangis, sedari kecil semenjak umur lima tahun Aruna tak boleh menangis oleh ayahnya. Mau sesakit apapun saat dia jatuh atau terlu-ka, Aruna tak boleh menangis. Dia tak boleh menjadi anak yang cengeng.
Begitupun dengan hari ini, semua yang dia saksikan, semua perlakuan dan ucapan yang di berikan ayahnya. Tak boleh membuat dia sampai menangis. Jika ketahuan oleh ayahnya, Aruna meneteskan air mata. Maka dia akan mendapatkan hukuman yang berat.
"Baik Tuan Bima," jawab Aruna membungkukkan sedikit badannya seperti para pembantu di rumah Rahardian. Bima tersenyum penuh kemenangan dan pergi dari sana menggendong Arkha. Membawa anak laki-laki itu untun bermain di time zone.
Berbeda perlakuan untuk Aruna dan Arkha. Jika Aruna, anak perempuannya itu harus selalu melakukan kegiatan anak laki-laki. Berbeda dengan Arkha yang tak boleh melakukan semua hal yang berbahaya, bahkan terlu-ka saja Arkha tidak boleh. Entah apa yang ada di dalam pikiran Bima. Sepertinya memang dari awal kelahiran Aruna, Bima tak pernah menginginkannya. Sehingga dia membuat banyak alasan agar tidak ada yang curiga.
"Maaf nona, anda tak bisa masuk ke dalam kamar ibu!" seorang penjaga menahan Aruna untuk masuk ke dalam kamar ibunya.
"Biarkan aku masuk sebentar saja. Toh dia juga pergi bersama dengan Arkha, aku janji hanya sebentar saja bertemu dengan ibu. Tak lebih dari sepuluh menit. Hanya untuk melihat keadaannya saja. Aku janji!" pinta Aruna kepada para penjaga yang ada di depan kamar Mutiara. Mereka saling pandang kemudian menganggukkan kepala.
"Maaf nona tak lebih dari lima menit. Tolong, anda juga kasihani kami. Kami hanya bekerja sesuai perintah di sini," jawab salah satu dari mereka.
"Baiklah, jangan khawatir. Hanya lima menit setelahnya aku akan keluar dari dalam kamar ibu. Aku bukan wanita yang ingkar janji!" jawab Aruna melihat jam di pergelangan tangannya.
Kedua penjaga itu juga meras kasihan dan tak tega dengan keadaan anak dan ibu itu. Tapi mereka tak bisa ikut campur hanya sekedar orang yang bekerja di keluarga Rahardian. Apalagi mereka tahu sifat tuannya yang sangat tempramental. Saat penjaga membukakan pintu, secepat kilat Aruna masuk dan berlari ke dalam sana.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/